
**maap2 update nya luama banget, soalnya saya juga lagi sibuk dengan dunia nyata saya.
takutnya kalau keseringan ngetik dan pegang hp, bisa-bisa hp saya disita sama mama dan gak bisa update lagiπππππ
jadi mohon pengertiannya yaπππ
*
*
*
*
Glen memutar tiga kali video pengakuan Diandra, rekan kerja Davin yang kini sudah meninggal dunia setelah satu Minggu terbaring koma di rumah sakit akibat insiden tabrak lari.
Polisi masih mencoba mencari pelaku tabrak lari tersebut, namun sampai sekarang belum juga ditemukan identitas si penabrak. Dan seakan kasus kecelakaan Diandra dilupakan begitu saja oleh pihak kepolisian.
Tak ada tindak tegas untuk mengusut tuntas siapa pelaku itu, hanya mencari informasi dari beberapa saksi mata yang ada di sekitar lokasi kejadian.
Lantas sampai sekarang kasus itu seakan tenggelam bersamaan dengan kasus\-kasus lain yang entah bagaimana kelanjutannya.
Yang jelas sekarang adalah isi dari video pengakuan Diandra yang diberikan pada Glen kemarin saat ia kembali ke Indonesia, tentang siapa ayah dari bayi yang dikandung Rena.
Davin, Grace, Gerry dan Hiro ternganga tak percaya mendengar kesaksian terputus\-putus dari Diandra sesaat setelah ia dibawa ke rumah sakit sebelum mengalami koma dan meninggal dunia.
Rena mengandung bayi dari Sam, lelaki yang ditolak cintanya oleh Rena dan nekat memperkosa wanita itu agar Rena menjadi miliknya.
Sedikit rasa iba akan nasip malang yang Rena alami dirasakan oleh mereka yang ada di sana. Namun, Davin bersyukur akhirnya jalannya untuk mendapatkan Alsa semakin mudah dengan adanya video kesaksian itu.
Mereka juga memanjatkan doa untuk almarhumah Diandra agar mendapatkan tempat terbaik di sisi\-Nya.
"Davin, Papa minta maaf karena sudah salah menilai kamu selama ini. Seharusnya kita mencari bukti terlebih dahulu sebelum menghakimi kamu saat itu. Maafkan kami, Nak." Hiro membungkukkan badannya 90Β° di depan Davin, ia menyesal dan meminta maaf dengan tulus pada lelaki yang sempat dibuatnya babak belur itu.
"Tidak apa, Pa, yang penting sekarang aku mau ketemu Alsa dan Mama Vani. Aku harus jelasin semuanya ke mereka." Davin memeluk Hiro dengan rasa syukur yang mendalam, dan Hiro juga menepuk punggung lelaki itu beberapa kali dengan mata berkaca\-kaca. Ia bersyukur pada Tuhan karena sebentar lagi putrinya akan bahagia.
Mereka semua merasa lega setelah semua masalah yang bertubi\-tubi menerpa keluarga mereka, kini Tuhan telah membukakan pintu kebenaran dan memberikan keadilan bagi umatnya yang senantiasa bersabar.
"Ayo, kita temui Mama dan Istrimu," ucap Hiro mengajak Davin menuju rumah sakit tempat putrinya dirawat.
\*\*\*
Vani menceritakan kejadian konyol masa kecil Gerry yang membuat Alsa tertawa lepas, wanita itu tak menyangka bahwa sosok yang tegas seperti Gerry pernah melakukan hal konyol dengan mencuri buah milik tetangga, dan apesnya lagi Kakaknya itu tak dapat turun dari pohon sehingga si pemilik buah itu menjewer Gerry hingga Kakaknya menangis pulang ke rumah.
Alsa tertawa membayangkan wajah Gerry kecil yang pasti tampak sangat lucu saat itu.
Sesekali Vani memberikan buah apel yang sudah dikupas untuk Alsa, wanita itu tak dapat menelan nasi karena akan keluar lagi setelahnya.
Maka ia hanya memakan buah\-buahan dan sayuran segar untuk mengisi perutnya yang kosong.
"Assalamu'alaikum."
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam," jawab Alsa dan Vani berbarengan. Mereka melihat ke arah pintu, Davin, Hiro dan beberapa orang ada di belakang mereka berdua.
Alsa yang melihat Davin berada di sana, merasakan kebahagiaan sekaligus rasa sakit jika mengingat penghianatan lelaki itu.
Air matanya refleks menetes dan ia berpaling muka enggan menatap mata Davin yang menatapnya dengan penuh kerinduan.
"Untuk apa dia ke sini?" tanya Vani ketus pada Hiro yang membawa Davin mendekati Alsa. Wanita itu muak melihat lelaki yang sudah jelas\-jelas menghianati putrinya.
"Ma, aku ke sini mau jelasin semuanya ... aku mau bilang kalau\-\-"
"Apa yang mau kamu jelaskan?! Kamu tidak lihat putri saya sudah tidak mau bertemu dengan kamu lagi?!" Vani tersulut emosi kala melihat Alsa yang mulai menangis karena kehadiran Davin.
Padahal wanita itu baru saja bisa tersenyum setelah berhari\-hari terus meneteskan air matanya.
"Ma, dengarkan Davin dulu berbicara. Semua ini salah paham, dan kita sudah memiliki bukti kalau Davin tak bersalah." Hiro membujuk Vani agar istrinya tersebut luluh dan mengijinkan Davin menemui Alsa.
"Bukti?" tanya Alsa bingung. Jika yang dimaksud bukti itu adalah dengan membawa Rena kemari, jangan harap Alsa Sudi menemui wanita itu.
"Ini, Dek," ucap Glen yang bergerak cepat memutar video itu pada laptop yang ia bawa.
"Ini apa, Om?" tanya Alsa yang melihat seorang wanita berlumuran darah di sebuah bangsal rumah sakit.
"Dia Diandra, teman sekolah Davin sekaligus sahabat Rena akhir\-akhir ini." Glen menjawab dengan tenang.
"Kamu takut darah?" tanya Davin yang melihat Alsa mulai mual. Wanita itu mengangguk.
Alsa merasa jantungnya mulai bekerja tak normal, terus berdetak hingga tanpa sadar ia ******* sprei ranjangnya untuk mengurangi kegugupan kala berdekatan dengan lelaki itu.
'aku ... Diandra ... teman Davin dan sahabat Rena.' wanita bernama Diandra itu mulai membuka suara meski terputus\-putus.
'Davin tidak bersalah ... bayi itu ... anak Sam ... lelaki yang ... memperkosa ... Rena ... karena ... cintanya ... di\-to\-lak.'
'a\-ku ... tau ... karena saat kejadian ... aku bersamanya ... sepulang dari ... club. Da\-n a\-ku ... juga men\-jadi korban.'
'tiga ... orang ... ya\-ng me\-menahan ka\-mi,'
Alsa menangis kala video berdurasi kurang dari 3 menit itu selesai diputar, ia merasa iba pada Rena sekaligus lega mendengar kenyataan bahwa Davin tidak menghianatinya.
"Kakak," panggil Alsa menatap Davin yang sudah meneteskan air mata, sama seperti dirinya.
"Aku nggak pernah khianati kamu, Sayang. Nggak akan pernah," ucap Davin sungguh\-sungguh. Lelaki itu membelai pipi tirus Alsa.
"Kamu percaya sama aku, kan?" tanya Davin lembut. Ia berharap Alsa mau memberikannya kesempatan kedua.
Alsa mengangguk pelan, ia percaya pada Davin bahwa lelaki itu tak bersalah. Lagipula hatinya tak bisa berbohong bahwa hanya Davin lah yang ia cintai. Bukan orang lain.
__ADS_1
Mereka berpelukan penuh haru, Davin sangat merindukan istri kecilnya. Ia berjanji tak akan pernah menyia\-nyiakan cinta Alsa untuknya.
Apalagi sekarang sudah ada calon anggota keluarga baru di tengah\-tengah keluarga besar mereka.
Davin mengelus perut rata Alsa, berdoa semoga calon bayinya selalu diberikan kesehatan hingga ia terlahir ke dunia dan tumbuh menjadi anak yang baik di masa depan.
Davin yang sudah sangat merindukan Alsa, tanpa malu langsung melumat bibir wanita itu. Membuat Gerry sontak menepuk bahunya cukup keras.
"Sabar ya, Adek gue masih di infus!" Gerry berkata sarkas pada Davin yang tersenyum kikuk dan menggumamkan kata maaf ke mereka yang justru disambut tawa dari keluarganya yang lain.
\*\*\*
Ken memberikan sebuah kamar tepat di depan kamarnya untuk Ritsuki. Gadis itu nampak mengagumi rumah dan juga kamar yang diberikan Kenzo untuknya.
Rumah minimalis bergaya Jepang modern dengan beberapa tanaman bunga di taman mungil rumah tersebut. Terdapat kolam ikan koi juga sebuah ayunan di sana, benar\-benar rumah impian, pikir Ritsuki.
Ken meletakkan koper milik Adik tirinya di depan lemari, sedangkan gadis itu terlihat bingung mencari sesuatu dan akhirnya duduk bersimpuh di lantai karena dirasa benda yang dicarinya tak ada.
"Kau mencari apa?" tanya Ken dingin. Ritsuki menegakkan kepalanya menatap Ken, gadis itu tersenyum pada sang Kakak.
"Futon, di mana aku akan tidur kalau tak ada futon?" Ritsuki menjawab dengan polosnya, ia ingat kalau ibu dan ayah tirinya tak mengijinkan gadis itu tidur di ranjang.
"Tidurlah di ranjang, aku tak memiliki futon!" jawab Ken acuh, lelaki itu membuka beberapa kain putih yang menutupi perabotan dalam kamar baru Ritsuki.
"Apa kau tak marah jika aku tidur di ranjang? Ayah dan Ibu akan memukulku jika aku tidur di atas ranjang mereka," ucap Ritsuki sembari menunduk.
Ken tersentak, ia tak percaya jika Ayahnya akan Setega itu pada Ritsuki. Namun, bukan tidak mungkin Hoshi melakukannya, mengingat Ken juga pernah diperlakukan demikian oleh lelaki itu ketika ia tak menyetujui pernikahan Hoshi dengan Izumi.
"Ini rumahku, bukan rumah Ayahku. Lakukan apapun sesukamu di sini, tapi jangan menggangguku dan membuatku susah."
"Baik, Kak." Ritsuki membungkuk sopan ada Ken. 'Kakak', Ken merindukan panggilan itu untuknya. Ia merindukan sosok Adik seperti Adik lelakinya dulu.
Namun, ia tak ingin bersikap baik apalagi menyayangi Ritsuki layaknya seorang Kakak pada Adik perempuannya. Ia tak ingin berbuat kebaikan untuk anak dari wanita yang telah merampas kebahagiaannya.
Tidak akan adil untuknya, bukan? Batin Ken bermonolog.
"Apa Kakak ingin makan? Aku bisa memasak ... sedikit," ucap Ritsuki menawarkan bantuan karena ia tak enak jika harus menumpang gratis di rumah Ken. Apalagi tak ada jasa asisten rumah tangga di sana. Setidaknya ia akan melakukan pekerjaan yang ia bisa agar tidak dianggap tak tahu diri oleh pemilik rumah.
Ken yang tadinya akan keluar dari kamar Ritsuki, menghentikan langkahnya di ambang pintu. "Aku tidak lapar. Jangan melakukan sesuatu yang tak kau pahami, karena itu hanya akan membuat kehancuran dan membuatku susah setelahnya!"
"Ummm ... baiklah, Kak. Terimakasih sudah mau menampungku di sini," ucap Ritsuki yang tak ditanggapi oleh Ken. Lelaki itu justru melenggang pergi begitu saja meninggalkan Ritsuki yang menatapnya bingung.
Ia merasa aku enak dan tak nyaman berada di rumah itu jika pemiliknya saja tak menyukai dirinya.
Gadis itu memutuskan untuk duduk di ranjangnya. Empuk dan sangat nyaman, ia tak pernah memiliki ranjang sebagus itu sebelumnya.
"Tuhan ... tolong jaga Kakakku dan jangan biarkan dia bersedih. Karena Kakakku sudah memberikan aku banyak kebaikan yang tak pernah diberikan oleh orangtuaku." Ritsuki mengatupkan kedua tangannya dan berdoa pada Tuhan untuk keselamatan Kenzo, Kakak barunya.
__ADS_1
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_Tbc.