
****** Maaf, saya terlambat update karena beberapa alasan. Pertama karena tab saya rusak dan baru di perbaiki, kedua karena tugas sekolah yang kian menumpuk dan yang ketiga karena komen yang kadang bikin saya macet ide.
Semua orang memang berhak berkomentar, hanya saja semua orang harusnya bisa memikirkan dulu caranya berkomentar yang baik dan benar itu seperti apa.
Berusahalah untuk tidak mengucapkan komentar yang bisa membuat si penulis itu down dan berimbas malas mengetik dan kehabisan ide cerita karena beberapa saja komentar yang kadang tidak menghargai karya si penulis.
Tolong, berkomentar lah yang baik, jika memang suka ya silakan membaca dan jika tidak suka dengan cerita yang saya buat, TOLONG TINGGALKAN SAJA DAN CARI LAPAK YANG BARU. Atau bisa BIKIN CERITA SENDIRI SAJA.
Kan aneh ya kalau bilangnya di komentar tidak suka atau kecewa BLA BLA BLA tapi masih lanjut baca:v
Sudah itu saja. Terimakasih perhatiannya.
*
*
*
*
___________happy reading_________
Alsa duduk termenung di beranda kamarnya ditemani sebuket bunga yang berada di pangkuannya. Entahlah siapa pengirimnya, yang jelas Alsa sudah menerima bunga tersebut dari Gerry yang katanya menemukan buket Lily itu di depan pintu rumahnya.
Wanita itu menyukai bunga Lily. Hanya Davin dan Kenzo yang tahu kesukaan gadis itu, bolehkah jika Alsa berharap Davin lah pengirimnya?
Tidak! Mereka sudah resmi bercerai satu bulan yang lalu, dan mungkin pria itu sudah bahagia bersaman dengan Rena, wanita pilihannya. Pikir Alsa.
Ia kemudian meletakkan bunga itu di meja bundar sampingnya, kembali menatap beberapa orang pejalan kaki di bawah sana.
Hari masih pagi, dan beberapa orang masih menghabiskan waktu di dalam rumah dan sebagian lagi menyempatkan untuk berolah raga di hari Minggu pagi ini.
Alsa menoleh ke belakang kala mendengar pintu kamarnya terbuka perlahan. Grace, wanita itu berdiri di ambang pintu kemudian berjalan perlahan menuju tempat Alsa duduk.
Jahitan di perutnya masih terasa begitu nyeri membuat wanita itu kesulitan melakukan aktifitasnya sehari-hari.
"Kamu nggak papa?" Grace bertanya sembari mengelus lembut rambut panjang Alsa, wanita muda itu tersenyum mendapat perlakuan penuh sayang yang tulus padanya. Ia bisa merasakan itu.
"Nggak," jawab Alsa singkat. Tidak! Ia berbohong mengenai kondisinya. Bukan hanya kondisi hatinya yang masih hancur tak berbentuk, tapi juga kondisi fisiknya yang semakin menurun.
Ia sangat merindukan Davin, seberapa kuat usaha Alsa membenci dan melupakan pria itu. Ia masih belum sanggup. Hatinya masih menjadi milik Davin seutuhnya tak peduli sekeras apapun usaha Ken membuatnya luluh. Alsa tetap mencintai sosok Davin sepenuh hatinya.
"Kamu jangan bohong." Grace menggenggam tangan Alsa, ia merasa wanita yang jauh lebih muda darinya itu tidak baik-baik saja. Dan benar dugaan Grace, Alsa demam.
"Kakak akan tulis resep obat buat kamu, biar Gerry yang menebusnya," ucap Grace kemudian wanita itu bangkit dari duduknya untuk mencari kertas dan pena. Namun, pergerakannya tertunda akibat cengkraman tangan Alsa pada lengannya.
"Aku nggak papa, Kak." Alsa diam menunduk. Ia merasa ingin menangis dan memeluk Grace untuk mencari kekuatan dari sana. Sungguh, Alsa merasa tak kuat menanggung beban hidup yang kian berat untuk ia pikul seorang diri.
Grace kembali duduk di samping Alsa, menggenggam tangan wanita muda itu dan Alsa yang mulai meneteskan air matanya.
Alsa memang cengeng, bisa dibilang begitu. Ia juga sangat bodoh hingga masih saja kekeh mencintai Davin yang sudah jelas-jelas mengkhianatinya. Ia terisak dalam, hatinya terasa pedih seakan luka sayat menganga yang dibaluri oleh air garam.
"Aku ... nggak sanggup, Kak ... hiks ... aku capek," keluh Alsa pada Grace yang kini menatap prihatin padanya.
__ADS_1
"Ini ujian agar kamu menjadi orang yang lebih baik dan lebih dewasa ke depannya, supaya kamu lebih kuat." Grace mencoba menguatkan wanita di depannya itu semampu yang ia bisa. Ingin rasanya ia mengumpat pada Davin jika memang lelaki itu benar telah menghamili Rena. Hanya saja batin Grace mengatakan kalau Kakaknya tidak sebejat itu.
"Bunga dari siapa?" tanya Grace mengalihkan perhatian. Alsa mengikuti arah pandang Grace. Terlihat bunga lili yang ada di meja bulat yang terletak di antara kursi mereka
"Apa itu dari Kenzo?" tanya Grace penasaran. Alsa menggeleng.
"Kenzo sedang ke Jepang."
"Eh." Grace terkesiap kaget kala melihat sekelebat bayangan lelaki dengan jas berwarna hitam. Tubuhnya tinggi tegap bak seorang model, kulitnya juga putih bersih. Dan Grace yakin ia tak salah mengenali orang.
"Ada apa, Kak?" tanya Alsa bingung.
"Tidak ada apa-apa," jawab Grace pelan kemudian memutuskan untuk pergi dari kamar Alsa dengan sedikit senyuman di bibirnya. Ia yakin betul bahwa Kakaknya tak bersalah.
***
________Davin POV________
Aku melihatnya, wanita yang selama beberapa hari ini sangat aku rindukan. Dia tengah memegang buket bunga lili yang tadi kuberikan pada Gerry. Yah, meski harus sedikit berdebat dulu dengannya, tapi akhirnya dia mau memberikan bunga itu pada Alsa tanpa memberitahu jika bunga itu dariku.
Aku sangat mencintainya, masih mencintainya, dan akan selalu mencintainya sampai akhir hayatku. Tak mudah jalan ku untuk memilikinya. Hinga akhirnya aku pun harus melepasnya demi menyelamatkan nyawa Alsa, wanita yang paling aku cintai.
Dia telah salah berpikir jika aku tak menginginkannya bahkan tak mencintainya. Dia telah salah dan termakan oleh kejamnya fitnah yang terus menerus menerpa kehidupan kami.
Tapi, aku tak akan pernah menyerah untuk mendapatkannya lagi. Sekuat apapun dia lari dariku, aku akan tetap mengejarnya tak peduli seberapa jauh aku harus terus berlari mengejarnya, bahkan meski nantinya aku lelah dan harus terlatih aku tetap tak peduli. Karena tujuan hidupku hanyalah Alsa seorang.
Dan kini, aku mengikutinya yang tengah berjalan sendiri di perpustakaan yang terletak di kota New York, perpustakaan itu tidak begitu ramai pengunjung dan aku yakin Alsa menyukai tempat yang tenang seperti itu.
Mataku terpaku menatap dirinya yang terlihat semakin kurus, tampaknya wanita itu memiliki beban begitu berat hingga membuat pikirannya kacau. Terlihat dari beberapa kali ia mondar-mandir seakan mencari benda yang ia lupakan, dan dia akan kembali ke tempat yang sama berulang kali.
"Apa yang mau dia lakukan?" aku bertanya pada angin kala melihat seorang pria bermantel tebal mulai mendekati Alsa. Wanita itu nampaknya tak sadar akan pergerakan lelaki asing tersebut.
Lelaki itu semakin mendekat hingga akhirnya ia menggerakkan tangan kanannya ke arah pinggang Alsa. Sepertinya ia ingin meraih tas kecil yang tersampir di bahu Alsa.
Aku berjalan santai mendekatinya, aku merasa geram dengan tingkah lelaki tak bermoral yang mulai membuka pengait tas kecil Alsa.
Bruk
"Eh, apa yang kau lakukan, Tuan?" aku sengaja menabrak punggung pria itu hingga si lelaki asing tersebut terdorong ke depan dengan tangan kirinya yang masuk ke dalam tas Alsa.
Aku mendengar Alsa berteriak hingga beberapa pengunjung membawa laki-laki tersebut pergi ke kantor polisi. Dia pantas mendapatkannya.
Aku tak menunjukkan wajahku pada Alsa karena selesai mendorong si pencopet itu, aku langsung melenggang pergi dari sana. Setelahnya aku keluar dari perpustakaan tersebut untuk duduk di kursi panjang dengan sebuah majalah otomotif untuk menutupi wajahku.
Aku belum berani menemuinya karena aku yakin Alsa masih kecewa padaku dan akan bertambah marah jika aku menampakkan diriku di depannya.
***
Aku masih di sini, dengan peran baru ku sebagai seorang penguntit dari wanita yang sangat aku cintai. Terdengar lucu dan memalukan, namun aku menyukainya.
Aku berjalan lima meter di belakangnya, ke manapun dia pergi aku akan mengikutinya. Dan sekarang jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, dia tengah berada di sebuah halte bis menunggu bis yang akan mengantarnya kembali ke rumah Gerry.
Bus yang ditunggu sudah datang, Alsa mulai menaiki bus tersebut dengan aku yang menyusulnya di belakang.
__ADS_1
Tampak ia berdiri menghadap ke samping kanan, aku berada tepat di belakangnya. Dia tampak begitu lelah atau terlalu fokus pada jalanan hingga tak menyadari keberadaanku di sini.
Aku sigap menahan tubuh orang yang akan menubruk pada Alsa kala bus di rem mendadak akibat sebuah mobil yang tiba-tiba muncul mendadak.
Lelaki yang kupegang bahunya tersebut menoleh menatapku bingung, sedangkan aku mengisyaratkannya untuk menyingkir. Dia mengerti dan aku menarik seorang wanita yang berdiri di sampingku untuk pindah berdiri di samping Alsa.
Aku akan merasa dia aman jika tak berdekatan dengan lelaki asing.
'Aku akan menjagamu sebisa ku, Alsa. Maafkan aku yang belum berani menemuinya secara langsung. Kesalahanku terlalu fatal, aku terlalu dalam menyakitimu,' ucapku dalam hati.
Aku membiarkannya turun di halte berikutnya, karena halte tersebut berada dekat dengan rumah Gerry, dan ku lihat lelaki itu sudah berjalan menjemput Alsa. Dia sama khawatirnya denganku. Aku tersenyum melihat betapa Gerry begitu menyayangi Alsa.
___Davin POV end___
***
___Alsa POV___
Aku merasa dia berada di sini, di dekatku dan di manapun aku berada. Aku merasakannya, bahkan mencium aroma parfum yang selalu ia gunakan.
Apakah aku bermimpi?
Ataukah aku terlalu merindukannya hingga aku berhalusinasi?
Tuhan ... sedetikpun aku tak bisa melupakannya. Sekuat apapun aku berusaha, bayangan akan dirinya terus berada dalam ingatanku.
Seolah memenjarakan diriku dalam belenggu cintanya yang palsu. Aku sakit, hatiku hancur kala mencintai dirinya secara sepihak. Bahkan aku rela melakukan apapun untuknya, tapi ini kah balasan yang kudapatkan?
Aku merebahkan diriku pada ranjang ku, memejamkan kedua mataku dan mencoba melupakan bayangan akan dirinya yang terasa menyakitkan untuk di kenang.
Hingga akhirnya pintu kamarku terbuka, Kak Gerry berdiri di sana membawa sebuah cangkir keramik berwarna putih yang aku yakin isinya adalah coklat hangat kesukaanku.
Aku langsung duduk dan bersiap menyambut coklat hangat kesukaanku sejak beberapa Minggu terakhir ini, entahlah apa penyebabnya aku menjadi gemar memakan makanan yang dulu tak begitu ku sukai.
"Capek?" tanya Kak Gerry sembari mengelus puncak kepalaku, aku mengangguk dengan masih meneguk coklat hangat dalam cangkir tersebut.
"Bilang sama Kakak kalau kamu butuh sesuatu atau butuh seseorang untuk mendengar keluh kesah kamu. Kakak siap jadi pendengar yang baik meski harus semalam penuh nggak tidur buat dengerin cerita kamu." Kak Gerry terlihat memandangku dengan raut kesedihan. Aku tak suka melihat orang di sekitarku bersedih.
"Aku nggak papa, Kak. Jangan khawatir." suaraku mengecil di akhir kalimat. Aku tak baik-baik saja, tapi aku juga tak bisa merepotkan Kakakku yang sekarang tanggung jawabnya pada keluarga jauh lebih besar dari sebelumnya.
Ia bukan hanya seorang Kakak bagiku, namun kini ia juga seorang kepala keluarga, Suami, juga Ayah untuk keluarga kecilnya. Aku tak sampai hati jika harus terus merepotkannya.
Cepat atau lambat aku harus meninggalkan rumah ini dan belajar hidup mandiri dengan mencari sebuah apartemen sederhana yang bisa aku huni sementara waktu.
"Kamu nggak bisa bohong, Sayang." Kak Gerry mengelus pipi kananku. Aku merasa ingin menangis dengan perlakuan manis dari Kak Gerry, aku ingin memeluknya dan menangis sepuas hatiku di dadanya.
Mencurahkan semua keluh kesah ku hingga beban berat yang ku pikul akan sedikit terasa ringan. Tapi, aku tak boleh bersikap manja dan kekanakan. Aku harus mandiri dan bisa melakukan semuanya sendiri tanpa tergantung dengan orang lain.
"Aku nggak papa," ucapku sambil tersenyum seolah tak terjadi apapun. Aku harus berpura-pura seolah aku ini baik-baik saja.
Kak Gerry memutuskan pergi dari kamar setelah mendengar bayinya menangis. Dia memang Ayah yang baik.
________________Tbc.
__ADS_1