Kusut

Kusut
16


__ADS_3

Mereka bertiga akhirnya kembali ke Indonesia, Davin langsung menemui Frans dan menanyakan perihal Alsa.


"Pa, kenapa tega melakukan semua ini? Alsa salah apa sih, Pa? Saya gak nyangka kalau ternyata Papa berhati jahat," ucap Davin menahan emosi, jika saja bukan karena sang Mama yang menenangkan. Sudah dipastikan Davin akan mengamuk pada Papanya.


"Karena dia berusaha memisahkan kamu dan Sherly, dia itu perempuan licik. Dia ingin menguasai harta kamu setelah kamu berhasil ia dapatkan, Papa gak mau kalau sampai gadis ular sepertinya masuk ke dalam keluarga kita," jawab Frans yang membuat Davin membulatkan matanya tak percaya dengan pemikiran papanya yang terlalu jauh menilai Alsa.


"Alsa itu gadis baik-baik, Pa. Saya mendidiknya sejak ia masih kecil, saya tahu betul bagaimana sifat Alsa. Dia tidak mungkin memiliki pemikiran picik seperti itu. Papa boleh memaki saya, tapi saya gak terima kalau Papa mengatai Alsa perempuan ular." Davin berteriak emosi di depan Frans, membuat lelaki tua itu memegang dadanya sambil meringis menahan sakit.


Tak pernah sekalipun Davin berkata kasar apalagi berteriak padanya.


Sedangkan Grace, ia memilih pergi dengan Gerry mencari Alsa daripada harus diam melihat perdebatan yang ia rasa membuang waktu.


Papanya adalah tipe pria keras kepala dan terlalu mementingkan harta, untuk itulah Grace juga memutuskan keluar dari rumah megah itu sejak dua tahun yang lalu.


"Beraninya kamu membentak papa hanya demi wanita seperti itu? Kamu benar-benar keterlaluan, Davin." Frans berkata sembari memegang dadanya yang kian sesak. Dengan cepat sang istri menghampiri suaminya dan menenangkan emosi Frans.


"PAPA YANG KETERLALUAN! SELAMA INI SAYA MENCOBA SABAR MENGHADAPI SIFAT PAPA, TAPI TEGA-TEGANYA PAPA BERLAKU SEMENA-MENA SAMA ORANG LAIN, PA!!" Davin berteriak penuh emosi, wajahnya kian merah menahan amarah.


"Mulai sekarang, saya tidak mau memimpin perusahaan anda. Saya juga tidak akan datang lagi kesini sampai anda menerima Alsa." Davin pergi meninggalkan orang tuanya. Frans yang melihat anaknya pergi merasa sedih dan kecewa. Bagaimanapun juga, Davin adalah anak kebanggaannya.


***

__ADS_1


Sudah tiga jam lebih Davin mencari Alsa ke setiap tempat yang mungkin ia kunjungi, ia juga sudah bertanya pada Levin perihal keberadaan adiknya. Namun, pria itu juga tak mengetahui dimana Alsa, justru Levin bingung kenapa Davin mencari Alsa.


Akhirnya Davin memutuskan untuk kembali ke apartemennya karena merasa sangat lelah, memikirkan kemungkinan terburuk yang akan menimpa adiknya di luar sana membuat kepalanya berdenyut sakit.


Ia memasuki apartemennya, sepi. Hanya itu yang menyambut si pria, tak ada lagi Alsa yang akan menyambutnya. Membuatkan secangkir teh dan terkadang memijat lengan Davin sembari bertukar cerita.


Tak ada lagi Alsa yang akan duduk di depan televisi yang menayangkan kucing biru tak bertelinga saat hari minggu tiba.


Tak ada lagi Alsa yang akan memanggilnya jika ia kesulitan mengerjakan PR.


Dan tak ada lagi Alsa yang akan merengek kesal ketika Davin mengganggunya.


Semuanya telah hilang dalam semalam ia pergi ke Bangkok. Alsa yang pergi entah ke mana membuat Davin semakin frustasi.


Davin menolehkan kepalanya pada sumber suara, pintu kamar Alsa terbuka. Ia melebarkan senyumnya berharap Alsa akan langsung menghampirinya.


Namun langkah Davin terhenti saat melihat seorang wanita cantik berpakaian super minim keluar dari sana.


Wanita itu berjalan mendekati Davin yang diam dengan perasaan kecewa.


"Kamu kok lama banget sih, Sayang." Sherly menyentuh lengan Davin dengan gerakan sensual.  Ia kemudian mencoba mencium pipi si pria, tapi justru dorongan keras yang ia dapat hingga jatuh terbaring di sofa.

__ADS_1


"Ngapain lo di sini?" geramnya.


"Tentu aja mau menyambut kepulangan calon suami aku," jawab Sherly dengan nada manja. Davin yang tengah emosi melampiaskan kekesalannya pada Sherly. Ia sungguh membenci wanita seperti Sherly.


Davin menarik lengan Sherly keluar apartment-nya, tak peduli meski wanita itu meronta minta dilepaskan.


Sherly harus diberikan pelajaran yang pantas karena telah mengganggu ketenangan hidupnya dan Alsa yang dulunya baik-baik saja sebelum adanya wanita itu di antara mereka.


"Davin, biarin aku ganti baju dulu. Aku janji bakalan pergi, tapi setelah aku ganti baju." Sherly meronta saat Davin hampir sampai pintu keluar, wanita itu merasa malu jika harus berpakaian seperti itu di depan umum.


Davin membuka pintu keluar, di depan kamarnya ada seorang lelaki seusia Frans dan tiga orang lainnya yang sedikit lebih muda.


Mereka menatap Davin bingung. Saat melihat ke arah Sherly, mereka seakan menatap hidangan makan malam super lezat disaat perut kosong.


Davin tersenyum licik melihat gelagat mereka, sedangkan Sherly sudah memucat karena takut.


"Ini hadiah untuk kalian, karena selama ini kalian sudah menjadi tetangga yang baik." Davin mendorong Sherly ke arah mereka dan disambut penuh suka cita hingga tak sungkan memeluk wanita itu didepan Davin yang tersenyum congkak.


"Terimakasih, Davin. Kamu memang mengerti kalau kami butuh hiburan, jadi berapa kami harus membayar?" tanya salah satunya, Davin tersenyum mengejek sedangkan Sherly membulatkan matanya tak percaya jika lelaki yang ia cintai ternyata berhati iblis.


"Gratis untukmu, Tuan Andrew." Davin kemudian meninggalkan Sherly yang diseret masuk ke kamar mereka, bahkan wanita itu sudah menangis dan meronta minta dilepas. Tapi Davin yang berhati keras tak peduli dengan penderitaan Sherly dan membiarkan wanita 29 tahun tersebut menjadi makan malam para pria hidung belang.

__ADS_1


Davin memutuskan untuk tidur di kamar Alsa. Ia berharap saat terbangun di pagi hari, adiknya itu sudah di sampinya lagi.


_______Tbc.


__ADS_2