
Davin tengah berada di sebuah toko perhiasan, kalung emas putih berbandul berlian cantik sudah ada di tangannya. Lelaki itu tersenyum membayangkan Alsa memakai kalung pilihannya.
Segera Davin menyelesaikan pembayaran kalung tersebut dan segera mencari bunga Mawar kesukaan Alsa.
Davin ingat hari ini adalah hari ulang tahun istrinya, maka dari itu ia segera pulang lebih awal dari kantor dan ingin membelikan Alsa banyak kado.
Kini Davin sudah mendapatkan semua yang ia butuhkan, kado, bunga, dan juga kue tart. Ia segera pulang menemui Alsa.
***
Alsa menatap bingung Davin yang menyiapkan semua kado juga kue ulang tahun di atas meja makan, bahkan Frans dan Camelia juga bingung dibuatnya.
Alsa segera menemui suaminya, ia menyentuh bahu Davin dan lelaki itu langsung memeluknya hangat.
"Selamat ulang tahun, Alsa." Davin berucap senang yang dibalas tatapan bingun dari Alsa.
"Ulang tahun?" tanya Alsa bingung. Gadis itu mengerutkan dahinya dan berfikir mengenai tanggal berapa hari ini.
"Ini hari ulang tahunmu kan, Sayang? Masa' kamu lupa?"
"Tanggal 4 Januari bukan tanggal lahirku, Kak. Tapi tanggal lahir Kak Alea, dan hari ini adalah ulang tahun Kak Alea." Davin terbelalak kaget ketika mengingat bahwa ia salah mengenai tanggal lahir Alsa.
Hari ini memang ulang tahun istrinya, lebih tepatnya ulang tahun mendiang sang istri.
"Tanggal lahirku adalah 15 Oktober, dan itu sudah lama berlalu. Kakak gak inget waktu itu." Alsa menggigit bibir bawahnya menahan perih di hati kala sang Suami masih mengingat mendiang Kakaknya. Alsa seolah hidup dalam bayangan Alea. Meski Alea adalah Kakaknya, namun hatinya tetap merasa sakit kala mengetahui orang yang dicintainya masih memiliki rasa begitu dalam pada mendiang Istrinya.
"Alsa, aku minta maaf ... aku--"
"Nggak papa, Kak. Kakak gak perlu ngerasa bersalah, aku emang belum bisa sebaik Kak Alea kok, dan aku sadar akan hal itu." Alsa memotong ucapan Davin, ia terlalu sakit menerima semua kenyataan menyakitkan yang datang bertubu-tubi.
"Sayang," lirih Davin ketika Alsa memilih pergi ke kamarnya. Meninggalkan Frans, Camelia, dan juga Davin yang masih diam mematung di sana.
***
__ADS_1
Alsa kini duduk di depan meja riasnya, ia menatap pantulan wajahnya yang terlihat pucat, memang akhir-akhir ini wanita itu jarang sekali tidur. Kesibukannya di toko roti membuat ia susah untuk beristirahat.
Ia merasakan sentuhan pada bahu kirinya, Alsa melihat pantulan wajah suaminya di cermin. Ada gurat penyesalan yang mendalam di sana, wanita itu kemudian menyentuh punggung tangan Davin.
"Aku minta maaf," ucap Davin diakhiri hembusan napas berat. Karena kesibukan kantor yang padat, ia kini jadi jarang sekali memperhatikan istrinya bahkan ia juga menjadi orang yang pelupa.
"Tidak apa," jawab Alsa masih bisa tersenyum seolah tak terjadi apapun.
"Aku tau kamu kecewa sama aku, maafin aku. Aku janji gak akan gini lagi, Sayang." Davin mengecup tangan istrinya, ia sangat menyesal membuat Alsa kecewa berkali-kali.
"Hm," gumam Alsa pelan. Wanita itu memilih berbaring di ranjang dan menyelimuti tubuhnya yang lelah, ia akan tidur lebih awal dari biasanya.
Davin menghampiri Alsa, lelaki itu ikut berbaring di belakang sang istri yang kini memilih memunggunginya. Alsa tersenyum ketika Davin memeluk perutnya dengan erat, meski masih kecewa tapi ia tak mau lagi memusingkan masalah sepele yang hanya akan mengganggu kehidupan rumah tangga mereka.
***
Davin kini tengah duduk santai di depan televisi bersama Frans dan Camelia yang juga tengah menonton acara berita tengah malam.
Lelaki itu menyentuh cincin pernikahannya dengan Alsa, bayangan tentang hari pernikahan mereka membuat pria itu tersenyum.
"Enggak papa. Pa, rencananya aku sama Alsa akan pindah ke rumah baru kami yang udah selesai pembangunanya." Frans meletakkan majalah yang bersampul ferrari di atas meja, ia memandang putra sulungnya dengan serius.
"Papa gak ijinin!" tolak Frans yang khawatir perihal Alsa yang bisa saja semakin menderita batin jika hanya tinggal dengan Davin.
"Kenapa, Pa? Kita udah nikah loh!" Davin bingung dengan sikap Papanya yang seakan terlalu mencampuri kehidupan rumah tangga Davin dan Alsa.
"Davin, Papa cuma khawatir sama Alsa. Dia itu masih terlalu belia waktu kamu nikahi dan dia masih belum mempunyai pengalaman apapun dalam kehidupan berumah tangga, belum lagi sikap kamu yang plin plan seperti ini. Keturun dari siapa sih sifat kamu itu, Vin?" Frans berbicara tegas pada Davin yang hanya diam tak bergeming.
"Pa, Alsa itu udah dewasa. Aku yakin kok dia bisa urus semuanya dengan baik, Papa jangan mandang Alsa kayak anak kecil terus dong!" Davin juga emosi karena merasa Alsa direndahkan oleh Frans.
"Papa itu--"
"Udah ih, malem nih. Harusnya malem-malem gini tidur bukannya debat!" Camelia berjalan meninggalkan mereka dan memotong ucapan Frans begitu saja. Ia kemudian masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat.
__ADS_1
Davin memutuskan untuk beranjak juga dari tempatnya duduk. Sejak ia kecil hingga sekarang, lelaki itu memang jarang sekali sepaham dengan Ayahnya. Dan perdebatan selalu ada disetiap diskusi mereka.
***
Davin mengajak Alsa melihat rumah baru mereka yang berada cukup dekat dari kantor Davin, lelaki itu memilih tempat tersebut agar Alsa tak lagi mengurusi toko roti yang akan membuatnya semakin sibuk di toko itu. Ia hanya inging istrinya fokus untuk mengurusi dirinya saja.
Alsa turun dari mobil dan melihat rumah di depannya dengan pandangan kagum. Rumah mewah dengan taman bunga yang cukup luas, ada kolam ikan koi di sana.
"Kamu suka nggak?" tanya Davin sambil memeluk istrinya dari belakang. Lelaki itu mengecup singkat bahu istrinya.
"Aku suka banget, Kak. Ini bener-bener bagus banget!" seru Alsa heboh. Davin tersenyum sambil mengacak rambut Alsa pelan, ia sungguh gemas dengan tingkah istrinya yang selalu terlihat lucu baginya.
"Masuk yuk!" ajak Davin kemudian menggandeng tangan wanita itu.
Tiga orang asisten rumah tangga dan dua orang pria sudah berdiri di teras rumah menyambut kedatangan majikan mereka. Alsa menyapa ke lima orang itu dengan senyum manisnya, awalnya mereka semua mengira bahwa Alsa adalah Adik dari Davin. Namun, saat melihat interaksi keduanya tadi, mereka menjadi tahu kalau Davin dan Alsa adalah pasangan suami istri.
"Dia namanya Nayla," tunjuk Davin pada seorang wanita berusia kurang lebih 25 tahun, Alsa tersenyum menjabat tangannya.
"Mereka namanya Bik Wina dan Bik Marni." Alsa melakukan hal yang sama pada dua orang paruh baya itu.
"Dan kedua orang ini, namanya Mang Husni dan Mang Hasan." Alsa juga menjabat tangan kedua lelaki yang mungkin akan menjadi tukang kebun mereka.
"Kak, nggak ada supir ya? Terus aku gimana ke toko rotinya?" tanya Alsa bingung. Davin tersenyum kemudian menggandeng istrinya masuk ke dalam rumah.
"Kamu cukup diam di rumah dan nunggu aku pulang kerja! Kalau kamu mau ke mana-mana, aku bisa kok jadi supir kamu, Sayang," goda Davin yang membuat Alsa tersenyum malu.
"Akh!" Alsa menjerit kaget kala tiba-tiba Davin mengangkat tubuhnya dan membawa wanita itu ke lantai dua, di mana kamar mereka berada.
Davin segera menutup dan mengunci pintunya rapat setelah membaringkan Alsa di ranjang, ia tak ingin diganggu siapa pun siang ini.
_________Tbc.
kusut 2 nya saya gabungin sama yang season 1 karena masih ada beberapa orang yang bertanya judul yang season 2 nya.
__ADS_1
jadi daripada bingung, lebih baik saya gabung saja.
Makasih.