Kusut

Kusut
26


__ADS_3

.


.


.


.


.


Gerry menelpon Davin, ia meminta tolong Davin untuk membawa Alsa ke rumah sakit tempat Tyas dirawat, karena Vani terus saja menanyakan keberadaan Alsa, wanita itu sangat khawatir pada keselamatan anak angkatnya.


Awalnya Davin menolak permintaan Gerry, namun ia merasa kekasih adiknya itu sangat stres. Hingga membuat Davin merasa iba, maka ia membawa Alsa menuju rumah sakit di kota tempat tinggal Gerry.


Mereka sampai di sana saat malam tiba, Alsa yang kelelahan langsung tertidur di sofa kamar Tyas. Sedangkan Davin tengah menunggu orangtua Tyas di koridor depan kamar Tyas dirawat.


Sampai tengah malam tiba dan yang di tunggu tak juga datang, akhirnya Davin masuk ke dalam kamar rawat Tyas, di sana ia melihat Alsa tengah tidur dengan posisi duduk bersandar di sofa.


Davin segera mendekati adiknya, kemudian di letakkan kepala Alsa di paha lelaki itu. Sedangkan ia sendiri memilih tidur bersandar di sandaran sofa.


"Ngghh," lenguh Alsa seperti tengah bermimpi buruk. Gadis itu berkeringat dingin dan sedikit kepanikan terpancar dari wajahnya yang tertidur.


"Kakak di sini, jagain kamu. Tenang ya, Sayang. Kamu udah aman di sini, karena banyak yang jagain kamu. Sssttt ... jangan takut, Dek." Davin terus membisikkan kata penenang untuk Alsa yang perlahan mulai tenang kembali.


Sedangkan Gerry dan Grace tengah pergi mencari keberadaan Ken yang entah di mana.


***

__ADS_1


Pagi harinya Tyas terbangun, ia merasakan perutnya sangat nyeri dan kepalanya sedikit pusing. Saat hendak merubah posisi tidurannya menjadi duduk, ia melihat Alsa tertidur di sofa yang tak jauh dari


tempat tidur rumah sakitnya.


Ia memandang Alsa sendu, perasaan menyesal telah menjelekkan gadis sebaik Alsa menyesakkan dada hingga membuatnya ingin menangis.


Lama terdiam memandang Alsa, tak disadari Davin dan Grace sudah ada di sampingnya. Mereka tersenyum lembut pada Grace.


"Bagaimana keadaan kamu, Tyas?" tanya Grace sambil tersenyum lembut.


"Saya menyesal. Pak Davin, maafkan saya." Tyas menarik nafas panjang dan menghembuskannya, ia mengumpulkan segenap keberanian untuk mengakui dosa-dosanya yang telah memfitnah Davin dan Alsa.


"Saya telah berbuat jahat pada Alsa, mengatakan yang tidak-tidak tentangnya juga memfitnah bapak dan Alsa. Saya benar-benar menyesal ternyata dia adalah gadis yang baik, hanya karena seorang lelaki saya dengan tega menyakiti teman terbaik saya. Sekali lagi saya menyesal, Pak Davin." Tyas menahan air matanya yang siap tumpah, Davin dan Grace hanya menatapnya dalam.


"Alsa selalu mengatakan, kalau kamu adalah sahabat terbaiknya. Dan dia tidak pernah memendam rasa benci sama kamu, meski kamu sudah menyakitinya. Alsa adalah gadis yang baik," jelas Davin membuat Grace semakin menyesal telah menghianati pertemanan mereka.


"Sayang," panggil Davin kemudian tersenyum ke arah Alsa. Membuat Tyas memandang bingung ke arah mereka berdua.


***


Mereka sampai di apartemen Davin ketika sore tiba, Alsa segera membersihkan diri karena merasa lengket seharian tidak mandi.


"Dek, kita pesan makanan aja ya, buat makan malam." Davin berkata sambil bersandar di sofa depan televisi. Alsa menyusul kakaknya sambil mengeringkan rambut menggunakan handuk.


Davin merasa sangat lelah harus bolak balik mengurus ini dan itu. Ia tidak mengerti, mengapa orangtua Tyas benar-benar tidak peduli pada anak gadisnya.


Memijit keningnya yang tiba-tiba pusing, ia di kagetkan dengan nada panggilan masuk.

__ADS_1


Davin menghembuskan nafas lelah, ia pun mengangkat sambungan dengan setengah hati.


"Ya, Halo," sapa Davin lelah.


"Davin, ini mama."


"Ma," panggil Davin penuh rindu.


Tak lama kemudian Davin memasang wajah serius, ia seperti orang yang tengah mendapat berita buruk.


Alsa yang ada di sampingnya hanya menatap Davin penuh tanya, ia ingin bertanya apa yang terjadi. Namun diurungkan mengingat yang menelpon adalah mama Davin, gadis itu sedikit takut pada orangtua kakak iparnya tersebut. Maka dari itu ia memilih diam dari pada harus terlibat lebih jauh dengan mereka.


***


"Jadi, kalian mau bantu gue, kan?" tanya Ken dengan tatapan remeh pada dua manusia yang tengah bergelung dalam selimut dengan keadaan polos mereka.


Di tangan Ken sudah ada handycam yang tadi ia gunakan untuk merekam aksi panas mereka.


Ken tertawa terbahak melihat kebodohan dua orang di depannya, pasangan muda mudi itu hanya bisa pasrah mengangguk menuruti perintah Ken. Mereka tak ingin video panas tersebut tersebar di dunia maya.


Melihat korbannya tak berdaya melawannya, lelaki itu tersenyum menang. Ia membayangkan, Alsa akan segera ia miliki kembali.


Ken tersenyum manis dan ia berhasil membuat si wanita korbannya terpesona dengan ketampanan lelaki itu.


"Kalau lo terus lihatin gue kayak gitu, siap-siap aja gue ledakin kepala, lo." ancaman Ken berhasil membuat si wanita tertunduk takut. Ken sudah mengarahkan pistol pada kepala si wanita hingga ia menunduk ketakutan.


Tanpa buang waktu lebih banyak lagi, kemudian Ken meninggalkan mereka begitu saja.

__ADS_1


________Tbc.


__ADS_2