
Ritsuki berjalan di koridor sekolah dengan sedikit terburu. Ia harus menghindar dari Roland yang terus saja menempel padanya. Bahkan lelaki itu juga pindah kelas karena tak ingin berpisah dari Ritsuki, padahal sudah jelas bahwa kelas mereka berbeda. Ia dengan begitu gampangnya meminta pihak sekolah memindahkannya, tak lain karena pengaruh besar sosok sang Ayah pada sekolah tersebut.
"Mau pergi ke mana lagi, Sayang?" Ritsuki terkejut kala tiba-tiba Roland ada di depannya berdiri menyandar pada dinding koridor. Gadis itu sebetulnya takut, tapi jika ia menunjukkan ketakutannya maka Roland dan Michelle akan semakin semena-mena padanya.
"Aku akan ke kantin." Ritsuki berkata ketus pada Roland yang justru membuat lelaki itu semakin gemas pada kekasihnya tersebut. Baginya, Ritsuki tampak seperti anak kecil yang tengah merajuk pada orangtuanya.
"Aku akan menemanimu." tanpa aba-aba lagi, Roland segera menggandeng tangan gadis itu, membawanya menuju kantin meski Ritsuki mengatakan bisa pergi sendiri.
Di kantin, Roland memesankan berbagai macam makanan untuk kekasihnya. Tampak lelaki bar-bar itu begitu telaten menanyakan makanan apa yang Ritsuki sukai. Gadis itu hanya memilih seporsi takoyaki yang kebetulan terhidang di sana.
"Kau terluka?" tanya Ritsuki kala melihat sebuah perban pada pergelangan tangan Roland.
"Ah tidak, ini hanya luka gores yang tak sengaja kudapatkan saat menutup pintu mobil." Roland tampak menutupi perbannya dengan lengan Hoodie pria itu.
"Sungguh?" tanya Ritsuki ragu. Jika memang hanya luka gores saja, mengapa harus diperban seperti itu?
"Makanlah, aku akan memesankan minuman untukmu. Apa kau butuh sesuatu lagi?" Ritsuki menggeleng menjawab pertanyaan Roland. Lelaki itu segera beranjak dari kursinya untuk membeli minuman, ia tak ingin Ritsuki bertanya lebih jauh lagi perihal lukanya tersebut.
***
Makan malam di rumah Kenzo berlangsung hening, tak ada yang memulai percakapan dan tak ada yang ingin memulainya.
Meski terasa begitu canggung, Ritsuki mencoba memberanikan diri untuk sekedar bertanya dengan pertanyaan basa basi yang dijawab sekenanya oleh Kenzo. Hingga akhirnya gadis itu memilih diam dan fokus pada makan malamnya saja.
"Biar aku saja, kau masuk ke kamar dan belajarlah." Kenzo menghentikan Ritsuki yang hendak membereskan meja makan. Lelaki itu ingin adiknya beristirahat setelah banyak melakukan pekerjaan rumah sepulang sekolah tadi.
"Tidak apa, aku bisa melakukannya sendiri." Ritsuki menolak karena tak enak pada Kenzo. Sebisa mungkin ia tak akan menyusahkan sang Kakak.
"Kalau begitu biar aku membantumu."
Akhirnya mereka melakukannya bersama-sama, mereka mencuci peralatan makan bersama dan kemudian berdiri di depan meja pantry untuk menyeduh teh hangat.
"Aw!" pekik Ritsuki kala tak sengaja menumpahkan air panas pada punggung tangannya. Dengan cepat Kenzo membawa sang Adik pada wastafel dan menyiram punggung tangan Ritsuki dengan air dingin.
Gadis itu merasa lega karena tak lagi merasa sakit pada lukanya. Ia tersenyum dan berterimakasih pada Kenzo.
"Kak--" Ritsuki terkejut kala tiba-tiba Kenzo mendekat kearahnya dengan tatapan tepat pada manik matanya. Tatapan tajam yang membuat Ritsuki membeku di tempat dengan detak jantung yang menggila.
Cup~
Ritsuki membulatkan matanya kala merasakan bibir lembut sang Kakak menempel pada bibirnya. Gadis itu diam mematung merasakan perasaan aneh yang tiba-tiba muncul kala ciuman itu semakin dalam.
Kenzo bukan tanpa sadar melakukan hal itu, ia sebetulnya merasa cemburu pada Roland yang menjadi kekasih Adiknya. Sekuat apapun Kenzo menepis rasa cintanya, ia tetap tak mampu mengenyahkan rasa itu dari hatinya.
__ADS_1
Bahkan semakin lama rasa cinta terlarang itu muncul kian meluap hingga menghilangkan semua dendamnya pada Ritsuki yang diakibatkan oleh Izumi.
Ia tak lagi ingin menyakiti Ritsuki demi membalas dendamnya pada Izumi, justru ia akan berusaha membuat Ritsuki bahagia dan mendapatkan cinta gadis itu.
"Kakak?" panggil Ritsuki kala ciuman panjang itu telah usai, Kenzo menyudahinya secara tiba-tiba kala Ritsuki mulai menikmatinya.
Ia bukan gadis munafik yang akan menyangkal ciuman itu menyakitkan, Ritsuki adalah gadis yang tak malu mengakui jika dirinya terlena akan permainan Kenzo.
"Tidurlah, aku takut akan hilang kendali lagi," ucap Kenzo yang mengingat kejadian beberapa tahun silam yang mana ia dengan tega menyakiti Alsa hingga wanita itu depresi. Kenzo tak ingin Ritsuki mengalaminya juga, ia harus benar-benar menjaga Adiknya kali ini.
"Huum," gumam Ritsuki kembali mengancingkan piyama tidurnya. Gadis itu melangkah pergi dari sana menjauhi sang Kakak, ia akan berusaha tidur secepat mungkin agar tak terlalu lama merasakan detak jantungnya yang kian menggila.
"Apa yang aku lakukan? Hampir saja aku menyakitinya," sesal Kenzo kala mengingat betapa lancangnya ia sebagai seorang Kakak.
***
Sarapan dikediaman Kenzo pagi ini terasa canggung dan hening. Setelah kejadian semalam, Kenzo merasa bersalah dan tak enak hati pada Ritsuki.
Lelaki itu ingin meminta maaf, akan tetapi ia terlalu malu untuk mengungkit kejadian semalam. Lain halnya dengan Ritsuki yang nampak tenang memakan sarapannya, sesekali ia mengecek jam pada ponselnya takut jika akan terlambat ke sekolah.
Pikiran gadis itu sebetulnya tertuju pada kejadian tadi malam yang sukses membuatnya tak bisa tidur hingga pukul empat pagi. Ia terus saja memegangi dadanya di mana jantungnya berdetak kian kencang seiring ia membayangkan wajah sang Kakak.
"Apa kau sudah selesai?" tanya Kenzo memecah keheningan. Ritsuki sempat terlonjak kaget karena dipaksa keluar dari hayalannya tentang Kenzo.
Ia merutuki kebodohannya dalam hati karena sempat-sempatnya melamunkan lelaki yang saat ini ada di hadapannya sendiri.
"Pelan-pelan, Ritsuki," ucap Kenzo terkekeh kecil. Ia mengelap bibir sang Adik menggunakan tisu, terdapat sisa jus menempel di sana.
Ritsuki semakin salah tingkah dibuatnya. Jantungnya semakin tidak terkontrol, juga lututnya terasa lemas secara tiba-tiba.
"I-i-iya," jawab Ritsuki susah payah.
"Ayo," ajak Kenzo sembari menggandeng tangan gadis itu yang terasa sangat dingin.
'ya Tuhan, kenapa godaan Kakak tiriku begitu kuat?' batin Ritsuki ketika Kenzo memakaikan sabuk pengaman padanya.
"Kau kenapa, hm?" tanya Kenzo pelan. Suara lelaki itu sukses membuat Ritsuki merona. Ia teringat bagaimana semalam Kenzo menyentuh dadanya, ia ingat semalam bagaimana Kenzo mencumbunya dengan mesra.
Apa dia masih mengingatnya? Batin Ritsuki bertanya-tanya.
"T-ti-tidak apa."
***
__ADS_1
Ritsuki berusaha menghindari Roland yang terus menerus menempel padanya. Sebetulnya lelaki itu tak melakukan apapun jika berada di dekat Ritsuki, hanya mengajaknya mengobrol dan menemaninya makan siang.
Akan tetapi, tatapan kesal dari para murid perempuan membuatnya mengambil langkah mundur untuk menghindari bullying yang terkadang ia terima ketika Roland tak masuk sekolah.
Dan kini, Ritsuki memilih atap sekolah sebagai tempat ternyaman saat istirahat. Roland tidak mungkin menyusulnya ke sana, lantaran lelaki itu memliki phobia ketinggian akut.
"Ri-tsu," panggil seseorang dengan suara terbata di belakang gadis itu. Ritsuki menoleh dan melihat Roland berada di dekat pintu masuk atap sekolah. Lelaki itu tampak pucat dan bersandar pada dinding di samping pintu itu.
"Roland!" panggil Ritsuki panik, ia segera berlari ke arah Roland dan menemukan lelaki itu sudah terduduk di lantai. Keringat dingin mengucur deras dari pori-pori kulitnya.
"Kenapa kau ke sini?! Kau phobia ketinggian, bukan?" Ritsuki melihat Roland yang sudah memejamkan kedua matanya. Lelaki itu kemudian memeluk Ritsuki dengan erat, tubuhnya gemetar dan dia tidak bisa berbicara apapun.
"A-ku ... takut," ucapan Roland yang penuh akan ketakutan luar biasa membuat Ritsuki terhenyak kaget.
"Ayo kita turun." belum sempat gadis itu memapah kekasihnya untuk turun ke bawah, lelaki itu sudah jatuh pingsan dalam pelukan Ritsuki.
"Roland, bangun!" Ritsuki panik bukan main melihat pria itu terkapar di tanah. Gadis itu tidak menyangka jika Roland akan memaksa untuk naik ke atap dan menemuinya.
***
Ritsuki menunggu Roland di ruang UKS, sudah setengah jam lelaki itu terbaring pingsan dan belum juga siuman. Gadis itu sempat menangis karena takut akan disalahkan, akan tetapi seorang guru menenangkan Ritsuki dan mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja.
Tak berapa lama kemudian, Roland terbangun dan tersenyum saat melihat Ritsuki ada di sampingnya. Lelaki yang terkenal sebagai preman sekolah itu menunjukkan sisi manis dengan menggenggam tangan Ritsuki dan mengucapkan terimakasih karena sudah mengurusnya.
"Kenapa kau mengikutiku ke atap?" tanya Ritsuki kemudian. Ia tak habis pikir dengan kelakuan Roland yang terkadang sangat aneh di matanya.
"Aku takut jika Michelle membully mu," ucap Roland yang membuat Ritsuki kaget. Dari mana pria itu tahu soal pembullyan itu? Pikir Ritsuki bertanya-tanya.
"Teman-temanku yang mengatakannya. Aku berjanji mulai sekarang aku tidak akan pernah membolos lagi. Aku akan menjagamu di sekolah sepanjang hari." kedua pipi Ritsuki bersemu pink kala lelaki yang terkenal tempramental itu berkata manis padanya.
Ia memang bukan tipe pria romantis atau penyabar seperti pada novel yang Ritsuki baca, akan tetapi Roland selalu melakukan hal manis dengan cara dia sendiri.
Salahkah jika Ritsuki mulai luluh pada Roland? Lalu bagaimana perasaannya pada Kenzo yang padahal baru mulai bersemi?
Jalan hidup seseorang tidak ada yang mengetahuinya akan bagaimana ke depannya, bahkan orang itu sendiri pun tidak akan mengerti takdir seperti apa yang telah Tuhan gariskan padanya.
Sebagai manusia kita hanya wajib berdoa dan berusaha agar senantiasa menjadi manusia yang lebih baik lagi ke depannya. Terlepas dari suka suka kehidupan yang akan menjadi pemanis dalam perjalanan takdir.
Ritsuki tersenyum manis, ia merasa beruntung karena Tuhan mengirimkan Roland yang akan melindunginya di sekolah dari geng Michelle yang terkenal bar-bar.
________Tbc.
Maaf kak, tata gak bisa up banyak² dikarenakan tata sedang sakit:(
__ADS_1
Tata minta doanya supaya cepat sembuh agar bisa kembali beraktivitas seperti hari-hari biasanya.
Dan maaf kalau up nya terlambat, karena memang sudah ada sebulan kondisi fisik tata semakin lemah:(