Kusut

Kusut
Bonus part - pernikahan


__ADS_3

Alsa kembali ke Indonesia bersama dengan Davin setelah beberapa hari mereka tinggal di New York. Davin sangat bahagia karena bisa membawa Alsa kembali ke rumah bersama dengannya, dengan begitu ia tak akan merasa bersalah pada mendiang Alea.


Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya Alsa mengucap syukur pada Tuhan karena telah memberikan sosok Davin dalam hidupnya. Meski masih merasa janggal dengan hubungan Davin dan Rena, namun ia tak ambil pusing lagi dengan hadirnya wanita itu karena ia percaya dengan ucapan Davin yang mengatakan bahwa pria itu hanya mencintainya.


"Kak, aku masih merasa kayak mimpi." Alsa berucap lirih pada Davin yang kini tengah menggenggam erat tangannya. Lelaki itu tersenyum lembut.


"Ini nyata, Sayang. Dan sebentar lagi kita akan menikah." Davin mengecup punggung tangan Alsa dengan lembut.


Gadis itu hanya tersenyum membalas ucapan Davin, ia meraba kalung berliontin huruf 'K' pemberian Ken sebagai kenang-kenangan untuk Alsa.


Ken telah berubah sedikit demi sedikit, dan ia juga berdoa untuk kebahagiaan Alsa dan Davin kelak. Gadis itu kembali tersenyum, ia mengingat masa-masa sekolahnya dulu yang selalu diusili oleh Kenzo sejak Alsa baru masuk SMP.


Bahkan pernah suatu ketika Alsa menangis lantaran Ken memasukkan laba-laba mainan di dalam baju Alsa ketika mereka masih SMP. Ken yang dulunya periang dan ramah berubah menjadi pendiam ketika lelaki itu duduk di bangku kelas 3 SMP, tepat setelah kematian Mama dan Adiknya.


Tak ada yang berani mendekati Ken karena sifatnya yang dingin dan angkuh, hanya dengan Alsa lah Ken berbagi keluh kesahnya. Kisah hidup mereka yang sama-sama pelik, membuat perubahan dalam sifat dan emosi mereka berdua. Sama-sama kehilangan orang yang di sayangi, membuat mereka saling memahami kondisi satu sama lain.


Meski Ken pernah melakukan kesalahan yang fatal, akan tetapi Alsa sudah melupakan kejadian itu. Ia tak pernah ambil pusing mengenai kasus penculikannya dulu.


Davin mencium bibir Alsa secara tiba-tiba lantaran gadis itu kedapatan melamun dan mengabaikan pertanyaannya tadi. Lelaki itu menjadi geram sendiri karena Alsa yang masih sangat polos soal cara bermesraan.


"Kakak! Malu diliatin orang!" protes Alsa mendorong Davin dengan keras. Gadis itu kesal dengan sikap Davin yang agresif padahal mereka tengah berada di dalam pesawat.


"Abisnya kamu ngelamun terus! Mikirin apa sih?" tanya Davin kesal. Ia tak suka penolakan.


"Mikirin kuliah, Kak. Papa nawarin buat kuliah kalau aku udah pulang ke Indonesia." Alsa menjawab pertanyaan Davin dengan kebohongan. Tidak sepenuhnya berbohong, karena Frans memang akan mendaftarkan Alsa di fakultas kedokteran yang gadis itu inginkan.


"Emang siapa yang ijinin kamu kuliah? Lulus SMA ini kita langsung nikah! Aku gak bisa nunggu lama lagi, Sayang. Apa lagi status kita sekarang yang udah pacaran, kita juga tinggal satu rumah." Davin *** tangan Alsa pelan, pria itu tengah menahan sesuatu yang membuatnya semakin frustasi jika berdekatan dengan Alsa.


"Tapi, kak--"


"Ssttt ... ." Davin kembali mencium paksa bibir Alsa, mengabaikan tatapan kesal dari penumpang lain yang menonton adegan vulgar mereka. Alsa yang kesal menggigit bibir bawah Davin hingga pria itu melepaskan pagutan sepihaknya.


"Jahat ih!" protes lelaki itu kesal.

__ADS_1


***


Ken tengah berada di toko bunga bersama dengan Dara dan juga dua cangkir kopi yang terletah pada meja depan mereka. Ken tersenyum masam kala mengingat kepergian gadis yang dicintainya untuk menikah dengan pria lain. Hatinya terasa sakit, dadanya terasa sesak dan pandangannya mulai mengabur karena air mata.


Ken mengusap air matanya dan kembali tersenyum getir. Dara yang melihat bosnya tengah galau karena Alsa, menjadi kesal sendiri. Pasalnya gadis itu juga menyukai Ken yang ia anggap seperti pangeran dari negri dongeng.


"Masih banyak cewek yang mau sama Kakak!" celetuk Dara mengalihkan fokus Ken. Lelaki itu terlalu malas berbicara ketika tengah badmood.


"Tapi, gue maunya cewek yang kayak Alsa. Wajahnya yang kayak Alsa, sifatnya, suaranya, tinggi badannya, rambutnya, gue maunya semua yang mirip banget sama Alsa." Ken mulai membayangkan seandainya ada Doraemon di dunia nyata. Ia pasti akan meminta duplikat Alsa pada robot kucing tak bertelinga itu.


Tapi sayangnya, itu semua hanya angan yang tak akan pernah terwujud.


Ken mengacak rambutnya frustasi, rasanya ia ingin kembali ke Jepang dan menetap di rumah Ayahnya. Meskipun ia harus tarik urat dan cakar-cakaran dengan Ibu tirinya, itu semua lebih baik dari pada ia harus menangis di depan perapian ketika Alsa menikah dengan Davin nanti.


"TUHAN ... KASIH GUE SATU KESEMPATAN LAGI BUAT DAPETIN ALSA! KAGAK APALAH JANDANYA JUGA GUE TERIMAAAAAA" teriak Ken yang membuat semua perhatian pengunjung tokonya tertuju pada pemuda itu.


"Oh!" kaget Ken ketika sadar di mana ia berada sekarang. Lelaki itu menggaruk tengkuknya salah tingkah dan memutuskan untuk pergi dari sana, mengabaikan tatapan bingung pengunjung toko yang juga tak paham dengan ucapan Kenzo tadi.


***


Pernikahan Alsa dan Davin hanya dihadiri oleh keluarga dekat mereka, ada juga beberapa teman Alsa dan Davin yang datang. Alsa tampak sangat cantik mengenakan gaun pengantin berwarna putih.


Begitu juga dengan Davin yang tampak begitu berwibawa dan tampan dengan tuxedo hitamnya. Frans dan Camelia tampak bahagia melihat Alsa tersenyum menyambut kehadiran para tamu yang memberikan mereka selamat. Kedua orang tua itu sangat bersyukur akhirnya Alsa mendapatkan kebahagiaannya dan menemukan akhir cerita yang indah.


Yah, begitulah yang mereka pikirkan, sebelum kedua orangtua Davin itu melihat kehadiran Rena di sana. Frans memberi kode pada Gerry agar mengusir Rena dari pesta, ia tak ingin Alsa melihat kehadiran wanita itu sehingga akan merusak momen kebahagiaan anak-anaknya.


"Mau apa lo ke sini? Davin udah ngusir lo dari hidupnya, kan?" sinis Gerry yang menarik Rena menuju lobi gedung pernikahan Adiknya, ia sungguh muak dengan Rena.


"Maaf, tapi saya rasa itu bukan urusan kamu! Saya ke sini hanya untuk memberikan selamat pada Davin, tidak lebih. Bagaimana pun juga, kami pernah melewati masa indah bersama-sama." Rena tersenyum mengejek pada Gerry yang mengepalkan tangannya menahan emosi yang sudah di ubun-ubun. Jika saja Rena adalah seorang lelaki, maka akan dengan senang hati ia menghajar Rena habis-habisan.


"Sikap lo sama sekali nggak mencerminkan seorang Guru. Bikin malu!" dengus Gerry kesal. Ia tak ingin Adiknya kembali bersedih akibat ulah Rena yang terus menempel pada Davin. Wanita yang dianggap Gerry sebagai parasit bagi kehidupan rumah tangga Adiknya kelak.


"Saya tidak peduli!" Rena berlalu dari hadapan Gerry menuju ke tempat di mana Davin dan Alsa berdiri. Davin menegang kala melihat wanita cantik bergaun merah tersebut berjalan ke arahnya.

__ADS_1


Rena berdiri di depan Davin, mereka bertatapan cukup lama. Terpaku dengan pikiran mereka yang sama-sama tak menentu arahnya. Alsa menggigit bibir bawahnya, ia menahan rasa sakit yang menghantam dada kala melihat suami yang baru saja menikahinya beberapa jam yang lalu kini bertatapan dengan wanita pada masa lalu pria itu.


Tatapan yang seolah sarat akan kerinduan, kekaguman, penyesalan, juga permintaan maaf yang berbaur menjadi satu. Alsa rasanya sudah ingin menangis melihat semua itu. Ia tak setegar wanita di luar sana yang mungkin akan bersikap normal ketika dalam situasi seperti ini. Ia lemah, sangat lemah, dan dia menyadari hal itu.


DUAK!


BRUK!


"Aduh, antri nih, Buk!" semua orang terkejut melihat Rena yang tersungkur ke samping, membuat wanita itu bersimpuh di depan kaki Alsa. Alsa yang terkejut langsung membantu Rena berdiri, wanita itu terlihat kesal dengan wajahnya yang merah menahan malu. Dengan cepat ia pergi dari sana setelah buru-buru bersalaman dengan Davin dan Alsa.


Alsa dan Davin melihat pelaku yang mendorong Rena tadi, ada Kenzo di sana tengah berdiri santai seolah tak terjadi apa-apa. Lelaki itu kemudian menyalami Davin yang menyambutnya dengan perasaan bingung, pasalnya sudah dua kali Ken menyalaminya seperti ini.


"Jangan nangis, Ca. Nanti make up-nya luntur loh, kasian kan kalau ntar tamunya pada lari karena takut," ledek Kenzo di telinga Alsa. Gadis itu terkikik geli mendengar ucapan lelaki itu. Ia bersyukur ada Ken yang menyelamatkan dirinya tadi.


***


"Lo hebat, Bro! Keren tau gak?" puji Levin sambil menepuk keras bahu Ken yang kini tengah duduk di depan hotel tempatnya menginap.


"Gue salut sama lo, Ken, yang tetep tegar menghadiri pernikahan mantan," imbuh Tyas. Ingin rasanya Ken merobek mulut kedua orang tersebut.


"Ken kan hebat, masalah kayak gini mah kecil buat dia," kini giliran Damar yang berkomentar.


"Cepet move on ya lo, Ken. Bagi tipsnya dong!" ucap Luna yang berdiri di samping Tyas.


"Ken?" panggil Levin yang melihat lelaki itu hanya diam menunduk.


"DIEM BISA GAK SIH LO PADA, HAH? KAGAK TAU APA KALAU GUE DARI TADI UDAH NAHAN SUPAYA NGGAK MEWEK? NGGAK LIAT LO PADA PERJUANGAN GUE TADI? MOVE ON APANYA, LO GAK LIAT SEKARANG GUE UDAH DUDUK KAYAK GEMBEL BEGINI? GUE INI LAGI MERANA TAU GAK? ALSA TUH MAU MALAM PERTAMA SAMA PAK DAVIN, HANCUR SUDAH HARAPAN GUE, BAMBANK!" teriak Ken kesal yang membuat mereka semua bengong. Terlalu kaget melihat respon Ken yang biasanya pendiam kini menjadi uring-uringan tak jelas.


"Pulang sono! Ganggu aja!" Ken berdiri dari duduknya. Kemudian lelaki itu berjalan masuk ke hotel untuk kembali menghayati kisah cintanya yang tragis.


Sedangkan empat orang lainnya hanya diam terbengong dengan mulut menganga. Mereka tak menyangka kalau Ken mempunyai bakat untuk melawak disaat ia tengah sedih. Mereka kembali berdecak kagum atas bakat tersembunyi yang dimiliki oleh Kenzo. Itulah yang mereka pikirkan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


kusut season 2 berjudul 'kisah asmara klasik'


silahkan di cari di profil saya. terimakasih:")


__ADS_2