Kusut

Kusut
KUSUT season 2


__ADS_3

Alsa duduk termenung di depan TV yang ada di ruang keluarga, sudah tiga jam lamanya ia menunggu Davin pulang dari kantor. Namun, sampai pukul 21.00 malam pria itu tak juga menampakkan batang hidungnya. Padahal biasanya, Davin tak pernah pulang terlambat.


Baru saja Alsa akan beranjak dari tempatnya duduk, Camelia sudah datang dan duduk di sampingnya.


"Alsa, Davin belum pulang?" tanya Camelia khawatir. Alsa menggeleng pelan. Sejak menikah dengan Davin, Camelia tak pernah melihat Alsa bahagia seperti pengantin baru lainnya. Ia sedikit khawatir dengan kehidupan rumah tangga mereka.


"Kamu tidur aja, Sayang. Biar Mama yang nunggu Davin di sini, kamu pasti capek seharian di toko roti dan sekarang harus nunggu suami kamu pulang." Camelia melihat wajah muram Alsa dengan kantung mata yang begitu kentara.


"Alsa nggak papa kok, Ma. Mama istirahat aja." Alsa menolak dengan halus tawaran Camelia, ia tak enak jika harus merepotkan mertuanya.


"Kamu harus jaga kesehatan kamu, Alsa. Mama nggak mau kalau sampai kamu sakit nantinya." Camelia ingat saat enam bulan yang lalu Alsa sakit dan harus dirawat di rumah sakit selama satu minggu lebih.


Saat itu tak ada Davin di sana yang menunggui Alsa, karena lelaki itu tengah ke Singapura bersama Frans untuk urusan bisnis.


Hanya Camelia dan Kenzo yang kebetulan tengah berlibur ke Indonesia yang merawat Alsa. Bahkan lelaki itu juga yang mengurus semua biaya pengobatan Alsa dan juga dengan telaten merawat Alsa yang tengah sakit.


"Alsa baik-baik aja kok, Ma. Mama nggak perlu cemas."


"Alsa, benar apa yang dikatakan Mama kamu. Sebaiknya Kamu istirahat sekarang, biarkan kami yang menunggu suami kamu pulang," ucap Frans yang khawatir dengan kesehatan Alsa yang memang dirasa semakin menurun. Bahkan kini wanita itu juga terlihat semakin kurus.


Jika Frans sudah berkata demikian, Alsa tak bisa lagi membantahnya," iya, Pa." jawab Alsa kemudian beranjak pergi dari sana dan menuju ke kamarnya yang berada di lantai dua.


"Pa, Mama khawatir dengan keadaan Alsa. Apa Davin benar-benar mencintai Alsa?" tanya Cameli. Frans sebetulnya juga meragukan perasaan putra sulungnya tersebut yang mengaku mencintai Alsa, namun ia memilih diam agar tak membuat Camelia semakin khawatir.


"Kita percaya aja sama Davin, Ma."


***


Rena menatap kagum sosok di depannya kini, Davin, pria yang selama ini menjadi pujaan hatinya. Rena tak peduli meski Davin telah menikah dengan wanita lain, ia hanya ingin mengagumi lelaki sesempurna Davin.


"Kenapa kamu liatin saya kayak gitu? Ada yang aneh?" tanya Davin bingung. Kini mereka tengah duduk berdua di sebuah club malam dengan Davin yang telah menenggak bergelas-gelas Vodca.


"Kamu masih terlihat sangat tampan, ya. Padahal usia kamu sudah tidak muda lagi." Rena kembali menuangkan Vodca pada gelas Davin yang telah kosong. Lelaki itu sangat pusing memikirkan pekerjaan kantor yang menumpuk, belum lagi kliennya yang tiba-tiba membatalkan kontrak kerja sama mereka.


Beruntungnya ketika akan pulang, Davin bertemu dengan Rena dan mereka berakhir di tempat itu dengan amarah Davin yang sudah menguap lenyap.

__ADS_1


"Beruntung banget ya Alsa bisa dapetin kamu." Rena melihat Davin yang kini sudah setengah mabuk.


"Gak usah dibahas." Davin menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa. Ia mengingat wasiat mendiang sang istri agar selalu menjaga dan melindungi Alsa seumur hidupnya, Davin memijit keningnya yang berdenyut. Ia sendiri masih bingung dengan dirinya yang selalu plin plan.


"Aku kaget banget waktu kamu nikah sama Alsa. Aku fikir itu semua gak nyata, tapi ternyata aku yang selama ini selalu bermimpi buat bisa dapetin kamu." Rena merasakan sakit di hatinya kala mengingat orang yang ia cintai menikah dengan wanita lain.


"Aku harus jagain Alsa seumur hidup aku. Itu adalah pesan dari Alea." Davin bangkit dari tempatnya duduk.


"Biar aku anterin kamu pulang." Rena memapah Davin dan membawanya menuju mobil milik Rena.


***


Frans menatap murka pada Davin yang pulang ke rumah dalam keadaan mabuk bersama dengan seorang wanita berpakaian minim bahan. Segera ia menutup pintu rumah dan mengajak bicara mereka di luar agar Alsa tak melihat Davin dalam kondisi seperti itu.


PLAK!


Camelia menampar Davin dan membuat kesadaran pria itu kembali 50%.


"Davin! Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu jadi seperti ini? Mama kecewa sama kamu, Davin!" Camelia mencengkram kerah kemeja putranya.


"Maaf, Tante. Tapi, Davin sendiri yang datang pada saya, bukan saya yang mengejar-ngejar dia." Rena kemudian pergi dari sana.


"Ikut Papa!" Frans menarik Davin dan memasukkannya ke kamar tamu. Ia tak ingin Alsa tahu kebejatan suaminya dan memutuskan untuk menceraikan Davin. Frans memikirkan bagaimana nasip Alsa ke depannya jika berpisah dengan putranya.


"Pa, biarin Davin tidur sama Alsa. Davin sangat membutuhkan dia sekarang, Pa."


BUGH!


Frans memukul Davin hingga pria itu tersungkur di lantai.


"Jangan harap kamu bisa menemui Alsa dengan keadaan memalukan seperti ini. Papa nggak akan segan-segan berlaku kasar ke kamu kalau kamu tetap seperti ini, Davin!" Frans yang murka atas kelakuan anaknya segera keluar dan mengunci Davin di dalam kamar tamu.


Ia dan Camelia enggan memberitahu Alsa karena tak mau gadis itu terluka. Davin melarang Alsa untuk berkuliah dengan alasan ia ingin Alsa fokus menjadi ibu rumah tangga. Alsa hanya diam menurut dan tak banyak bertanya.


Dua tahun sudah pernikahan mereka, dan sikap Davin pada Alsa juga semakin berubah seiring berjalannya waktu. Alsa juga tahu betul bahwa suaminya tak benar-benar melepaskan Rena, terbukti dengan Davin yang masih menjemput Rena di sekolah tempat wanita itu mengajar setiap akhir pekan.

__ADS_1


Alsa tahu semua itu, namun ia memilih diam dan mempercayakan semua takdir hidupnya pada Tuhan. Sesekali gadis itu akan menelpon Kenzo hanya untuk bertukar cerita, Alsa yang selalu berbohong akan kehidupan rumah tangganya dan Kenzo yang selalu berdoa untuk kebahagiaan Alsa.


***


Pagi harinya keluarga Wijaya tengah berkumpul di ruang makan untuk sarapan pagi. Alsa menyiapkan segala kebutuhan Davin untuk pergi ke kantor, gadis itu cukup terampil dalam menyiapkan segala sesuatunya, seperti setelan kantor Davin, sepatu, sarapan, kopi dan lain sebagainya. Terkadang Alsa juga akan membawakan bekal atau mengantarkan makan siang untuk suaminya di kantor.


"Sayang, aku berangkat kerja dulu, ya? Kamu hati-hati di rumah." Davin tersenyum lembut pada Alsa. Ia kemudian mencium kening istrinya dan segera berangkat ke kantor, dan semua itu hanya ditanggapi Alsa dengan ekspresi datar.


"Alsa, kamu jadi hari ini pergi belanja?" tanya Camelia pada Alsa. Gadis itu mengangguk.


"Kalau kamu mau, Mama bisa temenin kamu, Sayang." Camelia mengelus lembut rambut menantunya. Ia tahu bahwa hari ini Alsa tak akan sepenuhnya pergi belanja, untuk itulah ia menawarkan diri untuk menemani Alsa.


"Tidak usah, Ma. Aku sama Tyas aja." Alsa tersenyum meyakinkan pada Mamanya. Namun, Camelia tahu betul bahwa itu bukanlah senyuman yang tulus.


"Kamu yakin?" Alsa mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Camelia.


Hingga akhirnya seorang gadis cantik datang bersama dengan lelaki seusia mereka.


"Levin?" panggil Alsa senang. Ia sudah lama tak bertemu dengan sahabatnya itu. Segera Levin menghampiri Alsa dan memeluk gadis mungil itu.


"Sa, lo semakin kurus dah! Kagak makan lo?" celetuk Levin yang mendapat cubitan pada pinggangnya dari Tyas.


"Bacot lo, Vin!" bisik Tyas kesal. Alsa hanya terkikik geli melihat dua sahabatnya itu.


"Tante, kita berdua ijin nyulik Alsa-nya bentar ya, Tan. Tenang aja, nanti dibalikin kok!" Levin berkata dengan santainya pada Camelia yang membuat wanita paruh baya itu tertawa hingga memukul pelan pundak Levin.


"Kamu tuh ya, mana ada orang mau nyulik itu minta ijin dulu? Ada ada aja kamu." Camelia tertawa melihat Levin yang terlihat salah tingkah. Wanita itu juga merasa lega melihat Alsa yang ikut tertawa bersama ketika melihat kekonyolan Levin.


"Tapi pulangnya jangan malam-malam, ya?" Camelia memperingatkan Levin sebelum mengijinkan putrinya pergi dengan mereka.


"Tenang aja, Tante. Saya gak akan pulangin dia malam-malam kok. Tapi pulangin Alsanya besok pagi aja."


"ADUH!" Levin berteriak kencang kala tepukan keras pada punggungnya didapat dari Frans. Lelaki itu langsung kikuk berada di depan Frans dan segera ia mengajak Alsa dan Tyas berpamitan agar cepat pergi dari sana.


__________Tbc.

__ADS_1


__ADS_2