
.
.
.
.
.
.
Gerry memeluk erat pemuda yang kini menangis pilu dalam pelukannya, napas lelaki 30 tahun itu masih tersengal dan lututnya masih terasa lemas. Bahkan dua gadis yang tadi berteriak kaget masih diam mematung menutup mulut mereka dengan telapak tangan.
Tak lama kemudian seorang lelaki berkaca mata datang dengan napas tersengal karena berlari panik mengejar 3 orang di depanya.
"Apa yang lo lakuin? Lo gila? Lo gak waras? Udah bosan hidup, huh?" tanya Gerry disertai bentakan dan tepukan keras di punggung pemuda berhoodie itu.
"Gue gak bisa hidup tanpa Alsa, Bang. Gue gak bisa! Gue cinta sama dia, Bang. Gue cuma mau sama Alsa, gue mau Alsa." Ken meracau tak jelas diiringi isak tangis pemuda itu, Gerry mengusap kasar belakang kepala adiknya. Ia merasa menjadi seorang kakak yang gagal untuk kedua adiknya.
"Bego' tau gak? Lo masih punya gue, mama, papa dan semua temen-temen yang sayang sama lo. Cewek bukan cuma Alsa doang di dunia ini, jangan cuma gara-gara satu cewek, lo korbanin hidup lo yang berharga." Gerry mencoba memberi pengarahan pada Ken semampunya. Ia tahu betul bagaimana pahitnya lehidupan Ken selama ini yang harus di jalani seorang diri.
"Tapi, Bang, gue cuma cinta sama Alsa. Gue gak sanggup lupain dia."
"Besok kita temuin Alsa, lo minta maaf sama dia. Dan setelah itu kita keluar negri, lo harus lupain Alsa dan semua yang udah terjadi di sini. Abang gak mau lihat kamu yang kayak gini terus!"
__ADS_1
"..." Ken hanya diam tak menjawab. Ia menatap tiga orang yang ada di belakang kakaknya, Tyas, Luna, dan Damar. Orang-orang yang selama ini ia sakiti dan ia manfaatkan, justru sekarang merekalah yang ada di sini untuk memberi semangat pada dirinya.
*****
Alsa refleks mundur bersembunyi di belakang Davin ketika melihat Ken duduk di ruang tamu kediaman Frans. Davin yang siap ingin menyantap Ken, buru-buru dicegah oleh Gerry.
"Ca, jangan takut sama aku. Aku ke sini bukan buat nyakitin kamu, aku cuma mau minta maaf atas semua perbuatan aku ke kamu. Aku bener-bener nyesel lakuin itu, Ca. Aku juga bersedia kalau kamu mau penjarain aku, aku terima asalkan itu bisa nebus semua kesalah aku ke kamu." Ken berbicara tulus dari hati, ia menatap mata teduh Alsa yang masih menyiratkan sedikit ketakutan akan dirinya.
"Aku udah maafin kamu, Kak. Kakak gak perlu ngerasa bersalah, aku makin ngerasa gak enak kalau Kakak terus gini. Kakak sahabat pertama aku di sekolah, bahkan sejak SMP kita selalu bersama. Kita mulai semuanya dari awal, lupain masa lalu dan bersiap sambut kehidupan baru dengan cerita yang baru." Alsa tersenyum manis pada Ken, lelaki itu balas tersenyum pada Alsa.
"Makasih," ucap Ken tulus. Ia juga pamit pada Alsa untuk melanjutkan kuliah di luar negri.
"Mulai sekarang aku janji bakalan jauhin kamu, aku akan coba jadi orang yang lebih baik."
"Kakak juga coba maafin diri kakak sendiri, jangan terus larut dalam rasa bersalah. Aku udah baik-baik aja kok, aku gak papa." Alsa tersenyum ke arah Ken, lelaki itu menatap Alsa dengan pandangan kagum.
*****
Pengumuman keberangkatan pesawat terdengar di indra pendengaran lima orang yang kini tengah berdiri dengan diantara mereka seorang lelaki yang membawa sebuah koper lumayan besar.
"Hati-hati di sana, Ken. Selalu hubungi Tante," pesan Vani dengan berlinang air mata, ia sangat menyayangi keponakannya.
Ken tersenyum kemudian memeluk wanita itu, sebuah usapan penuh kasih sayang di puncak kepalanya didapat dari papa Gerry. Lelaki paruh baya itu tersenyum.
"Jangan bandel lagi, Ken. Jangan bikin tante kamu nangis lagi," ucap papa Gerry sembari menepuk punggung Ken ringan. Ia juga memeluk keponakannya itu.
__ADS_1
"Iya, Om. Ken akan ingat pesan dari Om."
"Udah lah, Ma, Pa. Lagiankan setahun lagi aku juga nyusul dia buat ngurus perusahaan Papa di sana." Gerry menarik Ken agar ia terlepas dari orang tuanya yang terlihat enggan untuk melepas pemuda itu pergi.
"Iya, Om, Tante. Nanti Ken juga akan berkunjung kok sesekali."
"Bener ya, Ken?"
Bukan orang tua Gerry yang bertanya seolah menuntut Ken berjanji, tapi Tyas yang sedari tadi hanya diam berlinang air mata. Gadis itu masih sangat mencintai Ken, ia berharap masih bisa bersama lelaki itu merajut cinta yang dulu sempat terputus.
"Iya," jawab Ken tersenyum hangat pada Tyas, gadis itu mengusap air matanya kasar.
"Boleh gak kalau aku ikut kamu? Aku bakalan temenin kamu di sana biar kamu gak sendiri, aku bakalan-"
"Tyas, maafin gue udah nyakitin perasaan lo. Gue dulu emang sayang sama lo, tapi itu udah masa lalu. Sekarang di hati gue cuma ada Alsa, dan sampai kapanpun gue gak bisa gantiin dia dengan wanita lain. Cinta gue ke Alsa terlanjur besar sampai gue takut nyakitin lo kalau kita paksa rajut lagi hubungan yang dulu sempat kandas. Maafin gue, Tyas. Lo adalah cewek baik, dan gue yakin akan ada laki-laki baik juga yang akan jadi pendamping lo kelak," ucap Kenzo lembut, dan pengumuman keberangkatan pesawat menyadarkan mereka dari haru birunya perpisahan.
Ken berjalan menghampiri Gerry.
"Gue titip harta gue yang paling berharga sama lo, Bang. Jangan sampai dia nangis ya, pastiin dia selalu bahagia," ucap Ken yang di tujukan pada Gerry agar lelaki itu menjaga Alsa.
"Pasti! Gue jaga dia dengan nyawa gue." Ken terkekeh pelan mendengar ucapan Gerry.
"Lebay lo!"
Merekapun tertawa bersama.
__ADS_1
________Tbc.