
.
.
.
.
.
.
.
Alsa duduk termenung di kelasnya, ia merasa hampa ketika Davin tak ada. Sudah satu bulan lamanya semenjak Alsa pindah ke rumah Gerry, ia tak pernah bertemu Davin lagi.
Hanya pesan singkat yang selalu Davin kirim beberapa kali pada Alsa, gadis itu merasa kakaknya melupakan dirinya.
"Al?" panggil Luna yang duduk di samping Alsa, namun gadis itu sama sekali tidak mempedulikan Luna.
"Eh?" kaget Alsa ketika Luna menepuk bahunya pelan.
"Kamu gak papa?" tanya Luna sedikit cemas.
"Aku kangen sama kakakku, Lun." Alsa menatap Luna dengan mata berkaca-kaca.
"Bukannya tadi pagi baru diantar sama kak Gerry, kan? Kok jam segini udah kangen aja?" Luna tertawa renyah, ia tak habis pikir ternyata Alsa adalah anak manja.
"Bukan kak Gerry, tapi kak Davin." ralat Alsa.
"Kamu punya berapa kakak?"
"Banyak."
"Ya udah, telfon aja dia. Bilang kalau kamu kangen sama kak Davin," usul Luna. Alsa menerawang jauh, mungkin Luna ada benarnya juga.
"Tapi, apa kak Davin kangen sama aku juga?"
"Ya pasti! Kakak kamu pasti kangen banget sama kamu." jawab Luna yakin.
"Sok tau kamu!"
__ADS_1
"Karna aku juga seorang kakak, makanya aku tahu Davin kangen kamu atau enggak," ucap Luna kemudian tersenyum, segera Alsa mengeluarkan benda pipih dari saku blazernya. Sepertinya ia tengah men-chat seseorang.
*******
Davin hari ini memutuskan untuk tidak pergi ke kantor, ia hanya duduk diam dan melamun di depan televisi yang menampilkan acara berita.
Angannya melayang ketika dulu ia bersama Alsa di apartemennya, namun kini pria itu tak dapat lagi mendengar suara gadis itu, membuat Davin seakan rapuh.
"Kamu kenapa, Vin?" tanya Frans yang baru datang ke sana dengan Camelia.
"Eh papa?" kaget Davin.
"Pintu apartemen kamu kenapa terbuka lebar begitu? Kalau ada yang masuk gimana?" omel Camelia yang kemudian duduk di samping Davin, lelaki itu hanya diam.
"Kamu kangen Alsa?" tanya Frans yang ternyata tepat sasaran, Davin mendadak gugup.
"Emmm--"
"Sebaiknya kamu telpon dia, atau--"
"Belum tentu!" sergah Frans, kemudian ia menunjukkan ponsel Davin yang mendapat panggilan dari seseorang.
Kedua mata Davin membulat sempurna saat ia membaca nama yang tertera di layar benda pipih itu, sedetik kemudian senyum manis pria itu mengembang.
"Halo," sapa Davin canggung.
"Alsa kangen kakak! Kalau ada waktu, kakak kunjungi Alsa, ya?"
"Pasti, sayang. Akhir minggu kakak ke sana."
Kedua orang tua Davin tersenyum bahagia melihat sang putra kini kembali berwajah cerah.
********
__ADS_1
Luna menganga menatap seorang pria yang kini tengah duduk di sampingnya, ia benar-benar sangat kagum akan ketampanan yang dimiliki pria tersebut.
Alsa yang berada di sampingnya hanya bingung melihat kelakuan teman barunya itu, ia rasa tak ada yang salah dengan wajah kakaknya. Tapi kenapa Luna melihat Davin tanpa berkedip? Pikir Alsa heran.
Sama seperti Alsa, lelaki berseragam sama dengannya pun juga melihat Luna bingung. Namun, ia tak ambil pusing dan memilih melanjutkan acara memakan pastanya yang sempat tertunda.
"Katanya kakak ke sini akhir minggu, tapi ini kan baru hari selasa, Kak?" tanya Alsa membuyarkan lamunan Luna akan Davin.
"Ya, Kakak kangen banget sama kamu. Jadi nunggu ujung minggu itu lama."
"Tap-"
"Al, dia beneran kakak kamu? Ganteng banget, Al. Kayak pangeran dari negri dongeng, tadi aku kirain dia model!" ucap Luna heboh dengan mata berbinar, sementara Davin semakin kesal dengan tingkah dua anak SMA yang entah kenapa bisa dibawa adiknya. Padahal rencana Davin adalah makan siang berdua dengan Alsa, sepulang adiknya sekolah.
Ia pun hanya menahan gondok dalam hati sejak awal mereka duduk di sebuah cafe yang lumayan hits bagi anak muda di kota tersebut.
"Iya, dia emang kakakku. Namanya kak Davin, dan dia memang pangeran buat aku, Lun." jawab Alsa cuek kemudian memakan makanannya dengan tenang seperti tak pernah mengucapkan sesuatu.
Davin yang mendengar ucapan polos Alsa, merasa jantungnya semakin berdetak tak karuan. Bahkan wajahnya benar-benar terasa panas dan ingin sekali mengembangkan senyumnya. Mungkin jika ia tengah sendiri, lelaki itu pasti sudah melompat kegirangan.
Namun, ia tetap harus menjaga wibawanya di depan bocah-bocah SMA di depannya ini, dan hanya wajah datarlah yang bisa lelaki itu tampilkan.
Sejak tadi ia mengamati sikap Damar ke Alsa, anak lelaki itu terus berusaha mengajak sang adik mengobrol juga sesekali menyuruhnya mencicipi makanan yang padahal berbentuk sama dengan milik Alsa.
"Dek, kamu duduk sini dekat kakak," ucap Davin menyuruh Alsa bertukar posisi dengan Luna yang duduk di samping Davin.
Meski Alsa bingung, namun ia tetap menurut untuk duduk di dekat Davin.
Mereka menghabiskan makan siang dengan mengobrol ringan, juga candaan Davin yang sering dilontarkan untuk Alsa. Membuat gadis cantik itu tersenyum bahkan tertawa dan sukses membuat Damar memberengut kesal.
_______Tbc.
__ADS_1