Kusut

Kusut
KUSUT season 2


__ADS_3

Alsa membuatkan secangkir teh hangat untuk Davin, meski sudah dilarang oleh pria itu akan tetapi Alsa tetap bersikeras membuatkan teh untuk sang suami.


Kini mereka sudah berada di rumah baru mereka yang ada di Indonesia, hidup berdua membangun sebuah keluarga kecil dan menunggu kehadiran calon anggota baru keluarga mereka.


Davin tersenyum ketika Alsa datang dan duduk di sampingnya, lelaki itu mengelus perut rata Alsa dengan penuh kasih sayang. Ia begitu bahagia dan seakan tak sabar menunggu calon anaknya lahir ke dunia.


"Maaf, selama ini aku belum bisa menjadi suami yang baik dan sempurna untuk kamu." Davin berkata penuh rasa bersalah karena ia sadar telah begitu banyak menorehkan luka dalam hidup Alsa. Wanita yang sangat dicintainya.


"Tidak ada manusia yang sempurna, Kak. Kita sama-sama membenahi diri supaya menjadi orang yang lebih baik di masa depan. Aku mau jadi seorang Ibu dan jadi seorang Istri yang baik untuk Kakak dan anak-anak kita kelak." Alsa berucap lirih, akan tetapi ia tampak sangat yakin dengan ucapannya tersebut.


Alsa sadar dirinya belum bisa menjadi wanita sempurna yang patut dibanggakan dan dijadikan contoh bagi orang lain, akan tetapi ia berusaha untuk menjadi seorang istri sekaligus ibu yang baik bagi keluarganya.


"Bantu aku agar bisa menjadi Suami dan Ayah yang baik untuk kalian," ucap Davin sambil menggenggam tangan kanan Alsa. Wanita muda itu tersenyum manis pada suaminya. Ia sangat behagia dan merasa bersyukur karena semua masalah berat telah berhasil mereka lalui, meski harus merasa kesakitan hati yang tak Terperi. Namun, semua berakhir bahagia.


Semua masalah yang menghantam kehidupan mereka, mengajarkan mereka agar menjadi manusia yang lebih kuat, dewasa, serta selalu sabar dalam menghadapi cobaan hidup yang kadang tiada habisnya.


Akan tetapi, akhir bahagia telah mereka dapatkan. Davin merasa hidupnya sudah lengkap sekarang, ia tak lagi memikirkan mendiang Istrinya.


Ia hanya mengenang dalam hati dan selalu berdoa untuk mendiang Istrinya, Alea.


"Kita akan sama-sama belajar dan saling membantu. Kita harus saling mengingatkan dan terbuka satu sama lain, aku nggak mau kejadian yang sudah lalu terulang kembali di masa depan." Alsa menatap tepat di mata sang suami, tatapan sarat akan permohonan.


Davin mengangguk, ia tak akan lagi Sudi bertemu atau pun melihat Rena.


Jijik? Ya, Davin merasakannya. Semua sikap Rena selama ini membuat lelaki itu muak dan jijik pada sosok Rena yang dulu adalah seorang guru teladan.


Setelah semua masalah yang diakibatkan oleh Rena, gelar guru teladan rasanya tak pantas disandangkan untuk Rena yang berhati jahat. Bahkan wanita itu tak pantas lagi disebut sebagai guru karena sikapnya sama sekali tak mencerminkan sebagai suri tauladan yang baik.


Lelaki itu memeluk Alsa dengan erat, menikmati indahnya senja dengan sejuta cinta di hati keduanya.


***


Ken mendaftarkan Ritsuki di sebuah sekolah yang cukup terkenal di New York, meski gadis itu menolak akan tetapi Ken tetap membiayai sekolahnya.


Ritsuki hanya menurut pada Ken, ia tak berani menolak dan merasa tak ada hak untuk menyuarakan pendapatnya sendiri. Bagaimana pun, ia juga membutuhkan pendidikan meski sebetulnya ia tak ingin merepotkan Kenzo yang selalu bersikap dingin padanya.


Entahlah apa kesalahannya hingga lelaki itu bersikap acuh dan cuek pada Ritsuki meski mereka tinggal dalam satu atap.


Di sekolah, gadis itu tak memiliki teman. Ia yang berbeda merasa diacuhkan oleh teman-temannya yang lain. Mereka seakan enggan berteman dengan Ritsuki, bahkan gadis itu sudah mendapat perlakuan kurang mengenakkan sejak hari pertama masuk sekolah tersebut.


"Katakan padaku jika ada yang mengerjaimu seperti hari pertama kau masuk sekolah." Ken berucap datar kala mengantar Ritsuki ke sekolah. Gadis 17 tahun itu mengangguk pelan, ia kemarin tak sengaja ketahuan Kenzo pulang sekolah dalam keadaan basah kuyup.


Mau tak mau gadis itu jujur pada Kakaknya atas apa yang dilakukan oleh teman barunya di sekolah.


Ritsuki dibully karena gadis itu berasal dari keluarga sederhana, tidak seperti kebanyakan anak lain yang memiliki orangtua terpandang dengan perusahaan besar di berbagai negara.


Ritsuki hanya mengaku sebagai seorang Adik dari penjual bunga, karena Kenzo melarang nama marganya di sebut di sekolah tersebut.


Alasannya?


Karena Ayah Kenzo adalah seorang pengusaha terkenal, CEO dari sebuah perusahaan ternama dengan beberapa Ayah dari teman sekolah Ritsuki sebagai bawahannya di perusahaan cabang yang ada di kota New York.


Kenzo tidak mau jika nantinya Hoshi mengetahui putri tiri yang begitu ia benci bersekolah di sekolahan ternama di kota tersebut. Lelaki tua itu pasti akan melakukan berbagai macam cara agar Ritsuki pergi dari hidup mereka.


Ken pergi setelah memastikan Adiknya memasuki pintu gerbang sekolahnya, lelaki itu berdecak kesal ketika melihat Ritsuki berjalan seorang diri tanpa ada seorang murid pun yang Sudi menyapa gadis itu.


Ken kembali ke toko bunganya, ia harus menyibukkan diri agar melupakan rasa sakit hatinya akan kebahagiaan Alsa yang memutuskan kembali bersama Davin.


Lucu memang, Ken merasa dirinya begitu jahat kala tak ikut bahagia atas kebersamaan mereka lagi.


Tapi, mau bahagia yang seperti apa jika hatinya merasa begitu sakit, bahkan hanya sekedar menarik bibir untuk tersenyum palsu pun ia tak sanggup.


Beruntung kemarin lusa ada Ritsuki yang membelikannya es krim agar dirinya tak bersedih lagi. Begitulah yang diucapkan gadis itu. Dan anehnya, Ken mempercayai ucapan yang hanya dianggapnya sebagai bualan itu.


Lagi pula, siapa yang akan peduli padanya? Jika Ayahnya saja sudah tak memikirkan dirinya sama sekali, apalagi orang lain?

__ADS_1


Mungkin mereka baik pada Kenzo hanya karena lelaki itu yang suka menolong orang lain. Semacam timbal balik semata. Bukan tulus dari hati.


***


Rena mematikan televisi yang ia tonton sejak sore tadi, tak ada acara apapun yang bisa menarik konsentrasinya agar lepas dari bayangan Davin.


Wanita itu kecewa pada lelaki tersebut yang lebih memilih bersama lagi dengan Istrinya yang tengah mengandung.


Dalam hati Rena, ia mengutuk agar Alsa keguguran agar Davin bisa pergi meninggalkan wanita muda itu. Rena percaya bahwa hanya dirinya lah yang pantas untuk Davin, bukan Alsa atau wanita lain.


Ketika tengah sibuk memikirkan cara untuk memikat Davin kembali, ponsel Rena tiba-tiba berdering. Nama Sam tertera di atas layar tersebut. Rena mendecih kesal, entah sudah berapa kali ia menolak lelaki itu, tetapi Sam tetap bersikeras untuk mempertahankan cintanya pada Rena.


'Berhenti mengganggu aku, Sam!'


Begitulah isi pesan yang dikirim Rena untuk Sam, lelaki yang saat itu memperkosanya.


Namun, apa masih bisa disebut memperkosa ketika Rena sendiri menikmatinya?


Entahlah, yang jelas saat itu Rena hanya sedikit mabuk dan masih memiliki kesadaran 70%, masih sangat sadar untuk melakukan perlawanan terhadap Sam.


Hanya saja Rena memilih diam kala merasa dirinya juga menikmati sentuhan dari lelaki itu.


'Aku tidak akan berhenti sampai kamu menerima aku, Ren!'


Rena membaca dalam hati pesan balasan dari Sam. Wanita itu mendecih. Ia tak menyukai Sam yang berasal dari kalangan menengah ke bawah. Tidak sekaya dan setampan Davin.


"Aku hanya menginginkan Davin seorang! Bukan lelaki lain!" gumam Rena seraya menatap foto Davin pada ponselnya. Sangat tampan ketika lelaki itu memakai setelan formal, tampak lebih berwibawa dan berkelas.


Tidak seperti Sam yang hanya bekerja sebagai staf marketing di kantor baru tempat Rena bekerja, setelah wanita itu dipecat oleh Davin dari kantornya sepulang lelaki itu menjemput Alsa dari New York.


Rena mengelus perutnya yang masih rata, ia bingung bagaimana jika nanti perutnya semakin membesar dan ia tak memiliki suami. Sudah pasti wanita itu akan menjadi bahan gunjingan tetangga perihal kehamilannya.


Meminta pertanggung jawaban Davin? Rasanya tidak mungkin karena pria itu telah mengetahui semua kebohongannya soal Ayah dari anak yang dikandungnya.


'Saya kecewa sama kamu, Ren. Tega-teganya kamu balas kebaikan saya selama ini ke kamu, dengan sebuah fitnah yang menghancurkan rumah tangga saya. Saya berharap tidak lagi bertemu dengan kamu atau wanita yang seperti kamu!'


Air matanya menetes, ia merasa tak sanggup hidup tanpa Davin di sisinya.


***


Alsa tersenyum senang setelah acara membuat kuenya selesai. Kue kering tersebut ia masukkan dalam toples dan diletakkan di atas meja makan, Davin sangat menyukai kue buatannya.


"Ini susunya," ucap Davin dari belakang Alsa. Lelaki itu membawa segelas susu Ibu hamil rasa strawberry yang tidak akan membuat Alsa mual seperti rasa vanilla dan coklat.


"Makasih, Kak."


"Sama-sama, Sayang," jawab Davin kemudian mengecup sisi kepala Alsa.


Ia memilih duduk di kursi meja makan setelah melihat setoples kue kering buatan Istrinya, ia tersenyum senang dan memakannya tanpa menawari Alsa yang cemberut kesal karena Suaminya tak peka.


"Jahat," rajuk Alsa hendak pergi dari sana. Namun, Davin buru-buru mencekal pergelangan tangan Alsa dan menarik wanita itu agar duduk di pangkuannya.


"Sini aku suapin kamu," ucap Davin kemudian mengarahkan sebuah kue pada Alsa. Wanita itu menggigit kue itu dan merasakan kalau kuenya ternyata kurang manis. Alsa menatap kecewa pada Davin.


"Aku tadi tidak mencicipinya, Kak," sesalnya pada Davin yang menyukai makanan manis.


Lelaki itu terkekeh pelan kemudian memakan kue sisa gigitan Alsa.


"Ini udah manis kok. Kalau terlalu manis takutnya diabetes, soalnya yang bikin kue ini aja manisnya udah kebangetan." Davin menggombal untuk pertama kalinya, wanita itu terkikik geli hingga tertawa terbahak karena merasa merinding akibat gombalan Davin yang tampak kaku.


"Kok ketawa? Aku serius loh!" kini gantian Davin yang merajuk, merasa kalau Istrinya mengejek gombalan yang susah-susah ia pikirkan sejak pertama kali mencicipi kue kurang manis itu. Ia tahu kalau Alsa pasti akan merasa bersalah dan kecewa karena kue buatannya tak sempurna, makanya Davin berusaha keras mencari kata-kata rayuan agar Istrinya tak begitu kecewa.


Namun, wanita itu malah terbahak dan membuat Davin kesal.


"Untung sayang," gumam Davin kemudian ikut tertawa karena melihat ekspresi lucu Alsa ketika terbahak. Matanya menyipit dan pipinya memerah.

__ADS_1


***


Ritsuki menghabiskan hari minggunya untuk membersihkan kediaman Ken, ia merasa tak enak jika harus menumpang gratis di rumah Kakak tirinya itu. Meski beberapa kali Ken melarangnya membersihkan rumah, tapi Ritsuki tetap bersikeras melakukannya karena takut dianggap tak tahu diri.


Apalagi Kakaknya itu sudah sangat baik padanya dengan menyekolahkan dirinya dan mendaftarkan les privat padanya untuk mempelajari bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.


Jadi, hanya ini yang bisa ia lakukan untuk Ken, membantu sebisanya dan belajar dengan keras demi nilai sempurna agar Kenzo bangga padanya suatu hari nanti.


"Aku pulang," ucap Kenzo datar sembari masuk ke rumah seusai pulang dari toko Bunganya.


"Eh, Kakak sudah pulang?" sambut Ritsuki dengan senyum hangatnya. Gadis muda itu segera mengambil mantel dingin Ken yang dilepaskan pria itu, kemudian ia kembali ke hadapan Ken yang kini tengah sibuk membuat teh jahe untuknya.


"Biar aku yang membuatkan teh untuk Kakak, Kakak pasti lelah setelah bekerja seharian," ucap Ritsuki mengambil alih pekerjaan Ken.


Lelaki itu menatap datar, ia kesal dengan sikap sok ramah yang ditunjukkan Ritsuki padanya.


"Aku bisa membuat sendiri!" ucap Ken ketus seraya mengambil cangkirnya dari Ritsuki.


Gadis itu tak tinggal diam, ia kembali merebut cangkir itu agar Kakaknya bisa beristirahat secepatnya.


"Kakak duduk saja, atau Kakak mau mandi? Biarkan aku siapkan air hangat untukmu," tanya Ritsuki yang membuat Ken semakin kesal karenanya. Ia tak suka dengan orang yang berpura-pura baik padanya.


Untuk apa mereka bersikap baik seakan peduli pada Kenzo, tapi nyatanya dia akan berakhir ditinggalkan oleh mereka.


Sangat sakit jika harus terjatuh ke lubang yang sama berkali-kali. Sudah berkali-kali ia dikecewakan dan ditinggalkan, tak ingin lelaki itu mengalaminya lagi untuk yang kesekian kalinya.


"Urus dirimu sendiri dan jangan menggangguku!" ucap Kenzo sinis. Ia kembali merebut cangkir itu agar dirinya cepat beristirahat di kamar dan tak bertatap muka dengan gadis itu lagi.


Namun, lagi-lagi Ritsuki mengambil cangkir tehnya, dan Ken merebutnya lagi. Begitu terus hingga tanpa sengaja Ritsuki menjatuhkan cangkir tersebut hingga pecah di lantai.


Gadis itu menunduk takut di depan Kakaknya, sungguh ia tak ada niat untuk membuat kacau semuanya.


"APA KAU TIDAK BISA TIDAK MENGGANGGU AKU SEHARI SAJA?!" bentak Kenzo menggunakan bahasa Jepang dengan keras.


Sontak saja Ritsuki langsung tersentak kaget dan menangis di depan Ken, ia sudah sering kali di marahi bahkan dipukul tanpa alasan yang jelas oleh Hoshi dan Ibunya, ia takut jika Ken akan melakukan hal yang sama seperti mereka.


"Ka-kak, a-ku ha-nya ingin membantumu sa-ja ... hiks ... maafkan aku," ucap Ritsuki penuh sesal, gadis itu menunduk dan cepat-cepat membersihkan pecahan gelas di dekat kaki Kenzo.


Namun, karena kurang hati-hati jarinya terluka akibat tergores beling yang tajam tersebut. Ia menahannya dan berusaha tak mengeluh sakit di depan Ken, ia takut jika Kakaknya akan semakin marah padanya.


"Ikut aku!" Ken menarik lengan Ritsuki dan membawa gadis itu ke depan lemari p3k.


"Akh!" pekik Ritsuki kala Ken membersihkan lukanya dengan cairan alkohol.


"Apa kau tak bisa berhati-hati? Ceroboh!" ketus Ken tanpa melihat ke arah Ritsuki yang kini tangisannya mulai mereda.


"Jangan terlalu memaksakan diri. Aku tidak mengharapkan bantuan apapun darimu," ucap Ken sedikit melembutkan nada bicaranya.


"Aku hanya--"


"Aku tidak sekejam Ayah yang akan memarahi dan memukulmu hanya karena kau ada di dekatku. Jangan membuat dirimu sendiri tak nyaman dengan pikiran tentang diriku yang belum tentu benar adanya."


Ritsuki menggigit bibir bawahnya, ia tak menyangka jika Kakaknya bisa dengan mudah membaca pikirannya.


"Aku akan ke binatu, kau tetap diam di rumah dan kunci pintunya. Jangan bukakan pintu untuk orang asing." Ken berlalu dari sana setelah mengucapkan kata-kata yang sama setiap ia akan meninggalkan Ritsuki di rumah seorang diri.


"Baik, Kak. Hati-hati."


"Hm."


Ya Tuhan, tolong lindungi Kakakku, ucap Ritsuki dalam hati. Ia kemudian membersihkan pecahan gelas yang ada di dekat meja pantry.


___________Tbc.


**Hay, Kakak pembaca ... Tata mau minta pendapat nih, kira-kira bagusnya cerita ini saya kasih visualisasi tokohnya atau tidak?

__ADS_1


ditunggu komennya kak. makasih**:')


__ADS_2