
Alsa menatap amplop coklat tebal yang diberikan Gerry, ia merasa amplop itu lebih tebal dari biasanya.
"Kak, kok perasaan lebih tebal, ya?" tanya Alsa dengan polosnya, membuat Gerry tertawa singkat kemudian mengacak rambut Alsa.
"Itu bonus buat kamu, soalnya selama ini kerja kamu memuaskan. Pelanggan juga merasa nyaman kalau dilayani sama kamu, Ca," jelas Gerry membuat Alsa tersenyum lebar. Kemudian Gerry merentangkan kedua tangannya sebagai tanda minta dipeluk oleh Alsa.
Segera Alsa menghambur ke pelukan kakak angkatnya tersebut.
"Makasih ya, Kak." Alsa tersenyum dalam pelukan Gerry, ia berpikir uang yang dikumpulkan selama ini sudah cukup untuk menyewa kontrakan sederhana.
Ia merasa tak enak jika harus terus menumpang di rumah Gerry, meski Vani mengatakan bahwa sekarang Alsa putrinya. Tetap ia merasa sungkan jika harus terus menumpang hidup pada mereka.
"Jangan berpikir kalau kamu mau cari kontrakan kayak kemarin." Alsa merasa kalau Gerry mempunyai ilmu kebatinan, buktinya ia tahu apa yang ada di dalam pikiran Alsa.
Gadis itu hanya nyengir salah tingkah sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
***
Ken dan Alsa kini tengah menyantap hidangan makan malam yang disiapkan pelayan restoran, Alsa yang memang sudah kelaparan langsung menyantap habis makanan yang dipesankan Ken.
Lelaki tampan itu terkikik geli melihat kelakuan Alsa yang seperti anak kecil, saos yang menempel pada sudut bibir Alsa dilap dengan tisu oleh Ken.
Alsa terdiam mendapat perlakuan tersebut. Dua bulan yang lalu, Alsa sempat menyatakan cinta. Namum di tolak oleh Ken dengan alasan tak ingin menjalin hubungan dengan siapapun terlebih dulu.
Alsa berpikir ia masih mencintai Tyas, mengingat hal itu Alsa kembali sedih. Segera ia mengambil tisu yang ada di tangan Ken dan mengelap sudut bibirnya sendiri.
"Gimana sekolah sama pekerjaan lo, Ca?" tanya Ken memecah keheningan.
"Semuanya baik, nilai aku semuanya bagus. Dan lagi, aku dapat bonus dari kak Gerry karena kerjaku yang bagus."
"Syukur deh kalau gitu, Ca," ucap Ken kemudian tersenyum. Ken merasa tak rela jika Alsa terus berdekatan dengan Gerry.
Ia sudah berhasil menjauhkan Alsa dari Davin, tapi sekarang Alsa malah begitu dekat dengan Gerry. Tanpa sadar Ken mengepalkan tangan kanannya, wajahnya mengeras menahan amarah saat Alsa terus saja menceritakan kebaikan Gerry.
Selalu saja nama Gerry, Gery, dan Gerry yang disebut Alsa.
__ADS_1
Dan Ken tak menyukainya.
***
Ken mengantarkan Alsa ke rumah Gerry, sesampainya di depan rumah Ken menahan Alsa yang ingin keluar dari mobilnya.
"Ca, gue pengin ngomong sesuatu sama lo," ucap Ken yang membuat Alsa mengerutkan dahi, bingung.
"Ngomong apa, Kak?"
"Mmm ... ." Ken membasahi bibir bawahnya yang tiba-tiba kering, "gue suka sama lo, Ca," ucap Ken setelah menghembuskan nafas beratnya.
Alsa yakin dirinya tak salah dengar kalau Ken mengatakan menyukai dirinya, namun akibat rasa terkejutnya gadis itu hanya bisa diam tak bergeming.
"Ca?" panggil Ken seolah menuntut jawaban, Alsa terkesiap kaget. Sedetik kemudian gadis itu berdehem kecil untuk mengurangi rasa canggung diantara mereka.
"Maaf, Kak. Aku masuk dulu, udah malem." Alsa sudah bersiap untuk turun sebelum tangannya dicekal oleh lelaki tampan itu.
"Maaf, Kak. Tapi, aku lebih nyaman kita berteman," tolak Alsa halus, berharap Ken tak marah padanya.
"Kenapa, Ca? Lo masih suka sama gue, kan?" tuntut Ken.
Alsa terkesiap mendengar pertanyaan Ken, seharusnya ia merasa senang karena cinta yang ia pendam sejak lama kini terbalaskan. Namun, entah mengapa ia akan merasa bersalah pada Davin jika menerima cinta Ken.
"Maaf, Kak. Mama udah nunggu aku di depan," ucap Alsa sembari menunjuk teras rumah Gerry, seorang wanita paruh baya tengah berdiri di teras rumah sambil menatap ke arah mereka.
Ken yang menyadari hal itu, melepaskan tangan Alsa dengan terpaksa. Kemudian Alsa turun dari mobil Ken dan lelaki itu pergi tanpa menegur sang tante yang menatap mereka bingung.
"Ken kenapa, Sayang?" tanya Vani cemas, ia takut jika keponakan dan juga putri angkatnya itu terlibat pertengkaran. Vani menyayangi keduannya sehingga tak ingin ada masalah di antara mereka.
"Gak papa kok, Ma. Tadi katanya Kakak lagi buru-buru." Alsa berbohong agar Vani tak cemas, gadis itu terkadang bingung dengan sikap mama angkatnya yang melarang Alsa terlalu dekat dengan Ken.
Bahkan Vani juga mengatakan kalau Alsa harus hati-hati dengan keponakannya tersebut.
Vani tersenyum kemudian menggandeng putrinya memasuki rumah mereka.
__ADS_1
***
Semenjak pernyataan cinta Ken tempo hari, lelaki itu selalu mengantar jemput Alsa berangkat dan pulang sekolah. Bahkan ia juga menjemput Alsa selesai bekerja di cafe Gerry, apalagi sekarang Ken menempati apartemen yang tak jauh dari rumah Gerry.
Ia memilih melanjutkan pendidikan kuliahnya di kota tempat Alsa tinggal.
Seperti sekarang, mereka tengah berada di dalam mobil. Alsa tersenyum senang saat ponselnya bergetar dan tertera nama Levin di sana.
"Kak, kok dimatiin?"tanya Alsa bingung saat tiba-tiba Ken mematikan ponselnya, padahal ia baru saja akan mengangkat telpon dari Levin.
"Aku gak suka kalau kamu deket sama cowok lain, aku kasih kamu nomornya Levin, bukan buat ngobrol yang gak penting. Ngerti!!" tegas Ken, ia sedikit mengeraskan suaranya hingga membuat Alsa sedikit takut.
"Tapi...."
"Gak ada tapi-tapi, ponsel kamu, aku yang pegang."
"Gak bisa dong, Kak. Nanti gimana kalau-"
"Levin hubungi kamu lagi? Gampang, aku bilang aja kamu gak bisa di ganggu. Bereskan?!"
Ken memasukkan ponsel Alsa ke dalam kantong hoodienya, lelaki itu takut jika Alsa masih berhubungan dengan Levin. Maka Davin akan menemukannya dan membawa Alsa pergi darinya.
Lagi pula dulu Ken juga terpaksa memberikan nomor ponsel Levin, karena Alsa yang terus merengek meminta nomor lelaki itu. Saat itu ponsel Alsa tertinggal di apartemen Davin, jadi Ken membelikan ponsel baru untuknya.
Alsa hanya diam menerima sikap Ken yang keras, sekarang Alsa mulai merasa tak nyaman berada di dekat lelaki tampan itu.
Sampai kapan pun, gue gak akan pernah lepasin lo, Ca! -Kenzo
________Tbc.
__ADS_1