Kusut

Kusut
38


__ADS_3

.


.


.


.


.


.


.


.


1 Tahun kemudian.....


Alsa kini sudah lulus SMA dengan peringkat terbaik di sekolahnya, ia memutuskan untuk kuliah mengambil jurusan hukum. Dan keputusannya didukung penuh keluarga.


Ia juga semakin dekat dengan Davin, lelaki itu bahkan makin memanjakan Alsa. Meski masih ada Rena di antara hubungan keduanya, namun Alsa tak ambil pusing kedekatan mereka. Toh Davin mengatakan kalau hubungan keduanya hanya sebatas sahabat, pikir Alsa.


Kini mereka ada di sebuah pantai, senja telah tiba dan cahaya jingga mulai menyebar mendominasi area pantai dan sekitarnya. Davin menggenggam tangan Alsa, mereka duduk santai di atas pasir sembari melihat ombak yang menggulung di depan mereka.


"Alsa, kakak mau ngomong serius sama kamu," ucap Davin memulai percakapan, lelaki itu terlihat menarik nafas berusaha menetralkan detak jantungnya. Alsa memandangnya bingung.


"Kakak mau bicara apa?"


"Tapi kamu janji dulu sama Kakak, kalau gak akan pernah merubah sikap kamu setelah dengar ini semua."


"Iya, aku janji," ucap Alsa yakin. Ia sungguh penasaran dengan apa yang akan disampaikan Davin.

__ADS_1


"Alsa, kakak cinta sama kamu. Kakak sayang sama kamu, dan kakak gak bisa lagi mandang kamu sebagai adik seperti dulu."


Alsa menajamkan pendengarannya, takut jika ia salah dengar ucapan Davin yang diiringi debur ombak pantai sore hari.


Tapi ia yakin dirinya tak salah dengar kalau lelaki di depannya ini menyatakan cinta padanya. Alsa merasa detak jantungnya mulai bekerja tak normal, rasa bahagia yang membuncah saat ia tahu orang yang ia cintai dalam diam memiliki perasaan yang sama dengannya.


"Kakak ... serius?" tanya Alsa memastikan. Ia takut jika Davin hanya melakukan prankĀ  padanya, namun hal itu tak mungkin ia lakukan mengingat Davin tak sejahil Ken jika dengan Alsa.


"Kakak serius." Alsa tersenyum bahagia mendengar ucapan keseriusan Davin, ia mengangguk pelan dan membuat Davin lega. Ia bahagia bisa mendapatkan hati gadis pujaannya.


Davin mendekat pada Alsa, mengecup lembut bibir tipis gadis itu. Menegang adalah respon pertama Alsa, namun detik berikutnya ia rileks dan menikmati ciuman mesra Davin.


Suasana pantai yang sepi dan keadaan yang semakin gelap, membuat Davin semakin nekat. Ia melupakan Alsa yang masih memiliki trauma terhadap lelaki.


Davin mengumpat dalam hati ketika ia hampir saja hilang kendali karena nafsu yang sudah di ubun-ubun. Segera ia menarik diri menjauh dari Alsa, melihat bibir bengkak gadisnya membuat Davin sedikit merasa bersalah. Di berikannya jas yang ia pakai untuk Alsa, dan di terima gadis itu dengan salah tingkah.


"Maaf, Sayang. Aku hampir kelepasan tadi." Alsa tersenyum mendengar permintaan maaf Davin.


"Makasih ya. Aku sayang kamu."


"Aku juga."


******


Alsa duduk sembari mengotak-atik ponselnya, sesekali ia melihat ke arah Gerry yang tengah sibuk memeriksa pendapatan cafe-nya hari ini.


"Kok tumben nyamperin Kakak ke sini? Biasanya gak mau deket-deket sama Kakak," sindir Gerry pada Alsa yang sukses membuat gadis itu merengut kesal.


"Kak Gerry, ih! Alsa tuh gak gitu, kan Alsa sibuk akhir-akhir ini jadinya gak sempet ke sini." dusta Alsa mengikuti kebiasaan Levin yang selalu mempunyai seribu kata-kata ajaib untuk berkelit.


"Sibuk pacaran sama Davin ya?" Gerry semakin menggoda Alsa.

__ADS_1


"Apaan sih? Enggak kok, emang kakak dapet gosip dari mana?" tanya Alsa berusaha bersikap senormal mungkin.


"Kamu gak tau kalau telinga sama mata Kakak itu selalu nempel di sekitar kamu? Bahkan kakak juga tau kalau kalian jadian di pantai sebulan yang lalu."


"Kakak, ih. Penguntit!"


Ctak!


Alsa mengusap bibirnya yang mendapat sentilan dari Gerry. Lelaki itu terkekeh pelan kemudian mengacak rambut Alsa gemas, ingin rasanya ia menggigit pipi Alsa. Namun, ia urungkan mengingat Davin yang terus menatapnya seolah berkata 'jangan deket-deket pacar gue, kalau masih sayang nyawa lo'


Itulah yang ia baca dari pesan yang di kirim Davin ketika mereka mulai memasuki cafe miliknya.


"Hati-hati, Dek, pacaran sama duda. Soalnya mereka suka nerkam tiba-tiba." Gerry sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar oleh Davin, lelaki itu geram dengan sikap posesif Davin pada adiknya. Membuatnya tak bisa memeluk Alsa dan menjahili gadis itu seperti dulu.


Ting....


From : Davin


Restu buat lo nikahin adek gue bulan depan, gue cabut! Ok!


Gerry menelan ludahnya susah payah, menatap ke arah Davin yang kini menatap angkuh ke arahnya. Ingin rasanya pria itu melempar sebuah pisau ke arah Davin, Gerry menyumpah serapahi Davin dalam hati.


Ia tak bisa membayangkan akan memiliki kakak ipar seperti pria congkak itu.


"Menerkam?" Alsa mengulang pertanyaan yang sempat diacuhkan oleh Gerry akibat terlalu memikirkan nasib hubungannya dengan Grace. Davin mengangkat satu alisnya, tangannya bersidekap angkuh di depan dada. Pria itu seolah menyuruh Gerry meralat ucapannya tadi atau tidak mendapatkan restu dari Davin untuk menikahi Grace.


"Maksudnya suka meluk tiba-tiba gitu, biar romantis. Soalnya mereka paling pinter manjain cewek, percaya deh." Gerry seakan ingin muntah mendengar ucapannya sendiri, seketika bulu kuduknya berdiri ketika melihat Davin tersenyum penuh kemenangan ke arahnya. Sungguh pria itu memberikan efek negatif bagi Gerry.


"Sialan lo!" umpat Gerry tanpa suara yang dibalas kekehan dari Davin, sedangkan Alsa sudah sibuk memakan coklat pemberian Gerry. Mengabaikan dua orang yang tengah bertatapan seakan mengeluarkan sinar laser dari mata mereka.


_______Tbc.

__ADS_1


__ADS_2