Kusut

Kusut
KUSUT season 2


__ADS_3

Alsa, Davin, Fatimah dan juga si kecil Alvin telah sampai di kota New York dan disambut dengan seluruh anggota keluarganya yang sudah berkumpul di kediaman orangtua Gerry.


Vani langsung saja mengambil Alvin dari gendongan Fatimah, ia sudah sangat merindukan cucunya tersebut. Maka dari itu Vani segera melepas rindunya dengan bermain bersama Alvin, wanita paruh baya itu juga sempat berebut dengan suaminya untuk menggendong sang cucu, alhasil keributan kecil mereka membuat Alvin menangis kencang.


Melihat Alvin yang menangis, Ritsuki segera mengambil alih menenangkan Alvin dengan memberikan sebuah kecrekan bayi (apa sih?😅) untuk mengalihkan perhatian anak tersebut.


Dan usaha Ritsuki membuahkan hasil, Alvin kembali tenang dan sesekali tertawa ketika Ritsuki mengajaknya bermain.


"Udah cocok kok," sindir Vani seraya melirik Kenzo, sedangkan yang dilirik hanya fokus pada Ritsuki dan tanpa sadar tersenyum sendiri melihat tingkah Ritsuki bersama putra Alsa.


"Iya, walaupun Ritsuki masih remaja, tapi sifat keibuannya sudah kelihatan." Grace menimpali. Ritsuki bersemu merah kala mendapat sindiran dari mereka.


Tanpa sengaja ia menoleh pada Ken, lelaki itu tersenyum dan mengangkat satu alisnya seolah menggoda Ritsuki. Tak berapa lama kemudian mereka berdua tertawa kecil, mereka salah tingkah dan tersenyum malu-malu menghadapi ulah keluarganya yang terus menerus menyindir Kenzo dan Ritsuki.


***


Roland menatap sendu gadis cantik di depannya kini, ia tak menyangka jika selama ini hubungan cinta yang mereka jalin tak sejalan karena perasaan keduanya yang tidak saling terhubung.


Ritsuki menitikan air mata penyesalan, menyesal karena terlalu dalam menyakiti lelaki yang selama ini sudah menjaganya dari gangguan Michelle dan teman-temannya. Menyesal karena baru sekarang ia jujur akan perasaanya setelah lelaki itu begitu dalam mencintainya.


Semenjak bersama Ritsuki, Roland telah berubah sedikit demi sedikit. ia menjadi lelaki yang jauh lebih baik dari sebelumnya, dan kini Ritsuki merasa dirinya hanya memberikan harapan palsu pada Roland.


"Roland, tolong maafkan aku ... kau boleh memarahiku dan mengatai ku sepuas hatimu sekarang. Tapi tolong jangan membenciku." Ritsuki menangis terisak, kini ia berada di taman sekolah yang lengang karena jam sekolah telah usai. Hanya ada beberapa murid yang berlalu lalang, tapi mereka sama sekali tak peduli dengan apa yang terjadi pada Roland dan Ritsuki.


"Ritsuki, aku tidak mungkin bisa marah pada gadis yang aku sayangi. Aku menghargai keputusanmu, karena aku sadar bahwa cinta tidak bisa dipaksa. Aku mencintaimu dengan tulus, dan jikapun kau tidak mencintaiku, itu tidak akan membuat aku membencimu. Kita masih bisa berteman. Kita bisa saling melindungi dan saling membantu sebagaimana seorang teman pada umumnya." Roland tersenyum manis. Lelaki itu berlapang dada merelakan gadisnya mencintai lelaki lain, dan ia tahu siapa lelaki itu.


"Roland."


"Jangan menangis lagi, aku berdoa untuk kebahagiaanmu. Ritsuki, sebentar lagi aku akan lulus dan akan melanjutkan kuliah di London, aku harap kau bisa menjaga dirimu sendiri setelah aku pergi dari sisimu. Dan selama aku masih ada di sini, aku tetap akan menjagamu seperti biasanya, dan aku harap kau juga belajar agar lebih berani lagi mengahadapi mereka. Kau akan terus ditindas jika kau hanya diam." Roland mengusap rambut panjang Ritsuki, gadis itu mengangguk paham.


"Terimakasih, Roland, kau lelaki yang sangat baik. Maafkan aku karena sudah begitu dalam menyakiti perasaanmu. Aku bersalah, seharusnya dari awal aku jujur padamu," ujar Ritsuki lirih. Roland tersenyum dan menggenggam tangan gadis itu.


"Kalau kau mengatakan kejujuran itu sejak awal, tentu saja kau tidak bisa merubahku menjadi lelaki yang sebaik sekarang ini. Terimakasih karena sudah memberiku banyak pelajaran dan mengajariku banyak kebaikan. Kau adalah gadis terbaik sepanjang hidupku, Ritsuki."


Roland melihat ke belakang gadis itu, ada Ken di sana dengan tatapan redup. Sepertinya lelaki itu salah paham dengan kedekatan Ritsuki dan Roland, apalagi ketika Ken melihat genggaman tangan Roland pada sang Adik.


Roland berdiri dari duduknya, berjalan ke arah Ken yang diam mematung di tempatnya. Ia bisa melihat betapa Ken sangat menyayangi Ritsuki lebih daripada dirinya, dan ia senang mendapatkan fakta bahwa cinta Ritsuki tidak bertepuk sebelah tangan seperti dirinya.


"Tolong jaga dia dengan baik, Kak. Dia sangat membutuhkanmu, orang yang paling ia cintai. Aku percaya kau bisa memberikan cinta yang lebih besar daripada cintaku padanya." Ken terkejut mendengar ucapan Roland padanya, tapi detik berikutnya ia mengangguk dan tersenyum membalas ucapan lelaki itu.


Ken menepuk bahu Roland, dan lelaki yang lebih muda darinya itu mengangguk sekilas sebelum pergi dari sana.


"Kak, aku--"


Belum sempat Ritsuki melanjutkan ucapannya, Ken sudah memeluk gadis itu dengan erat. Mencurahkan seluruh rasa cinta dan kebahagiannya lewat pelukan tersebut.


Ritsuki membalasnya, lama mereka berpelukan dengan si gadis yang terisak di dada Ken. Bukan tangisan kesedihan, Ritsuki menangis bahagia karena telah menemukan orang yang benar-benar ia cintai.


Dalam hati Ritsuki bertanya-tanya, apakah Kenzo juga memiliki perasaan yang sama dengannya? Ataukah pelukan itu hanya sebatas rasa sayang seorang Kakak pada Adiknya?


Atau karena Kenzo ingin menenangkan Ritsuki yang baru saja putus dengan Roland?


Entahlah, gadis itu tak mau memikirkannya, ia sangat mencintai Ken dengan tulus tanpa mengharapkan balasan atas rasa cintanya. Tapi, hati kecil Ritsuki ingin berlaku egois, hati kecilnya menginginkan balasan atas perasaan cintanya yang begitu besar itu.


Pergolakan batin si gadis dimulai, di satu sisi ia tak ingin merusak hubungan persaudaraan antara ia dan Kenzo, di sisi lain Ritsuki juga ingin memiliki lelaki itu sebagai kekasihnya, bukan Kakaknya.


***


Waktu terus berjalan, hari demi hari dilewati Ritsuki dengan penuh kebahagiaan. Di kelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya, dan juga Kenzo yang dengan tulus mencintai dan menjaga Ritsuki.

__ADS_1


Sedangkan Dara sudah menyesali perbuatannya, kini gadis itu tetap bekerja di toko bunga milik Kenzo dan sudah menjalin hubungan dengan seorang Adik kelasnya dahulu ketika masih SMA.


Tampak Dara sangat bahagia menjalin hubungan bersama dengan Troy, beberapa kali mereka terlihat menghabiskan akhir pekan bersama dengan menikmati makan malam, nonton film di bioskop, atau sekedar melihat pertunjukan kembang api sembari bersenda gurau kecil.


Dan kini, Kenzo dan Ritsuki tengah berada di Jepang, mereka bermaksud meminta restu pada kedua orangtua mereka untuk menjalin hubungan yang lebih serius lagi.


Akan tetapi mereka dikejutkan dengan teriakan kesakitan dari Izumi yang berasal dari halaman belakang kediaman Hoshi. Kenzo dan Ritsuki segera berlari ke arah sumber suara, mereka sangat terkejut melihat Izumi yang terduduk di tanah dan memegangi pipi kanannya yang memerah.


Kenzo segera berlari ke arah Izumi, menolong sang Ibu tiri agar berdiri dan ia sangat terkejut melihat beberapa lebam di bagian tubuh wanita itu. Kenzo menatap bingung ke arah Ayahnya, tapi laki-laki paruh baya itu hanya mendengus tak suka.


"Ayah, apa yang terjadi? Kenapa Tante Izumi penuh luka begini?! Apa ayah menyiksanya?! Jawab!" Kenzo bertanya dengan suara keras pada Ayahnya. Dan lelaki paruh baya tersebut berusaha menarik tangan Izumi, tapi dicegah oleh Kenzo. Pemuda itu segera melindungi Izumi dengan menyuruh Ritsuki membawa ibunya masuk ke dalam rumah.


Tapi, Ritsuki yang juga memiliki trauma pada Hoshi hanya berdiri diam mematung seakan kakinya terpaku di lantai


"Jadi selama ini Ayah tidak berubah? Ayah masih saja suka memukul perempuan?! Cukup Ibu saja yang menjadi korban kekerasan Ayah, jangan lagi Ayah menjadikan wanita lain korban berikutnya!"


"Diam kamu! Kamu tidak tahu apa-apa, Kenzo! Selama ini Izumi sudah menipu Ayah, pertama kali bertemu dengannya, wanita itu mengatakan kalau belum pernah menikah. Tapi apa nyatanya? Tiba-tiba ada seorang gadis kecil yang memanggilnya Ibu! Dia penipu, dan pantas mendapatkan semua ini!" amuk Hoshi yang membuat Ritsuki ketakutan. Belum sempat Izumi menarik Ritsuki masuk, Hoshi sudah lebih dulu menarik tangan gadis itu dan hendak memukul Ritsuki.


Namun, Kenzo dengan cepat menangkap tangan Ayahnya yang sudah hampir mendarat di pipi kiri gadis itu, ia juga dengan cepat menarik Ritsuki ke dalam pelukannya. Kenzo hampir saja kehilangan kontrol dirinya jika saja Ritsuki tak memanggil nama lelaki itu dengan keras, sudah pasti Hoshi akan terkena tusukan pisau yang Kenzo ambil dari piring buah di meja yang ada di dekatnya.


"K-kak, aku takut." Kenzo menjatuhkan pisau itu ketika isakan kecil Ritsuki ia dengar. Hoshi terkejut melihat perubahan Kenzo yang terlihat aneh. Putranya itu seakan mengalami trauma yang berat hingga membuat si pemuda gemetar, dan memeluk Ritsuki dengan erat seolah Kenzo tidak ingin ada yang mengambil gadis itu.


"S-sakit." Ritsuki merasa sesak oleh pelukan Kenzo. Lelaki itu gemetar hingga akhirnya terjatuh pingsan di tanah. Hoshi dan Izumi segera lari menghampiri Kenzo, dengan panik Hoshi menyuruh beberapa pengawalnya untuk mengangkat Kenzo, sedangkan ia langsung menelpon seorang Dokter.


***


Dokter telah memeriksa Kenzo dan mengatakan bahwa lelaki itu menderita PTSD, Hoshi merasa terpukul mendengarnya. Ia tak menyangka semua perbuatannya selama ini pada sang Ibu dan pada putra sulungnya itu, berimbas padanya yang mengalami trauma mendalam seperti itu.


Dokter menyarankan agar Ken melakukan terapi pada psikolog demi menyembuhkan ptsdnya. Semua anggota keluarga menyetujui hal itu, dan selama proses penyembuhan Kenzo selalu ditemani oleh keluarganya.


Menyembuhkan trauma yang dialami Kenzo bukanlah hal yang mudah, lekaki itu masih juga sering mengalami mimpi buruk, insomnia, dan juga emosi yang tidak terkontrol.


Sedangkan Izumi, ia begitu sabar menemani Kenzo di setiap jadwal terapinya pada psikolog. Wanita itu juga lebih sering meluangkan waktu untuk mengajak Kenzo mengobrol dan terkadang pemuda tersebut bisa tertawa lepas.


Sedangkan si kecil Ryuji juga sering sekali mengajak Kenzo bermain. Lelaki itu merasa keluarganya utuh kembali, ia merasa bahagia, sangat bahagia.


"Kenzo, makan dulu ... Tante sudah buatkan Yakiniku untukmu. Ritsuki bilang kamu suka sekali Yakiniku dan tempura, Tante sudah buatkan untuk kamu." Izumi masuk ke kamar Kenzo ketika lelaki itu melipat bajunya. Sepertinya ia tengah berkemas untuk bepergian, karena Ken telah memasukkan beberapa lembar bajunya ke dalam koper berukuran sedang.


"Iya, Tante. Terimakasih." Kenzo tersenyum singkat. Izumi menghampiri putra sambungnya, ia bingung melihat lelaki itu memasukkan seluruh bajunya.


"Kamu mau ke mana?" tanya Izumi bingung. Kenzo menghentikan aktivitasnya sejenak.


"Ritsuki akan segera masuk sekolah. Dia tidak bisa mengambil banyak cuti."


"Biar Tante saja yang menemaninya di sana. Masih ada beberapa jadwal kamu untuk terapi di sini." Izumi berbicara seperti biasanya. Nadanya kurang ramah, memang begitulah gaya bicaranya.


Kenzo merasa ragu, ia tak pernah meninggalkan Ritsuki seorang diri. Gadis itu sulit bergaul, dan Izumi sendiri juga kurang memahami bahasa Inggris.


"Biarkan aku saja, Tante ... aku sudah merasa jauh lebih baik." Izumi menepuk pundak Kenzo pelan.


"Dari kecil Ritsuki kekurangan kasih sayang seorang Ayah. Aku sendiri juga tidak pernah memperhatikannya. Dia kesulitan bergaul dan selalu menjadi korban bully di sekolah. Tapi setelah kamu menjaganya, aku bisa melihat gadis kecilku tertawa lepas. Bahkan, Hoshi juga mulai mengajaknya berbicara meski hanya sedikit-sedikit. Mereka masih terlihat canggung." Izumi menghapus air mata di pipinya. Kenzo kembali mengingat kejadian beberapa tahun lalu ketika ia mengalami masa terpuruk setelah aksi kejahatannya pada Alsa, Ibu tirinya itu melarang Ayahnya membawa Kenzo ke Jepang.


"Kenapa kamu dulu begitu jahat?" Kenzo bertanya dengan nada getir. Kesakitan kembali merasuk dalam dirinya, akan tetapi Ken lebih bisa mengontrol dirinya jauh lebih baik dari sebelumnya.


"Maafkan aku, aku--"


"Izumi sudah melakukan hal yang benar ketika itu." Hoshi memotong ucapan Izumi. Wanita itu mundur dari samping Kenzo, memberi jalan pada suaminya agar lebih dekat duduk di samping Ken yang sedang duduk di ranjangnya.


"Ayah?"

__ADS_1


"Untung saja saat itu Izumi melarang ku membawamu ke Jepang, dengan alasan kami yang akan memiliki seorang bayi. Jika saja ketika itu Izumi tak melarang, tentu saja aku akan membunuhmu di sini. Tapi, hal itu berimbas pada Izumi, aku memukulinya hingga ia mengalami pendarahan hebat. Beruntung nyawanya dan juga kandungannya masih bisa diselamatkan." Kenzo terhenyak kaget, ia tak percaya bahwa selama ini Izumi berusaha melindunginya dari sikap tempramental sang Ayah.


"Tante." Izumi hanya tersenyum tipis, wanita itu memang memiliki wajah yang culas, ia tak pandai mengukir senyum. Namun, Kenzo tahu bahwa Ibu sambungnya itu sebenarnya wanita yang baik, "terimakasih," lanjutnya.


Izumi meneteskan setetes air mata, melihat putra tirinya tersenyum saja sudah membuatnya lega.


"Ibu, Ayah, Kakak, makan malamnya sudah siap." Ritsuki memanggil mereka dari ambang pintu. Gadis itu sedikit mundur ketika Hoshi berjalan ke arahnya, ia memejamkan mata dengan kuat ketika Ayah tirinya melayangkan tangan kanannya kearahnya. Gadis itu bersiap-siap jika nantinya akan mendapat pukulan kembali.


"Terimakasih, Nak."


"Eh?" Ritsuki tidak merasakan sakitnya pukulan di pipi seperti dulu. Justru ia merasakan lembutnya usapan tangan seorang Ayah pada puncak kepalanya.


"Hiks, A-Ayah." Ritsuki menangis haru, ia tak pernah merasakan kasih sayang seorang Ayah. Ternyata seperti itu rasanya diusap kepalanya oleh seorang Ayah, ia sekarang mengerti kenapa teman perempuannya begitu manja pada Ayah mereka.


"Iya, aku Ayahmu, Ritsuki." Ritsuki dengan air mata dan tangisan harunya segera memeluk sang Ayah, mereka berpelukan dengan erat. Dan Hoshi terus menggumamkan kata 'putriku' secara berulang. Tanpa terasa air matanya menetes, penyesalan atas perbuatannya di masa lalu membuatnya ingin menyayangi Ritsuki selayaknya ia menyayangi Kenzo. Anak kandungnya sendiri.


Kenzo tersenyum bahagia, gadis yang ia cintai kini menemukan kebahagiaannya.


Lalu, akan dibawa ke mana hubungan mereka selanjutnya? Pertanyaan itulah yang ada di pikiran Kenzo.


"Aku merestui kalian," bisik Izumi yang membuat Kenzo terkekeh senang. Ia menggumamkan kata 'terimakasih' dan dibalas senyum tipis wanita itu.


***


2 Tahun kemudian pernikahan besar digelar, keluarga Ishihara berkumpul untuk menghadiri acara pernikahan Ken dan Ritsuki. Pernikahan digelar di Jepang ketika musim semi tiba. Semua orang larut dalam kebahagiaan, tak ada lagi kesedihan, masalah, dan berbagai cobaan hidup telah berhasil mereka lewati.


Alsa, wanita itu kini juga tengah hamil muda, usia kandungannya baru menginjak 2 bulan. Kali pertama ia menginjakkan kaki di Jepang, bagaikan mimpi untuk wanita itu. Ia terus saja aktif berkeliling kota Osaka. Menikmati indahnya musim semi, dan sibuk berfoto dengan Grace juga Kedua Mamanya.


Wanita itu tak mengindahkan larangan Davin agar berhati-hati atau sekedar duduk sejenak untuk beristirahat, akhirnya ia sempat mengalami pendarahan dan membuat semua orang panik karena Alsa yang sudah tak sadarkan diri.


Beruntung bayi dan Ibunya berhasil diselamatkan, dan Davin pun langsung membatasi aktivitas sang Istri yang memang memiliki sifat keras kepala semenjak kehamilan keduanya.


***


Dua tahun menjalani kehidupan rumah tangga bersama Kenzo, Ritsuki sudah bisa memahami sifat lelaki itu. Kenzo adalah sosok suami sekaligus Ayah yang sangat bertanggung jawab, ia adalah tipe pria pekerja keras dan berbakti pada orangtuanya, terbukti dengan ia yang bersedia menggantikan posisi Ayahnya sebagai CEO dan juga menghandle dua perusahaan milik sang Ayah sekaligus.


Kenzo adalah lelaki yang cerdas, meski pekerjaannya menumpuk, lelaki itu tak kehilangan waktunya bersama keluarga. Selalu menyempatkan pulang tepat waktu dan berlibur di akhir pekan. Ditambah lagi kini Kenshiro sudah berusia satu tahun dua bulan, sedang lucu-lucunya menurut Kenzo.


Toko bunga mereka, kini telah dijual karena Kenzo menetap di Jepang sejak menikah. Sedangkan Dara, wanita itu juga sudah menikah dengan Troy dan hidup bahagia bersama dua putri kembarnya.


Dua tahun lalu Alsa telah melahirkan seorang bayi laki-laki bernama Elang, tepat beberapa bulan setelah pernikahan Kenzo digelar, dan sebulan lalu ia juga mengangkat seorang bayi perempuan dari panti asuhan tempat mereka rutin melakukan donasi. Bayi perempuan itu bernama Aira.


Keluarga mereka hidup dengan bahagia, saling melengkapi satu sama lain, Dan tak ada lagi air mata yang menetes di pipi Alsa.


Mereka juga menyayangi Aira selayaknya anak kandung mereka sendiri. Alvin, Elang, dan Aira tumbuh bersama, mendapatkan kasih sayang yang sama meski terkadang Davin dan Alsa juga sedikit kuwalaan menghadapi tingkah usil Alvin pada si bungsu, Aira.


Sedangkan Elang, anak itu tampak lebih tenang daripada Kakaknya. Sifatnya juga lebih dewasa, walau terlihat beberapa kali ia memukul sang Adik hingga balita itu menangis kencang. Meski begitu mereka tetaplah anak-anak yang belum mengerti di mana letak kesalahan mereka, belum paham apakah benar atau salah yang mereka lakukan.


Untuk itulah Davin dan Alsa senantiasa mendidik mereka dengan kesabaran seorang Ibu, juga ketegasan seorang Ayah.


"Terimakasih, karena sudah memberikan mereka untukku, Sayang. Alhamdulillah ya Allah, telah mempercayakan tanggung jawab ini kepadaku." Davin merangkul bahu Alsa dan membawa wanita itu ke dalam pelukannya. Melihat ke tiga anaknya bermain bersama di taman, menjadi kebahagiaan tersendiri bagi mereka di akhir pekan.


_____________TAMAT_____________


Alhamdulillah, akhirnya cerita saya telah tamat semuanya, dan tata ucapkan terimakasih banyak untuk kalian yang udah sempetin buat mampir dan baca cerita tata.


Terimakasih buat kalian yang selalu semangati tata buat lanjutin cerita ini meski update nya sangat amat terlambat, selalu:v


Tapi kalian tetap sabar buat menunggu cerita ini. Pokoknya makasih banyak, dan maaf kalau selama ini tata ada salah ucapan, atau perbuatan yang membuat kalian tersinggung. Mohon dimaafkan ...

__ADS_1


Tanpa kalian tata nggak akan bisa seperti ini, sekali lagi terimakasih banyak:)


__ADS_2