
Alsa membuka kedua kelopak matanya, sudah ada Ken yang menunggu gadis itu sejak beberapa menit yang lalu stelah Davin keluar dari UKS. Ken yang memaksa Davin untuk masuk di jam pelajaran terakhir untuk mengajar di kelasnya, karena sedari tadi kakak Alsa tersebut mengabaikan semua kegiatan mengajar bahkan makan siangnya hanya untuk menunggu adiknya bangun.
Alsa tersenyum senang, begitu juga dengan Ken yang memang khawatir dengan kondisi Alsa.
"Kamu yang nungguin aku dari tadi, Kak?" Tanya Alsa merasa senang mendapat perhatian lebih dari orang yang ia cintai.
"Mmm ... itu sebenarnya Pak Dav--"
"Alsa, lo udah bangun? Syukur deh," ucapan Ken terpotong oleh kedatangan Levin yang khawatir perihal kondisi sahabat satu-satunya itu.
"Gimana keadaan lo?" tanya Levin lagi. Pria tampan berambut coklat itu mendekat.
"Udah mendingan kok, Vin," jawab Alsa lemah. Levin memandang Ken dengan sedikit kesal, pasalnya sikap Kenzo yang suka menggantungkan hati perempuan dianggap menyebalkan bagi Levin.
Ken memang cowok pendiam, tidak seperti dirinya yang suka membolos atau bahkan dikeluarkan saat jam pelajaran akibat ribut atau tidak mengerjakan pr. Namun, di balik sikap pendiam Ken, pria itu terlalu sering menggantungkan perasaan wanita yang menyatakan perasaan padanya.
Bahkan tak segan menolak mereka dengan cara yang menurut Levin kurang baik, dan Levin tak ingin kalau Alsa mengalami nasib serupa dengan para gadis itu.
"Kayaknya lo dicariin deh sama anak-anak basket kelas 3, udah di tunggu noh di lapangan." Levin berbicara ketus sekaligus mengusir secara halus. Ken mendengus kesal dan memandang Levin remeh.
"Al, gue tinggal ya. Hati-hati di modusin sama sahabat sendiri," ucap Ken menekan kan kata 'sahabat' serta melirik sekilas pada Levin. Ken ingat bahwa Alsa pernah mengatakan soal Levin adalah sahabat satu-satunya yang ia punya, maka dari itu Ken menggunakan kata 'sahabat' untuk menyindir Levin.
Yang disindir hanya membuang muka cuek, ia tak perduli dengan sindiran yang di layangkan Ken untuknya.
__ADS_1
"Makasih ya, Kak, udah mau temani aku," ucap Alsa pelan. Ken mendekat dan mengusap rambut Alsa pelan.
"Sama-sama." Ken tersenyum hangat pada Alsa kemudian pergi meninggalkan mereka.
Levin membantu Alsa memakan bubur yang tadi sempat ia beli di kantin sekolah, setelahnya pria itu mengantar Alsa pulang.
***
Davin telah selesai mengajar di jam pelajaran terakhir, ia hendak menuju ke UKS untuk mengajak Alsa pulang.
Namun, ketika ia hendak berjalan ke arah UKS, dirinya melihat Alsa sudah akan diantar oleh Levin dengan mobil pria itu.
Namun, di tengah jalan ia dikejutkan oleh salah satu guru wanita yang seusia dengan pria itu yang tiba-tiba terpeleset di sampingnya, sehingga dengan reflek Davin menangkap pinggang guru itu. Dia adalah guru berhijab yang cantik juga anggun, namanya bu Rena.
Mereka dalam posisi saling menatap cukup lama, bu Rena terpana oleh ketampanan Davin.
Tanpa mereka sadari, Alsa yang belum pergi dari tempat tersebut menatap mereka dengan pandangan yang sulit diartikan.
Ia terus menatap ke arah kakaknya dari dalam mobil Levin, hingga akhirnya mobil Audi Q7 merah itu pergi.
Davin yang menyadari posisi tak sopannya segera membantu Rena berdiri, dengan sikap canggung pria itu menggaruk tengkuknya dan minta maaf.
__ADS_1
"Pak Davin tidak perlu meminta maaf, saya yang harusnya berterimakasih. Jika Bapak tidak menolong saya, mungkin saya sudah jatuh dan cidera." Bu Rena tersenyum hangat, Davin sempat terpana melihat senyum manis itu.
Bu Rena adalah guru yang terkenal sabar, santun, dan ramah. Ia juga selalu tampil dengan mengenakan hijab yang membuatnya terlihat semakin cantik.
"Apa Bu Rena membawa mobil?" tanya Davin untuk memecah kecanggungan.
"Mobil saya di bengkel, saya akan menunggu bis di halte dekat sekolah," jawab Bu Rena dengan suara yang terdengar lembut.
"Bagaimana kalau Ibu bareng dengan saya saja, kebetulan rumah kita searah, kan?" tawar Davin dengan sopan. Ia tak ingin membuat guru wanita itu tak nyaman di dekatnya.
"Apa saya tidak merepotkan?"
"Tentu saja tidak." Davin menjawab dengan cepat. Bu Rena sempat tertegun melihat sifat ramah Davin. Karena yang terlihat selama ini adalah Davin terlihat kurang ramah dan sedikit sulit didekati.
Bu Rena tersenyum dan mengangguk, kemudian mereka berjalan menuju mobil Davin yang terparkir di deretan mobil guru lainnya.
Mereka masuk mobil dengan Davin yang membukakan pintu penumpang untuk bu Rena. Wanita itu tersipu mendapat perlakuan manis pria setampan Davin.
Dan mereka pun meninggalkan pelataran sekolah.
_______tbc.
__ADS_1