
Davin duduk termenung di kantornya, pria itu kesal orang-orang suruhannya belum juga menemukan di mana Alsa berada.
Ia dulu sempat menayakan pada pihak sekolah mengenai siapa yang memindahkan Alsa, namun pihak sekolah tak memberi tahu Davin siapa yang memindahkan Alsa.
Lelaki itu geram hingga akan menuntut sekolah yang sudah sembarangan mengeluarkan adiknya, tanpa seijin dari Davin. Namun hal itu di batalkan, Grace melarang Davin menuntut sekolah karena ia tak bisa mementingkan dirinya sendiri.
Akhirnya Davin menyuruh beberapa orang suruhan untuk mencari di mana keberadaan adiknya, ia benar-benar frustasi saat ini.
Kondisi kesehatannya juga menurun akibat terlalu banyak beban pikiran, ditambah dengan kurangnya tidur juga pola makan yang kurang baik.
Grace datang ke ruangan Davin sepulang dari rumah sakit, ia ingin mengajak Davin makan malam di cafe favorit mereka. Namun Davin mengacuhkannya, membuat Grace bungkam dan memilih pergi.
***
Gerry menghampiri Alsa yang tengah berkutat dengan buku pelajarannya saat teman-temannya yang lain sibuk dengan makan malam mereka.
"Ca, makan malam dulu sama kakak, yuk?" ajak Gerry yang kini duduk di samping Alsa.
"Nanti deh, Kak. Aku lagi ngerjain pr, lagian Alsa belum laper," tolak Alsa tanpa menoleh pada Gerry, ia masih sibuk dengan bukunya.
"makan malam dulu, Dek. Kita makan malam di restoran jepang, gimana? Atau kamu mau makan apa? Nanti kakak beliin." Gerry mengiming-imingi Alsa, biasanya gadis itu akan langsung mengangguk kalau sudah di imingi makanan.
Tapi sekarang, Alsa masih fokus pada bukunya. Hingga membuat Gerry berdecak kesal.
"Aku gak laper, Kak."
"Kakak mau makan malam sama pacar Kakak, emangnya kamu gak pengen kenalan? Dia calon kakak ipar kamu lho." Gerry tak menyerah membujuk Alsa.
"Enggak!"
"Dia cantik, Dek. Dia itu seorang Dokter."
"Kan papa juga Dokter."
"Tapi dia cantik."
__ADS_1
"Mama juga cantik."
"Aaarrrrggghhhh." Gerry yang kesal langsung berteriak frustasi sambil mencubit pipi Alsa.
Membuat gadis itu mengaduh kesakitan, padahal Gerry hanya ingin makan malam dengan Alsa. Ia iri pada cerita temannya yang mengatakan kalau saat makan malam dengan adik perempuan, temannya itu kesal akibat adiknya yang begitu cerewet minta ini dan itu.
Maka dari itu Gerry membujuk Alsa sejak tadi siang, namun selalu di tolak mentah-mentah oleh Alsa.
"Kakak, sakit ih." Alsa yang kesal karena pipinya dicubit hingga merah, memutuskan untuk membawa bukunya dan pergi meninggalkan Gerry.
Para karyawan yang melihat adegan itu, dibuat terkikik geli melihat betapa manjanya si bos dengan adik barunya.
***
Gerry berjalan gontai menuju pintu apartemen kekasihnya, ia yang masih kesal dengan Alsa kini menunjukkan wajah masam si pria.
Hingga ia pun malas memencet bel rumah, memilih bersandar pada tembok becat putih dan melayangkan angannya pada Alsa.
"Seandainya adik gue kayak adiknya si Temi, pasti gue ajak kemana-mana dia," gumamnya sambil melamun.
"Adik aku, Sayang. Kamu tau kan aku punya adik baru?"
"Iya, emang dia kenapa?" tanya Grace bingung.
"Dia itu gak kayak adik temen-temen aku, dia gak manja kayak mereka, dia gak minta-minta dibeliin ini itu sama aku. Dan tadi aku ajak dia makan malem, eh dianya gak mau."
"Mungkin dia butuh waktu. Udah ah, yuk cepet berangkat. Keburu malem." Grace menarik tangan Gerry untuk segera pergi.
***
Davin tengah duduk sembari memainkan ponselnya di sebuah cafe yang dulu sering didatangi bersama Alsa.
__ADS_1
lelaki itu kembali teringat kenangan bersama Alsa, harapannya untuk kembali bertemu dengan adiknya seakan pupus.
Davin merasa sangat bodoh karena bisa ditipu ayahnya dengan mudah, seandainya ia tak pergi saat itu. Pasti Alsa masih bersamanya.
"Lho, Bang Davin?" panggilan seorang wanita mengagetkan lamunannya, Davin menoleh ke samping dan mendapati Grace juga Gerry tengah duduk di meja sampingnya.
Kemudian mereka bergabung dengan Davin.
"Lo gak papa, Bang?" tanya Grace khawatir, pasalnya sang kakak kini terlihat begitu pucat.
Namun Davin hanya diam tak bergeming.
"Bang, kita semua kehilangan Alsa juga. Tapi jangan nyiksa diri sendiri gitu dong, Bang. Kalau abang gak urusin diri sendiri kayak gini, gimana mau cari Alsa?" nasehat Grace penuh prihatin. Ia sedih melihat Davin seakan tak bernyawa.
"Lo gak ngerti perasaan gue, Grace. Gue sayang banget sama Alsa, gue cinta sama dia."
Grace dan Gerry terbelalak kaget mendengar pengakuan Davin, pantas saja selama ini Davin seperti mayat hidup saat Alsa pergi. Ternyata ini alasannya.
Tapi, mereka tak menyangka kalau Davin akan mencintai gadis kecil seperti Alsa.
Meski Gerry belum pernah bertemu Alsa, lelaki itu membayangkan bahwa Alsa adalah sosok gadis yang cantik. Mengingat Davin adalah pria dengan selera yang tinggi, jadi tak mungkin jika lelaki itu jatuh cinta pada sembarang gadis.
"Kita tahu, Bang. Dan kita pasti akan bantu Abang buat cari Alsa," ucap Grace sembari menggenggam tangan Davin.
Kemudian lelaki itu pergi meninggalkan mereka setelah mengucapkan, terimakasih.
"Alsa itu kayak apa sih orangnya, Grace," tanya Gerry penasaran.
"Dia itu masih kecil, tapi sangat cantik, manis, berkulit putih, dia juga sangat pintar, dan dia gadis kecil yang mempesona," jelas Grace, Gerry menganga dibuatnya. Ia tambah penasaran seperti apa wajah Alsa itu.
Apa secantik Caca adiknya?
Entahlah, Gerry juga tidak tahu.
Mereka pun melanjutkan makan malam romantis di musim hujan ini.
_________Tbc.
__ADS_1