
Tiga hari kemudian kondisi kesehatan Alsa sudah membaik setelah mendapat perawatan di rumah sakit, selama itu pula Ken setia menemani Alsa. Bahkan lelaki itu rela ijin sakit demi menjaga Alsa.
Dan kini mereka sudah sampai di luar kota, butuh enam jam perjalanan jika dari apartemen Davin ke kota ini.
Kenzo yang sudah mendengar cerita Alsa mengenai hubungannya dengan Davin, membuat pria itu enggan mengembalikan Alsa pada Davin. Maka ia memutuskan membawa gadis itu pergi jauh ke luar kota, tepatnya di rumah tante Kenzo.
"Siang, Tante." Kenzo menyapa seorang wanita paruh baya yang membukakan pintu untuk mereka, wanita itu nampak terkejut dan detik berikutnya ia tersenyum bahagia. Segera ia memeluk Kenzo hangat, lelaki itu tersenyum membalas pelukan si wanita.
"Ken, udah lama kamu gak main ke sini. Ayo masuk, kakak kamu pasti senang melihat kamu datang, Ken."
Dan mereka pun masuk ke dalam rumah tante Kenzo yang megah, beberapa pelayan yang berpapasan dengan mereka menunduk penuh hormat.
"Gadis ini siapa, Ken? Cantik sekali, apa dia pacar kamu?" Tanya wanita itu sembari melihat Alsa, senyum anggun Vani terukir kala melihat gadis yang dibawa keponakannya itu tersenyum malu-malu.
"Dia adik kelas aku, Tan. Boleh gak kalau dia tinggal di sini untuk sementara, aku bakalan urus surat-surat kepindahannya dulu. Setelah aku lulus, aku bakalan ajak dia tinggal di apartemen aku, Tan." Kenzo menjelaskan pada Vani, wanita itu tersenyum.
"Kamu mau pindahin sekolahnya di sini? Apa orang tuanya gak nyariin? Kamu gak bawa kabur anak gadis orang, kan?" tanya Vani beruntun, pasalnya ia takut jika Ken benar-benar membawa kabur anak gadis orang seperti Papa Kenzo yang membawa kabur mamanya.
"Enggak sih, Tante. Alsa yatim piatu, dia tinggal sendiri selama ini," jawab Ken ragu, ia sadar mau dijelaskan bagaimanapun juga, tindakannya ini bisa disebut membawa kabur anak gadis orang.
"Ya sudah, nama kamu siapa, Nak?" tanya Vani ramah, wanita itu menatap pada Alsa yang duduk sembari memegang lengan Kenzo.
Ia merasa takut jika bertemu orang baru, Davin mengatakan pada Alsa untuk tidak mempercayai orang yang baru ia kenal. Namun wanita yang ada di depannya ini adalah tante dari orang yang ia cintai. Jadi, haruskah ia menjaga jarak?
"Nama saya Alsa Faresta, Tante," jawab Alsa lembut, wanita itu menarik tangan Alsa untuk duduk di dekat dirinya. Vani memang sejak dulu menginginkan anak perempuan, dan ia sangat menyukai Alsa yang dinilai sebagai gadis sopan.
"Panggil tante, mama. Ya, Sayang?" ucap Vani yang membuat Alsa terkejut, entah sudah berapa lama ia tak lagi memanggil 'Mama.
"Tante Vani itu dari dulu pengen anak perempuan, Ca." Kenzo menjelaskan. Alsa tersenyum kemudian mengangguk setuju dengan panggilan itu.
Tak lama kemudia seorang lelaki seusia Davin turun dari lantai dua, sepertinya ia akan pergi. Melihat dari pakaiannya yang begitu rapi.
__ADS_1
"Gerry, kamu mau kemana?" tanya Vani heran, kemudian lelaki yang disapa Gerry itu menghentikan langkahnya. Bertos ria dengan Ken, dan dia menatap bingung pada Alsa.
"Bawa kabur anak orang, lo?" tanya Gerry sedikit keras, membuat Ken geram dan melayangkan tinjuan kecil ke lengan Gerry.
"Enggak lah, dia itu Caca. Adik kelas gue, Bang,"
"Cantiknya," puji Gerry sambil mencubit pipi Alsa gemas, sedangkan yang dicubit langsung beringsut takut. Ia kembali menempel pada Ken, membuat Gerry tertawa dengan tingkah lucu Alsa.
***
Tujuh bulan telah berlalu, dan Davin belum juga menemukan Alsa. Dia yang dulu memiliki sifat ramah, terbuka juga hangat. Kini ia berubah.
Davin yang sekarang adalah orang yang sangat dingin, tertutup bahkan ia tak pernah tersenyum sedikit pun. Kesan ramah dan hangat yang dulu ia sandang, kini lenyap entah ke mana.
Ia yang memiliki sifat keras kepala enggan untuk melihat kondisi orang tuanya.
Davin duduk di sofa ruang kerjanya, melihat foto Alsa yang ada di ponsel pria itu. Foto saat kelulusan Alsa dari SMP, saat itu adiknya merengek minta dirayakan kelulusannya di cafe yang ada di puncak.
Akhirnya Davin menuruti keinginan Alsa, mereka merayakan kelulusan Alsa dengan makan malam dan menginap di villa keluarga Davin yang ada di sana.
Mengingat hal itu, Davin tersenyum miris. Ia memasukkan ponselnya ke saku celana bahan pria tersebut. Berjalan ke meja kerja dan tersenyum simpul melihat foto Alsa dalam pigura yang ia letakkan di meja kerja.
Alsa sangat cantik dengan dress pink yang di belikan Davin saat ulang tahun ke 15.
Tapi sekarang entah kemana gadis itu pergi, membuat lelaki itu kembali memijit pelipisnya. Pusing ia rasakan menambah penderitaan Davin hari demi hari.
__ADS_1
***
Sementara itu Alsa tengah sibuk melayani para tamu di cafe Gerry, ia terus saja memohon pada mama angkatnya untuk mengijinkan gadis itu bekerja di cafe milik Gerry.
Awalnya Gerry pun menolak, ia mengatakan jika ingin sesuatu bisa meminta pada Gerry atau Vani. Namun Alsa menolak dengan alasan tak ingin menjadi beban bagi mereka.
Sekarang ia duduk di kelas 2 SMA, menjadi murid paling pintar di sekolah membuat Alsa mendapatkan bea siswa. Dan jika nilainya tetap di atas rata-rata, maka ia akan mendapat bea siswa untuk melanjutkan kuliah di luar negri.
Alsa melayani dua orang kakak beradik yang tengah bersenda gurau di meja nomor 12, seorang anak perempuan berusia sekitar 7 tahun, dan kakak laki-laki yang masih mengenakan seragam SMA.
Ia ingat Davin, dulu saat ia masih berusia sekitar 7 tahunan. Alsa sering sekali merengek minta Davin mengajaknya jalan-jalan sepulang pria itu dari kampus.
Ia juga ingat dulu sering diantar jemput Davin saat masih duduk di bangku sekolah dasar, tapi kini hanya tinggal kenangan.
Meski ia bersedih, namun Alsa tetap bekerja dengan baik. Menyingkirkan perasaan irinya sesaat, dan melayani mereka dengan ramah.
Gerry yang melihat Alsa begitu cekatan dalam bekerja, tersenyum senang.
Bahkan saat istirahat kerja, Alsa masih menyempatkan diri untuk belajar. Membuat Gerry semakin bangga memiliki adik angkat sepintar Alsa.
_________Tbc.
__ADS_1