
.
.
.
.
.
.
Alsa mengintip dari balik dinding ruang tengah, ia melihat Ken tengah berbicara dengan kurir pengantar makanan. Tak lama kemudian lelaki itu menaiki tangga lantai dua menuju kamarnya, mungkin ia lupa membawa dompet dan ingin mengambil uang untuk membayar makanan tersebut.
Ken tidak mengetahui kalau Alsa telah menyelinap keluar kamar saat asisten rumah tangganya lupa mengunci pintu lagi ketika keluar, dengan langkah perlahan ia mendekat ke arah pintu utama.
Pelan.
Pelan.
Sangat pelan.
BLAM.
Alsa terlonjak kaget ketika mendengar pintu kamar Ken kembali tertutup, segera ia lari secepat mungkin menuju pintu utama.
Ia tak peduli meski telah mendorong kurir hingga lelaki paruh baya itu jatuh terjerembab ke lantai, yang ada di pikiran gadis mungil itu adalah lari sejauh mungkin.
"CACA!! CA!!" teriak Ken saat mendapati Alsa lari keluar dari rumahnya, dengan cepat pria tersebut mengejar Alsa setelah melempar uang pada kurir makanan itu.
__ADS_1
"KEMBALI, CACA!" umpat Ken penuh amarah, ia kehilangan jejak Alsa di perempatan jalan.
***
Alsa lari tak tentu arah, bahkan ia mengabaikan kakinya yang seakan patah. Beberapa kali ia sempat terjatuh akibat jalanan hutan yang penuh akar pohon besar.
Ia sengaja tak lewat jalan utama, karena Ken bisa saja mengejarnya menggunakan mobil. Akan sangat sulit bersembunyi di jalanan utama yang beraspal.
Sampai akhirnya ia melihat ada jalan dengan banyak mobil berlalu lalang.
Jalan utama menuju perkotaan.
Alsa lari secepat mungkin keluar dari hutan dengan pepohonan raksasa, ia fikir hanya ada hutan pinus di sekitar tempat tinggal mereka.
Ternyata pekikirannya salah. Banyak pohon raksasa dengan akar besar menjulur keluar dari tanah.
Brakk!!
Alsa terpental hingga terguling ke trotoar jalan ketika sebuah mobil menabraknya, bahkan ia merasa lutut, siku, dan keningnya berdarah.
Seseorang keluar dari dalam mobil tersebut, menghampiri Alsa dengan raut wajah cemas. Ia sedikit kaget hingga lebih dari dua menit membiarkan sang korban tergeletak di pinggir jalan.
sampai ia tersadar dan dengan cepat turun untuk menghampiri korbannya. Sedangkan dua penumpang lainnya masih diam di dalam mobil.
"Aku harus pergi! Aku harus pergi! Pergi sejauh mungkin, aku takut sekali. Aku sangat takut!" racau Alsa tak jelas ketika si penabrak menghampirinya.
Pikirannya sudah kalut akan ketakutan jika Ken menemukannya lagi.
Pria itu seperti monster di mata Alsa.
__ADS_1
"Alsa!" panggil si penabrak tak percaya.
***
Davin memeluk Alsa dengan erat di kursi penumpang bagian belakang, dirinya membiarkan Gerry menggantikannya menyetir dengan di temani Grace di samping kursi kemudi.
Ia terus memeluk Alsa setelah gadis itu di obati Grace.
"Maafin kakak, Sayang. Maaf!" Davin terus saja menggumamkan kata 'maaf pada Alsa, ia juga mengecup puncak kepala si gadis beberapa kali.
Davin sedikit heran dengan sikap Alsa yang seperti orang ketakutan, gadis itu terus saja menggerakkan bola matanya ke kanan dan kiri dengan cepat seakan ia khawatir akan bahaya di sekitarnya.
Davin juga merasakan tubuh Alsa gemetar dengan kuku-kuku jari yang terus digigit oleh gadis itu hingga beberapa kali tangannya harus di tahan oleh Davin, bahkan Alsa yang biasanya akan meringis sakit dan mengeluh saat terluka, tetapi berbeda ketika Grace mengobatinya.
Gadis itu hanya diam dengan pandangan kosong.
"Kamu kenapa, Dek? Kenapa jadi begini?" tanya Davin dengan suara bergetar, pria itu menangis melihat adik kecilnya dalam keadaan memprihatinkan.
"Bang, kita bawa Alsa ke psikiater aja, gimana?" tanya Grace hati-hati, pasalnya ia takut Davin akan tersinggung.
"Alsa nggak gila, Grace!" ucap Davin tajam membuat Grace diam.
"Vin, psikiater bukan cuma buat orang gangguan mental. Gue rasa Caca butuh ke sana. Gue juga kakaknya, dan gue nggak mau kalau sampai Caca semakin parah kondisinya," ucap Gerry yang juga khawatir pada adik angkatnya.
"Enggak! Kita ke apartemen gue aja!" putus Davin membuat kedua orang di depannya tak bisa membantah lagi.
Davin melihat ke arah Alsa, gadis kecilnya itu tertidur sembari mencengkram kemeja depan Davin.
_______Tbc.
__ADS_1