
Lelaki itu duduk termenung di kamarnya, pintu kayu berwarna coklat menjadi sandaran punggungnya. Matanya sembab akibat air mata yang tumpah, suaranya sudah ia habiskan untuk berteriak penuh emosi menyalahkan kebodohannya sendiri, lagi.
Ia menangis sembari menatap foto seorang gadis cantik bersama dirinya di sebuah pesta. Lelaki itu kembali terisak dalam, ia kini sungguh menyesal.
Kebodohannya telah menghancurkan masa depannya sendiri, kebodohannya membuat sang kekasih pergi meninggalkan dirinya, dan karena kebodohannya juga semua perjuangan untuk mengemban tugas yang dititipkan mendiang sang istri gagal sudah.
Ia menyesal, menangis meminta maaf pada mendiang Alea karena tak mampu menjaga Alsa. Davin kembali merasa kehilangan untuk yang kedua kalinya.
Sebuah cincin ia lempar asal ketika mengingat ucapan Grace di telepon.
"Lebih baik lo gak usah lagi ganggu Alsa, biarin dia bebas. Toh lo juga gak pernah menghargai kehadiran Alsa. Mau sampai kapan lo kayak gini, Bang? Di saat Alsa pergi, lo berusaha buat dia kembali. Dan saat dia udah ada di sisi lo, dengan seenaknya lo jalan sama cewek lain. Sorry, Bang. Gue cuma pengen adek gue bahagia, jadi mulai sekarang jauhi Alsa. Jalani hidup lo sendiri dengan cewek yang selalu lo banggain dan lo bandingin sama Alsa."
Davin menyesali semua perbuatannya selama ini, ia memang selalu menomor satukan Rena.
Ponselnya kembali berdering, nama Rena tertera di sana.
"Jangan gangguin gue lagi, Ren! Lo urus urusan lo sendiri, gue udah capek ngurusin lo!" ucap Davin menahan emosi.
"Tapi, Vin. Apa salah aku? Kenapa kamu tiba-tiba berubah?" tanya Rena bingung.
"Lo gak salah, tapi gue yang salah. Gue salah karena lebih mementingkan elo daripada orang yang gue cintai. Mulai sekarang, lo urus diri sendiri. Gue udah gak peduli dengan apa pun masalah lo." Davin mematikan ponselnya tanpa menunggu jawaban dari Rena.
Pria itu segera mengambil kunci mobil dan jaketnya, ia harus memperjuangkan cintanya. Tak peduli jika nantinya Alsa akan memaki atau bahkan menampar dirinya, ia hanya menginginkan gadisnya kembali.
*******
Pemuda itu tersenyum pada Alsa yang baru saja menginjakkan kaki di bandara, gadis itu tersenyum canggung dan pemuda tersebut menyapa sembari mencubit pipi Alsa seperti kebiasaannya dulu.
Ia tak berubah, cara berpakaian, tatanan rambut yang berponi sedikit acak, juga anting hitam yang selalu ia kenakan. Semua masih sama, bahkan senyum pria itu juga masih sama seperti dulu.
"Hey, Caca." Ken menyapa dan dibalas senyum manis dari Alsa, lelaki itu tersenyum getir ketika menyadari senyuman gadis di depannya tak terlihat tulus. Ada luka tersimpan di sana.
"Ken ... aku capek," lirih Alsa menahan air mata yang akan tumpah. Ken mengerti arti kata 'capek yang dilontarkan Alsa bukan soal fisiknya.
Lelaki itu tersenyum kemudian mengambil alih koper yang dibawa Alsa.
"Ke rumah aku, yuk. Kita minum teh di sana." Gadis itu tersenyum kemudian mengangguk lemah.
Ia mengikuti ke mana Ken membawanya kali ini, tanpa tangisan, tanpa jeritan ketakutan, dan tanpa paksaan seperti dulu. Ia menertawai dirinya sendiri dalam hati, bisa-bisanya ia menyerahkan dirinya pada sang penculik yang bahkan dulu hampir memperkosanya.
Tapi, mungkin itu lebih baik daripada bersama Davin yang tak pernah mencintainya.
******
__ADS_1
Suasana rumah minimalis Ken begitu nyaman bagi Alsa, ada sebuah taman kecil yang berisi beberapa jenis bunga. Sebuah kursi kayu bercat coklat di letakkan di sana.
Alsa tersenyum melihat ke sekeliling rumah Ken, dan tiba-tiba muncul seorang gadis cantik lebih muda darinya yang memandangnya terkejut. namun detik berikutnya ia tersenyum manis.
"Maaf, apa kak Ken ada? Eum ... aku salah satu pegawai di toko bunga miliknya." gadis itu bertanya canggung pada Alsa.
"Eh, Dara? Ada apa?" tanya Ken yang tiba-tiba muncul dari dalam rumah. Lelaki itu terlihat ramah menyambut tamunya, Alsa tersenyum melihat perubahan Ken yang jauh lebih baik.
"Maaf, ada sedikit masalah di toko. Apa kau bisa ikit denganku sebentar?" tanya gadis bernama Dara itu. Ken mengangguk sekilas, kemudian ia memperkenalkan Alsa pada Dara.
"Ca, kenalin ini Dara. Dia pegawai aku, dari Indonesia juga. Dara ini tinggal di salah satu panti asuhan dekat dengan toko bungaku. Dulu, ibunya asli Indonesia, dan ayahnya adalah orang sini. Tapi kedua orang tuanya sudah meninggal karena sakit. Jadi, dia di titipkanĀ di panti asuhan. Dara juga sangat lancar bahasa indonesia." Ken memperkenalkan Dara pada Alsa, gadis berkaca mata itu terlihat kikuk di depan Alsa.
"Hay ... Dara." Alsa menyapa Dara dan berusaha bersikap ramah, gadis berkaca mata itu tersenyum sangat manis.
"Ayo kita berangkat. Ca, apa kamu mau ikut aku?" tanya Ken yang tak tega meninggalkan Alsa sendiri.
"Aku di rumah aja, nanti aku telpon kak Grace buat datang ke sini." ucap Alsa pelan.
Ken mengangguk paham, kemudian ia pergi bersama Dara.
Alsa merasa lelaki yang juga sahabatnya itu sedah mengalami perubahan sangat drastis. Dulu, Ken yang ia kenal adalah pria yang dingin pada orang lain selain dirinya. Tapi sekarang pria itu bisa bersikap sangat ramah pada orang lain, meski itu pegawainya.
****
Malam harinya Davin sudah sampai di rumah Grace dan Gerry, mereka berdua langsung dibuat heran dengan sikap Davin yang uring-uringan tak jelas.
Dan kini, Davin malah marah-marah tak jelas pada keduanya. Bahkan pria itu sudah mengeluarkan aura kelam yang membuat adik perempuan serta iparnya tak berani mendekat.
"Kenapa kalian biarin Alsa tinggal sama Ken?" tanya Davin penuh penekanan. Sedangkan yang di tanya hanya diam, Grace menelan ludahnya susah payah.
"Bang, jadi gini ... Alsa itu emang udah kita bujuk tinggal di sini, tapi dia gak mau. Soalnya--"
"Gak mau? Kok bisa gak mau?" Davin memotong ucapan Grace yang belum selesai. Rasanya wanita itu benar-benar ingin menendang kakaknya keluar rumah.
"Jadi--"
"Tunjukin di mana rumah Ken! Gue mau ke sana sekarang!" lagi, Davin memotong ucapan Grace. Padahal ia akan menjelaskan kalau Alsa memilih tinggal di rumah Ken karena adiknya itu mempunyai teman baru.
Tapi sepertinya Davin tak mau mendengarkan ucapannya dan malah emosinya kian menanjak ke ubun-ubun.
Segera pria itu keluar setelah menyambar kunci mobil milik Gerry.
"Biarin aja, biar dia nyasar sekalian." Grace menahan Gerry yang ingin mengejar Davin. Wanita itu sepertinya memang memiliki dendam pada sang kakak.
__ADS_1
"Grace!" Davin berteriak memanggil Grace dari halaman depan, pria itu rasanya ingin mengutuk adiknya menjadi batu karena tak menuruti keinginannya.
Grace hanya memutar bola matanya bosan. Jika ia bisa memilih, wanita itu tak mau menjadi adik Davin yang memiliki sifat menjengkelkan. Ia hanya berdoa dalam hati, semoga kelak jika ia memiliki keponakan dari kakaknya, Davin tak menurunkan sifat-sifatnya pada sang anak.
"Lelet tau gak!" bentak Davin emosi. Pria itu langsung duduk di samping kursi kemudi dan menyuruh Gerry menyetir. Membiarkan Grace duduk di belakang dengan merapalkan berbagai macam umpatan untuk Davin.
***
Alsa berdiri mematung di depan pintu. Ia tak percaya dengan penglihatannya kini. Bagaimana tidak, Davin sudah berdiri di depannya dan tengah memandangnya dengan pandangan campur aduk.
Pria itu seakan kesal, cemburu, senang, sedih, menyesal, dan sangat merindukan Alsa. Bercampur menjadi satu hingga membuat keduanya saling diam dengan pandangan terkunci pada netra sang lawan.
Davin, pria itu mendekat, menggenggam tangan Alsa dan menatap sendu manik kelabu gadisnya yang menggenang air mata
"Kak-"
"Kenapa kamu pergi, Sayang? Kenapa kamu tega ninggalin aku? Kenapa kamu gak nunggu aku pulang dan jelasin semuanya? Aku sayang kamu, Alsa. Aku cinta sama kamu." Davin menatap sendu Alsa, gadisnya itu kini menunduk. Namun, momen romantis itu harus terganggu lantaran Davin yang menyadari ada sosok lain selain mereka berdua di sana.
Mereka, tengah menatap Davin dan Alsa seakan menonton pertunjukan drama. Bahkan Grace sempat mengabadikan momen itu dengan kamera ponselnya. Davin merutuk dalam hati menyumpahi keduanya.
Memandang tajam seolah berkata bisa gak kalian pergi dulu? Kepada mereka. Alhasil, Grace dan Gerry berlalu dari sana dengan senyum kikuk.
Alsa terkekeh di tengah isakannya, momen romatis yang gagal itu akan ia ingat seumur hidup.
"Ck ... gagal deh." Davin mendumel kesal. Baru saja ia dikerjai Ken yang mengatakan bahwa lelaki itu tinggal berdua dengan Alsa, dan akan menikah. Untung saja Alsa segera datang dengan seorang gadis sebelum Davin menghajar Ken, lagi.
Kini ia hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Bayangan adegan permintaan maaf layaknya di drama romantis yang sesekali ia tonton, buyar entah ke mana.
Alsa segera memeluk Davin yang refleks membuat pria itu terkejut.
"Aku cinta kakak." Davin tersenyum mendengar ucapan Alsa. Pria itu memeluk kekasihnya erat, ia berjanji tak akan menyakiti Alsa lagi. Di dalam rumah, Grace, Gerry, Ken, juga Dara melihat adegan romantis itu dengan senyum mengembang.
Mereka bersyukur, akhirnya semua kesulitan yang selama ini mereka lalui tiada henti, berakhir dengan bahagia.
Davin, ia mencium bibir Alsa. Angin musim dingin berhembus pelan menerpa mereka. Aroma mawar yang menguar dari taman milik Kenzo, menambah suasana kian romantis.
Yah, meski tak seindah akhir cerita di drama romansa, tapi Alsa bersyukur akhirnya cinta Davin memang hanya untuk dirinya.
Ken melihat ke arah Dara yang memandang ke arah Davin dan Alsa dengan pandangan takjub, pria itu segera menarik sang gadis untuk pergi dari sana.
"Adegan tidak untuk gadis di bawah umur, ya," ucap Ken sambil menarik Dara pergi, gadis tersebut mengerucutkan bibirnya kesal lantaran bosnya itu mengganggu dirinya yang tengah menikmati adegan ciuman panas Davin dan Alsa.
Kenzo, lelaki itu tersenyum bahagia melihat gadis pujaannya kini menemukan kebahagiaannya. Ia melihat Alsa yang kini tertawa renyah dengan Davin yang menggoda gadis itu, Ken senang semua kembali normal.
__ADS_1
Ia berjanji akan menjadi pria lebih baik lagi, dan akan bangkit dari keterpurukan kisah cintanya yang tragis. Ia yakin, suatu saat dirinya pasti akan menemukan gadis yang bisa mencintai dirinya apa adanya.
__________TAMAT_________