Kusut

Kusut
27


__ADS_3

.


.


.


.


.


.


.


Davin menatap rumah reot yang hanya sebesar kamarnya di apartemennya, dengan ragu ia mengayunkan kakinya memasuki rumah dari anyaman bambu tersebut. Tanah tak berubin serta atap yang seakan hendak runtuh, menjadi pemandangan memilukan bagi Davin.


Mengetuk pintu tiga kali, dan suara wanita menyahut dari dalam menyuruhnya untuk masuk. Davin mencoba memasuki rumah itu dengan hati bergetar, begitu juga dengan Grace yang sejak tadi diam mematung di halaman dengan Alsa, juga ada Gerry yang setia menemani sang kekasih.


Lelaki itu menguatkan hati Grace yang seakan tersayat belati tak kasat mata, air matanya tumpah ruah tatkala melihat sang Kakak dipeluk oleh seorang wanita dengan pakaian tak layak pakai.


Wanita yang selama ini mereka sayangi, wanita yang selama ini selalu memberikan kebahagiaan bagi kedua kakak beradik tersebut. Camelia, sang Mama.


"Mama ...," lirih Grace dengan air mata berlinang, Davin mengulurkan tangan kanannya ingin mengajak Grace memeluk Camelia. Grace berlari meraih tangan Davin, dan mereka berpelukan dalam haru.


Davin dan Grace tak menyangka, bahwa kedua orang tuanya yang dulu sangat kaya raya. Kini tinggal di rumah reot dekat dengan tempat pembuangan sampah, selama ini mereka hidup terpisah dengan Camelia dan Frans. Sehingga tak mengetahui apa yang terjadi pada orangtua mereka.

__ADS_1


"Papa mana, Ma?" tanya Grace disela tangisnya, meski Dokter wanita itu selalu adu mulut dengan Frans. Tapi bagaimanapun juga, lelaki tua itu tetap Ayah kandungnya.


"Di dalam, ia menunggu kalian." jawab Camelia lirih, wanita itu kemudian melihat ke arah Alsa diikuti pandangan Davin dan Grace. Namun Alsa yang memang takut dengan orangtua Davin, langsung bersembunyi di balik punggung Gerry.


"Jangan takut, Nak. Kemarilah! Peluk tante, Sayang," ucap Camelia menahan tangisnya, wanita itu ingat bagaimana kejamnya Frans terhadap gadis cantik itu. Hingga karma dari Tuhan di turunkan untuk Frans.


"Kak, aku takut," ucap Alsa sembari mencengkram bagian belakang jaket kulit Gerry, lelaki itu kemudian menuntun Alsa pelan mendekat ke arah Camelia.


"Ada kakak, Dek. Kakak jagain kamu di sini, Sayang," ucap Gerry menenangkan Alsa.


Perlahan Alsa memeluk Camelia hangat, mereka berpelukan diiringi tangis haru bercampur bahagia dari Ibunda Davin.


Alsa semakin mengeratkan pelukannya pada wanita tua tersebut, sudah lama ia merindukan pelukan sang ibu. Namun baru kali ini ia mendapatkan pelukan yang begitu hangat, tanpa sadar Alsa memanggil mamanya.


"Bunda, Alsa kangen." Alsa berucap tanpa sadar pada Camelia, wanita itu kemudian mengecup puncak kepala si gadis. Ia merasa sangat bedosa sempat menyianyiakan seorang anak yang masih sangat membutuhkan sosok seorang ibu.


"Maaf, Tante. Alsa gak sengaja panggil Tante, Bunda. Soalnya--"


"Gak papa, Nak. Tante ngerti," potong Camelia.


***


Mereka melihat Frans tengah duduk bersandar di atas kasur usangnya, tubuhnya sangat kurus dan terlihat ia tengah memakan sepiring nasi tanpa lauk.


Grace dan Davin segera menghambur ke dalam pelukan Frans, mereka benar-benar merasa miris melihat kondisi orangtuanya yang jauh dari kata layak.

__ADS_1


Jika dulu Frans selalu dibalut dengan pakaian formal dari desainer profesional, kini mereka hanya mengenakan pakaian bekas tak layak pakai.


Jika dulu mereka tinggal di mansion mewah dengan banyak pelayan dan bodyguard, sekarang mereka hanya tinggal berdua di rumah reot dekat tempat pembuangan sampah.


Jika dulu mereka selalu di kelilingi barang elektronik dan perabotan mewah berkelas, kini hanya ada sebuah ponsel milik Camelia dulu yang tersisa.


Semuanya raib entah kemana, harta yang selalu menjadi kebanggaan Frans. Kini telah pergi meninggalkan si tua itu seorang diri, harta yang dulu menjadi tolak ukur Frans dalam memandang seseorang, kini harta itu telah menjadikan Frans bagian dari beberapa orang yang dulu pernah dicaci maki lelaki itu.


Ia menyesal, kini sungguh sangat menyesal.


"Semuanya habis, Nak.Sherly menipu kami, dia ambil semua harta kami dan melempar kami ke jalan seperti seekor kucing," ucap Frans membuat semuanya terkejut.


"Dia dan ayahnya membatalkan kerja sama perusahaan kami, dia mengambil semua saham yang ditanam di perusahaan Papa yang diambang kebangkrutan. Mereka membuat kami terlilit begitu banyak hutang, hingga semua yang kami miliki jatuh ke tangan mereka. Dan Sherlu menendang kami keluar dari rumah, dia hanya menginginkan harta keluarga kita."


Frans menangis dalam pelukan Davin, ia tak menyangka nasib buruk akan menimpa dirinya dan sang istri. Dan saat ini kesehatannya juga sedang tidak baik, membuat mereka semakin menderita hidup berdua dalam kemiskinan.


"Tenanglah, Pa. Davin akan mengambil semuanya lagi, semua milik Papa akan kembali lagi seperti dulu. Davin janji." Frans menatap haru putra sulungnya, sudah lama sekali Davin tak menyebut namanya sendiri ketika berbicara dengan Frans.


Kata 'saya' yang selalu Davin ucapkan, membuat ia dan putranya seakan ada jarak yang membentang. Namun kini ia menemukan sosok putranya lagi, Davin.


"Alsa," panggil Frans lirih. Namun, gadis itu ketakutan dan menangis keras di pelukan Gerry. Ia kembali histeris hingga Davin harus menenangkan Adiknya lagi.


Davin menolak untuk membawa Alsa ke psikiater, ia tidak mau Adiknya dianggap gila. Maka, inilah yang terjadi. Ia akan menangis histeris ketika bertemu dengan orang baru atau orang yang pernah menyakitinya.


"Sesuatu yang buruk terjadi sama Alsa, Pa. Sekarang ini kondisi mentalnya sedikit terganggu." Grace menjelaskan perihal kejadian yang menimpa Alsa setelah gadis itu dibawa pergi keluar oleh Davin. Camelia dan Frans merasa iba pada Alsa. Terutama Frans, ia merasa bersalah karena semua masalah yang menimpa Alsa disebabkan oleh dirinya.

__ADS_1


_______ Tbc.


__ADS_2