Kusut

Kusut
KUSUT season 2


__ADS_3

Ken tengah berada di toko bunga miliknya bersama dengan Dara ketika jam makan siang tiba. Lelaki Jepang itu tengah memandang ponselnya yang menampilkan foto dirinya bersama Alsa ketika masih duduk di bangku SMP.


Ia tersenyum lega ketika mendengar suara ceria Alsa yang tengah menceritakan kisah bahagia kehidupan rumah tangganya dengan Davin. Ken yang selalu berdoa untuk kebahagiaan Alsa merasa senang ketika tahu gadis itu hidup dengan baik meski jauh darinya.


"Kak, kok makanannya gak dimakan?" tanya Dara yang heran atas perilaku Ken, pasalnya lelaki itu hanya tersenyum dengan ponselnya dan sesekali menghembuskan napas lega.


"Aku lagi seneng banget soalnya. Alsa, dia udah hidup bahagia sekarang." Ken kemudian mulai menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Itu berarti Kakak akan segera mencari pengganti Alsa?" tanya Dara berharap Ken mengatakan 'iya.


"Enggak, Ra!" Ken kini menatap keluar jendela toko bunga miliknya. Lelaki itu mengingat saat Alsa memilih bunga Lily di depan tokonya.


"Meski banyak gadis cantik di luar sana, dan mungkin lebih baik dari Alsa. Tapi, buat aku tetap dia yang terbaik. Cuma butuh waktu 5 menit buat aku suka sama Alsa, tapi buat lupain dia ... aku membutuhkan waktu lebih dari 50 tahun." Ken membuat Dara tertohok. Sejujurnya Ken tahu bahwa Dara menyukainya dan menaruh harapan pada Ken, hanya saja ia tak ingin membuat Dara semakin terluka dengan memberikan gadis itu banyak harapan padanya.


Ken memang sudah mengiklaskan Alsa untuk Davin. Hanya saja, ia tak bisa melarang hatinya untuk tetap memilih Alsa sebagai satu-satunya gadis yang ia cintai. Sudah lebih dari tiga kali Dara menyatakan perasaannya pada Ken, dan jawaban Ken tetap sama. Ia hanya mencintai Alsa.


"Tapi, Kak, Alsa sudah menjadi milik orang lain dan tak seharusnya Kakak mengharapkan istri orang, kan?" kekeh Dara yang ingin membuka mata Ken agar melihat ke arahnya yang selalu memperhatikannya.


"Aku merasa kalau Alsa adalah jodohku yang direbut orang lain." kelakar Ken di akhiri tawa singkatnya. Dara mendecih kesal, ia juga ingin diperhatikan oleh Ken seperti Alsa yang selalu menjadi prioritas lelaki itu.


"Lalu kesimpulannya?" tanya Dara kesal.


"Aku akan hidup sendiri tanpa pasangan sampai akhir hayatku!" jawab Ken mantap. Ia memang tak ingin menikah dengan wanita mana pun, lebih tepatnya belum tertarik dengan wanita lain.


"Konyol! Mana ada orang yang seperti itu di dunia ini?"


"Ada! Buktinya orang itu ada di depanmu sekarang." Ken membuat Dara bungkam dengan kata-katanya. Sepertinya gadis itu salah memilih lawan untuk berdebat, karena Ken tak akan membiarkan lawan debatnya menang dengan mudah.

__ADS_1


Dara yang kesal akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan toko bunga Ken, ia memilih mengantar pesanan bunga pelanggannya di saat jam makan siang dari pada harus berdebat dengan Ken yang sudah dipastikan pria itu yang akan menang.


"Bye-bye, Dara," ledek Ken sambil melambaikan tangan kanannya


"Cih!" dengus Dara kesal. Ia rasanya ingin sekali mengirim voodo pada Alsa.


***


Alsa sedang duduk di ruang tengah bersama dengan Camelia, mereka kini sedang menonton acara berita yang meliput tentang keindahan kota New York. Alsa tersenyum melihat kota itu kini tengah di selimuti salju, ia jadi teringat dengan Ken yang paling membenci musim salju.


Lelaki itu lebih suka dengan musim panas yang katanya bisa membakar kulitnya agar menghitam, padahal Alsa sendiri tahu bahwa kulit Kenzo akan berwarna kemerahan ketika tersengat panas sinar matahari secara langsung. Tapi, Alsa menyukai jika Ken kepanasan, kedinginan atau kepedasan, maka kulit pipi pemuda itu akan merona pink dan gadis itu bisa meledek Ken sepuas hatinya.


"Alsa, kamu kenapa? Kok senyum sendiri?" tanya Camelia heran yang melihat menantunya terkikik geli sendiri.


"Alsa lagi inget Kenzo, Ma. Dia paling benci musim salju, dan sekarang dia pasti gak mau pindah dari perapian." Alsa ingat ketika ia mengunjungi Kenzo ke luar negri tepat ketika salju turu, dan Kenzo memilih diam di depan perapian dengan selimut tebal dan coklat panas.


"Kalau kamu kangen sama Kenzo, lebih baik kamu telpon dia." Camelia mengusulkan pada Alsa.


"Percuma, Ma. Gak akan diangkat juga, soalnya orang yang malas berbicara ketika badmood. Dan sekarang dia sedang badmood." Alsa mengerucutkan bibirnya kesal. Camelia tersenyum ketika melihat Alsa yang kini sudah memiliki ekpresi dan tidak monoton seperti sebelumnya.


***


Ken tengah meringkuk di depan perapian dengan selimut tebal, coklat panas, serta TV yang menyala.


"Anj*r!" umpat Ken ketika ia salah memutar DVD horor yang menampilkan pocong.


"BIBI!!!"

__ADS_1


"Iya, Tuan! Eh?" Maid yang tergopoh-gopoh berlari menemui majikannya langsung kaget ketika melihat sang tuan yang tengah meringkuk di dalam selimut.


"Oy, ngapain lo diem aja, Bambank? Matiin noh TVnya!" ucap Ken dengan bahasa Indonesia yang sama sekali tak dipahami maidnya. Wanita paruh baya itu hanya bengong diam di tempat melihat Ken yang sudah gemetar ketakutan.


"Apa yang Tuan inginkan?" tanya maid itu heran. Segera Ken berlari ke arah si maid yang berdiri diam mematung.


"Besok, lu kudu belajar bahasa Indonesia! Biar lo ngerti gue ngomong apaan! Paham kagak lo?" sengak Ken yang dibalas tatapan heran oleh maidnya yang tak paham dengan ucapan Ken. Jika biasanya Ken berbicara dengan mereka menggunakan bahasa Inggris atau bahasa Jepang, kini Ken berbicara dengan bahasa lain yang maidnya sendiri sama sekali tak memahami maksutnya.


***


Rena menatap pantulan dirinya di cermin, ia melihat ada sesosok wanita di dalamnya yang penuh dengan keegoisan. Ia sadar betul apa yang ia lakukan salah, ia sadar jika dirinya kini sudah mengacaukan atau mungkin sudah menghancurkan kehidupan rumah tangga seseorang.


Namun, ia bisa apa? Hatinya yang berbicara jika Davin adalah jodohnya. Hatinya yang memilih Davin sebagai satu-satunya lelaki yang ia cintai, dan ia tak mempunyai kuasa untuk menolak hal itu.


Kehidupan rumah tangganya yang dulu hancur karena kekerasan yang dilakukan mantan suaminya, dan sekarang orang itu sudah dipenjara berkat usaha Davin membebaskan Rena dari mantan suaminya tersebut.


Jangan salahkan Rena yang mencintai Davin dan sukar untuk melupakan lelaki itu, salahkanlah takdir yang membuat semuanya menjadi semakin rumit. Pikir Rena.


Sebagai wanita, ia membutuhkan sosok lelaki seperti Davin yang bisa menjaga dirinya dari siapa pun yang memiliki niatan jahat padanya. Rena berjanji akan berusaha untuk mengambil perhatian Davin sedikit lagi, agar ia bisa menguasai hati lelaki itu sepenuhnya.


Hanya Alsa yang menjadi batu sandungan untuk Rena bisa bersatu dengan Davin, tapi wanita itu hanya menganggap Alsa sosok yang tak berarti besar bagi kehidupan lelaki itu. Davin hanya terikat pada janji yang telah dibuat oleh mendiang Alea, ia tak sepenuhnya mencintai Alsa, dan Rena mengetahui semua itu.


"Maafkan aku, Alsa. Bagaimanapun aku juga membutuhkan suamimu, aku sangat mencintainya melebihi apapun di dunia ini. Dan aku harap kamu mau mengerti keadaan kami yang saling mencintai akan tetapi sulit bersatu karena adanya kamu di antara kami. Semoga kamu mau melepaskan Davin agar ia bisa bahagia denganku kelak."


Rena menatap pantulan dirinya sendiri di cermin, ada satu cara agar Davin bisa lepas dari Alsa dengan mudah. Kemudian Rena tersenyum manis seraya mengelus perutnya.


____________Tbc.

__ADS_1


__ADS_2