Kusut

Kusut
KUSUT season 2


__ADS_3

Dara menatap kesal pada Ritsuki yang tengah menjahili Kenzo dan membuat lelaki itu tertawa singkat. Ia menganggap kehadiran Ritsuki menjadi penghalang hubungan dirinya dan Kenzo yang sudah semakin dekat dengan menyingkirnya Alsa dari kehidupan Kenzo.


Namun, Dara harus kembali menelan pil pahit kala mendapati Ritsuki merangsek masuk dalam kehidupan mereka. Awalnya Dara percaya pada pengakuan Ritsuki yang mengatakan kalau gadis itu dan Kenzo adalah kakak beradik.


Akan tetapi lain dengan Kenzo yang mengatakan kalau Ritsuki hanyalah Adik tirinya yang sama sekali tak memiliki ikatan darah dengan lelaki itu. Alhasil, kini Dara merubah pandangannya pada Ritsuki, yang mana dulu ia menganggap gadis itu sebagai Adik perempuan yang lucu, berubah menjadi seorang gadis pengganggu.


"Dara, kemarikan bunga Lilinya, biar aku merangkainya sekarang." Ritsuki berkata dengan nada lembut khas gadis itu. Dara mengambilkan bunga Lily yang ada di vas bunga besar tepat di belakangnya. Memberikan beberapa tangkai bunga itu pada Ritsuki yang berdiri di depannya.


"Ini, gadis pengganggu!" desis Dara yang membuat Ritsuki terhenyak kaget. Ia masih kurang paham dengan bahasa Indonesia yang digunakan oleh Dara. Akan tetapi ia dapat menafsirkan kalau panggilan Dara padanya itu bukanlah panggilan yang sopan seperti yang diajarkan Kenzo padanya.


"Dara, apa maksudmu? Pengganggu? Aku tidak mengganggu siapapun, aku juga bekerja di sini," ucap Ritsuki yang masih belum paham apa maksud dari sindiran Dara padanya tadi.


"Maksudku adalah, kamu yang pengganggu hubunganku dengan Kenzo. Kamu sengaja menggoda Kenzo, kan? Cih, aku yakin kamu pasti sudah tidur dengan Kenzo dan menyerahkan tubuhmu padanya," ucap Dara pedas.


Namun, Ritsuki yang memang polos sama sekali tak mengerti dengan ucapan Dara padanya. Ia memang pernah tidur dengan Kenzo, tepatnya di depan televisi ketika mereka menonton acara Ghost Hunter hingga larut malam.


"Dari mana kamu tahu kalau aku pernah tidur dengan Kakakku?" pertanyaan polos Ritsuki membuat Dara menjadi salah paham. Gadis itu mengumpat dalam hati, ia sungguh mengutuk kehadiran Ritsuki yang membuatnya kalah telak dari gadis itu.


Ia tak menyangka kalau Ritsuki benar-benar gadis murahan sehingga mau tidur dengan laki-laki yang notabene Kakaknya sendiri. Wajahnya saja yang polos, tapi kelakuannya benar-benar minus, batin Dara kesal.


"Dasar ******!" cemooh Dara yang sama sekali tak dimengerti Ritsuki. Ia tak paham dengan berbagai macam nama panggilan asing untuk dirinya tadi, dan gadis itu memutuskan untuk pergi dari sana tanpa memikirkan apapun ucapan Dara padanya beberapa saat yang lalu.


***


Malam kian larut dan jalanan menuju kediaman Ken juga semakin sepi, hanya beberapa kendaraan saja yang melintas di kawasan tersebut.


Ritsuki merapatkan mantelnya, jika bukan karena Dara yang mengerjainya, ia pasti sudah pulang sore tadi bersama Kenzo. Bagaimana mungkin Dara bisa menguncinya di toilet dan menyuruh orang membukanya setelah Kenzo pergi dari toko bunga mereka.


Gadis itu hampir saja menangis ketika udara dingin tanpa ampun menusuk kulit hingga ke tulangnya, ia beberapa kali menggosok telapak tangannya dan menempelkan pada leher guna memberi sedikit rasa hangat di sana. Ia lupa memakai syal tadi.


"Kakak~" lirih Ritsuki sembari menahan tangisnya ketika melihat dua orang lelaki berbadan gempal tengah menatap lapar ke arahnya.


Kakinya sudah gemetar dan sulit untuk pergi dari sana. Ia merasa sebuah paku besar telah menancapkan kakinya pada tanah hingga ia hanya bisa diam mematung tanpa ada usaha untuk lari sedikitpun.


"Hai, Cantik." seorang pria dengan sedikit kumis dan berambut sebahu berusaha menyentuh bahu Ritsuki, gadis itu mengelak kasar dan berusaha untuk berteriak.


Namun, detik berikutnya suara gadis itu teredam oleh sebuah tangan besar yang membungkam mulutnya. Ia hanya bisa berdoa dalam hati dan terus memanggil nama Kenzo, ia berharap sebuah keajaiban terjadi padanya, ia berharap Kakaknya datang menolongnya.


***


Kenzo hampir saja mencekik leher Dara jika saja Hans tidak mencegah pria itu, kini mereka bertiga sudah ada di kediaman Kenzo. Sore tadi Dara membohongi Kenzo dengan mengatakan kalau Ritsuki sudah pulang bersama dengan Roland yang menjemputnya. Tapi kenyataannya, justru Roland menelpon Kenzo dan menanyakan keberadaan gadis itu padanya.


Ritsuki sangat susah dalam menghafal jalan menuju rumah, ia juga tidak mengerti cara membaca GPS yang dipasang di ponsel pintarnya. Alhasil, gadis itu hanya akan keluar rumah jika bersama Kenzo atau dengan Roland yang menjemputnya.


"Aku akan mencarinya," ucap Kenzo yang kemudian memakai mantelnya untuk menghalau udara dingin di luar. Dara meraih lengan Kenzo, menahan pria itu untuk pergi karena ia tak ingin Kenzo bersama dengan Ritsuki. Kenzo yang jengah segera menarik kasar lengannya, ia tak peduli dengan Dara yang terjatuh karena gerakannya yang kasar.


Ia bukanlah pria penyabar seperti Davin, jika Kenzo tidak suka, maka ia tak ragu untuk mengungkapkannya. Ia tak ragu untuk menolak, dan tak mau membuang-buang waktu hanya untuk sekedar berbaik hati yang justru seakan memberi harapan palsu pada gadis itu.


Ia adalah pria arogan yang memiliki sikap tempramental juga sifat egois yang tinggi. Ia tidak suka diganggu dan tak segan untuk menyakiti siapapun orang yang akan mengusik kehidupan tenangnya saat ini.


"Jika sampai terjadi sesuatu pada Ritsuki, aku tidak segan untuk menyakitimu!" desis Kenzo di telinga Dara yang sontak membuat gadis itu diam membeku. Keringat dingin keluar dari pori-pori kulitnya, ia tak pernah melihat sisi kelam lelaki itu sebelumnya.


Dan kini, ia telah melihatnya.


***

__ADS_1


Kenzo menghajar dua orang bertubuh gempal itu secara membabi-buta, ia tak peduli meski salah satu di antara mereka sudah nyaris kehilangan nyawanya.


Beberapa puluh menit yang lalu ia mencari keberadaan Ritsuki dengan GPS di ponselnya, dan betapa terkejutnya lelaki itu ketika melihat Adiknya yang sudah dalam kondisi nyaris tanpa busana di dalam sebuah bangunan kosong tak jauh dari restoran daging panggang.


Tubuh gadis itu terdapat beberapa luka lebam dan juga darah yang keluar dari kening dan sudut bibirnya.


"********!" Kenzo tanpa ampun menghajar keduanya hingga darah segar keluar dari tubuh kedua orang itu. Kenzo tak bisa menghentikan tubuhnya sendiri yang seakan haus akan darah dari dua orang penjahat tersebut.


"KAKAK!" teriak Ritsuki ketika Kenzo hendak menghantam kepala seorang pria yang sudah terbaring pingsan itu menggunakan sebuah batu besar yang ada di dekat jendela.


"Ja-ngan, Kak ... hiks, a-ku tidak papa ... hiks ... aku baik-baik saja," ucap Ritsuki terbata. Gadis itu mencoba menyeret tubuhnya yang terdapat lebam di beberapa titik. Kakinya terkilir, rasa sakit menjalar setiap kali kakinya terseret di lantai kotor berdebu.


Rasanya benar-benar sakit bagaikan ditusuk ribuan jarum tepat di jantungnya ketika melihat Ritsuki dalam keadaan seperti itu. Kenzo berlari ke arah Ritsuki, memangku sang Adik dan menangis di bahu gadis itu.


Ia memeriksa sekujur tubuh Adiknya, merasa lega karena pakaian gadis itu masih utuh. Ia melihat kaki Ritsuki yang membengkak, membiru, dan terlihat begitu sakit.


"Maaf." Hanya itu yang mampu Kenzo ucapkan. Kejadian ini mengingatkan kejahatannya di masa lalu pada Alsa, mungkin ini adalah karma yang diberikan Tuhan untuknya atas dosa masa lalu.


Tapi ia tidak tahu bahwa karma itu terasa begitu menyakitkan untuknya. Kenapa harus Ritsuki yang tidak tahu apa-apa yang menerimanya? Kenapa bukan dirinya saja?


Kenzo menatap lekat pada netra gadis dalam rengkuhannya yang kian meredup. Ia kemudian menggendong Adiknya setelah memakaikan mantel coklatnya. Lelaki itu tak lagi merasakan hawa dingin yang begitu ia benci, ia terus mengkhawatirkan keadaan Ritsuki dan terus bergumam memanggil nama gadis itu.


"Kita ke rumah sakit, ya?" ajak Kenzo ketika mereka telah sampai di dalam mobil. Namun, Ritsuki menggeleng, ia tak ingin pergi ke rumah sakit dalam keadaan kacau seperti itu. Ia hanya ingin kembali ke rumah, membersihkan diri, dan masuk dalam selimut hangatnya.


"Tapi kamu harus diobati," bantah Kenzo yang tetap dijawab gelengan pelan oleh Ritsuki.


"Tenanglah, Kak. Aku sudah terbiasa dengan luka lebam seperti ini. Dulu, saat Kakak belum merawatku, Ayah sering memukulku jika aku keluar dari paviliun. Luka seperti ini bukan masalah, Kak."


Kenzo menunduk, ia menyesal pernah membenci gadis rapuh itu. Ia menyesal dulu sempat menanamkan benih dendam dan sempat membuat gadis itu menderita karena sikap acuh dan kasarnya.


"Mulai hari ini dan seterusnya, aku akan menjaga kamu. Jangan pernah pergi meninggalkanku apapun yang terjadi," ucap Kenzo sembari menatap mata Ritsuki dalam.


Gadis itu mengangguk, ia melihat iris mata yang sewarna dengannya. Pandangan mata sendu sarat akan penyesalan, dan kasih sayang yang tulus dari seorang yang arogan seperti Kenzo.


"Terimakasih," ucap Ritsuki diiringi senyumnya yang semakin membuat Kenzo terpesona oleh kecantikan gadis itu. Ia tak lagi bisa memandang Ritsuki sebagai seorang Adik, ia terlanjur memandang gadis itu layaknya seorang wanita yang begitu ia kagumi, ia cintai, dan ia dambakan.


Kenzo tidak pandai merangkai kata-kata puitis penuh syair romantis, ia hanya bisa menunjukkan rasa cintanya itu lewat perbuatan kecilnya yang akan membuat si gadis bahagia.


Salju mulai turun ketika sebuah ciuman hangat mulai menghanyutkan dua insan yang hatinya telah saling terpaut itu, hanya saja keduanya yang masih sama-sama polos soal percintaan, tidak menyadari jika cinta mereka telah bersambut.


Ritsuki menikmati setiap detik yang ia lalui bersama Kenzo, suara decapan, juga suara lenguhan samar si gadis, terdengar begitu indah di telinga Kenzo.


Ia nyaris saja kehilangan kendali jika tidak ada lampu sebuah mobil yang tak sengaja menyorot ke dalam mobil mereka.


Ritsuki membenarkan mantel yang sempat dilepas oleh Kenzo, sedangkan lelaki itu tengah berpikir caranya menahan diri jika berada di dekat Ritsuki. Apalagi gadis itu tampak begitu polos dan seakan tak mengerti betapa bahayanya seorang Kenzo untuknya.


"Kita pulang."


"Huum," gumam Ritsuki yang berusaha menetralkan detak jantungnya yang menggila. Ia tak pernah merasa seperti ini jika bersama Roland atau lelaki lain. Bahkan, ia menolak dengan keras usaha Roland untuk sekedar mengecup pipinya saja.


Namun, ketika Kenzo yang melakukannya, gadis itu merasa senang hati memberikannya dan enggan untuk menyudahi permainan sang Kakak. Meski sedikit merasa takut, tapi itu semua tertutupi oleh sikap lembut yang ditunjukkan Kenzo padanya.


***


Siang ini Davin memutuskan pulang lebih awal dari biasanya, lelaki itu ingin segera melihat istri dan juga anaknya yang ia yakin sedang menunggu kepulangannya di rumah.

__ADS_1


Benar saja perkiraan Davin, begitu mobilnya memasuki pintu gerbang, ia sudah melihat Alsa yang tengah menggendong Alvin di teras rumah. Terlihat Fatimah -pengasuh Alvin- ikut mengajak putranya bermain.


"Sayang," panggil Davin sebelum mengecup bibir sang istri penuh sayang. Ia juga mencium putra tunggalnya yang baru genap berusia 7 bulan.


"Tumben Kakak udah pulang?" tanya Alsa yang keheranan. Pasalnya, lelaki itu suka sekali lembur di kantor, tak heran jika Alsa merasa aneh melihat sang suami pulang lebih awal.


"Iya, Aku kangen sama kamu." setelah mengatakan hal itu, Davin mengambil alih Alvin dan memberikan putranya pada Fatimah. Sedangkan ia sudah menggandeng tangan Alsa untuk ia ajak masuk ke dalam rumah.


"Kakak, masih sore!" Alsa menghentikan aksi suaminya yang hendak memaksanya masuk ke dalam kamar. Davin yang memang aktif, membuat Alsa selalu was-was jika suaminya itu sudah mengajaknya masuk ke kamar mereka.


"Pikirannya udah aneh-aneh aja deh," goda Davin yang membuat Alsa salah tingkah. Kedua pipi wanita itu juga bersemu merah muda.


"Kan emang biasanya juga gitu," rajuk Alsa sembari mengerucutkan bibirnya, hal itu sukses membuat Davin gemas dan mencium bibir penuh wanitanya.


"Sini dulu makanya." Alsa hanya menurut saat suaminya membawa wanita itu masuk ke kamar mereka. Kemudian Davin memberikan Alsa sebuah kotak perhiasan berwarna silver.


Alsa membukanya, dan wanita itu langsung muram kala mendapat satu set berlian lagi dari Davin. Bukan itu yang ia inginkan, dan suaminya sama sekali tak mengerti. Davin selalu saja memberikan begitu banyak perhiasan yang bahkan tak pernah sekalipun Alsa memakainya.


Wanita itu hanya akan menumpuknya tanpa berniat menyentuh sedikitpun.


"Kakak," Rajuk Alsa yang merasa sang suami tak juga memahami dirinya, "nggak mau ini lagi," lanjutnya dengan nada manja sekaligus kesal.


"Siapa bilang itu buat kamu?" Alsa dibuat terkejut dengan ucapan Davin. Ia mulai berpikir kalau-kalau suaminya ingin berpoligami. Ia sudah siap-siap akan mengadu pada Gerry jika sampai Davin berani mengkhianatinya.


"Itu buat Mama Vani. Lusa kita ke sana." Alsa refleks menutup mulutnya tak percaya dengan ucapan Davin tadi, ia juga tersenyum lebar dan memeluk suaminya dengan perasaan bahagia yang membuncah. Davin tahu Alsa sangat merindukan kedua orangtuanya, Gerry, dan juga Kenzo. Beberapa kali Alsa mencoba menelpon Kenzo, akan tetapi tak pernah satu panggilan pun diterima lelaki itu.


Dan kemarin, Kenzo sempat mengirim email pada Davin, lelaki itu mengatakan kalau dia sangat sibuk hingga tak sempat mengangkat panggilan dari Alsa.


"Makasih, Kak ... aku sayang banget sama Kakak," ucap Alsa yang dibalas kecupan sayang pada pipi kanan wanita itu. Ia tak sabar menunggu dua hari lagi untuk segera bertemu dengan keluarganya.


***


Di lain tempat Vani tengah tengah sibuk membersihkan kamar yang akan ditempati putri dan juga menantunya yang akan berkunjung ke rumah mereka. Wanita itu sangat bahagia hingga menyuruh semua asisten rumah tangganya dan juga Grace untuk berbelanja bahan makanan kesukaan Alsa.


Vani sudah membayangkan akan segera bertemu dengan sang putri, melepas rindu beberapa hari, dan juga menggendong cucunya tersebut.


"Ma, istirahat dulu." Grace membawakan segelas jus jeruk untuk sang mertua, Vani menghampiri Grace yang tengah duduk di ranjang Alsa. Seprei berwarna biru muda itu terlihat masih baru, warna kesukaan Adiknya. Ia juga mencium aroma vanilla khas dari Alsa, ibu mertuanya terlihat begitu menyayangi Alsa hingga menyiapkan semuanya secara sempurna.


"Mama udah nggak sabar ketemu sama Adik kamu, Grace," ucap Vani dengan pancaran mata penuh kebahagiaan. Grace tersenyum lembut, ia juga merindukan Alsa. Tapi ia malas bertemu dengan Davin yang selalu sukses membuatnya bad mood setiap saat.


Ia hanya berdoa saja semoga Davin tidak lagi suka mengajaknya tarik urat seperti dulu. Bagaimanapun juga ia harus jaga image di depan mertua dan juga suaminya.


"Grace lagi bikin kue kering kesukaan Alsa, Ma. Apa mama mau coba?" tanya Grace yang dibalas gelengan kepala dari Mama mertuanya.


"Mama mau makan kue itu pas Alsa sudah datang nanti. Oh iya, kamu hubungi Kenzo sama Ritsuki, bilang sama mereka untuk menginap di sini lusa nanti. Ritsuki pasti seneng banget liat Alsa datang," ucap Vani yang hanya dibalas senyum kikuk dari Grace.


Wanita itu sudah membayangkan ekspresi Adik sepupunya yang pasti akan selalu menekuk wajahnya ketika Ritsuki memilih terus menempel pada Alsa, bukan Kenzo.


Lelaki muda itu memiliki sifat pencemburu dan posesif yang begitu besar, ia juga selalu ingin diperhatikan oleh Ritsuki. Sedangkan Ritsuki sendiri adalah gadis polos yang tak peka akan perasaan Kenzo, ia juga cenderung cuek dan tak begitu memahami perasaan orang disekitarnya. Benar-benar sifat yang saling bertolak belakang, kan?


"Grace, kok kamu senyum-senyum sendiri?"


"Nggak papa, Ma."


___________Tbc.

__ADS_1


Alhamdulillah, Tata udah sembuh dari sakitnya kemarin. makasih buat semuanya yang udah doain Tata, pokoknya kalian yang terbaik deh:)


__ADS_2