
___________happy reading___________
Davin menghempaskan tubuh Rena ke sofa kamar kediamannya, ia terlalu muak dengan wanita itu. Beruntung ia tak jadi menampar mulut pedas Rena yang mengatai Alsa sebagai wanita murahan, jika saja Davin tak memikirkan kondisi Rena yang tengah mengandung, sudah dipastikan bahwa wanita itu akan dihajarnya habis-habisan.
Tadi pagi ia mendengar kabar dari Gerry bahwa Ken, Gerry, Alsa, beserta kedua orangtua mereka telah pindah dan akan menetap di New York. Davin sempat mengejar Alsa ke bandara, hanya saja ia terlambat karena waktu tempuh yang lumayan lama.
"Davin, kenapa kamu tega lakuin ini sama aku? Aku sedang mengandung anak kamu, Vin," rintih Rena mengiba. Hanya saja Davin yang sekarang tak akan pernah berbaik hati pada siapa pun, semua kebaikan yang ia berikan untuk mereka justru membuat dirinya kehilangan orang yang dicintainya.
Davin tak peduli dengan tangisan Rena, ia tetap sibuk mengemas pakaiannya ke dalam koper berukuran sedang. Ia akan mengambil Alsa kembali.
"Davin," teriak Rena sembari memegang lengan pria itu mencoba menarik perhatian Davin. Percuma, Davin tak pernah menggubrisnya.
"Alsa nggak pantas buat kamu, Davin. Dia itu cuma wanita murahan yang selalu tidur dengan banyak pria. Bahkan dia juga--"
PLAK!
PLAK!
Rena memegangi kedua pipinya yang ditampar Davin hingga salah satu sudut bibirnya berdarah. Lelaki itu menatap Rena dengan murka, bahkan sekarang ia sudah mencekik wanita itu hingga Rena nyaris kehabisan napas.
"Tuan, sudah! Tolong hentikan," pekik Asisten rumah tangga Davin yang tiba-tiba datang membawa seorang lelaki yang tak lain adalah Glen.
"Vin, lu gila? Mau bunuh Rena, mau jadi pelaku kriminal lu?" tanya Glen sarkas. Ia menatap Davin tajam kemudian menghembuskan napas lelah ketika melihat sahabatnya itu menjambak rambutnya sendiri melampiaskan kekesalannya.
"SIAL!" teriak Davin yang membuat Rena kaget hingga mundur beberapa langkah. Asisten rumah tangga Davin segera mengajak Rena pergi dari sana.
"Vin, lu jangan kayak gini dong. Percuma lu bunuh Rena juga nggak bakalan balikin Alsa atau puter balik waktu. Lu coba intronspeksi diri, Alsa nggak mungkin begitu aja mempercayai omongan Rena kalau lu nggak berbuat aneh-aneh," ucap Glen menasehati Davin.
Davin duduk di tepi ranjang, ia mengingat semua perbuatan masa lalunya yang pasti sangat menyakiti Alsa. Ia sadar dirinya plin plan karena selalu merasa iba dan tak pernah bisa menolak keinginan Rena.
Ditambah lagi Alsa yang salah paham menganggap pria itu hanya mencintai Alea dan Rena, bukan Alsa.
Padahal kenyataannya Davin sangat mencintai Alsa sejak gadis itu beranjak remaja. Kini ia kehilangan semuanya, Alsa yang sangat ia cintai memilih pergi meninggalkan dirinya seorang diri di sini.
Lelaki itu mengambil sebatang rokok dan korek, menyalakannya dan menghirup nikotin yang dianggap menenangkan untuknya itu. Sejak bercerai dengan Alsa 3 minggu yang lalu, Davin mulai mencoba hal-hal yang dulu ia hindari.
"Gue mau ke New York. Lu mau ikut nggak?" tanya Davin di sela kegiatannya menghisap batang rokok itu. Gerry tak bisa membiarkan sahabatnya itu pergi seorang diri, ia harus ikut dan menjaga Davin yang telah bertransformasi menjadi Iblis.
__ADS_1
"Gue ikut!" Davin tersenyum kemudian menghubungi anak buahnya untuk mengurus keberangkatannya sore ini. Lelaki itu duduk di sofa kamarnya di ikuti Glen yang duduk di sampingnya. Mereka menyandarkan punggung mereka dengan pikiran masing-masing yang berkelana entah ke mana.
***
Alsa berjalan menuju taman belakang toko bunga milik Ken, ada berbagai macam bunga yang lelaki itu tanam di sana. Sebuah kolam ikan dengan bebatuan kecil di pinggirnya nampak begitu alami seakan kini ia tengah berada di sebuah sungai yang lengkap dengan air terjun mini.
Kenzo benar-benar memiliki selera yang sama dengan Alsa, menyukali alam asri yang indah. Alsa tersenyum ketika Ken datang membawakan secangkir coklat hangat untuk Alsa.
"Kak, Kakak yang desain ini semua?" tanya Alsa antusias, ia ingin taman kecil sebagus milik Ken ada di kediaman baru orangtuanya.
"Kamu suka?" tanya Ken tanpa menjawab pertanyaan Alsa. Wanita itu mengangguk semangat, ia mulai menceritakan rumah impian serta taman yang ia impikan.
Ken hanya menyimak dengan pikiran membayangkan seperti apa hunian yang Alsa inginkan.
Alsa menginginkan rumah serta taman seperti yang Ken miliki, lelaki itu tersenyum, ternyata selera mereka sama. Tak sulit bagi Ken untuk mewujudkan keinginan kecil Alsa. Tampak lelaki itu mengetika sebuah pesan entah pada siapa, setelahnya Ken mengajak Alsa untuk masuk ke dalam toko karena suhu yang mulai dingin menusuk tulang.
***
Alsa tersenyum ramah pada Dara yang memandangnya dengan tatapan kesal, ia baru saja pulang dari kampus dan langsung menuju toko bunga, namun sudah di suguhi pemandangan mesra antara Ken dan Alsa yang keduanya tengah duduk di depan perapian.
"Sini aja," ucap Ken sembari menarik tangan Alsa untuk kembali duduk di dekatnya.
"Dara kenapa, Kak?" tanya Alsa kecewa, ia sedih Dara telah berubah.
"Dia capek aja baru pulang kampus. Nggak papa kok," ucap Ken berusaha menutupi ketidaksukaan Dara pada Alsa, ia tak mau wanita yang ia cintai semakin bertambah pikiran dengan sikap kekanakan Dara.
"Alsa ... rebahan sini kalau kamu capek ... atau kita pulang aja ke rumah?" tawar Ken sedikit ragu, ia takut membuat Alsa tak nyaman dengan ucapannya. Namun, wanita itu malah tersenyum lembut, Ken merona malu karenanya.
"Pulang aja, aku mau istirahat. Capek, Kak," ucap Alsa menjelaskan kondisinya yang memang lelah.
"Ya udah, ayo." Ken menarik pelan Alsa agar wanita itu berdiri. Mereka keluar toko dan menaiki mobil mewah milik Ken.
Meski Ken tak sekaya Davin, namun lelaki itu berjanji akan berusaha membahagiakan Alsa meski nantinya wanita itu tak memilihnya lagi. Ia iklas melakukan semuanya untuk Alsa asal wanita yang ia cintai bahagia.
Ken menghidupi dirinya seorang diri tanpa campur tangan dari Ayahnya, apalagi hubunga keduanya memang renggang selama beberapa tahun ini.
Ken tak ingin mengusik kehidupan baru Ayahnya, apa lagi kini ia memiliki seorang Adik lelaki yang baru berusia dua setengah tahun, Ryuji namanya.
__ADS_1
***
Gerry terlihat tengah mondar-mandir di depan ruang operasi, ia begitu cemas dengan kondisi Grace yang kini tengah bertaruh nyawa demi buah hati mereka. Grace melahirkan secara prematur saat kondisi kehamilannya baru menginjak 8 bulan.
Terlihat Papa Gerry tengah menenangkan putranya dan Vani yang terlihat menggenggam tangan Alsa dengan kuat, wanita itu duduk di samping Ken yang juga tengah sama cemasnya mengenai kondisi Kakak Iparnya.
Tak berapa lama kemudian seorang Dokter wanita datang dan memberi kabar bahwa operasi berajaln lancar. Gerry langsung menanyakan jenis kelamin anak pertamanya, Dokter wanita itu tersenyum dan mengatakan bahwa anak Gerry berjenis kelamin laki-laki.
Gerry dan seluruh anggota keluarga benar-benar bersyukur atas kelahiran anak pertama Gerry juga atas keselamatan Grace yang berjuang melahirkan si jabang bayi.
Alsa tersenyum haru dengan air mata yang menetes di pipinya, ia tengah menatap bayi Grace dari luar ruangan anak. Bayi Grace di letakkan dalam inkubator dan dia membutuhkan perawatan lebih agar bisa segera dibawa pulang ke rumah.
Alsa juga seorang wanita yang sudah pasti menginginkan seorang bayi yang akan membuat hari-harinya tambah berwarna. Namun, semua itu pupus lantaran perceraiannya dengan Davin satu bulan yang lalu telah di sahkan oleh hakim pengadilan agama.
Meski selama masa pernikahan ia tidak melakukan program KB untuk menunda kehamilan, Alsa cukup sulit memperoleh keturunan dari Davin, entahlah kenapa Tuhan belum mempercayakan ia untuk menjadi seorang Ibu.
"Ca," panggil Ken sembari menepuk bahu Alsa pelan. Ia melihat Gerry berdiri di samping Ken tengah menatapnya bingung.
"Kenapa, Dek?" tanya Gerry cemas, lelaki itu menghapus air mata Alsa. Ia tahu Adiknya tengah memikirkan sesuatu yang sulit ia utarakan pada orang lain, hingga membuat Alsa meneteskan air matanya.
Alsa terlihat menyentuh perut ratanya, Ken dan Gerry menatap tangan Alsa bergantian dengan mata si gadis yang kembali menumpahkan bulir bening dari sana.
"Aku ... juga menantikannya sejak lama, tapi aku tidak mendapatkannya, Kak," tangis Alsa pecah kala mengingat betapa Davin tega menghianatinya dan membiarkan benih lelaki itu tumbuh di rahim wanita lain. Hati Alsa sungguh sakit teriris hingga isakannya semakin dalam.
Segera Ken memeluk Alsa dengan erat, ia mengusap punggung gadis itu dan membiarkan hoodienya basah oleh air mata Alsa. Lelaki itu juga ikut merasakan sesaknya dada kala melihat wanita yang ia sayangi menangis pilu memeluknya.
Ia merasa sakit kala melihat wanita yang ia sayangi tak mendapatkan apa yang menjadi keinginannya. Namun, apa yang bisa ia lakukan sekarang? Alsa belum bisa menerimanya dan hati wanita itu sepenuhnya masih milik Davin.
Ken tahu Alsa pasti akan mengalami trauma akibat gagalnya pernikahan dini yang ia jalani. Ia tak akan memaksa Alsa untuk mencintainya. Ken berjanji akan selalu menunggu Alsa sampai akhir usianya, ia tak akan menggantikan posisi wanita itu di hatinya untuk wanita mana pun.
_________Tbc.
maaf ya kakak saya up nya lama soalnya saya juga sibuk di dunia nyata hehe...
bagi yang kurang suka atau merasa kecewa dengan cerita yang saya tulis, bisa pindah ke lapak lain ya... saya gak memaksa buat suka sama cerita saya kok kak.
terimakasih:)
__ADS_1