Kusut

Kusut
KUSUT season 2


__ADS_3

Davin menggenggam tangan pucat Alsa yang tak dipasangi selang infus. Istrinya itu kini tengah tertidur setelah Suster memberikan obat padanya. Davin mengamati wajah Alsa yang semakin terlihat tirus dan pucat, ia tak mengerti kenapa akhir-akhir ini Alsa begitu mudah jatuh sakit.


Dokter mengatakan bahwa Alsa tengah stres karena banyak beban pikiran, ia juga kelelahan dan pola makan yang tidak teratur. Davin mengecup punggung tangan Alsa penuh sayang, ia begitu mencintai Istrinya.


"Davin," panggil Frans pelan. Davin menoleh pada Frans, lelaki tua itu menatap putra sulungnya dengan tatapan seakan penuh amarah yang tersimpan. Sedangkan di pintu kamar rawat Alsa, Camelia tengah berdiri sembari menatap kecewa ke arah Davin.


"Ada apa, Pa?" tanya Davin bingung. Ia sedang ingin bersama dengan Istrinya dan tak ingin diganggu siapa pun sekarang.


"Ikut Papa!" Frans berjalan mendahului Davin untuk membimbing pria itu keluar ruangan dan berhenti di depan kamar Alsa. Camelia menutup pintu kamar rawat inap menantunya dan segera menyusul Frans juga Davin yang berada tak jauh darinya.


***


SRAK!


Frans melempar sebuah amplop coklat ke arah Davin, lelaki itu terkejut dan mundur selangkah, membuat isi dalam amplop itu mengintip keluar dari wadahnya.


Davin membulatkan matanya tak percaya, beberapa lembar foto dirinya dan Rena yang dalam keadaan tidur tanpa busana terpampang di sana. Davin mengambil foto itu dan melihat satu persatu.


Jantungnya seakan berhenti berdetak dan dadanya seakan dihantam palu raksasa tak kasat mata. Ia tak menyangka bahwa Rena akan melakukan hal segila ini padanya.


PLAK!


PLAK!


Dua buah tamparan mendarat di pipi Davin, ia melihat si pelaku yang ternyata adalah Camelia. Wanita itu menangis dalam diam, ia tak terisak, namun matanya begitu merah dengan air mata yang terus menetes.


Hatinya sungguh sakit melihat putra yang selama ini mereka banggakan ternyata berkelakuan tak benar di luar sana, Camelia kecewa, ia menangis untuk Alsa yang terus menerus disakiti oleh Davin, putra sulungnya.


"Sudah puas kamu, Nak? Sudah puas kamu, Davin, melakukan semua penghianatan ini pada Alsa? Lelaki macam apa kamu yang tak bisa menjaga harga dirinya sendiri? Suami seperti apa kamu yang selalu terus menerus menyakiti Istri kamu sendiri? Mau sampai kapan kamu begini? Sampai Alsa mati? Iya?" tanya Camelia beruntun, ia sungguh kecewa dan sakit hati pada putranya sehingga tak membiarkan Davin menjawab satu pun pertanyaan darinya.

__ADS_1


"Davin nggak pernah ngelakuin apa-apa, Ma ... itu semua bohong!" sanggah Davin yang membuat Frans berdecih kesal. Ia muak dengan lelaki dewasa yang berdiri di depannya kini, namun ia juga sadar bahwa lelaki itu tak lain adalah putranya sendiri.


"Rena menemui Papa barusan. Dia mengatakan kalau dirinya tengah mengandung anakmu. Kamu sebagai laki-laki harus bisa mengambil keputusan, Davin! Kamu tidak bisa memiliki keduanya!" ucap Frans yang dibalas tatapan bingung Davin. Ia hanya mencintai Alsa, ia yakin betul akan hal itu. Tapi kenapa semua masalah tiada hentinya datang padanya dan membuat seolah-olah dirinya hanya mempermainkan Istrinya.


"Ceraikan Alsa! Biarkan dia bebas!" Davin membulatkan matanya tak percaya ketika mendengar ucapan Camelia. Ia tak menyangka bahwa Ibunya bisa setega itu berbicara padanya.


"Mama ngomong apa sih? Aku nggak mungkin ceraikan Alsa, aku cinta sama dia, Ma!" Davin hampir saja membentak Camelia jika ia tak ingat bahwa sekarang dirinya tengah berada di rumah sakit. Lelaki itu berbalik dan memukul dinding di belakangnya dengan penuh amarah.


Davin rasanya benar-benar ingin menghajar Rena jika saja wanita itu adalah seorang pria.


"Lalu semua bukti ini apa, Vin? Apa?" teriak Camelia emosi, ia tak perduli di mana dirinya berada sekarang. Ia hanya ingin anaknya itu sadar.


"Davin nggak tau, Ma. Davin nggak inget apa-apa." Davin terduduk di koridor dengan perasaan kacau yang entah bagaimana ia mendeskripsikannya. Yang jelas ia tak mau bercerai dari Alsa.


***


Aku terbangun dari tidurku saat mendengar sayup suara beberapa orang di koridor, sepertinya mereka tengah membahas sesuatu. Aku memutuskan untuk melangkah mendekati mereka kala mendengar suara Mama Camelia yang berteriak pada Kak Davin. Entahlah apa yang membuat Mama begitu marah padanya, yang jelas sekarang aku ingin menguping pembicaraab mereka sebentar saja.


Dan di sini lah aku sekarang, terdiam mematung di balik pintu yang tertutup menyaksikan perdebatan Kak Davin dengan orangtuanya. Bu Rena, nama wanita itu di sebut dalam diskusi menegangkan yang tengah membahas entah apa itu. Aku belum menagkap apapun saat ini.


"Rena menemui Papa barusan, dia mengatakan kalau dirinya tengah mengandung anakmu!" Aku tertegun dengan air mata yang tiba-tiba mengalir deras tanpa persetujuanku.


Sakit ... sakit sekali. Aku memukul dadaku yang terasa sesak, aku menggapai dinding untuk menopang tubuhku agar tak terjatuh, dan aku ... tetap saja luruh dengan begitu banyak kesakitan yang ku terima saat ini.


Tuhan ... sakit sekali rasanya kala mendengar Suami yang begitu aku cintai telah menghamili perempuan lain. Rasanya beribu jarum menusuk dalam jantung hingga membuatnya berhenti berdetak akibat rasa sakit yang terkira.


Apa salahku? Mengapa semua ini terjadi padaku, Tuhan?


Aku menangis dalam diam hingga pintu kamar rawat inapku terbuka. Aku melihat Suamiku di sana, ia nampak terkejut dan segera meraih tubuhku. Ia memelukku dengan erat dan menangis di bahuku, aku tak bisa berbicara apapun sekarang. Rasanya terlalu sakit hingga aku ingin Tuhan menjemputku agar aku dipeluk olehnya, itu terasa jauh lebih baik dari pada harus menanggung semua penderitaan yang tak pernah ada habisnya.

__ADS_1


"Lepaskan aku, Kak ... ceraikan saja aku," ucapku yang membuat Kak Davin melepas pelukannya padaku dan menatapku dengan air mata yang juga menetes. Ia menggelengkan kepalanya seolah menolak keputusanku yang pasti juga mengejutkannya.


"Aku mohon," lanjutku lagi. Ia hanya diam mematung. Entahlah apa yang ada di dalam pikirannya sekarang. Aku melihat ke arah Papa dan Mama yang sudah menangis dalam pelukan Papa, sebelum akhirnya beliau pergi entah ke mana.


Kak Davin jatuh berlutut di depanku. Ia menggenggam dan mencium tanganku, ia menangis, aku benci melihatnya menangis.


"Maafin aku, Sayang ... maaf," ucapnya di sela isakan. Aku memilih berjalan menuju ranjangku, memejamkan kedua mataku dan berharap aku tak pernah lagi melihat hari esok.


- Alsa POV end-


***


Satu bulan telah berlalu semenjak kejadian di rumah sakit itu. Kini, mereka sudah resmi bercerai dua minggu yang lalu, dan Alsa juga sudah pindah ke rumah orangtua angkatnya.


Gerry begitu murka dengan kenyataan Davin yang jelas menghianati Alsa, Kakaknya itu bahkan hampir membunuh Davin dengan cara menusuknya dengan pisau buah jika saja tak ditahan oleh Hiro dan Frans.


Gerry juga memilih tinggal di Indonesia dan meninggalkan Grace di New York untuk sementara waktu sampai ia menemukan langkah selanjutnya untuk masa depan Alsa kelak. Ia tak ingin Adiknya terus disakiti seperti itu, maka ia berjanji akan terus berada di sisi Alsa sampai gadis tersebut benar-benar dalam kondis baik-baik saja.


Semenjak perceraian dengan Alsa, mereka tak lagi bertemu dengan Davin. Entahlah di mana pria itu sekarang dan bagaimana kondisinya, yang Gerry fokuskan hanya kondisi mental Alsa yang pasti sangat down setelah proses perceraian tersebut.


_______Tbc.


*maapkan saya yang sudah membuat mereka bercerai hiks ... semoga kalian yang menyukai pasangan ini tidak kecewa dengan keputusan saya😢


*makasih kakak semuanya sudah membaca cerita ini, maaf kalau up nya lamaaaaaaaaaa sekali. karena saya juga harus ngetik tiga cerita yang lainnya hehehe


*belom lagi kesibukan saya di dunia nyata yang juga harus pandai-pandai bagi waktu kerja dll.


sekali lagi makasih banyak dan mohon pengertiannya***:)

__ADS_1


__ADS_2