Kusut

Kusut
KUSUT season 2


__ADS_3

Alsa kini tengah duduk di sebuah cafe bersama dengan Ken dan beberapa temannya dulu. Mereka asik bercengkrama dan sesekali melempar ejekan pada salah satu dari mereka.


Ken melihat ke arah Alsa yang tersenyum melihat Levin yang menjahili Tyas hingga gadis itu marah dan memukul pelan kepala Levin. Ken tahu bahwa itu bukanlah senyum tulus, hanya senyum getir untuk sedikit menutupi kesakitan hatinya sekarang.


Ken menggenggam tangan Alsa yang ada di bawah meja, wanita itu tersentak dan menoleh ke arah Ken. Tapi Ken justru seolah tak perduli dan malah menggaruk pelan telapak tangan Alsa dengan telunjuknya. Wanita itu merasa kegelian hingga tertawa lepas bersama dengan temannya yang juga tengah tertawa lepas karena cerita konyol Damar.


Ken tersenyum melihat Alsa yang tertawa karena ulahnya, wanita kemudian menatap Ken dan menggerakkan bibirnya tanpa suara. 'Terimakasih' itulah kata yang ditangkap oleh penglihatan Ken pada gerak bibir Alsa.


Lelaki itu mengangguk samar agar terlihat oleh temannya yang lain.


'Sebisa mungkin aku akan buat kamu tertawa, Ca. Di saat kamu merasa sakit dan membutuhkan tempat untuk bersandar, di situlah aku akan datang dan selalu ada buat kamu' ucap Ken dalam hati.


***


Ken kini mengajak Alsa ke sebuah tempat yang dipenuhi padang rumput dan beberapa lembah terlihat di depan mereka berdiri. Dari puncak ketinggian mereka saat ini, sebuah danau buatan tampak begitu jelas di bawah sana lengkap dengan beberapa rakit juga beberapa orang yang terlihat mencari tempat pas untum mengambil gambar.


Alsa tersenyum tipis, ia merasa nyaman dengan tempat yang ia datangi sekarang. Meski rasa sakit dan kesedihan masih begitu terasa, tapi ia tak ingin Ken mengetahui semuanya.


"Di sini kamu bisa lakuin apa aja, nggak akan ada yang lihat." Alsa melihat Ken dengan tatapan bingung. Tempat itu memang begitu sepi dan sunyi, hanya ada beberapa orang yang ada jauh di bawah sana.


"Maksut kamu?" tanya Alsa yang tak ingin salah paham.


"Sini deh," ucap Ken menyuruh Alsa untuk duduk di dekatnya. Wanita itu menurut, dan Ken kemudian menyandarkan kepala Alsa pada bahunya.


Alsa diam membisu, Ken menepuk pelan belakang kepala Alsa. Setitik air mata jatuh ke pipi wanita itu, Ken hanya diam membiarkan jaket bagian pundaknya basah oleh air mata Alsa yang kian deras.


Wanita itu menangis, ia meluapkan semua emosi dan kesedihannya selama ini lewat air matanya. Ken masih tetap diam, ia tak menyuruh Alsa untuk berhenti menangis, ia akan menunggu wanita itu puas menangis dan berhenti dengan sendirinya.

__ADS_1


Ken ingat dulu dirinya yang ada di posisi Alsa, dan Alsa yang selalu memberikan bahunya untuk lelaki itu bersandar. Hanya dengan Alsa, Ken menunjukkan sisi rapuhnya, ia sering menyandarkan kepalanya pada bahu Alsa dan menangis di sana.


Kini keadaannya berbalik, Alsa yang bersandar pada bahunya dan menangis dengan pilu di sana. Lelaki itu diam, ia hanya menggenggam tangan Alsa mencoba untuk menguatkan.


Mereka bisa menjalani kehidupan yang begitu pahit sejak kecil karena saling bersandar dan menguatkan satu sama lain. Masa lalu yang sama-sama menyakitkan untuk diingat, membuat keduanya bisa saling memahami perasaan satu sama lain.


"Kak, makasih karena Kakak selalu ada buat aku," ucap Alsa kemudian menghapus air matanya dengan sapu tangan yang Ken berikan.


"Sama-sama," jawab Ken singkat.


"Kakak lama kan di sini?" tanya Alsa ragu. Ia merasa sangat membutuhkan Ken saat ini, tapi Alsa juga sadar ia tak bisa egois dengan melarang Ken kembali ke New York.


"Mmm ... gimana kalau kamu ikut aku ke sana?" tanya Ken pelan. Ia tak ingin membuat Alsa tak nyaman karena pertanyaanmya.


"Aku ... ." Alsa ragu harus mengatakan apa. Ia ingin ikut, hanya saja ia tak ingin jauh dari Davin.


"Nggak papa kalau kamu mau mikirin dulu tawaran aku. Tapi nanti seumpama aku udah balik ke sana dan kamu baru pengen ikut, aku bakalan balik ke sini lagi buat jemput kamu kok," ucap Ken yang membuat Alsa terdiam. Wanita itu merasa terharu karena kebaikan hati Ken. Ia merasa beruntung memiliki sahabat sekaligus Kakak sepupu seperti Ken.


***


Alsa kini tengah duduk di balkon kamarnya sembari melihat langit cerah yang dipenuhi dengan bintang begitu indah. Wanita itu tersenyum mengingat Ken yang memperlakukannya dengan begitu manis, padahal selama ini sifat Ken sangat ketus dan menyebalkan untuk teman-temannya yang lain.


"Cie, yang lagi senyum-senyum," ucap Gerry kemudian mencubit pipi Alsa dengan gemas.


"Apaan sih, Kak? Orang aku lagi liatin bintang!" jawab Alsa dengan nada merajuk.


"Masa sih? Liatin bintang tapi pikirannya ke kamar sebelah." Alsa memukul keras bahu Gerry yang ia rasa Kakaknya itu sangat menyebalkan.

__ADS_1


Alsa kemudian tertawa karena salah tingkah akibat digoda oleh Gerry. Wanita itu tertawa seolah ia sama sekali tak memiliki beban masalah dalam hidupnya.


Ken yang tak sengaja lewat di depan kamar Alsa, melihat mereka dari pintu kamar yang sedikit terbuka. Ken tersenyum dan bersyukur karena wanita yang ia cintai bisa tertawa lepas kembali.


***


Davin mengepalkan tangannya kala mendengar bahwa Ken telah kembali ke Indonesia dan tengah dekat dengan Alsa. Ia kemudian menenggak habis Vodca yang tinggal setengah gelas, dentuman musik Dj nyatanya tak bisa membuatnya tenang seperti seorang temannya yang sudah ikut menari tak jelas.


Glen, lelaki yang juga seorang model itu tertawa lepas bersama dengan seorang wanita berpakaian minim bahan yang terus melenggokkan tubuhnya seolah menggoda Glen.


Sedangkan Davin sama sekali tak menanggapi dua orang wanita yang terus saja menyentuh bagian-bagian tubuhnya, ia benar-benar tak minat dengan wanita murahan seperti mereka.


Bayangan wajah cantik Alsa terus berputar di kepalanya, ia menginginkan wanita itu sekarang. Davin mengerang kesal hingga membuat dua wanita asing itu menjauh darinya, lelaki tersebut membutuhkan pelepasan. Hanya saja ia tak sudi menyentuh wanita lain selain Alsa yang sudah menjadi candu untuknya.


Glen menghampiri Davin, lelaki itu tertawa keras kala melihat kondisi sahabatnya itu yang tak baik-baik saja.


"Samperin aja si Alsa, terus bawa dia kabur dan kelar urusan," ucap Glen yang dibalas tatapan malas Davin. Ia bisa saja menculik Alsa seperti yang dilakukan Ken dulu, tapi kalau dia melakukannya Davin tak ada bedanya dengan Ken yang sangat dibenci olehnya itu.


"Lo nggak tau gimana tersiksanya gue tiap hari tanpa Alsa ... gue rasanya bener-bener pengen habisin si Rena." Davin mencengkram botol Vodca dengan erat. Kemudian ia menenggak cairan itu dan bersandar di sofa.


"Habisin aja dia, habis itu lo masuk bui," ucap Glen terbahak. Mereka kini sudah benar-benar mabuk hingga tak sadar dengan apa yang mereka ucapkan.


Semenjak perceraiannya dengan Alsa, hidup Davin berubah total. Tak ada lagi seorang Davin yang baik, hangat dan ramah. Ia hanya seorang Davin yang dingin, cuek dan dengan segala kebiasaan buruknya seperti mabuk-mabukkan juga mendatangi klub hampir setiap malamnya.


Semua itu ia lakukan untuk melupakan bayangan Alsa, namun sekuat apapun ia melupakan, bayangan wanita itu masih tetap ada di hati dan pikirannya.


"Alsa, Kakak kangen, Sayang~" ucap Davin sebelum ia jatuh tak sadarkan diri di sofa klub malam.

__ADS_1


_________Tbc.


Bagi yang tidak suka dengan alur cerita yang saya buat, lebih baik tidak usah diteruskan untuk membaca. Jangan dipaksakan ya kakak, karena saya juga tidak memaksa kalian buat suka cerita saya. Atau kalau enggak kalian bisa tulis cerita sendiri sesuai dengan alur yang kalian kehendaki, bikin cerita itu mudah kok, jangan takut buat mencoba. Terimakasih:)


__ADS_2