Kusut

Kusut
39


__ADS_3

.


.


.


.


.


.


.


.


3 bulan kemudian


Alsa dan Davin baru saja selesai makan siang, ketika mereka melihat Rena tengah diganggu oleh segerombol preman.


Tanpa pikir panjang Davin berlari ke arah Rena dan meninggalkan Alsa begitu saja. Davin menghajar 2 orang yang sempat mengganggu Rena, sampai akhirnya kedua orang itu lari meninggalkan mereka.


"Davin, terimakasih banyak." Rena refleks memeluk Davin dan membuat lelaki itu kaget hingga diam mematung.


"Ehem," dehem Alsa menyadarkan mereka, Davin langsung melepas pelukan Rena dan berjalan ke arah Alsa. Namun gadis itu memilih meninggalkan Davin dan masuk ke dalam mobilnya.


"Sayang, kamu marah sama aku? Kita kan emang harus saling tolong menolong, kan?" kilah lelaki itu mencoba membela dirinya, ia takut jika Alsa akan marah padanya.


"Aku gak marah sama Kakak. Cuma aku agak kaget aja tadi, Bu Rena tiba-tiba meluk Kakak." Alsa berucap lirih sambil mengalihkan pandangan dari Davin menjadi ke jalanan lengang di depannya. Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang. Sebuah lagu sendu terputar dari radio, yang menambah suasana kian miris.


Davin berdecih pelan, ia sedikit kesal dengan tingkah Alsa yang ia fikir kekanakan. Lelaki itu mulai membandingkan sifat Alsa dengan Rena yang dikenalnya sebagai wanita berpemikiran dewasa.


"Dia cuma refleks, Sayang. Biasa dong kalau cewek takut terus ada yang nolong, mereka emang kadang suka reflek gitu. Udahlah! Ini cuma hal sepele." Alsa berfikir semua ucapan Davin seakan membela Rena.


Gadis itu ingat kejadian satu bulan lalu, di mana Davin lebih memilih mengantar Rena ke rumah sakit untuk menjenguk ayah wanita itu, dari pada merayakan ulang tahun Alsa bersama dengan Levin, Tyas, Damar, juga Luna. Bahkan Glen teman Davin saja memberikan ucapan selamat pada Alsa secara langsung.


Dan saat lelaki itu kembali, bahkan ia lebih memilih memasuki kamarnya dan meninggalkan Alsa begitu saja. Hingga akhirnya tiga hari kemudian lelaki itu baru ingat bahwa Alsa ulang tahun, karena ada kiriman kado dari Gerry, Grace, dan Ken yang ada di luar negri.


"Ya udah." Lagi, hanya kata itu yang bisa Alsa ucapkan ketika Davin beralasan. Entahlah, ia juga tak bisa membaca isi hati Davin. Apakah pria itu benar mencintainya atau tidak, yang jelas sekarang ia ingin sekali menangis dalam pelukan Grace.


Terakhir ia menangis dalam pelukan Davin ketika Grace menikah, justru berakhir bentakan dari Davin. Alsa menangis bukan tanpa sebab, ia melihat Rena tengah duduk berdua dengan Davin di taman. Ia yang ingin meminta penjelasan, justru berakhir bentakan dari Davin yang mengatakan Alsa terlalu kekanakan dan cengeng.

__ADS_1


Untuk itulah, ia lebih memilih menangis di peluka Grace dari pada Davin.


Mobil pun melaju menuju rumah orangtua Davin.


*******


Sudah tiga hari Davin menyibukkan dirinya di kantor, bahkan ia juga jarang bertemu dengan Alsa. Ia berangkat pagi-pagi sekali sebelum gadis itu bangun dan pulang larut malam ketika Alsa telah terlelap.


Kini ia tengah menuju ke sekolah tempat Rena mengajar. Wanita itu mengatakan bahwa semalam mantan suaminya mencoba untuk mengganggunya lagi, dan ia menangis menghubungi Davin agar selalu dijaga oleh pria itu.


Selama ini memang Davin sering adu jotos dengan mantan suami Rena yang diketahui bernama Adlan. Maka dari itu, Rena merasa lebih aman jika bersama Davin. Begitu juga lelaki itu yang selalu khawatir pada keselamatan Rena.


"Maaf ya agak lama kamu nunggunya," ucap Rena saat ia sudah duduk di samping kursi kemudi. Davin hanya tersenyum menatap wanita cantik yang dulunya berhijab itu, entah kenapa Rena memilih melepas hijabnya beberapa bulan lalu.


"Iya, gak papa." Davin tersenyum kemudian melajukan mobilnya dengan santai.


"Kamu udah makan?" tanya Davin yang mendapat gelengan dari Rena, kemudian lelaki itu menghentikan mobilnya di sebuah restoran Jepang langganan mereka. Bahkan Alsa tak pernah diajak ke sana sekalipun oleh Davin.


"Kok?" tanya Rena bingung.


"Kamu harus makan dulu, baru aku anterin pulang. Aku gak mau kamu sakit," ucap Davin. Rena tersenyum manis dan mengikuti pria itu memasuki restoran.


****


"Kalau kamu lelah buat mencintai pak Davin, kamu bisa datang ke aku. Karena aku gak akan pernah lelah buat nunggu kamu, Caca."


"Kenapa kamu bilang kayak gitu? Kak Davin adalah orang yang baik, dia cinta sama aku dengan tulus, Ken."


"Suatu hari nanti kamu akan tau semuanya, alasan kenapa aku nyulik kamu. Aku cuma berharap kalau kamu akan selalu bahagia. Dan kalau kamu udah lelah, aku siap buat jadi sandaran kamu."


"......"


"Aku pergi, jaga diri kamu dengan baik."


Alsa mengingat ucapan terakhir Ken ketika lelaki itu mendatanginya, entah kenapa ia merasa Davin memang tak mencintai dirinya.


Lelaki itu memang menyayanginya, namun ia tidak mencintainya.


Malam telah tiba, dan Alsa belum juga bisa memejamkan matanya. Bayangan Rena bersama Davin, selalu berputar di pikirannya.


Ia harus meluruskan semua masalah antara dirinya dan Davin, ia harus membicarakan masalah ini.

__ADS_1


Gadis itu melangkah keluar kamar, menuju ke kamar kekasihnya. Ia yakin Davin telah kembali dari kantor, benar saja ia melihat sang kekasih tengah duduk di sofa dengan pakaian santai dan ponsel yang ada di tangannya.


Alsa duduk di samping Davin, dan lelaki itu memandang Alsa kemudian tersenyum hangat.


"Kak, Alsa mau ngomong sesuatu ke Kakak. Apa Kakak ada waktu?" tanya Alsa ragu.


"Ngomong aja." Davin kemudian kembali fokus ke layar ponsel, ada sebuah pesan dari Rena di sana.


"Kak, aku-"


"Sayang, ngomongnya nanti dulu ya. Aku harus pergi sekarang," ucap Davin buru-buru memakai jaketnya.


"Tapi, Kak-"


"Rena lagi butuh Kakak sekarang, maafin kakak ya."


Dan lelaki itu pergi begitu saja, sekali lagi ia meninggalkan Alsa demi Rena.


"Sayang," panggil Camelia lembut menyadarkan Alsa, ia memandang Camelia dan Frans bergantian. Kemudian wanita paruh baya itu memeluk Alsa hangat, ia mengerti betul bagaimana kesakitan hati putrinya kali ini.


"Ma, Alsa capek, Alsa udah lelah. Udah gak kuat lagi, Ma." Alsa terisak di pelukan Camelia, Frans mengelus rambut gadis itu, ia merasa bersalah karena putra sulungnya telah menyakiti gadis sebaik Alsa.


"Kamu berhak bahagia, Alsa. Mungkin kebahagiaan kamu bukan dengan Davin, mama udah gak sanggup lihat kamu nangis karena Davin." Camelia ikut menitikan air mata bersama putrinya.


"Alsa, keputusan ada di tangan kamu. Kalau kamu tetap bertahan dengan Davin, kamu harus menerima kehadiran Rena dalam hubungan kalian. Sakit hati dan tangisan, mungkin akan selalu kamu rasakan jika kamu memilih mencintai lelaki itu. Tapi kamu mungkin akan bahagia, jika kamu memilih jalan lain. Biarkan lelaki seperti Davin menyesal telah menyianyiakan gadis sebaik kamu. Biarkan ini jadi pelajaran untuk Davin." Frans berkata tegas.


Amarah tepancar dari sorot matanya, ia sungguh tak rela jika putri kecilnya harus terus menangis. Meskipun itu ulah putranya sendiri.


Ia memandang Alsa yang sudah melepas pelukannya dari Camelia. Frans memegang kedua pundak gadis itu.


"Alsa, pikirkan semuanya matang-matang. Papa hanya ingin yang terbaik buat kamu," ucap Frans lembut.


"Pa, tawaran Papa buat Alsa kuliah di luar negri, masih berlaku kan?"


"Masih, Sayang. Besok Papa akan siapkan semuanya, kamu berangkat dengan Mama. Biar Mama yang temani kamu di sana." Frans tersenyum pada putrinya.


"Alsa bisa sendiri, Pa. Alsa harus belajar mandiri kan?"


"Buat diri kamu senyaman mungkin, Nak." Frans membelai lembut puncak kepala Alsa, dipeluknya gadis itu dan ia biarkan Alsa menangis dalam pelukannya. Camelia pun ikut menangis memeluk putri dan suaminya.


"Maafin Alsa, Kak. Alsa sudah lelah. Ternyata mencintai Kakak begitu sakit, dan aku gak sanggup menjalaninya. Maafin aku, aku menyerah sampai di sini."

__ADS_1


_________End?


__ADS_2