Kusut

Kusut
KUSUT season 2


__ADS_3

Maaf update-nya ngaret ... Soalnya saya lagi bener-bener sibuk sekali dan kemarin sempet sakit mata gara-gara kebanyakan main game online hehehe


Sekali lagi tata minta maaf banget karena udah ngecewain kalian dan bikin nunggu terlalu lama:(


Udah-udah


Baca aja yuk, hehehe.....


.


.


.


.


Ritsuki menolak untuk kembali ke New York bersama dengan Kenzo, gadis itu takut jika dia akan kembali bertemu dengan Roland. Lelaki itu pasti akan marah besar padanya karena tiba-tiba pergi dan tak ada kabar sama sekali. Sedangkan Kenzo yang tak tahu menahu perihal hubungan Roland dan Adiknya, terus membujuk Ritsuki agar mau pergi dengannya.


Namun, gadis itu terus saja bersembunyi di balik punggung Alsa, ia tidak mau beranjak sedikitpun sampai Kenzo lelah membujuknya.


Akhirnya Davin lah yang turun tangan. Ia coba mendekati Ritsuki dan bicara pelan-pelan pada gadis kecil itu.


"Kau tak ingin pergi?" tanya Davin pada Ritsuki yang tengah memegang ujung baju bagian belakang milik Alsa. Gadis itu mengangguk pelan.


"Kenapa? Apa ada masalah?" Ritsuki hanya diam, ia belum bisa terbuka untuk menceritakan masalahnya dengan Roland.


"Bagaimana dengan sekolahmu jika kau tak ingin pulang?" tanya Davin kemudian. Ritsuki yang memang seorang pelajar rajin, mulai memikirkan sekolahnya. Gadis itu menatap Davin yang berdiri di hadapannya.


"Om ... aku ingin sekolah, tapi aku tak ingin kembali ke sana. Aku ingin tinggal dengan Kak Alsa saja," ucap Ritsuki jujur. Ia menyukai sifat dewasa yang Alsa tunjukkan padanya. Rasanya Ritsuki telah memiliki seorang Kakak perempuan yang sangat pengertian.


Dan lagi, ia masih belum siap bertemu dengan Roland. Bisa jadi Michelle juga akan membully-nya kembali seperti hari- hari sebelumnya.


Sungguh, Ritsuki merasa enggan kembali menginjakkan kaki di sekolah tersebut.


"Apa kau ada masalah yang tidak ku ketahui?" tanya Kenzo dingin dan mengintimidasi gadis itu. Ia yakin ada yang disembunyikan oleh Ritsuki, bisa jadi penolakannya untuk kembali ke New York hari ini karena ada masalah dengan temannya di sekolahn.


"Tidak, Kak," jawab Ritsuki ragu. Ia sulit berbohong pada Kenzo.


"Kemarilah, kita bisa sedikit berbincang sebelum keberangkatanmu, bukan?" Ritsuki tersenyum dan mengangguk kala mendengar pertanyaan dari Alsa. Pertanyaan santai yang tidak terkesan memojokkan dan ingin tahu. Mungkin memang Alsa ditakdirkan untuk menjadi Kakak perempuan bagi Ritsuki.


Alsa mengajak Ritsuki untuk duduk di beranda samping rumah, mereka duduk di atas ayunan dengan di temani semilir angin dan juga taman kecil yang tampak begitu asri.


"Oh iya, apa kau kesulitan ketika berbincang dengan mereka?" tanya Alsa menggunakan bahasa Inggris. Ritsuki mengangguk pelan, ia memang merasa kesulitan berkomunikasi dengan teman barunya.


"Iya, mereka sepertinya kurang bisa menerimaku ... aku mengatakan berasal dari keluarga sederhana dan adik dari seorang penjual bunga, dan mereka menjauhiku begitu saja," ucap Ritsuki sedih. Alsa tersenyum lembut, wanita itu mengelus rambut panjang Ritsuki dengan penuh sayang.


"Teman yang baik tidak akan peduli dari kalangan mana kau berasal. Meski kau seorang penjahat sekalipun, maka temanmu yang akan membuatmu berubah menjadi orang yang lebih baik lagi. Dia tidak akan pernah meninggalkanmu, dan akan terus mendukung mu dalam hal kebaikan. Dia juga yang akan memelukmu kala kau bersedih, dia juga pasti akan ikut bahagia disaat kau bahagia."


"Tapi, aku tidak memiliki teman yang seperti itu," ucap Ritsuki menunduk. Ia hanya mengenal sedikit orang di New York, mungkin hanya beberapa pelanggan toko bunga milik Kenzo.


"Kau harus lebih terbuka pada Kakakmu, dia sangat mengkhawatirkan keadaanmu. Jangan membuatnya tambah cemas dengan kau yang menyembunyikan masalahmu darinya. Kau belum tentu bisa menyelesaikan semuanya sendiri tanpa bantuan dari Kakakmu, Ritsuki." Alsa berbicara dengan lembut pada Ritsuki. Gadis yang lebih muda itu mengangguk mengerti. Ucapan Alsa ada benarnya juga, dan ia akan coba menceritakan masalahnya pada Kenzo.


"Cepetan elah, pesawatnya mau berangkat noh!" ucap Kenzo yang tiba-tiba muncul dari arah belakang mereka. Ritsuki yang tak begitu mengerti ucapan Kenzo, hanya menatap Kakaknya dengan wajah tanpa dosanya.


"Malah bengong lagi si Bambank!" ucap Kenzo yang rasanya ingin segera menarik Adiknya dari samping Alsa.

__ADS_1


Sebetulnya Kenzo sendiri bingung kenapa ia tidak suka jika Ritsuki berdekatan dengan orang lain, meski dengan Alsa atau Grace sekalipun. Sungguh lucu sekali, batin Kenzo yang menertawai kekonyolannya.


"Bambank? Siapa dia?" tanya Ritsuki yang mengundang tawa dari Alsa. Wanita itu tidak tahan melihat kepolosan Ritsuki yang menghadapi ketidak sabaran seorang Kenzo. Entah bagaimana mereka berdua bisa hidup bersama selama ini, batin Alsa yang merasa lucu membayangkan mereka berdua ketika berkomunikasi.


"Kenzo mengatakan kalau sebentar lagi pesawatnya akan berangkat. Jadi, kita harus segera ke bandara." Ritsuki mengangguk mendengar penjelasan Alsa.


***


Ritsuki terus memeluk Alsa meski Kenzo sudah menarik gadis itu beberapa kali. Lelaki itu juga berpura-pura meninggalkan Ritsuki agar gadis itu segera mengikutinya, dan hasilnya nihil, Ritsuki tetap menempel pada Alsa dan tak menyadari Kakaknya yang sudah merapalkan berbagai macam umpatan khusus untuknya.


Beberapa kali Ken berbolak-balik seolah-olah ia meninggalkan Ritsuki agar Adiknya mengikutinya, tapi tetap saja seorang Ritsuki tak ingin pergi ke New York bersama Kenzo. Sekarang ia merasa seperti tengah membujuk anak kecil, kesabarannya tengah diuji kali ini.


"Kak Kenzo saja yang ke New York, aku akan tinggal di sini dengan Kakakku," ucap Ritsuki yang bersembunyi di balik punggung Alsa. Gadis itu masih memiliki sifat kekanakan, untuk itu lah Ken harus ekstra sabar pada Adiknya.


"Gw ini yang Kakak Lo, bukan Alsa! Jadi Lo harus ikut sama gue!" ucap Ken yang lagi-lagi tak begitu dimengerti oleh Ritsuki karena nadanya yang terlalu cepat.


"Bodo amat, sok lo!" Ken merasa tertohok dengan ucapan Ritsuki yang tiba-tiba bisa membantahnya dengan menggunakan bahasa Indonesia yang cukup kasar baginya. Padahal ia yakin selama ini tak pernah mengajari Adiknya itu berbahasa yang aneh-aneh, apalagi sampai mengatai orang seperti itu.


"Siapa yang ngajarin?" tanya Ken sembari menghampiri Ritsuki yang berdiri dengan memainkan jemarinya. Ia yakin kalau apa yang diucapkannya barusan memiliki arti yang kurang bagus, maka dari itu Kakaknya menunjukkan raut wajah kesal padanya.


"Kak Levin," jawab gadis itu jujur. Kenzo mendecih kesal dan menyumpah serapahi Levin yang entah ada di mana sekarang. Jika saja sahabatnya itu ada di depan Ken saat ini, sudah pasti Kenzo akan senang hati menyumpal mulut Levin dengan kain lap milik petugas kebersihan bandara tersebut.


"Ritsuki, kamu tidak boleh mengucapkan kata-kata itu lagi pada orang lain, karena yang kamu ucapkan tadi adalah kata-kata kasar. Kamu mengerti?" Davin menasehati Ritsuki yang dibalas anggukan tanda faham dari gadis itu.


"Iya, Om."


"Maafkan aku, Kak, aku tidak tahu jika kata-kataku tadi menyinggungmu. Aku tak mengerti arti dari ucapan itu, tolong maafkan aku." Ritsuki memegang tangan Kenzo sebagai bentuk permohonan maaf. Namun, perlakuan gadis itu berdampak sangat besar bagi Kakaknya. Pasalnya, Kenzo merasa jantungnya berdetak kian cepat, juga sengatan aneh yang menjalar di seluruh tubuhnya hingga membuat lelaki itu bungkam.


Ken menyembunyikan rona pink di pipinya dengan cara menampik tangan Ritsuki dan meninggalkannya begitu saja. Lelaki itu tengah berusaha mengatur detak jantungnya dan juga rasa bahagia yang membuncah tiba-tiba hanya karena perbuatan kecil Adiknya.


Lelaki itu mulai berdoa agar Ritsuki selalu membuat kesalahan padanya, sehingga gadis itu akan merasa bersalah dan memegang tangannya lagi untuk meminta maaf. Sungguh Kenzo yang konyol.


Mungkin kesalahannya sudah sangat fatal. Ia berjanji tak akan membuat kesalahan apapun lagi pada Kenzo.


Tak berapa lama kemudian Ritsuki berpamitan pada Alsa dan Davin. Meski terasa berat meninggalkan mereka, tapi ia harus tetap berangkat ke Negaranya untuk melanjutkan pendidikan agar ia bisa memiliki masa depan yang lebih baik lagi.


***


Satu Minggu sudah berlalu sejak mereka sampai di New York, dan kini Ritsuki tengah menunggu kepulangan Kenzo ke rumah sederhana mereka. Sejak insiden di bandara seminggu yang lalu, hubungan mereka semakin renggang. Kenzo yang selalu sibuk di toko bunga, dan Ritsuki yang juga tengah sibuk dengan sekolahnya .


Kakaknya itu juga sudah beberapa hari selalu pulang terlambat, tak pernah lagi makan malam di rumah dan bahkan sudah jarang sekali mereka ngobrol bersama.


Sedangkan hubungan Ritsuki dengan Roland masih berjalan selayaknya orang pacaran pada umumnya di belakang Kenzo, hanya saja Ritsuki tak ingin memiliki kontak fisik yang berlebihan pada Roland.


"Aku pulang," ucap Kenzo kala memasuki kediaman mereka. Ritsuki yang mendengar suara sang Kakak, segera datang menghampiri dan melihat Ken yang datang dengan wajah lelahnya.


"Kakak sudah pulang?"


"Hm, kau belum tidur?" tanya Ken yang disambut senyum semang dari Ritsuki. Sudah terasa lama sekali untuknya yang tak mendengar pertanyaan seperti itu dari Ken. Biasanya Kenzo akan selalu menanyakan hal kecil seperti itu sepulang ia kerja.


"Aku menunggumu," jawab Ritsuki dengan kebahagiaan yang membuncah hingga membuat pipinya bersemu pink.


"Aku membawakanmu makan malam. Apa kau sudah makan?" tanya Ken yang menyerahkan dua kantung plastik berisi makanan dan juga buah segar, ada juga yogurt kesukaan Adiknya di sana.


"Belum, aku akan menyiapkannya sebentar." Ritsuki segera mengambil alih tugas Kenzo yang akan menyiapkan makan malam untuk mereka.

__ADS_1


"Hm," gumam Kenzo yang kemudian memilih untuk menunggu di meja makan.


Tak berapa lama kemudian Ritsuki sudah selesai dengan tugasnya, segera mereka makan malam bersama ditemani keheningan yang mendominasi di antara mereka.


Meski begitu, baik Ritsuki maupun Kenzo merasa nyaman dengan keadaan hening seperti saat ini. Terasa nyaman, menenangkan, ditambah lagi kelegaan yang dirasakan keduanya setelah beberapa hari saling diam.


***


Alsa POV


*


*


*


*


*


Hari ini pertama kali aku melihatnya ... mendengar suara tangisnya ... melihat matanya yang berwarna kelabu dan besar seperti Ayahnya, juga dapat menyentuh halus kulitnya ... dia adalah putra pertamaku.


Meski aku tak bisa melahirkannya secara normal, tapi itu semua tak mengurangi rasa bahagiaku akan kehadirannya di dunia ini. Bagi kami tak menjadi masalah baik melahirkan secara normal ataupun sesar, yang terpenting bayi kamu selamat dan sehat.


Aku meneteskan air mata haru kala melihat Kak Davin mengadzani putra pertama kami, ia juga meneteskan air mata dan terus membisikkan ucapan terimakasih padaku.


Alvin Adrian Wijaya, itu adalah nama putra kami.


"Dia ganteng banget, Kak, mirip sama kamu," ucapku lirih. Kak Davin memelukku dan terus mengucapkan Alhamdulillah dengan penuh rasa syukur tak terkira. Aku tahu bagaimana perasaannya saat ini. Ia yang dulu begitu mendamba calon bayi dari Kak Alea, harus menanggung rasa kecewa dan sesak tak terkira kala Tuhan lebih sayang pada calon bayinya dan juga Kak Alea.


Dan kini, aku bisa memberikan pengganti untuknya.


"Alhamdulillah ya Allah, Alhamdulillah ... makasih, Sayang," bisiknya di sela sesenggukan tangis harunya.


Mama mengambil alih bayi kami dan memperlihatkannya pada Mama Camelia dan juga yang lainnya.


Semenjak usia kandunganku memasuki 8 bulan, Mama dan juga Papa memutuskan untuk kembali tinggal di Indonesia hingga aku melahirkan. Dan selama itu pula aku mendapat kasih sayang yang melimpah ruah dari mereka semua.


Beberapa saat lalu Kenzo dan juga Kak Gerry sudah meneleponku, mereka tampak ikut bahagia mendengar kelahiran putra pertama kami. Namun sayang, mereka tak bisa pulang ke Indonesia karena kesibukan masing-masing.


Aku memaklumi hal itu, yang terpenting adalah doa dari mereka semua untuk buah hati kami.


Aku menatap mata kelabu milik Kak Davin, lelaki itu tersenyum dan mengecup bibirku dengan lembut. Tak berapa lama kemudian, pintu kamar inapku terbuka. Beberapa orang bersetelan kantor rapi memasuki kamar inapku, senyum bahagia juga terukir di bibir mereka.


Mereka adalah Om Glen dan beberapa karyawan kantor Kak Davin. Mereka mengucapkan selamat padaku dan juga membawakan beberapa paper bag yang berisi perlengkapan bayi dan ada juga yang membawa kado, ku tebak kado itu juga berisi tak jauh berbeda dengan paper bag tadi.


Aku merasa kini kebahagiaanku sudah lengkap, aku memiliki seorang putra yang begitu tampan, suami yang sangat mencintaiku, dan juga keluarga yang begitu menyayangiku.


Terimakasih, Tuhan.


___________Tbc.


tata lagi kurang konsen kaaaaakkk:v


kalau ada yang aneh tolong kasih tau saya ya heheh

__ADS_1


Mulai part ini dan ke depannya akan bercerita tentang kisah cintanya Kenzo dan kemungkinan cerita Alsa hanya akan ditampilkan sedikit-sedikit saja.


Makasih:)


__ADS_2