
Alsa mengecek kondisi kandungannya ke Dokter kandungan yang selalu ia dan Davin kunjungi. Hari ini lelaki itu sengaja tak masuk kantor lantaran Alsa sudah ada janji dengan Dokter Maria yang akan memeriksa kandungannya.
"Kak, aku khawatir," ucap Alsa ketika Dokter tersebut mulai mengoleskan gel ke perutnya, setelahnya Dokter Maria memeriksa kondisi bayi Alsa dengan sebuah alat yang hasilnya bisa dilihat di layar monitor.
Bayi yang usianya belum genap 3 bulan itu menunjukkan pergerakannya yang terlihat di layar tersebut. Alsa seakan tak percaya jika itu adalah bayi yang dikandungnya, wanita muda itu merasa terharu hingga menitikan air mata.
Tak jauh beda dengan Alsa, Davin merasa kebahagiaan yang membuncah hingga membuat hatinya bergetar. Davin tersenyum bahagia, ia telah melihat kondisi calon bayinya yang tampak sehat, juga detak jantung sang bayi yang memenuhi pendengaran Davin.
Lelaki itu hanya fokus pada bayinya hingga tak mendengar penjelasan Dokter Maria. Kebahagiaan yang sangat besar telah ia rasakan, Davin bersyukur karena Tuhan telah menitipkan seorang anak pada mereka.
Bibir lelaki itu tak henti-hentinya mengucap puji syukur pada Tuhan, ia juga berdoa untuk keselamatan bayi dan juga Istrinya hingga masa melahirkan tiba nanti.
Davin mengecup kening Alsa dengan penuh keharuan, ucapan terimakasih terus ia gumamkan untuk Alsa.
***
Ritsuki memasuki gedung sekolah yang tampak begitu megah tersebut, ia sebetulnya merasa minder jika harus menempuh pendidikan di sana. Apalagi dirinya yang sama sekali tak memiliki teman.
Ia berjalan dengan sedikit lambat menuju tangga yang menghubungkan lantai dua bangunan bercat putih gading tersebut, kelasnya ada di atas sana.
Sebisa mungkin Ritsuki tak membuat gerakan yang mencolok atau berbuat kesalahan hingga nantinya seluruh pandangan akan berpusat padanya. Ia tak suka menjadi pusat perhatian, terlebih ada satu geng sekolah yang selalu membully gadis itu.
Michelle, gadis yang menjadi ketua geng tersebut. Ia gadis yang begitu cantik dan anggun. Michelle juga seorang putri tunggal dari pengacara terkenal di New York, yang sayangnya gadis itu memiliki sifat congkak luar biasa.
Pernah satu kali Ritsuki mendapat kesialan karena gadis bermarga Griffin tersebut, Michelle yang sebetulnya menulis surat cinta penuh rayuan untuk Roland, tetapi Ritsuki yang kena imbasnya karena fitnah gadis itu.
Roland adalah ketua geng bar-bar sekolah yang mana orangtuanya adalah donatur tetap dari sekolah mereka, dan ketika Roland mendapat surat cinta dari Ritsuki, tentu ia menjadi senang luar biasa karena gadis itu yang berparas cantik.
Beruntung ketika Roland terang-terangan mengganggu Ritsuki di depan umum, Kenzo datang dan menolong gadis itu dari Roland yang memaksanya untuk mencium pipi lelaki itu.
Sontak saja lelaki tersebut langsung mendapat bogem mentah dari Kenzo yang sebetulnya berimbas pada Ritsuki yang terancam dikeluarkan dari sekolah.
Alhasil, demi Kenzo agar tak dipenjara dan dirinya agar tak dikeluarkan dari sekolah, Ritsuki rela menjadi kekasih dari Roland yang notabene seorang preman sekolah dengan berbagai catatan kenakalan yang tak terhitung jumlahnya.
Dan terhitung mulai hari ini ia akan menjalani kehidupan barunya sebagai kekasih dari Roland Hunter yang bengal.
"Ritsuki!" panggilan tegas dari arah belakang gadis itu, membuatnya menghentikan langkah kakinya yang mulai menapaki dua buah anak tangga.
Ia berbalik ke belakang dan Roland telah berada beberapa meter darinya dengan dua orang teman lelaki itu.
"Temui aku di taman belakang sekolah saat jam istirahat tiba. Jangan sampai kau terlambat dan mendapat hukuman dariku!" tegas Roland yang langsung pergi tanpa mendengar jawaban dari Ritsuki.
Sebetulnya ia enggan menemui Roland, hanya saja jika Ritsuki menghindar sama saja dengan dirinya yang harus mengucapkan selamat tinggal pada bangunan megah tersebut. Ia akan dikeluarkan dari sekolah hari ini juga.
Ia hanya mampu menghembuskan napas pasrah, melawan pun percuma bagi gadis lemah yang tak memiliki teman sepertinya. Bahkan dalam berbahasa Inggris yang baik dan benar saja ia masih kesulitan. Bagaimana ia harus melawan singa di kandangnya sendiri?
***
Polisi telah berhasil mengungkap kasus tabrak lari yang menyebabkan tewasnya Diandra dari rekaman kamera cctv yang kebetulan dipasang pada sebuah ruko tak jauh dari tempat kejadian.
Sebuah mobil mewah berwarna merah dengan plat nomor Bandung berhasil di catat oleh pihak kepolisian. Segera mereka melacak keberadaan pemilik mobil tersebut guna menangkap pelaku tabrak lari, dan memberikan hukuman sesuai dengan undang-undang yang berlaku.
Davin yang kebetulan sedang berada di kediamannya, dihubungi oleh Ayah dari almarhumah Diandra. Lelaki paruh baya tersebut memberikan foto dari mobil beserta plat nomer yang tertera di sana pada Davin.
Davin yang merasa familiar dengan mobil itu mencoba mengingat-ingat di mana kiranya ia melihat mobil tersebut. Hingga akhirnya ia menyadari satu hal. Rena memiliki mobil yang sama persis dengan mobil yang ada di foto itu.
"Kak?" tanya Alsa yang baru saja keluar dari kamar mandi, tampak rambut wanita itu masih basah karena baru selesai mandi di pagi hari ini.
Davin mengalihkan pandangannya pada Alsa, lelaki itu tampak kebingungan dan terkejut secara bersamaan.
"Sayang, coba kamu lihat ... ini mobil milik Rena, kan?" tanya Davin sembari menyodorkan foto yang ada di ponselnya.
Alsa yang memang beberapa kali pernah melihat mobil itu pun membenarkan pertanyaan Davin.
__ADS_1
"Kamu di rumah dulu ya, Sayang, aku mau ke kantor polisi untuk memberikan keterangan mengenai mobil tersebut."
"Apa Kakak yakin kalau mobil itu milik Bu Rena? Bisa aja kan cuma mirip tapi plat nomornya beda," ucap Alsa yang tak ingin suaminya salah tuduh dan justru akan membuat Davin terkena masalah.
"Aku yakin, Sayang, soalnya aku juga sering naik mobil dia," jelas Davin yang tanpa disadari telah membuat Alsa mengingat masa kelam mereka yang berusaha ia tutup dengan rapat.
"Itu dulu, waktu aku masih jadi lelaki paling bodoh di dunia. Sekarang aku sudah sadar kalau cuma kamu yang ada di hati aku, bukan wanita lain. Dan aku nggak akan mengulangi kesalahan yang sama seperti saat itu." Davin menyentuh tangan Alsa, menggenggamnya dengan erat seolah memberitahu akan perasaan cintanya yang begitu besar untuk Alsa.
Wanita itu mengangguk dengan senyum yang tampak lebih ceria. Setelahnya, Davin mengecup bibir Alsa singkat dan segera pergi dari sana untuk segera ke kantor polisi.
***
Davin, orangtua Diandra beserta beberapa orang polisi sudah ada di sebuah rumah berlantai dua, kediaman Rena. Mereka juga melihat sebuah mobil dengan cat dan plat nomor yang sama dengan si penabrak yang tengah menjadi buronan polisi tersebut.
"Jangan bergerak, dan tetap diam di tempat!" hardik seorang polisi dengan senjata api yang diacungkan ke atas ketika melihat Rena akan berlari dari sana.
"Tunggu, Pak, saya tidak bersalah!" kilah Rena yang tetap tak mau menyerahkan diri kepada pihak kepolisian.
"Kami telah memiliki bukti-bukti yang kuat jika anda lah tersangka atas kasus penabrakan tersebut!" seorang polisi tampak mendekat pada Rena yang tengah menatap Davin dengan pandangan kecewa.
Lelaki yang sangat dicintainya dengan tega melaporkan dirinya ke polisi dan membawa polisi-polisi itu untuk menyergapnya di rumah Rena sendiri.
Kejam? Ya, bagi Rena lelaki itu memang kejam. Tapi, bagi Davin keadilan memang harus ditegakkan. Ia ingin Diandra mendapat keadilan atas kasus yang merenggut paksa nyawa wanita itu.
"Aku kecewa sama kamu, Davin!" ucap Rena sendu. Air matanya menetes ketika wanita itu bertatap muka dengan Davin.
Namun, Davin hanya menatapnya datar dan berlalu dari sana bersama dengan orangtua Diandra.
Rena yang tak ingin ditangkap, memilih untuk lari dari sana setelah menginjak kaki seorang polisi yang memegang tangannya dengan borgol yang terpasang apik di pergelangan tangan Rena.
Kemalangan tak bisa dihindari oleh Rena, wanita itu terjatuh akibat tangannya yang terborgol membuatnya berlari tak seimbang. Ditambah dengan sepatu berhak tinggi yang ia kenakannya membuat wanita itu mudah sekali terjatuh.
Rena mengaduh kesakitan dan merasa nyeri yang hebat pada perutnya, wanita tersebut menangis dengan darah yang mengalir di kakinya. Segera, seorang polisi dan orangtua Diandra menolongnya dan membawa Rena ke rumah sakit.
Wanita itu mengalami keguguran.
Davin merasa prihatin atas semua yang terjadi pada Rena, ia menjenguk wanita itu dan menemukan Rena menangis seorang diri di bangsalnya.
"Davin," panggil Rena parau. Wanita itu ingin sekali bersandar pada bahu Davin kala ia merasa begitu rapuh seperti saat ini.
Namun bukannya mendekat, Davin justru tampak menjaga jarak beberapa meter dari Rena. Lelaki itu juga nampak memasang wajah acuh meski ia merasa iba pada Rena. Davin hanya berjaga-jaga saja, ia tak ingin masuk pada perangkap Rena untuk yang ke sekian kalinya.
"Saya harap kamu bisa kuat menghadapi semua ini. Saya juga pernah mengalami rasanya kehilangan orang yang sangat saya cintai. Saya tahu kamu pasti begitu terpukul atas kejadian ini, saya cukup prihatin atas nasip kamu, Rena." Davin segera berbalik dan meraih handle pintu untuk keluar dari kamar rawat inap Rena.
Akan tetapi, Rena menghentikannya dengan sebuah pertanyaan.
"Apa kamu nggak bisa menemani aku di sini?" tanya Rena sedih. Wanita itu menatap punggung Davin, berharap lelaki itu meng-iya-kan permintaannya dan berbalik menghampiri dirinya yang tengah rapuh.
"Maaf, tapi Alsa sudah menunggu saya di rumah. Dia satu-satunya wanita yang sangat berarti untuk saya setelah Ibu saya, dan saya tidak mau mengecewakannya lagi. Terimakasih, semoga kamu cepat sembuh, Rena." Davin pergi dari sana tanpa mau melihat kebelakang di mana Rena tengah menangis pilu di sana seorang diri.
Wanita itu menyesal atas apa yang pernah ia perbuat. Ternyata, begitu menyakitkannya sebuah karma yang ia terima atas perbuatan jahatnya di masa lalu.
Kini, semua orang meninggalkannya seorang diri, tak ada yang Sudi menemaninya walau hanya menghiburnya sesaat saja.
***
Alsa menatap Davin dengan air mata yang mengalir kala suaminya itu selesai menceritakan kejadian naas yang dialami Rena secara bertubi-tubi.
Bagaimanapun juga, Rena adalah sosok guru yang baik di mata Alsa terlepas dari perbuatannya yang sempat membuatnya dan Davin berpisah.
"Kakak, aku nggak tega sama Bu Rena ... besok kita jenguk Bu Rena ya, Kak," ajak Alsa yang merasa Rena pasti membutuhkan teman untuk berbagi keluh kesah dan menguatkannya.
"Nggak, Sayang, aku nggak kasih ijin ke kamu buat ketemu sama dia. Karena aku juga nggak mau bertemu dengannya lagi. Aku mau kamu cuma mikirin aku, bukan Rena atau orang lain. Tidak semua orang memiliki niat baik pada kita," jawab Davin yang menolak dengan keras Alsa bertemu dengan Rena.
__ADS_1
Lelaki itu hanya takut jika Rena akan menyakiti Alsa, baik secara fisik maupun batin. Sudah cukup Alsa-nya menderita, ia tak ingin melihat wanitanya menangis untuk yang kesekian kalinya.
"Kak--"
"Turuti permintaan aku ya, Sayang." Davin menggenggam tangan Alsa dengan hangat, ia ingin Istrinya tersebut menuruti permintaannya. Toh juga untuk kebaikan Alsa sendiri.
"Iya, Kak, aku mengerti." Davin memeluk Alsa dengan erat, setelahnya lelaki itu menyuruh sang Istri untuk beristirahat di kamar mereka.
***
Ritsuki diam-diam menemui Roland yang sudah menunggunya di depan rumah Ken. Lelaki itu mengancam jika Ritsuki tak menemuinya, maka gadis itu akan dikeluarkan dari sekolah atas kekuasaan ayah dari Roland.
"Ada apa? Aku sedang sibuk," tanya Ritsuki kesal, ia padahal tengah merapikan buku-bukunya untuk ditempatkan di rak bukunya yang baru saja dibelikan oleh Kenzo.
"Ikut aku!" Roland menyodorkan sebuah helm pada Ritsuki yang enggan menerimanya. Gadis itu tidak pernah diijinkan untuk keluar rumah oleh Ken, berangkat dan pulang sekolah saja dijemput oleh lelaki itu.
"Aku tidak boleh keluar rumah, Kakakku akan marah nanti!" tolak Ritsuki dengan sedikit keras. Roland yang tak pernah mendapat penolakan sebelumnya, merasa kesal dan mengumpat dalam hati.
"Atau kau mau aku mengeluarkannya dari sekolah?" ancam Roland yang sama sekali tak digubris oleh Ritsuki. Ia hanya ingin menuruti perintah dari Ken yang mengharuskannya tetap berada di rumah.
"Silahkan saja jika kau ingin menyuruh Ayahmu untuk mengeluarkanku dari sekolah. Aku lebih baik dikeluarkan dari sekolah daripada harus membangkang dari Kakakku!" Roland merasa tertantang dengan sikap acuh dari Ritsuki yang tak ditemukannya pada gadis lain.
Ritsuki yang nampak tenang dan lemah, ternyata mampu membuat seorang Roland diam tak membantah ucapannya. Lelaki itu justru memilih pergi dari sana setelah mobil Kenzo terparkir di depan rumah, sepertinya ia enggan berurusan dengan Kenzo yang dikenalnya sebagai psikopat.
Bukan tanpa alasan Ken mendapat panggilan seperti itu dari Roland, itu karena Ken dengan sangat mudah melumpuhkan 7 orang temannya bersama dirinya yang berarti total 8 orang preman sekolah hingga tak berkutik sama sekali.
Padahal sebelumnya, tidak ada yang berani berbuat seperti itu pada geng-nya baik itu orang luar maupun pihak sekolah sendiri.
"Masuk!" perintah Ken yang langsung dipatuhi oleh Ritsuki.
Gadis itu masuk ke dalam rumah dengan Ken yang mengikutinya dari belakang.
"Apa dia mengganggumu?" tanya Ken dingin seperti biasanya. Ritsuki menggeleng, ia tak ingin ada perkelahian lagi antara Ken dan Roland.
"Aku akan menyiapkan teh hangat dan air hangat untuk Kakak," ucap Ritsuki mengalihkan perhatian Ken agar tak bertanya lebih jauh mengenai Roland.
Ia tak pandai berbohong, dan sudah dipastikan jika Kakaknya akan dengan mudah membaca kebohongannya tersebut.
Secepatnya Ritsuki berjalan ke arah kamar Ken untuk menyiapkan air hangat. Namun, dirinya yang kehilangan keseimbangan membuat tubuhnya oleng dan hampir saja terjatuh ke lantai jika saja Ken tak menangkap pinggangnya.
Ken menatap manik kelam milik Ritsuki yang sewarna dengan manik matanya, mereka berpandangan cukup lama dan hal itu membuat jantung keduanya berdetak dengan kencang.
Hingga akhirnya Ken tersadar dan memutuskan kontak mata mereka.
"Hati-hati," ucap Ken salah tingkah. Lelaki itu merasa wajahnya sangat panas dan lidahnya kelu, belum lagi jantungnya yang seakan tengah bermaraton ria membuat lelaki 22 tahun itu semakin kikuk.
"I-iya," kenapa aku jadi gagap? lanjut Ritsuki dalam hati, ia merutuki kebodohannya sendiri dan segera pergi secepat mungkin dari sana. Baginya, berdekatan dengan Ken itu tidak baik bagi kesehatan jantungnya.
Ritsuki menggigit bibir bawahnya sembari menyiapkan air dalam bathtub, ia merasa semakin malu kala mengingat kejadian konyol tadi.
"Dasar bodoh!" umpat Ritsuki pada dirinya sendiri.
"Aku tidak punya muka lagi bertemu dengan Kakak," gumamnya yang tanpa sadar membuat Kenzo tersenyum.
Lelaki itu tadinya ingin mengambil laptop di kamar, dan tak sengaja mendengar Adiknya mengomel sendiri di kamar mandi.
Ken sedikit terkekeh kala mengingat sikap lucu Ritsuki yang memang kadang tampak sedikit konyol. Mungkin karena gadis itu masih polos, batin Ken memakluminya.
______________Tbc.
**Tata di sini mau minta maaf sekali karena nggak bisa kasih visualisasi tokoh nya, karena tata takut kena denda dan lain sebagainya.
Ada beberapa yang bilang soalnya, kalau kita bisa kena denda gitu kalau pakek foto orang...
__ADS_1
pokoknya tata minta maafffff banget udah PHP-in kalianππππππππππππππ**