
.
.
.
.
.
.
.
.
Alsa menyimak pelajaran matematika dengan pikiran kacau, bahkan semua penjelasan yang diutarakan Davin sama sekali tak masuk ke otaknya.
Ia merasa aneh dengan tubuhnya, pusing, dan sesak. Entahlah, yang jelas Alsa tak merasa memakan sesuatu yang salah pagi tadi. Mungkin hanya efek akibat melihat kemesraan Tyas dan Ken akhir-akhir ini.
Ia menghembuskan nafas pelan. Sepertinya perasaannya pada Ken harus segera disingkir kan. Mengingat tadi pagi, dirinya melihat Ken membonceng Tyas ke sekolah. Ia merasa cemburu.
Hatinya sangat sakit dan nyeri, ia tak menyangka jika ternyata jatuh cinta yang kata teman-teman sekelasnya itu indah, nyatanya begitu menyakitkan.
Pengalaman cinta pertamanya sangat buruk.
Ia memutuskan untuk meminta ijin ke toilet pada Davin, semoga saja kakak iparnya itu sedang dalam mood baik sehingga mau mengijinkannya ke toilet. Karena merasa ia mual, juga rasa pusing dan sesak yang kian menjadi.
Davin memang sangat tegas cenderung galak jika di sekolah, namun bila berada di rumah lelaki itu bisa berubah hangat, penyayang, bahkan juga manja padanya.
"Maaf, Pak," ucap Alsa pelan sembari mengangkat tangan kanannya. Seluruh mata tertuju padanya.
"Ada apa, Alsa?" Tanya Davin datar.
"Saya minta ijin ke toilet sebentar," jawab Alsa menatap Davin yang sekarang melihat gelagat aneh dari sang adik.
"Iya, silakan."
"Terimakasih," ucap Alsa kemudian beranjak dari duduknya dan keluar ruang kelas.
Tanpa disadari Alsa, arah pandang Davin mengikutinya pergi.
__ADS_1
Gadis itu tak menuju ke toilet, melainkan ke UKS.
Apa Alsa sakit? Kenapa dia bohong mau pergi ke toilet, padahal dia ke uks?
Ia ingat tadi pagi Alsa sarapan bersama dengannya juga Sherly. Adiknya itu sempat bertanya tentang selai yang dioleskan Sherly ke rotinya sebelum gadis itu memakannya.
Dan Sherly mengatakan bahwa itu adalah selai coklat kesukaan Alsa, tapi Davin melihat adiknya itu mengernyit saat memakan roti miliknya. Seperti merasakan rasa yang aneh, tapi saat ia memakan sarapannya memang benar Sherly mengoleskan selai coklat seperti biasa yang ia makan bersama adiknya.
Untunglah bel istirahat segera tiba, Davin mengemasi buku-buku paket yang ia bawa. Menyuruh ketua kelas Alsa untuk membawa perlengkapan mengajarnya ke ruangan Davin, sedangkan pria itu menyusul Alsa di uks.
***
Davin sangat kaget melihat Alsa terbaring lemah di ranjang UKS. Wajahnya pucat juga nafasnya terlihat sesak. Seorang dokter jaga terlihat menyuntikkan sesuatu pada Alsa, segera Davin menghampiri adiknya dengan raut wajah cemas.
"Ada apa, Dok?" Tanya Davin yang membuat dokter itu terkejut, dilihatnya Alsa yang sudah tertidur dengan selang oksigen di hidungnya.
Sungguh selama tinggal dengan Alsa, ia tak pernah sekali pun membeli makanan yang berbahan kacang-kacangan. Karena ia tahu Alsa dan Alea sangat alergi dengan kacang, jadi mana mungkin Alsa bisa tanpa sengaja memakan kacang.
Kalau pun adiknya itu tanpa sengaja memakan kacang, tentu ada yang sengaja atau tidak memasukkan kacang itu ke dalam makanan Alsa.
Ia jadi mengingat kejadian tadi pagi, seketika amarahnya memuncak. Tapi, ia juga tak bisa menuduh tanpa bukti dan lelaki itu berjanji jika memang benar Sherly sengaja mencelakai adiknya, ia sendiri yang akan memberikan Sherly pelajaran.
"Lalu sekarang bagaimana keadaannya?" tanya Davin cemas. Ingin ia menggenggam tangan Alsa sekarang. Namun, diurungkan mengingat Dokter wanita itu tak mengetahui hubungannya dengan Alsa.
Ia tak mau dicap sebagai guru mesum atau guru pedo.
"Saya sudah memberikannya obat, biarkan dia istirahat beberapa saat. Jika sudah sadar dan pasien merasa lebih baik, sebaiknya segera diantarkan pulang dan beristirahat satu sampai dua hari."
"Terimakasih, Dokter."
__ADS_1
"Sama-sama." Dokter itu pergi dari bilik UKS menuju ke meja biasa ia duduk. Sedangkan Davin kini memilih untuk tetap berada di sana, mencium kening juga pipi Alsa lumayan lama. Menyalurkan rasa bersalahnya yang tak becus menjaga Alsa, tanpa disadari sepasang mata menatap mereka tak berkedip.
Terlalu terkejut sekaligus bingung dengan apa yang ia lihat.
"Pak Davin ... dan Alsa?" Gumam gadis itu kemudian pergi, mengurungkan niatnya yang ingin rebahan di UKS.
***
Setelah gadis itu keluar dari UKS, ia masih terus terbayang tentang kejadian tadi. Dimana ia melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau Davin yang berprofesi sebagai guru di sekolahnya, tengah mengecup mesra muridnya yang tengah pingsan.
Setengah kesal karena memang gadis itu menaruh rasa pada Davin. Ia terus mondar mandir sembari mengguman tak jelas. Membuat kedua temannya yang lain menatap kesal pada teman blondenya itu.
"Lo tuh kenapa, sih? Mondar-mandir mulu dari tadi, pusing gue lihat nya," tegur salah satu temannya, si gadis bule berambut blonde itu kemudian berhenti tepat di depan kedua gadis cantik tersebut.
"Lo gak akan percaya sama apa yang gue lihat," ucapnya kemudian. Di dalam dadanya sudah bergemuruh emosi yang meluap-luap.
"Emang lo lihat apa, Key?" Tanya si gadis dengan rambut kuncir ekor kuda.
"Pak Davin lagi di UKS sama Alsa," jawabnya sedikit berdesis kesal. Mereka tambah bingung.
"Lah emangnya kenapa? Mungkin aja Pak Davin lagi jenguk murid pintarnya itu. Siapa tahu Alsa emang lagi sakit. Ya kan, Kanya?" Gadis bernama Vania itu bertanya pada salah satu temannya yang kini tengah duduk sambil memakan keripik kentang.
"Tapi bukan cuma itu, Pak Davin cium Alsa di pipi sama kening. Mesra banget tau gak?" bisik Keysha setengah kesal.
"Rejeki nomplok buat Alsa, gue mah juga mau," ucap Vania refleks, yang langsung mendapat cubitan di lengan dari Kanya.
"Ck," decak Keysha kesal, matanya terus memancarkan amarah yang membuat kedua temannya bungkam.
________Tbc.
__ADS_1