
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Davin yang dibutakan oleh amarah segera mengahajar Ken hingga babak belur. Umpatan kasar serta hantaman tinju Davin, tanpa ampun dilayangkan pada Ken yang ada di bawahnya.
"B*******K LO, KEN! LO APAIN ADEK GUE, B*****T!"
Davin berteriak emosi, Gerry segera menarik Davin dibantu oleh Damar. Namun kekuatan mereka tak sebanding dengan kekuatan amarah Davin yang sudah meledak.
"Please, Vin, udah. Jangan kayak gini, lo bisa bunuh adek gue, Vin." Gerry mencoba menenangkan Davin.
"Adek lo emang pantas mati, Ger. Gue gak akan biarin dia lolos kali ini."
"Dia murid lo, Vin! Inget itu!"
"Gue gak punya murid kriminal kayak dia, dan gue gak pernah didik murid gue buat jadi pelaku kejahatan kayak gini!" teriak Davin emosi, ia sudah muak dengan semua ucapan Gerry.
__ADS_1
Dihempaskan keduanya hingga mereka terjatuh ke lantai, segera Davin kembali menghampiri Ken yang sudah setengah sadar dan dicekiknya pria tanggung itu hingga pingsan.
Kilatan emosi di mata Davin belum juga hilang, ia sudah mengambil pisau buah yang ada di meja tua kamar itu. Ia akan menancapkan pisau itu pada Ken jika saja Grace tidak berteriak nyaring.
"Abang! Stop, urus Alsa dulu! Hiks ... hiks ... Abang, ini gimana? Alsa pingsan." Grace menangis histeris memeluk tubuh Alsa yang dibungkus dengan selimut. Davin yang tersadar segera menghampiri mereka, dengan keadaan panik ia menggendong tubuh kecil adiknya.
Ia berlari meninggalkan mereka dengan keadaan panik, ketika ia hendak menyetir, Damar menyela dan menggantikan tugas mengemudi Davin dengan Luna di samping kursi kemudi.
Sedangkan Grace dan Gerry membawa Ken ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan.
****
Camelia dan Vani terus menangis melihat kondisi Alsa di rumah sakit, gadis itu hanya menatap kosong lurus ke depan. Ia tak mau berbicara dan hanya mengeluarkan air mata tanpa isakan.
Davin menatap gadis yang dicintainya dengan air mata yang mengalir, sesekali ia mengusap kasar dan berusaha untuk tenang.
Frans yang melihat putranya begitu terpukul segera menghampiri Davin, menepuk pundak si sulung dan menatapnya seolah berkata 'tenanglah' pada Davin.
Berganti menjadi sosok yang rapuh, menangis terisak dalam pelukan Frans yang juga sesekali mengusap air matanya.
"Davin gagal, Pa. Davin gagal jadi kakak buat Alsa, Davin gagal jagain dia, Pa. Sekarang hidup Alsa udah hancur, masa depan dia udah hancur. Semuanya karena Davin, Pa. Davin salah, Alsa udah-"
"Alsa baik-baik saja! Dia pasti akan sembuh dan kembali menjadi adik kecil kamu yang dulu. Tenanglah, Vin. Alsa baik-baik saja, dia masih memiliki masa depan. Kita akan bersama-bersama menjaga Alsa dan membangun masa depan buat dia, jangan khawatir. Dia adalah gadis yang kuat, sifat kuat yang Alsa miliki menurun dari kamu, Vin."
"Pa, Davin gak sanggup lihat adik yang selama ini aku jaga berakhir kayak gini. Davin gak sanggup, gak bisa, Pa. Hiks ... hiks ...," isak Davin dalam pelukan Frans, ditepuknya punggung lelaki itu pelan berusaha menenangkan sang putra.
"Pa, Bang," panggilan dari Grace membuat Davin melepaskan pelukan mereka, Davin mengusap kasar air matanya.
"Kenapa, Grace?" tanya Frans menghampiri putrinya.
"Ken dan papanya mau ketemu sama kita, terutama Alsa."
__ADS_1
"Hiks ... hiks ... hiks ... enggak mau! Aku gak mau ketemu dia! Dia jahat! Hiks ... hiks ... gak mau," racau Alsa di iringi isak tangis memilukan, bahkan tubuhnya gemetar. Ia memeluk kedua lututnya dengan air mata berlinang, segera Camelia memeluk dan menenangkan putrinya.
"Mama akan jagain kamu, Sayang. Papa dan kak Davin juga akan jagain kamu, kita gak akan biarin laki-laki itu deket-deket Alsa. Mama janji, Sayang," ucap Camelia berusaha tidak terisak. Davin ingin memeluk adiknya, namun Alsa akan langsung histeris jika berada terlalu dekat dengan laki-laki. Membuat pria itu menengadahkan wajah ke atas berusaha agar air matanya tak tumpah.
Davin merasa dunianya hancur sekarang.
"Dek, kamu sama kakak dulu ya di sini. Biar mama sama papa pulang dulu, mereka mau ambilin baju buat kamu." Grace membujuk Alsa agar adiknya mau melepaskan pelukan pada Camelia.
"Enggak, Grace. Biar mama di sini sama-"
"Ma, Grace mohon sama Mama buat ada di sana. Grace gak yakin kalau abang bisa tenang nanti," ucap Grace hati-hati berusaha agar tak menyebut nama Kenzo. Camelia mengangguk, ia kemudian mengecup kening Alsa dan keluar ruangan bersama Frans, Davin, juga Vani. Menemui Kenzo di kediaman Frans.
****
Davin menatap tajam pada empat lelaki di depannya, terutama pada Kenzo yang masih terlihat lemah. Ingin rasanya ia menghabisi Ken ketika ingat perbuatannya pada Alsa jika saja Camelia tak menenangkan lelaki itu.
"Mau apa kalian datang ke sini?" tanya Davin sinis, Ken menatap tepat pada manik kelabu Davin yang berkilat emosi. Lelaki itu tak merasa takut sedikitpun pada Davin, Ken menatap semua orang yang ada di sana bergantian.
"Saya ke sini mau meminta maaf mengenai perbuatan saya ke Caca. Saya akui, saya bersalah. Dan saya siap untuk bertanggung jawab dan menikahi Caca." Ken berkata lancar tanpa keraguan sedikitpun. Davin semakin emosi akibat ucapan Ken, menikahi Alsa katanya? Jangan harap ia akan memberikan restu. Pikir Davin.
"Menikahi Alsa? Kamu bercanda sama saya? Sampai kapanpun saya tidak akan mengijinkan kamu menikahi adik saya, Ken. Dan kalau sampai kamu berani mendekati Alsa lagi, saya tidak akan segan-segan untuk menghabisi kamu. Saya tidak pernah main-main, Kenzo," ucap Davin sinis.
Ia kemudian berlalu meninggalkan mereka semua yang hanya bisa terdiam dan menunduk lesu, berkutat dengan pikiran mereka masing-masing dan Kenzo yang sangat menyesal dengan perbuatannya.
Orang tua Gerry dan papa Ken berusaha berbicara baik-baik dengan Camelia juga Frans, untuk tidak menyerahkan Ken pada pihak berwajib. Namun, mereka tak bisa memutuskan begitu saja, mengingat selama ini Alsa dibesarkan oleh Davin, tentu putra merekalah yang berhak menentukan akan dibawa ke mana kasus ini nantinya.
Camelia berusaha membujuk Davin, ia juga mengatakan kalau sampai kasus ini sampai pada jalur hukum, sudah dipastikan para awak media akan mengejar Alsa untuk dimintai keterangan. Mengingat selama ini Frans dan Davin adalah dua orang pengusaha sukses yang begitu dikenal oleh masyarakat.
Davin yang mengkhawatirkan kondisi Alsa yang pasti akan semakin memburuk nantinya, memilih untuk menempuh jalur damai. Dengan satu syarat, Kenzo harus pergi sejauh mungkin dari adiknya dan tak akan pernah kembali atau Davin akan menghabisinya.
Mereka setuju dan sepakat untuk menutup kasus ini, Davin menatap tajam pada Ken yang sejak tadi hanya diam dengan pandangan kosong. Guratan penuh sesal tercetak jelas pada wajahnya yang murung, serta tatapan sendu pria itu mewakili hatinya yang juga menangis meratapi kisah cintanya yang berakhir mengenaskan akibat ulahnya sendiri.
__ADS_1
___________Tbc.