Kusut

Kusut
KUSUT season 2


__ADS_3

Acara tujuh bulanan di kediaman mewah Davin berlangsung cukup meriah dengan kehadiran seluruh keluarga besar mereka. Apalagi Ken juga mengajak Ritsuki berkunjung ke Indonesia untuk pertama kalinya bagi gadis belia tersebut.


Ritsuki yang memang tidak fasih dalam berbahasa Indonesia, memilih diam dan menyimak obrolan keluarga barunya, mau ikut menimpali pun, ia tak begitu mengerti apa yang tengah mereka bicarakan.


Sesekali Ken memberitahu arti ucapan mereka pada Ritsuki. Meski lelaki itu tampak dingin pada Adiknya, tapi Ken tak pernah meninggalkan Ritsuki seorang diri dan akan membuat gadis itu merasa terasing nantinya.


Dan saat ini acara telah selesai. Menurut perkiraan para orangtua, anak pertama Davin dan Alsa berjenis kelamin laki-laki. Namun, baik Davin maupun Alsa tak pernah memusingkan harus laki-laki atau perempuan anak pertama mereka nantinya.


Karena yang terpenting adalah kesehatan dari si bayi dan Ibunya sendiri, itu yang paling utama untuk Davin.


Kini mereka tengah berkumpul di halaman belakang rumah Davin. Suasana yang begitu hangat seperti sekarang ini sangat sulit mereka dapatkan, untuk itulah baik Alsa maupun Davin tak ingin kehilangan momen bahagia tersebut dan memutuskan agar seluruh keluarganya bersantai sembari mengobrol ringan. Sebuah api unggun dan juga jagung bakar, akan menemani malam bahagia bagi keluarga besar Wijaya.


"Pakai ini," ucap Davin sembari memakaikan jaket miliknya dan syal untuk Alsa yang tidak mau diajaknya masuk ke dalam rumah. Istrinya itu memang sangat keras kepala sejak usia kandungannya memasuki bulan ke lima. Jika kemauannya tidak dituruti, maka wanita itu akan marah dan mendiamkan Davin lebih dari tiga hari lamanya. Meskipun itu hanya karena masalah sepele saja.


"Kita udah pada punya pasangan nih ... tinggal Adek sepupu gue doang kayaknya yang masih betah ngejomblo." Gerry sengaja menyindir Ken yang sedari tadi sibuk dengan ponsel di tangannya. Entahlah lelaki itu memang sengaja menyibukkan diri agar tak merasa begitu sakit ketika melihat Alsa dan Davin yang begitu mesra, atau memang ia tengah sibuk bermain game online seperti beberapa Minggu terakhir ini.


"Ngomong aja nih sama jagung bakar!" ketus Ken menimpali sindiran Gerry.


"Kapan kamu mau kasih cucu buat Tante, Ken?" kini giliran Vani yang juga ikut bertanya sesuatu hal yang selalu membuat mood Ken memburuk.


"Ntar, Tan," ucap Ken seakan tak peduli, lelaki itu ternyata tengah sibuk bermain game online dengan Ritsuki yang juga tengah menatap serius layar ponselnya.


"Dari tahun lalu juga ntar-ntar mulu!" Gerry tampak memberikan jagung bakar yang sudah matang pada semua orang yang ada di sana. Lelaki itu bertugas untuk membakar jagung bersama dengan Levin dan Davin.


Dan jangan lupakan Alsa yang terus menempel pada suaminya.


"Gue sama Tyas aja udah tunangan! Masa' lu masih jadi jomblo karatan," celetuk Levin yang diangguki oleh Tyas dengan begitu antusias.


"Lu berdua mah emang udah ngebet!" ucapan frontal dari Ken sukses membuat Tyas melemparkan kulit kacang padanya.


"Sembarangan kalau ngomong!" sanggah Tyas yang berlanjut dengan adu mulut bersama Ken. Mungkin mantannya itu lupa, jika dalam urusan adu mulut dan mengatai orang, Ken jagonya.


"Yaaahhh, kalah," keluh Ritsuki pelan. Ken yang ingat dengan game-nya bersama sang Adik, buru-buru melihat ke layar ponselnya, dan benar saja apa yang dibilang oleh Ritsuki, mereka kalah telak gara-gara Ken yang lebih mementingkan adu mulut daripada melanjutkan permainan di ponsel pintarnya itu.


"Gara-gara lu nih!" sungut Ken pada Tyas setelah melihat raut tertekuk Ritsuki. Lelaki itu sedikit merasa bersalah pada gadis muda di sampinya tersebut.


"Kok gue?! Kan emang lu nya aja yang kaga bisa maen! Lu nya aja yang Cemen!" kilah Tyas yang didukung penuh oleh Levin, jika untuk membuat Kenzo kesal, mereka berdua ahlinya.


"Lu yang ngajakin gue ribut Mulu dari tadi, *******!"


CTAK!


"Akh!" pekik Ken kala mendapat sentilan cukup keras di dari Davin, lelaki itu membawa seporsi spaghetti untuk Ken.


"Kalau ngomong dijaga!" hardik Davin pada Ken yang mendecih kesal padanya.


"Cih," decih Ken sekali lagi.


CTAK!


Dua kali Ken mendapat sentilan cukup keras tersebut, membuatnya refleks memegangi keningnya yang terasa lumayan sakit.


"Makan dulu, kamu dari tadi nggak makan apapun, kan?" Davin menepuk bahu Ken pelan, lelaki yang lebih muda darinya itu hanya menatap Davin dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Bapak perhatiin saya?" tanya Ken tak percaya. Davin tersenyum singkat dan mengangguk samar.


"Saya selalu memperhatikan semua orang yang ada di dekat saya, termasuk kamu. Saya senang kamu mau datang memenuhi undangan saya. Tadinya saya sudah pesimis menunggu kedatangan kamu di sini." Davin melihat lelaki muda di depannya itu menunduk, menatap piring makanan yang tengah dipegangnya.


"Terimakasih, karena Bapak masih mau memperhatikan saya," ucap Ken yang merasa tersentuh hanya karena perbuatan kecil Davin.


"Banyak orang yang menyayangi kamu, Ken. Mereka juga selalu memperhatikan kamu, apalagi Alsa ... dia selalu mengkhawatirkan keadaan kamu yang tinggal seorang diri di sana." Davin ingat kalau Alsa selalu mencemaskan keadaan Ken jika musim dingin di New York telah tiba. Ken sangat membenci musim dingin, bagi lelaki itu musim dingin sama seperti hari terburuk sepanjang tahun.

__ADS_1


"Tapi, dia merasa tenang setelah ada Ritsuki di samping kamu, Ken." Davin melihat lelaki itu memandang Ritsuki yang tengah berbincang dengan Grace. Tampak tatapannya meredup tertutupi kabut kesedihan yang Davin sendiri tidak mengetahui apa yang menyebabkan kesedihan itu muncul.


"Saya cuma mencintai Alsa, Pak. Seumur hidup saya," ucap Ken dengan pandangan yang tak lepas dari sosok Ritsuki. Davin hanya tersenyum tipis, lelaki itu tahu jika Ken tengah menyembunyikan sesuatu dari Semua orang. Anak itu memang kurang terbuka pada orang lain selain Alsa.


"Kalau kamu memang mencintai Alsa, kamu tidak akan seringan ini mengungkapkan rasa cintamu padanya di depan saya. Dan lagi, seharusnya saat kamu mengatakan hal itu, pandangan kamu tertuju pada Alsa, bukan pada Ritsuki," jelas Davin yang membuat Ken kembali menunduk. Davin mengusap puncak kepala Kenzo singkat, ia tahu lelaki muda di depannya itu membutuhkan teman untuk bercerita.


"Saya harus membencinya, Pak ... saya tidak boleh terlihat lemah." Davin mengikuti pandangan Kenzo yang mengarah pada Ritsuki.


"Ada apa?" tanya Davin bingung, "katakan saja jika kamu ada masalah, Ken."


"Ritsuki itu adalah anak dari Izumi, Ibu tiriku. Dia wanita yang jahat, dia telah menghancurkan keluargaku. Bahkan karena wanita itu, saya terusir dari rumah saya dan harus terpisah dengan Ayah saya. Tidak adil bagi saya jika anaknya juga tidak hidup menderita." Ken berkata lirih dan sendu. Bayangan kelam masa lalu melintas memenuhi pikirannya. Tangisan Ibunya kala wanita itu bertengkar dengan suaminya, tamparan Ayahnya pada Ibunya, hingga kepergian Ibu dan Adik lelakinya, semua kembali terputar dalam otak Kenzo.


Ia ingin menangis, akan tetapi air matanya terasa telah kering hanya untuk menangisi nasip malang yang dialami oleh ibu dan adiknya.


"Ritsuki tidak salah, dia tidak mengerti apapun dengan masalah yang diciptakan oleh Ibunya. Coba kamu lihat dia, tampak sangat ceria dan begitu bergantung padamu. Dan saya rasa selama ini kamu sudah mengurusnya dengan cukup baik. Tidak seperti ucapanmu tadi yang ingin menyakitinya."


"Ya ... karena saya memang lemah."


Ken membenarkan ucapan Davin, selama ini ia memang mengurus Ritsuki dengan cukup baik meski ia tampak ketus pada gadis itu. Tak dapat dipungkiri lagi, jika Ken memang mulai jatuh hati pada sosok gadis polos tersebut.


"Ken, kami semua di sini menyayangimu. Bagaimanapun juga kamu bagian dari keluarga kami, dan saya berharap kamu juga bisa memberikan rasa sayang itu pada Ritsuki. Cobalah berdamai dengan hatimu sendiri, Ken." Davin tersenyum dan memegang tangan Kenzo, membuat lelaki muda itu menatap Davin dengan pandangan yang sulit diartikan. Jujur saja, Kenzo merasa terharu dengan semua ucapan yang Davin lontarkan untuknya.


"Saya juga menyayangi Bapak." Kenzo membalas genggaman tangan Davin.


"Nggg?" Davin refleks menarik tangannya dengan cepat. Tiba-tiba saja ia merasa bulu kuduknya berdiri kala melihat Ken tersenyum padanya. Lelaki itu dengan cepat menggeser duduknya.


"Beneran kok, saya menyayangi Bapak juga." Ken semakin menegaskan ucapannya, sedangkan Davin terus saja mundur dengan perasaan takut yang tiba-tiba menyerang kala Ken terus maju mendekatinya.


"Soalnya Bapak itu seperti sosok Kakak untuk saya," lanjut Ken yang membuat Davin bernapas lega.


"Fyuh ... ."


"Kok bapak kelihatan lega gitu sih?" tanya Ken bingung. Ia masih tetap mempertahankan wajah cueknya dan seakan tak memperhatikan wajah pucat Davin karena sebelumnya sempat salah sangka pada Ken.


***


Malam harinya Kenzo dan Ritsuki memutuskan untuk menginap di kediaman Davin. Mungkin juga untuk beberapa hari ke depan. Jika Grace dan Gerry memilih kembali ke rumah orangtua mereka yang lama bersama dengan Hiro dan Vani, Ken justru enggan kembali ke apartemennya yang sepi. Selain itu, apartemen milik Kenzo menjadi saksi bisu betapa kejamnya ia dulu pada Alsa.


Jika mengingat kejadian yang telah lampau, Kenzo selalu diliputi rasa bersalah. Benar kata orang, jika penyesalan selalu datang terlambat. Akan tetapi ia berjanji dalam hati untuk menjadi orang yang lebih baik lagi demi menebus kesalahannya di masa lalu.


Kenzo mencoba memejamkan kedua matanya dan berharap semua ingatan buruk itu telah sirna seiring ia menutup mata. Namun, justru bayangan Ritsuki yang kini memenuhi isi kepalanya. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.


Bukan seperti seseorang yang sedang ketakutan atau orang yang dipenuhi amarah, detak jantungnya kali ini berbeda. Seperti orang yang tengah ... -jatuh cinta?


"Kenapa aku tak bisa membencinya?" gumamnya dalam bahasa Jepang. Kenzo seakan ingin memaki dirinya sendiri kala ia mengingkari janjinya dalam hati.


Ia sudah berjanji akan membuat Ritsuki merasakan penderitaan yang sama sepertinya, tapi yang terjadi adalah sebaliknya, ia justru merasa menyayangi Adik barunya tersebut.


Tok ... tok ... tok ...


Suara pintu kamar Kenzo diketuk perlahan, padahal ia baru saja akan masuk ke alam mimpi hanya dalam hitungan detik saja. Namun, ia kembali harus terjaga karena suara ketukan pintu itu.


Dengan malas Ken berjalan ke sana dan membuka pintu kamarnya yang tadi belum sempat ia kunci.


"Kak." Ritsuki memanggil Kenzo dengan suara lembutnya kala pintu kamar terbuka dan menampilkan sosok Kakak tampannya tersebut. Kenzo terkesiap kaget, jantungnya berdetak begitu kencang hingga rasanya ingin melompat keluar dari rongga dadanya.


Lelaki itu salah tingkah, ia sedikit berdehem dan memasang kembali wajar dinginnya, demi menjaga imagenya, "lampu kamarku putus," lanjut Ritsuki sembari menunduk. Gadis itu lebih memilih memandangi ujung sandal rumahnya daripada menatap mata Kakaknya yang akan membuatnya kesulitan bernapas.


"Hm?" Kenzo yang tak peka hanya bergumam tak jelas sehingga membuat Ritsuki semakin salah tingkah dan bingung dibuatnya.


"Bisakah kau menggantinya? Aku ... aku ... takut gelap," ucapnya pelan dan nyaris tak terdengar di akhir kalimatnya.

__ADS_1


"Sebentar." Kenzo keluar dari kamarnya diikuti sang Adik di belakang, lelaki itu juga berusaha bersikap senormal mungkin di depan Ritsuki.


PATS!


"Kyaaa!!" Ritsuki memekik kencang kala lampu di rumah Davin tiba-tiba mati, keadaan gelap gulita dan gadis itu sangat takut dengan kegelapan. Bayangan ketika ia dikurung oleh Ayah Kenzo di paviliun yang gelap, kembali hadir dalam ingatannya.


Tanpa sadar Ritsuki terisak dengan tubuh gemetar. Kenzo yang menyadari ada perubahan dari Ritsuki, segera menarik gadis itu dalam pelukannya. Mengusap lembut punggung si gadis dan membisikkan kata-kata penenang untuk Ritsuki.


Di lain tempat ....


"Nyalain nggak nih?" tanya Levin yang berada di dekat panel listrik rumah Davin, lelaki itu bersama dengan Tyas yang tengah memegang sebuah senter.


"Ntar dulu! Nanggung," sahut Alsa yang tengah melihat adegan romantis dari dua orang yang kini sedang berada di ruang tengah.


"Nggak ada kecup-kecupnya, ya?" tanya Davin yang merasa gregetan sendiri saat melihat Kenzo yang hanya memeluk Ritsuki dan menenangkan gadis itu saja. Sepertinya adegan yang dinantikan Davin tidak akan pernah terjadi.


"Mesum dasar!" cemooh Alsa yang kini pinggangnya tengah dipeluk oleh sang Suami dari belakang.


"Si Kenzo tuh jadi laki-laki kenapa letoy banget ya?" hujat Davin yang sebetulnya kesal sendiri dengan Kenzo yang dirasa tidak bisa bertindak dengan cepat (sepertinya Davin lupa dia dulu seperti apa).


"Ngaca dulu, Kak, sebelum ngomong," bisik Alsa yang sukses membuat Davin bungkam, tidak seperti Levin dan Tyas yang sudah menahan tawa mereka agar tidak terbahak tiba-tiba.


"Kerad lu, Al," ucap Tyas setengah berbisik.


"Gimana?" tanya Levin yang kini ikut mendekat ke posisi Alsa dan Davin. Tak lupa Tyas yang juga tengah sibuk mencari tempat untuk menonton adegan romantis secara langsung tersebut.


"Ini nih, kalau keluarga kurang piknik!" sindir Levin pada Davin yang kini sudah melotot padanya. Beruntungnya keadaan tengah gelap, jadi Levin tak bisa melihat mata Davin yang kini tengah menyorot tajam padanya, seakan menguliti lelaki itu hidup-hidup.


"Jangan takut, aku ada di sini," ucap Kenzo yang kini sudah menenangkan Ritsuki dalam pelukannya.


"Jangan tinggalkan aku, Kak, aku tidak mau kembali ke paviliun." Ritsuki gemetar takut di dalam pelukan Ken. Sedangkan Ken sendiri tengah mencoba menetralkan degup jantungnya yang terasa tak normal.


"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, tidak akan."


"Sungguh?" tanya Ritsuki berharap Kenzo mengatakan 'iya'.


"Iya, aku berjanji tak akan meninggalkanmu."


"Jsjdnjfjfjdjkx ... ." Kenzo yang pendengarannya memang tajam, merasa ada suara beberapa orang yang tengah berbisik-bisik entah apa itu.


"Diamlah di sini," ucap Kenzo yang menyuruh gadis itu untuk tetap diam di tempat.


Segera ia menyambar sebuah senter yang tergeletak di meja dekat tangga lantai dua, ia mengendap pelan ke arah sumber suara, dan ...


PATS!


Bak maling yang sedang kepergok pemilik rumah, keempat orang yang tengah sibuk mengintip sembari berdebat itu refleks salah tingkah kala aksi mereka dipergoki oleh Kenzo yang langsung menyenter wajah mereka satu persatu.


Kenzo hanya menggeleng seperti orangtua yang sedang melihat kenakalan anak-anaknya. Davin menggaruk tengkuknya dengan kikuk.


"Contoh yang tidak baik," ucap Kenzo sambil memandang ke arah Davin. Merasa dirinya yang dipojokkan, lelaki 35 tahun itu menarik sang Istri untuk berdiri di dekatnya.


"Ini semua ide Alsa, padahal saya sudah melarang mereka," kilah Davin yang tak ingin image-nya menjadi buruk. Sedangkan Alsa hanya melotot kesal pada sang suami yang tersenyum canggung.


"Kak Davin, mulai malam ini sampai satu Minggu ke depan, Kakak tidur di luar!" ultimatum Alsa yang sukses membuat Davin diam kaku di tempatnya, sedangkan Levin sudah kembali menyalakan lampu rumah mereka.


"Yang sabar, Pak. Ini ujian," ucap Kenzo sembari menepuk pelan pundak Davin seolah ia merasa iba pada lelaki itu. Padahal dalam hati ia tengah terbahak kala melihat wajah Davin yang mendadak tampak masam.


"Diam kamu!" desis Davin yang rasanya ingin menyumpal mulut Kenzo dengan sebuah granat.


Tidur di luar bagi Davin adalah sebuah bencana. Apalagi Alsa sangat sulit untuk diluluhkan akhir-akhir ini, mungkin bawaan si jabang bayi.

__ADS_1


Membayangkan ia yang tak akan bisa memeluk Alsa dan melakukan ritual setiap harinya, membuat Davin serasa ingin memutar waktu dan memilih untuk tak ikut campur dengan ide istrinya tersebut.


__________Tbc.


__ADS_2