Kusut

Kusut
KUSUT season 2


__ADS_3

Ken melihat Alsa yang sudah tertidur pulas ketika ia datang ke Indonesia, karena Gerry terlalu lama mengobrol dengan temannya yang kebetulan bertemu di bandara, mereka jadi pulang ketika hampir tengah malam.


Ken melihat kalungnya dulu masih terpasang cantik di leher Alsa seperti terakhir kali ia melihat, sepertinya wanita itu tak pernah melepasnya.


"Ken, Tante udah siapin kamar buat kamu. Mendingan sekarang kamu mandi dan istirahat," ucap Vani pelan. Ditepuknya bahu kanan Kenzo dan lelaki itu tersenyum sebelum pergi ke kamarnya sendiri.


***


Pagi harinya mereka semua sarapan tanpa Alsa, karena wanita itu belum bangun sekarang. Vani yang melihat Kenzo seperti begitu menunggu Alsa membuatnya tergerak untuk naik ke atas dan membangunkan putri kesayangannya.


Vani membuka pintu kamar bertuliskan 'Alsa' dan mendapati si pemilik kamar yang sudah berdandan cantik di depan cermin riasnya. Vani tersenyum dan mengelus rambut putrinya dengan lembut.


"Cantiknya anak Mama," puji Vani yang membuat Alsa tersenyum singkat. Ia melupakan Kenzo yang hari ini sudah datang ke rumahnya.


"Kenzo nungguin tuh, Sayang." Alsa menoleh pada Vani yang menyebutkan nama Kenzo. Wanita itu menepuk keningnya ketika ingat hari ini Kenzo kembali ke Indonesia.


"Caca lupa, Ma," ucap Alsa merasa bersalah.


"Ya udah, sekarang kita turun ke bawah dan kamu sapa Kenzo dulu." Vani mengamit lengan Alsa dengan lembut. Wanita paruh baya itu tersentak kala merasakan lengan putrinya yang terasa jauh lebih kecil. Kesedihan tiba-tiba merasuk dalam dada Vani kala mengingat nasib buruk yang menimpa Alsa.


***


Kenzo melihat kursi kosong di sampingnya, kata Gerry Alsa selalu duduk di kursi itu. Tapi kini kursi itu masih kosong tanpa Alsa di sana. Ken merasa gelisah, ia tak sabar bertemu dengan Alsa.


"DOR!"


"Eh!" Ken terkejut ketika seseorang mengagetkannya. Tampak Alsa di belakangnya dengan senyum manis yang seakan tak ada beban di pundaknya.


Ken berdiri dan langsung memeluk Alsa dengan erat, ia sangat merindukan sahabatnya itu.


"Kangen, Ca~" rengek Ken dengan ekspresi yang seakan ingin menangis, membuat Alsa terkikik geli dibuatnya.


"Lebay kamu, Kak!" Alsa menepuk bahu Ken pelan, kemudian ia duduk di kursi samping Kenzo.


"Emang kamu baru tahu kalau Ryoichi ini lebay?" tanya Hiro dengan senyum jahil ke arah Kenzo.

__ADS_1


"Kenzo, Om!" ralat Ken perihal namanya. Hiro tahu betul bahwa ia membenci nama Ryoichi yang diberikan oleh Ayahnya, maka dari itu ia mengganti namanya menjadi Kenzo ketika lelaki tersebut duduk di bangku kelas 1 SMA.


"Nama Ryoichi kan ngingetin waktu kita masih SMP, Ken. Dulu aku juga manggil kamu pakek nama itu," ucap Alsa setelah menelan nasi goreng di mulutnya.


"Tapi sekarang udah nggak pakek nama alay itu, Sayang." Kenzo terlihat kesal yang justru membuat Alsa merasa terhibur.


"Ca, ntar kita samperin si Levin sama yang lain yuk. Aku pengen ngumpul nih sama mereka," ucap Ken antusias. Alsa kemudian mengambil ponselnya dan mulai menghubungi Levin juga Tyas agar mereka juga menghubungi Damar dan Luna untuk berkumpul di cafe favorit mereka dulu.


"Nih." Kenzo memberikan sebuah gantungan kunci yang di dalamnya terdapat bunga berwarna pink.


"Bagus banget," puji Alsa sembari memegang gantungan kunci itu. Ia terlihat begitu menyukai benda tersebut.


Alsa tersenyum hanya dengan perlakuan kecil Ken, bahkan selama sarapan ia sesekali terkiki geli saat lelaki Jepang itu melontarkan candaan konyolnya.


Gerry dan kedua orangtuanya yang melihat Alsa tertawa lepas seperti itu, membuat mereka merasa bersyukur ada Ken di saat keadaan Alsa terpuruk.


"Kak, kok tiba-tiba Kakak dateng ke Indonesia sih? Mendadak banget gitu," ucap Alsa yang membuat Ken menghentikan makannya sejenak. Ia terlihat sedikit berpikir.


"Aku kangen sama Om dan Tante, makanya dateng ke sini. Sekalian lah liburan selama beberapa hari," jawab Ken yang membuat Vani dan Hiro merasa tersentuh. Baru kali ini keponakannnya itu merindukan mereka.


"Ken, Om nggak nyangka kalau ternyata kamu juga bisa merindukan kami," ucap Hiro merasa terharu.


"Iya, Tante juga merasa tersentuh, Ken. Ternyata kamu sudah berubah, Nak." Vani menyentuh pundak Ken dengan lembut.


"Jangan dimasukin ke hati ya, Om, Tante." Vani dan Hiro mulai merasakan firasat buruk, "sebenernya tadi Ken cuma bercanda ngomong gitu." Ken melanjutkan dengan nada tanpa dosa.


"Uwasem!" maki Gerry kemudian melempar potongan sosis ke arah Ken.


"Om nggak nyangka bisa punya keponakan sekampret kamu, Nak." Hiro tersenyum dengan menggertakkan giginya karena kesal, sedangkan Ken hanya menggaruk tengkuknya lengkap dengan cengiran tanpa dosa yang membuat Vani dan Hiro merasa ingin mencekik keponakannya itu.


"Ayo, Ca," ajak Ken setelah Alsa mencium pipi Vani dan Hiro. Sedangkan ketika akan mencium pipi Gerry, Alsa sudah ditarik Ken hingga membuat Kakak lelakinya itu mendelik kesal.


"Sabar, Son," ucap Hiro yang seakan ingin terbahak melihat wajah putranya yang sudah merah padam.


***

__ADS_1


Davin menatap wanita cantik yang kini tengah duduk di depannya, mereka sekarang sedang berada di kantor Davin.


Lelaki itu menatap tanpa minat pada wanita yang tak lain adalah Rena, padahal sedari tadi Rena sudah sibuk menggoda Davin meski lelaki itu adalah atasannya.


Bukannya tertarik, Davin justru jijik melihat tingkah Rena yang baginya sangat menggelikan.


"Buang aja dong foto ini ... jelek!" caci Rena pada foto Alsa yang diletakkan Davin pada meja kerjanya. Lelaki itu segera mencengkram tangan Rena yang akan membuang bingkai foto sang mantan istri.


"Jangan pernah menyentuh barang milik saya," ucap Davin datar. Sorot mata lelaki itu yang tajam justru membuat Rena semakin tergoda untuk memiliki Davin. Baginya lelaki itu begitu sexy dan sangat sempurna.


"Baiklah ... tapi aku mau ngajak kamu makan siang hari ini. Dan kamu nggak bisa nolak!" Rena mengecup pipi kanan Davin dengan lembut. Lelaki itu hanya mendecih dan mengusap pipinya dengan tisu.


"Saya sibuk. Lagi pula saya sudah tidak ada urusan sama kamu, lebih baik kamu pergi sekarang!" Davin tetap memfokuskan dirinya pada lembar kertas penting yang ada di mejanya.


"Kamu nggak inget kalau nyawa seseorang itu ada di tangan aku?" tanya Rena dengan nada sinis. Davin mendecih pelan kemudian keluar dari ruangannya diikuti Rena di belakang.


***


Davin ingat sebelum ia menceraikan Alsa, lelaki itu sudah mengumpulkan bukti bahwa anak yang di kandung Rena bukan darah dagingnya.


Rena hamil lantaran ia tidur dengan seorang lelaki yang menjadi pelarian cintanya kala Davin menikah dengan Alsa. Rena yang tak mau kehilangan Davin mengancam lelaki itu dengan menodongkan senjata tajam ke leher Alsa, dan membuat Davin terpaksa menandatangani surat cerai mereka.


Awalnya Rena mengancam akan lompat dari lantai empat gedung rumah sakit tempat rawat inap Alsa, namun Davin sama sekali tak perduli dengan ancaman Rena.


Alhasil karena tak ada pilihan lain, Rena mengancam akan menusuk leher Alsa dan membunuh wanita itu jika Davin tak mau menandatangani surat cerai yang sebelumnya sudah dibuat oleh Alsa dan pengacaranya.


Davin yang begitu mencintai sang Istri, terpaksa menandatangani surat cerai tersebut. Hanya saja ia tak akan sudi jika harus menikah dengan Rena.


Alsa yang ketika itu tengah tertidur karena pengaruh obat, sama sekali tak mengerti kejadian pengancaman itu. Apa lagi sama sekali tak ada siapa pun di sana selain mereka bertiga.


Dan ketika bangun, Alsa melihat Davin tengah berciuman panas dengan Rena di sofa kamar inapnya. Untuk itulah Alsa merasa sangat kecewa dan benci pada Davin juga Rena. Hanya saja hatinya masih belum bisa melepaskan cintanya dari Davin.


Padahal kejadian sebenarnya adalah Rena yang mencium paksa Davin dan berakhir dengan Frans yang memergoki aksi ciuman sepihak mereka. Bukan hanya Alsa yang salah paham, Frans juga demikian.


_______Tbc.

__ADS_1


__ADS_2