
Rena kini tengah duduk di taman bersama dengan Diandra, temannya. Beberapa kali Diandra menasehati Rena agar tak menjalin hubungan dengan pria yang sudah berstatus suami orang, akan tetapi cintanya pada Davin terlalu dalam sehingga ia akan melakukan berbagai macam cara supaya Davin bisa dimilikinya.
"Ren, itu bukan anak Davin, nggak seharusnya kamu meminta pertanggung jawaban dia seperti itu." Diandra memelankan suaranya agar tak menarik perhatian banyak orang.
Diandra adalah karyawan sekaligus teman Davin ketika masih sekolah, ia tahu betul bagaimana sifat Davin yang tak mungkin menghianati Alsa, istri lelaki itu.
"Aku nggak peduli, Di, yang jelas Davin harus jadi milik aku. Aku yakin betul kalau dia akan percaya ketika aku mengatakan ini anaknya." Rena mengingat ketika Davin tengah mabuk berat dan Rena membawanya ke rumah wanita itu.
Ketika itu ia sudah menggoda Davin dengan berbagai macam cara, hanya saja meski kesadaran Davin tinggal beberapa persen lagi, lelaki itu tetap tak mau menyentuh Rena dan mengatakan hanya membutuhkan Alsa.
Rena yang kesal akhirnya memukul tengkuk Davin dengan tongkat kayu hingga lelaki itu pingsan. Dan saat itu lah Rena membuat drama seolah sudah melakukan hubungan suami istri dengan Davin ketika pria itu bangun.
Davin yang kesal akhirnya menampar Rena dan mengatakan bahwa ia wanita murahan. Lelaki itu pergi dari sana dengan perasaan bersalah yang mendalam pada Alsa, istrinya.
"Kamu bener-bener jahat, Ren. Aku bakalan kasih tau Davin soal ini, kalau kamu cuma menjebak dia!" Diandra yang kesal segera pergi dari sana.
Rena yang tak berhasil mengejar Diandra segera berlari menuju mobilnya, ia memasang sabuk pengaman dan segera menancap gas dengan kecepatan tinggi melaju ke arah Diandra yang sedang menyebrang jalan menghampiri seorang tukang ojek di sana.
BRAK!
Diandra terlempar jatuh ke aspal dengan kepala berdarah dan kondisi yang mengenaskan. Rena tanpa belas kasihan meninggalkan Diandra begitu saja tergeletak di pinggir jalan.
Beberapa orang datang mengerubungi wanita malang itu dan segera membawanya ke rumah sakit.
"Maafin aku, Diandra, aku nggak bisa biarin kamu membongkar semuanya. Apapun caranya aku akan mendapatkan Davin. Kalau perlu aku juga akan menyingkirkan Alsa.
Rena pergi dari sana menuju kantor Davin. Ia sudah satu minggu ini berhenti mengajar di sekolah, Rena akan kembali menjadi pekerja kantor seperti dulu sebelum ia menjadi seorang Guru. Ia yang memiliki otak cerdas mampu menekuni pekerjaan apapun, menjadi Karyawan di kantor Davin atau menjadi Guru di sekolah mereka dulu.
***
__ADS_1
Vani dan Hiro kini tengah mengunjungi rumah sakit di mana putri mereka dirawat. Kedua orang itu mendapat pesan dari Camelia bahwa Alsa, putri mereka tengah sakit dan kondisinya semakin memburuk. Untuk itulah Frans membawa Alsa ke rumah sakit agar mendapat perawatan yang baik.
Vani menggenggam tangan Alsa, ia merasa putrinya sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Wanita itu tampak semakin kurus dan sangat pucat, Vani hanya berharap semoga apa yang menjadi ketakutannya tak terjadi.
"Sayang, gimana keadaan kamu? Maaf ya, Mama baru bisa jenguk kamu. Maafin Mama ya, Sayang?" Vani berujar lembut pada Alsa, wanita itu tersenyum. Ia tak ingin membuat Mama dan Papanya semakin khawatir.
"Alsa nggak papa kok, Ma. Sekarang udah baikan, kata Dokter besok juga udah boleh pulang," jawab Alsa kemudian tersenyum berusaha membuat Mamanya percaya dan juga untuk menguatkan dirinya sendiri.
"Alsa, kalau ada apa-apa kamu bisa langsung hubungi Papa. Papa nggak mau kamu banyak pikiran kayak gini, Papa nggak mau liat kamu stres seperti ini!" Alsa mungkin bisa membohongi Vani, tapi ia tak bisa membohongi Hiroki yang berprofesi sebagai seorang Dokter.
Hiro tahu betul apa yang menyebabkan putrinya sakit hanya dengan melihat wajah Alsa, dan menggenggam pergelangan tangan wanita itu.
"Stres? Kamu banyak pikiran, Sayang? Mau berbagi cerita dengan Mama?" Vani semakin khawatir pada kondisi putrinya. Ia semakin tak bisa mempercayakan Alsa pada Davin yang wanita paruh baya itu anggap tak becus mengurus Alsa dengan baik.
"Enggak kok, Ma. Alsa tuh kemarin ada sedikit masalah di toko roti dan kelelahan juga. Tapi, sekarang Alsa sudah baik-baik saja dan Mama nggak perlu khawatir lagi." Alsa menenangkan Vani yang terlihat semakin cemas, ia tak mau Mamanya itu menelpon Gerry dan mengadu yang tidak-tidak soal Davin pada Kakaknya itu.
Alsa tidak mau Gerry menghajar Davin seperti beberapa bulan lalu ketika Vani mengatakan suaminya sudah menghianati Alsa dan menjalin hubungan dengan Rena.
Butuh waktu yang lama untuk Alsa meyakinkan Gerry bahwa Kakaknya itu tak perlu cemas dan segera kembali ke luar negri. Ia tak mau kejadian yang sama terulang lagi sekarang. Alsa sangat mencintai Davin, ia percaya bahwa suaminya tak akan menghianatinya.
***
Davin kini tengah bersiap untuk pulang lebih awal, ia akan menunggu istrinya di rumah sakit dan meluangkan waktu lebih banyak untuk Alsa.
Ia terkejut melihat Rena yang sudah menunggu di depan mobilnya, wanita itu kemudian tersenyum dan menghampiri Davin.
"Belum jam pulang kantor loh, Ren. Kamu sedang apa di sini?" tanya Davin bingung pada wanita anggun di depannya.
"Aku baru aja dari rumah sakit," jawab Rena dengan wajah murungnya. Davin mengernyit bingung, ia berfikir mungkin Rena telah sakit san berfikir untuk memberikan wanita itu izin cuti kerja beberapa hari.
__ADS_1
"Kamu sakit?" tanya Davin memastikan. Rena menggeleng.
"Davin, aku ... hamil," jawab Rena yang membuat Davin sedikit terkejut. Namun, detik berikutnya ia berpikir positif, mungkin Rena telah memiliki kekasih dan hamil dengan kekasihnya itu.
"Kamu mau minta pertanggung jawaban pacar kamu itu? Sebaiknya secepatnya sebelum kandungan kamu membesar. Nanti biar saya kasih ijin cuti kerja buat kamu selama hamil sampai melahirkan nanti." Davin tersenyum meyakinkan Rena yang kini menunduk sedih.
Air mata wanita itu mengalir dan ia mulai terisak.
"Kamu kenapa, Rena?" Davin memegang bahu Rena dengan lembut. Ia merasa tak salah bicara, tapi kenapa Rena malah menangis? tanya Davin dalam hati.
"Vin, aku hamil anak kamu."
DEG!
Davin membulatkan matanya tak percaya, ia bingung dengan ucapan Rena yang ia anggap konyol dan tak masuk akal. Bagaimana bisa Rena hamil anaknya, padahal Davin tak menyentuhnya sama sekali?
"Kamu lagi ngeprank saya, ya? Saya sedang buru-buru, Ren. Alsa sedang butuh saya sekarang." Davin berusaha melepaskan diri dari Rena yang mana kini wanita itu makin mencengkram lengannya.
"Davin, aku serius. Kamu malam itu paksa aku buat layanin kamu, dan aku nggak bisa nolak, Vin. Kenapa kamu melupakannya dengan begitu mudah?" Rena mulai terisak dalam. Wanita itu semakin membuat Davin bingung. Ia merasa tak pernah melakukan apapun pada Rena.
Ia ingat waktu itu memang tengah mabuk parah, hanya saja ia masih sadar bahwa wanita yang tengah menggodanya ketika itu bukanlah Alsa, tapi Rena. Untuk itulah Davin menolak dan memilih akan pulang ke rumah untuk menemui Alsa, tapi seseorang memukul tengkuknya dengan keras sehingga ia jatuh pingsan.
Pagi harinya ketika ia bangun, dirinya sudah tak memakai atasan dan Rena yang dalam kondisi tanpa busana tengah menangis di sampingnya. Davin yang teliti yakin betul bahwa tak ada jejak percintaan mereka ketika itu. Namun, ia hanya diam saja karena tak ingin membuat Rena malu akibat ketahuan berbohong.
Dan kini, wanita itu entah hamil dengan siapa dan justru meminta pertanggung jawaban darinya. Tentu saja ini tak masuk akal untuk Davin.
"Maaf, Ren. Saya harus temenin Alsa, dia butuh saya." Davin pergi meninggalkan Rena, tak peduli meski wanita itu menangis darah sekalipun.
"Awas kamu, Alsa!"
__ADS_1
____________Tbc.