Kusut

Kusut
KUSUT season 2


__ADS_3

Alsa tengah duduk di balkon kamarnya ketika senja telah tiba, kesedihan tiba-tiba datang merasuk kala mengingat kebersamaan indahnya dengan Davin di masa silam.


Bersikap kuat dan tegar bukanlah keahlian Alsa, ia sadar dirinya sosok yang lemah, ia sadar dirinya membutuhkan sandaran. Hanya saja ia bingung harus bersandar ke mana di saat orang yang selama ini selalu


Ia jadikan sandaran telah menghianatinya.


Alsa mendesah kasar, ia sekuat mungkin menahan air matanya agar tak terjatuh. Ia merindukan Mamanya, Papanya, juga Alea. Ia merindukan keluarga kandungnya.


Hidupnya terlalu miris kala menyadari bahwa tak ada satu saudara kandung pun yang ada di sisinya. Ia tak mungkin meminta bantuan pada keluarga jauhnya yang sudah jelas-jelas tak mau tahu perihal keadaan wanita itu. Ia benar-benar seorang diri, bertumpu pada kedua kakinya sendiri, dan mencoba bertahan seorang diri.


Senja telah digantikan malam, Gerry datang ke kamar Alsa dan merangkul Adiknya penuh sayang. Tanpa Alsa mengatakan kepedihannya pun, lelaki itu tahu bahwa sang Adik tak baik-baik saja.


"Masuk, Dek. Di luar makin dingin ... kita makan malem dulu yuk," ajak Gerry yang dijawab gelengan kepala oleh Alsa. Gerry mendekap tubuh mungil itu penuh sayang, ingin rasanya ia memutar waktu dan tak akan menyerahkan Alsa begitu saja pada Davin.


"Kamu kuat, Dek ... Kamu pasti bisa lewatin ini semua. Tuhan nggak tidur, Ca." Gerry memeluk Alsa dengan penuh kepedihan. Hatinya juga sama merasakan sakitnya seperti yang Alsa rasakan, namun lelaki itu tak boleh menampakkan luka itu demi menguatkan Alsa yang rapuh.


"Makan dulu yuk, biar Kakak suapin Kamu," ucap Gerry seraya menatap mata berkaca-kaca sang Adik.


"Aku bukan anak kecil, Kak," rengek Alsa mencoba untuk tersenyum. Senyum getir yang membuat Gerry semakin miris melihatnya, sebegitu beratkah cobaan Alsa?

__ADS_1


"Nggak papa, kapan lagi Kakak manjain Kamu?" Gerry mencubit pelan hidung bangir Adiknya, pria itu tersenyum seakan mengatakan 'semua akan baik-baik saja'.


Alsa mengangguk karena merasa tak enak pada Gerry dan kedua orangtua angkatnya, mereka sudah begitu baik pada Alsa dan gadis itu tak ingin mereka kecewa padanya.


***


Kenzo menatap kaku sosok wanita yang tengah menangis di depannya. Grace, Kakak iparnya itu kini tengah menangis ketika menceritakan kondisi rumah tangga Alsa dan juga Davin.


Grace begitu mencemaskan kondisi Alsa, hanya saja keadaannya yang tengah hamil 7 bulan membuatnya tak bisa memeluk Alsa yang berada beda Negara dengannya.


Ken tercengang, ia terlalu syok hingga tak mampu berkata-kata. Ia membayangkan bagaimana nasib Alsa yang seorang diri di sana. Meski ada Gerry dan Keluarganya, namun Ken tahu betul bagaimana sosok Alsa yang tak mau merepotkan orang lain.


***


Alsa mengabaikan panggilan ponselnya yang sudah tak terhitung ke berapa kalinya, ia hanya duduk melamun di balkon kamar sembari melihat jalanan kota yang begitu ramai. Ia tak ingin berada di dalam kamar atau berkumpul dengan keluarganya, itu semua akan membuatnya semakin sedih kala mengingat Davin yang juga pernah duduk di sofa atau tempat lain di rumah itu.


Hanya dengan menatap jalanan kota lah Alsa bisa sedikit melupakan masalahnya, ia tak peduli dengan jam dinding yang sudah menunjukkan pukul berapa sekarang atau ia juga tak peduli dengan hujan yang tiba-tiba mengguyur kota dan membuat orang yang berlalu lalang di bawah sana berlari mencari tempat untuk berteduh.


"Dek, hp kamu bunyi tuh," ucap Gerry sembari mengambil ponsel Alsa. Gadis itu hanya melihat Kakaknya tanpa minat. Gerry menghembuskan napas pelan dan melihat siapa si penelpon yang berisik tersebut.

__ADS_1


Nama Kenzo tertera di layar ponsel, 85 panggilan tak terjawab darinya. Gerry mengangkatnya dan suara berisik lelaki itu langsung membuat telinganya berdengung.


"Ca!" panggil Ken setengah membentak di seberang sana, sepertinya lelaki itu begitu semangat ingin berbicara dengan Alsa.


"Apa sih?" jawab Gerry malas.


"Kok elo, Bang? Caca mana?" tanya Ken kesal. Terdengar lelaki itu juga berdecak di sana.


"Ada nih, kenapa? Dia lagi tidur!" dusta Gerry ketika melihat tatapan Alsa yang seakan menolak untuk berbicara dengan Ken.


"Jemput gue, Bang. Sekarang gue udah ada di Bandara."


"What?!" Gerry refleks berteriak pada Kenzo. Sedangkan Adik lelakinya itu hanya menggerutu dengan bahasa Jepang yang Gerry tahu itu bahasa kasar.


"Udah buruan. Gue nggak mau naik taksi, ntar gue di culik tante-tante genit lagi." Ingin rasanya Gerry menabok mulut lemes Ken yang seakan tak tahu waktu untuk bercanda. Namun Gerry terkejut ketika melihat Alsa cekikikan geli akibat kata-kata Kenzo yang terdengar olehnya juga.


"Berisik lo!" umpat Gerry dengan tersenyum pada Alsa, ia senang Adiknya bisa tertawa dan merasa terhibur oleh candaan garing Kenzo. Ia berharap dengan kehadiran Ken di sini bisa membuat Alsa menjadi lebih baik.


"Kakak jemput dia dulu ya, Dek." Gerry mengecup pipi kanan Alsa penuh sayang. Kemudian ia berlalu dari sana untuk menjemput Adik lelakinya yang menyebalkan.

__ADS_1


________Tbc.


__ADS_2