Kusut

Kusut
KUSUT season 2


__ADS_3

maaf kakak pembaca ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญkemarin tata salah up, jadinya part yg ini kembar. tapi ini udah tata benerin kok. sekali lagi tata minta maaf๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ˜ฅ๐Ÿ˜ฅ


untungnya tata dikasih tau sama salah satu kakak pembaca, makasih banget kak udah bantu ingetin saya๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š tata tuh gak teliti orangnya:v


.


.


.


.


.


.


.


.


Ken berjalan perlahan ke arah paviliun kediamannya di Osaka, ia mendengar suara seorang wanita yang menangis di tengah malam.


Seketika bulu kuduknya berdiri kala membayangkan kuchisake-onna yang tengah menangis di dalam bangunan tersebut.


Namun, ia yang berniat untuk lari dari sana langsung mengurungkan niatnya kala mendengar suara jatuhnya benda dari arah paviliun tersebut.


Segera ia berlari ke dalam rumah dan mengambil kunci paviliun yang diletakkan dalam laci meja ruang pribadi Ayahnya, ia yakin ada seseorang di dalam sana.


Tanpa buang waktu lagi, Kenzo segera berlari ke arah paviliun, membuka pintu yang terkunci tersebut dan segera mencari sumber suara tangisan yang semakin jelas ia dengar.


Ken terpaku menatap seorang gadis cantik berkulit putih bersih tengah menangis di sudut ruangan, gadis itu tampak memakai baju lusuh dengan penampilan yang tak terurus.


"Pergi! Pergi! Siapa kau? Siapa?!" teriak gadis itu histeris. Ken semakin mendekat dan ia meraih saklar lampu ruangan yang kebetulan ada di dekatnya.


Cahaya lampu memenuhi ruangan bergaya Jepang klasik tersebut, gadis itu duduk diatas futon yang terlipat. Ia meringkuk takut seolah Ken akan menyakitinya.


"Siapa kau?" tanya Ken dengan menggunakan bahasa Inggris, namun gadis itu diam. Ia tak mengerti apa yang Ken ucapkan.


Hingga akhirnya Ken ingat bahwa gadis asing itu sempat mengusirnya dengan menggunakan bahasa Jepang, maka Ken menyimpulkan bahwa gadis tersebut hanya bisa berbahasa Jepang.


"Siapa namamu?" tanya Ken menggunakan bahasa Jepang, gadis itu mulai mengangkat wajahnya. Ken dapat melihat warna mata hitam kelam sama seperti dirinya.


"Kau si-siapa?" gadis itu bukannya menjawab justru kembali bertanya pada Ken.


"Aku Kenzo, anak dari Tuan Hoshi." Ken melihat perubahan pada gadis asing tersebut. Ia nampak beringsut takut dengan tubuh yang kian gemetar.


"Tenanglah, aku tak akan menyakitimu ... kau ini siapa?" tanya Ken mencoba mendekati si gadis.


"A-ku Ri-Ritsu-ki," jawab gadis itu pelan. Ia sangat takut pada Ken yang dirasa berbahaya untuknya.


"Ritsuki?" ulang Ken yang diangguki oleh gadis asing tersebut.


"Sanae Ritsuki," terang gadis itu. Ken membulatkan matanya, ia tak menyangka gadis itu bermarga Sanae.


"Apa kau mengenal Sanae Izumi?" tanya Ken penasaran, ia seakan tak sabar menunggu jawaban gadis tersebut.


"Dia ... ibuku," jawaban dari Ritsuki membuat Ken membulatkan kedua matanya. Ia tak menyangka wanita pengganggu itu telah mempunyai seorang putri remaja.

__ADS_1


"Lalu, kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Ken ketus. Ia sebenarnya tak suka berurusan dengan keluarga dari ibu tirinya itu, hanya saja Ken penasaran kenapa kondisi Ritsuki seperti itu.


"Ayahmu tak menyukaiku, Ibuku melarangku untuk pergi ke kediaman utama." Ritsuki menautkan jemari tangannya. Kenzo berdecak kesal, ia tak menyangka Ayahnya akan sekejam ini pada anak tirinya.


Meski Kenzo tak ingin peduli, nyatanya lelaki itu tetap membawa Ritsuki pergi dari sana. Menemui sang Ayah yang langsung murka ketika melihat gadis cantik tersebut berdiri tertunduk di depannya.


Ayah Kenzo merasa dibohongi oleh Izumi, sehingga ia sangat amat membenci Ritsuki yang merupakan putri tunggal Izumi.


Kemarahan yang dilimpahkannya pada Ritsuki yang tak mengerti apapun, membuat Ken tersenyum miris melihat gadis 18 tahun yang kini tengah memakan onigiri dengan lahap.


Ken tak ingin bersikap ramah, tapi ia juga tak bisa meninggalkan Ritsuki di kediaman Ayahnya. Maka lelaki itu memutuskan untuk membawa Ritsuki ke kota New York bersama dengannya.


***


Alsa berkali-kali memuntahkan isi perutnya dalam closed, ia merasa kepalanya berputar dengan badan yang terasa pegal di mana-mana.


Ia duduk bersandar di dinding kamar mandinya, menghirup minyak kayu putih agar mengurangi sedikit rasa mualnya.


Sejak pukul 3 pagi hingga pukul 9 pagi ini, wanita itu terus saja bolak balik ke kamar mandi tiada henti. Bahkan Vani sudah dibuat cemas dengan keadaan sang putri.


Ayah Gerry memutuskan tidak jadi pergi ke kantor dan menunda meeting siang nanti karena khawatir jika Alsa jatuh pingsan seperti subuh tadi.


Lelaki itu juga sudah menelpon Grace agar segera datang ke kediamannya dan memeriksa kondisi Alsa.


"Caca, buka pintunya, Sayang." Vani terlihat cemas di luar pintu kamar mandi, ia terus mengetuk pintu dan menyuruh putrinya untuk segera membuka pintu tersebut.


"Iya, Ma," sahut Alsa lemas. Hanya beberapa sendok bubur saja yang berhasil masuk ke perutnya, itu pun hanya bertahan beberapa menit sebelum di keluarkan lagi.


Wanita itu membuka pintu kamar mandi, terlihat Papa dan Mamanya sudah berdiri cemas di depan pintu. Alsa berusaha terlihat baik-baik saja agar mereka tak Terlalu cemas.


Vani yang panik segera menyuruh Suaminya membawa Alsa ke rumah sakit, ia takut terjadi sesuatu pada wanita itu.


***


Gerry menyusul kedua orangtuanya yang sekarang berada di ruang tunggu rumah sakit terdekat dari kediaman Papanya, lelaki itu terlihat cemas dengan sedikit tergesa ia berlari kecil di lorong panjang rumah sakit itu.


Terlihat dari jauh sang Ayah tengah memeluk Vani yang menangis terisak, tampak juga Grace sudah mondar-mandir dengan raut wajah yang tak kalah cemasnya. Gerry segera menghampiri Istrinya.


"Bagaimana keadaan Caca, Sayang?" tanya Gerry cemas. Wanita itu menggeleng pelan.


"Aku nggak tau, Sayang, waktu aku sampai di rumah Mama, Alsa sudah pingsan dan akan dibawa ke rumah sakit." Grace mulai memikirkan satu kemungkinan yang terjadi pada Alsa.


Namun, mengingat perceraian Davin dan Alsa yang sudah hampir menginjak 1 bulan lamanya, kemungkinan yang ada di dalam pikiran Grace masih ditangguhkannya.


Sekarang hanya menunggu bagaimana kabar dari Dokter yang sudah memeriksa Adik Iparnya di dalam ruangan serba putih itu.


Akhirnya seorang Dokter berperawakan tinggi besar itu keluar dari sana, melepaskan masker dan mulai berbicara pada mereka.


Senyum Dokter Smith itu mengembang kala masker yang menutupi mulutnya dibuka, membuat semua orang yang ada di sana dilanda kebingungan.


"Apa yang terjadi?" tanya Hiro yang dibalas tepukan di bahunya dari Dokter Smith.


"Apa anda orangtuanya?" tanya Dokter tersebut dengan bahasa Inggris.


"Iya," jawab Hiro yang mulai tak sabar dengan Dokter di depannya itu.


"Putrimu mengandung, Tuan."

__ADS_1


Seluruh keluarga yang berada di sana langsung menutup mulutnya tak percaya, entah bagaimana mereka akan bersikap. Bahagia ataukah sedih?


Tapi jika sedih, rasanya tak pantas mengingat Tuhan telah menitipkan anugrah seorang bayi di tengah keluarga mereka.


Dan jika bahagia, rasanya mereka masih gamang, mereka hanya takut jika Alsa tak mau menerima bayi itu. Dan yang jadi pertanyaan adalah, apakah itu anak Davin?


"Berapa usia kandungannya?" tanya Grace yang tak ingin berpikiran negatif pada Alsa. Karena ia yakin Adik perempuannya tak mungkin tega melakukan perbuatan yang memalukan.


"Sekarang sudah memasuki Minggu ke 10." mereka bernapas lega secara bersamaan. Setidaknya itu adalah anak dari Davin, mereka yakin hal itu.


"Terimakasih, Dokter." Hiro membungkukkan badan selayaknya orang Jepang yang mengucapkan salam atau tanda terimakasih. Dan Dokter itu pergi dari sana setelah menyambut ucapan terimakasih tersebut.


"Alsa," gumam Vani seraya menghapus air matanya. Ia tersenyum haru dan segera masuk ke ruangan Alsa di rawat.


***


Davin menatap tak percaya pada Grace yang kini tengah berada di depannya, memang 3 hari yang lalu ia sudah memberikan alamat rumah barunya di New York pada sang Adik, sehingga wanita itu bisa datang ke sini dengan membawa kabar berita yang menggembirakan untuk Davin.


Alsa mengandung, dan ia yakin itu adalah anaknya.


Tak henti-hentinya Davin mengucapkan syukur pada Tuhan, bahkan lelaki itu juga meneteskan air mata haru menyambut kabar kehadiran calon anak pertamanya.


Davin pernah merasakan kebahagiaan yang seperti ini sebelumnya, namun kebahagiaan itu hanya berlangsung beberapa bulan saja karena Tuhan lebih menyayangi Istri dan calon bayinya.


Davin telah ikhlas melepas mereka ke surga, lelaki itu juga selalu menyelipkan doa di setiap sujudnya.


Dan kini kebahagiaan itu datang lagi, ia tak ingin menyia-nyiakan karunia yang telah Tuhan berikan padanya kali ini. Sebisa mungkin dirinya akan meyakinkan Alsa untuk kembali padanya.


Lagi pula perceraian mereka tak sah bila Alsa sudah mengandung ketika sidang cerai dilakukan.


"Bang, Alsa masih murung sejak tau dirinya hamil. Dia bingung gimana harus bersikap. Aku tau perasaannya pasti bahagia, cuma rasa sedih lebih dominan karena semua masalah yang terjadi pada kalian selama ini belum terselesaikan. Belum lagi masalah Abang sama Rena." Grace menjadi kesal jika mengingat wanita bernama Rena tersebut. Ia berdoa pada Tuhan semoga Kakaknya tak akan lagi berurusan dengannya atau wanita seperti Rena lagi.


"Kamu nggak percaya sama Abang? Abang nggak pernah nyentuh Rena sedikitpun," ucap Davin meyakinkan.


"Kalau aku nggak percaya sama Abang, pasti aku nggak ada di sini sekarang. Buktinya, aku ke sini buat kabarin kabar baik ini ke Abang. Aku cuma pengen Alsa bahagia." Grace merasa miris dengan nasip pernikahan Kakaknya tersebut.


Wanita itu meraih tas Channel miliknya, mengeluarkan selembar foto Alsa yang tengah terbaring di rumah sakit dengan selang infus di tangannya.


Davin meraih foto itu dengan tangan gemetar, ia sangat merindukan sosok Alsa dalam hidupnya.


"Sayang," panggil Davin pada foto itu seolah Alsa memang ada di depannya. Setetes air mata meluncur jatuh mengenai lembaran tersebut. Membuat Grace semakin ikut larut dalam kesedihan. Ia yakin Davin hanya mencintai Alsa, bukan wanita lain.


"Aku pulang, Bang ... Di balik foto itu ada alamat rumah sakit tempat Alsa dirawat. Mama sama papa mertua aku nunggu niat baik Abang ke sana. Tolong jangan kecewakan mereka, Bang." Grace memeluk Davin penuh sayang. Lelaki itu mengangguk pelan dan bersyukur karena di saat seperti ini, sang Adik masih mau mempercayai juga membantunya.


Bahkan orangtuanya saja tak ingin lagi melihat kehadiran Davin di sisi mereka.


"Aku pulang, assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."


______________Tbc.


Bagi yang penasaran Alsa sama Ken atau Davin, tolong di liat di bagian prolog lagi.


Di sana sudah saya cantumkan nama marga Alsa yang mengikuti nama marga SUAMINYA nanti.


Terimakasih:')

__ADS_1


__ADS_2