Kusut

Kusut
21


__ADS_3

.


.


.


.


.


Alsa berlari tak tentu arah, di tengah gelapnya hutan dirinya terus berlari dan berlari dari kejaran Ken yang dirasa Alsa memiliki sifat tak normal.


Ia tak peduli meski beberapa kali terjatuh akibat tersandung akar pohon, bahkan kulit putihnya kini sudah tergores ranting atau pun tumbuhan hutan yang berduri.


Ia bernafas lega saat ditemukannya sebuah rumah tua di dalam hutan, segera ia memasuki rumah tersebut.


Ia duduk menekuk lututnya sembari berdoa dalam hati agar Ken tak menemukannya.


"Ca~" panggil Ken yang terdengar mengerikan di telinga Alsa, ia bahkan menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan agar tak timbul isakan saat ia menangis.


"Sayang~" panggil Ken lagi semakin menyeramkan. Bagaikan psikopat. Ken tertawa terbahak entah karena apa, yang jelas Alsa seperti melihat psikopat di dunia nyata.


"Katanya kamu cinta sama aku, Caca~" ucap Ken bernada diiringi gelak tawa seperti melihat sesuatu yang lucu.


"Aku tau kamu di sini, sayang~. Keluarlah," bisik Ken bagaikan angin dari malaikat maut untuk Alsa.


Gadis itu semakin ngeri melihat Ken yang seperti orang gila, ia tak pernah menduga bahwa Ken mempunyai sifat seperti itu.


"Hiks ...," satu isakan lolos dari mulut Alsa, Ken tersenyum mengerikan sembari menolehkan kepalanya ke arah gadis itu sembunyi.

__ADS_1


"Kamu di sini, Sayang. Aku cariin loh dari tadi." Ken berjalan ke arah persembunyian Alsa.


Alsa semakin merapatkan dirinya di tembok, bahkan ia menjadi seperti ikut gila akibat sikap gila kakak kelasnya ini.


"Am-pun, Kak," ucap nya terbata, gadis itu menutup kedua telinganya serta memejamkan matanya akibat ketakutan luar biasa.


Bahkan kini tubuhnya gemetar dengan keringat dingin yang keluar dari pori-pori kulitnya.


"Ahk!" Alsa memekik ketika Ken menarik lengannya, lelaki itu menghimpit Alsa di tembok berdebu itu sembari mencengkram rahang sang gadis kuat.


"Jangan coba-coba lari dari aku, Sayang. Atau kamu akan terima hukuman dari ku," ucap Ken penuh penekanan di tiap katanya.


"PAHAM!!" Alsa mengangguk cepat akibat bentakan keras Ken.


"Hiks ... hiks ... am-pun ... lepasin aku, Kak," ucap Alsa terbata, bahkan kini kakinya seakan lemas seperti jeli.


"DIAM!!" bentak Ken lagi membuat Alsa refleks menaruh telunjuk di bibirnya yang terkatup rapat tanda diam.


Ken yang tak sabar langsung menarik Alsa keluar dari rumah itu menuju mobilnya, tak peduli Alsa yang terseret atau beberapa kali terjatuh akibat tersandung akar pohon.


Yang Ken pedulikan adalah Alsa harus bersamanya.


***


Ken tak mengantar Alsa ke rumah Gerry, ia tak ingin Alsanya dekat dengan kakak sepupu lelaki tersebut.


Ken menghempaskan Alsa di ranjang apartemennya, lelaki itu kemudian memberikan sang gadis segelas air putih agar ia sedikit tenang.


Alsa menurut karena memang dirinya sudah sangat ketakutan dengan Ken, ia tak ingin membuat lelaki itu semakin menyiksanya.

__ADS_1


Alsa menenggak habis air itu.


"Bagus! gadis pintar," puji Ken sembari tersenyum mengerikan di mata Alsa, kemudian lelaki itu meletakkan kembali gelas tersebut di meja nakas.


Cup~


Ken mencium bibir Alsa, gadis itu terisak menolak ciuman sepihak Ken.


Namun lelaki itu tak peduli, ia sudah sangat mencintai Alsa dan tak ingin cintanya bertepuk sebelah tangan.


Ia tak ingin merasa sakit karena sebuah penolakan cinta yang seumur hidup tak pernah ia alami. Semua gadis yang ia inginkan, selalu berhasil ia dapatkan.


Namun, entah kenapa Alsa tak mau menerimanya, padahal beberapa bulan lalu pernyataan cinta keluar dari bibir Alsa.


Mau tidak mau, suka tidak suka, Alsa harus menerima perlakuan kurang ajar Ken.


Ia hanya berharap semoga ini hanya mimpi.


"Tidurlah, Sayang." Ken mengakhiri ciuman panas itu, ia tak ingin berbuat lebih jauh yang nantinya akan membuat Alsa semakin membenci dirinya.


Ken tersenyum puas melihat sang gadis tunduk tak berkutik.


Lelaki itu keluar meninggalkan Alsa yang duduk menekuk lutut menempel pada kepala ranjang, bahkan ia menggigit kuku-kuku jarinya yang bergetar.


Tangan satunya ia gunakan untuk memeluk lututnya seakan itu adalah bentuk pertahanan diri Alsa.


"Kak ... Davin ... tolong ... hiks ... tolong ... takut ... Kakak ... hiks ... takut," racau Alsa tak jelas sembari terus menatap ke arah pintu kamar Ken yang tertutup rapat.


Ia takut jika lelaki itu tiba-tiba datang dan menyerangnya lagi.

__ADS_1


_____Tbc.


__ADS_2