
.
.
.
.
.
.
.
Sudah dua bulan ini Alsa ditangani oleh seorang Psikiater wanita, kesehatan gadis itu sudah membaik begitu juga mentalnya. Bahkan ia juga sudah mau berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya dan mulai mengingat mereka satu persatu.
Davin tersenyum lega mendapat laporan hasil tes keperawanan yang dilakukan Grace pada Alsa, adiknya itu masih suci dan belum sempat disentuh oleh Ken.
Lelaki itu menghampiri Alsa yang tengah duduk di ranjangnya, sebuah boneka beruang dari Gerry berada di atas pangkuan gadis itu.
Sejak keluar dari rumah sakit, Camelia meminta Davin agar Alsa tinggal di kediaman Frans. Dan lelaki itu menyetujuinya, mereka berdua kembali ke rumah Frans dan kondisi Alsa terlihat semakin membaik.
"Sayang, makan malem dulu yuk. Mama sama papa udah nungguin sama kak Grace di bawah," ajak Davin lembut, gadis itu menoleh dan tersenyum pada kakaknya.
"Kak Grace ke sini? Sama kak Gerry juga, Kak?" tanya Alsa antusias, pasalnya gadis itu sudah sangat merindukan kakak angkatnya tersebut.
Karena kesibukan Gerry mengurus cafe, membuatnya tak memiliki waktu untuk menemui adiknya. Apalagi jarak yang begitu jauh tak bisa membuatnya sering bertemu Alsa dengan kesibukannya yang luar biasa.
__ADS_1
"Kak Gerry masih sibuk katanya, besok aja ya Kakak antar ke rumah Kak Gerry," bujuk Davin sambil mengelus rambut Alsa. Gadis itu menunduk lesu, namun detik berikutnya ia tersenyum manis kemudian mengajak Davin untuk turun menemui keluarganya yang lain.
*****
Lelaki tampan berhoodie hitam itu tengah berdiri di batas atap apartemen-nya.pandangannya kosong menatap lurus ke bawah, jauh di bawah terdapat banyak orang yang entah kenapa terlihat bergerombol menatap ke arahnya.
Beberapa di antara mereka melambaikan tangan seolah menyuruhnya untuk turun, namun lelaki itu diam tak bergeming. Keputusasaan membawanya kemari, ia sudah lelah dengan kehidupan yang ia jalani.
Kesalahan fatal membuatnya harus menjauh dari gadis pujaannya, dan sekarang ia mendapat kabar bahwa gadis itu dalam proses penyembuhan trauma yang membuatnya depresi.
Sejahat itukah dirinya? Pantas saja ia tak bisa bersanding dengan gadis sebaik dia, pikir pemuda tersebut.
Air mata yang beberapa detik lalu sempat ia hapus, kini kembali menetes. Mengaburkan pandangan akibat air mata yang menggenang, ia menangis tanpa isakan.
Sesakit inikah mencintai seseorang?
Dan pemuda itu merasa kehilangan untuk yang kedua kalinya setelah kepergian ibu juga sang adik untuk selamanya.
"Caca, maafin aku ... maaf ... maaf ... maaf ...," racau pemuda itu yang tak lain adalah Ken. Penyesalan yang mendalam membuatnya seakan sulit bernapas.
Ia menangis dalam diam, tak ada siapapun yang peduli padanya. Papanya telah menikah dan memiliki kehidupan baru, ia hanya sehari bersama Ken saat mengunjungi rumah Frans 2 bulan lalu. Lelaki paruh baya itu tak memikirkan kondisi mental sang anak dan memilih meninggalkannya begitu saja dengan dalih bahwa sang istri tengah mengandung, jadi tak bisa meninggalkannya seorang diri.
Ia tak memikirkan bahwa putranya lebih butuh dampingan dirinya untuk bersandar sekarang. Kenzo membenci istri papanya, namun ia juga menyayangi papanya sehingga mau tak mau harus menerima hadirnya wanita itu.
Sebagai anak, ia tak memiliki suara untuk mengeluarkan protesnya. Bahkan ketika wanita itu terang-terangan menolak kehadiran Ken dalam kehidupan mereka yang anehnya di setujui oleh papanya.
Ken merasa sendiri sekarang, satu-satunya orang yang selalu menemaninya juga pergi meninggalakn lelaki itu. Alsa, gadis cantik yang senantiasa menemani pemuda itu dalam suka duka telah pergi dari hidupnya.
__ADS_1
Ia ingat saat indah bersama Alsa, gadis itu selalu menjadi tempat curhatnya, gadis itu juga yang selalu memperhatikan Ken, dan tak jarang Ken menjahili Alsa hingga sang gadis mengomel kesal.
Namun kini semua sirna, semua tinggal kenangan yang semakin diingat akan semakin sakit terasa. Ken merasa dadanya nyeri bagai di tusuk belati tak kasat mata, ketika ia mengingat hari-hari indah dengan gadis pujaannya.
Terisak, Ken menangis parau. Ia sudah lelah menguatkan dirinya sendiri, tanpa siapapun yang menemani. Ia memejamkan kelopak matanya, menutup iris segelap malam dan terlihat Alsa tengah tersenyum ke arahnya membuat ia ikut tersenyum membalas senyuman manis gadis itu.
Aku mencintaimu, Alsa. Selamanya.
Brakk
"KYAAAA!"
*****
"Kak," panggil Alsa di tengah malam, gadis itu berjalan memasuki kamar Davin dan mendapati kakaknya masih berkutat dengan beberapa lembar dokumen penting.
"Ada apa, Sayang. Sini duduk sama kakak." Davin mengisyaratkan agar adiknya duduk di sampingnya yang tengah duduk di sofa panjang.
"Alsa mimpi buruk, Kak. Perasaan Alsa gak enak," ucap Alsa sembari menatap mata Davin. Kening lelaki itu berkerut, ia masih bingung dengan ucapan adiknya.
"Di dalam mimpi Alsa, ada kak Kenzo yang menatap Alsa murung. Detik berikutnya kak Kenzo semakin mudur menjauh saat Alsa panggil dan coba Alsa kejar tapi tangan Alsa gak nyampek."
"Alsa kepikiran kak Kenzo, sebenarnya dia lelaki baik. Tapi jalan hidupnya yang sulit membuat dia menjadi jahat, dia terlalu banyak disakiti makanya ia berusaha untuk mendapat kebahagiaan meski dengan jalan yang salah." Alsa menunduk lesu.
Davin meraih tangan Alsa, menggenggamnya erat berusaha menenangkan dirinya sendiri yang dilanda kecemburuan akibat Alsa yang ternyata masih memikirkan Kenzo.
"Dia jahat, Sayang. Gak pantas sama kamu yang berhati baik, percaya sama Kakak kalau kamu pasti akan menemukan lelaki yang lebih baik dari Kenzo."
__ADS_1
Davin memeluk Alsa hangat, ia tak rela jika gadisnya memikirkan lelaki lain. Ia ingin bersikap egois kali ini.
_______Tbc.