Kusut

Kusut
29


__ADS_3

.


.


.


.


.


.


.


Satu minggu sudah semenjak kejadian di rumah sakit, sejak saat itu pula Alsa menjauhi Davin. Ia merasa tak pantas jika harus bersaing mendapatkan Davin dengan Rena, sudah jelas Rena lebih segalanya dibanding Alsa, apalagi Rena adalah gurunya sendiri.


Maka ketika hari ini Frans sudah diperbolehkan pulang, Alsa memilih untuk tidak menjemput lelaki tua itu.


Semenjak seminggu yang lalu, di mana ada Davin di situ juga ada Rena. Dan Alsa tidak suka jika ada guru perempuan itu, ia hanya tak mau merasakan sakit yang teramat sangat di hatinya.


Sakit yang belum pernah ia rasakan, padahal dulu saat ia mencintai Kenzo rasanya tak sesakit ini meski tahu lelaki itu telah memiliki kekasih.


Namun sekarang berbeda, ia sudah sangat sakit hanya dengan melihat Davin bersama wanita lain.


Alsa membereskan baju juga beberapa bonekanya, kamar itu akan di tempati oleh Frans.


"Lho, Sayang? Kamu mau ke mana ?" tanya Camelia bingung ketika dirinya dan yang lain baru sampai di apartemen Davin.


"Iya, Dek. Kamu mau ke mana? Kok bawa koper?" Davin menghampiri Alsa dan hendak merebut koper besar Alsa, namun di cegah oleh Gerry.


"Dia mau gue bawa balik ke rumah," ucap Gerry membuat Davin dan yang lainnya kaget, tapi tidak dengan Grace. Gadis itu seakan mensyukuri keputusan Gerry.

__ADS_1


"Bawa balik ke rumah? Maksut lo gimana sih? Gue gak ngerti."


"Sekolah Alsa ada di dekat rumah gue, lagian di sini udah ada bokap sama nyokap lo, kan? Jadi, gue bawa Alsa balik ke rumah. Mama sama papa juga udah nanyain dia terus dari kemarin," jelas Gerry membuat Davin tak terima.


"Lo gak ada hak bawa dia, dia itu adek gue. Selama ini gue yang urus dia dari kecil, jadi apa pun yang menyangkut Alsa itu atas persetujuan gue," ucap Davin sedikit keras.


"Lagi pula gue udah urus semua aset papa yang disita bank, dan bentar lagi semua masalah selesai. Orang tua gue cuma seminggu di sini," imbuhnya.


"Gue gak peduli berapa lama orangtua lo di sini. Lo selalu bilang kalau Alsa udah lo urus sejak kecil, dan apapun yang menyangkut soal Alsa harus dari persetujuan lo? Apa dengan begitu lo bisa seenaknya nyakitin dia secara batin? Sorry, Vin. Sebagai seorang Kakak, gue gak terima lo perlakuin adek gue kayak gini. Jadi, lebih baik dia ikut sama gue." Gerry memuntahkan semua uneg-unegnya pada Davin yang masih menatapnya bingung.


"Maksut lo apa sih? Kapan gue nyakitin Alsa?" tanya Davin bingung.


"Udahlah, Vin. Ini juga atas keinginan Alsa." Gerry tak memperdulikan umpatan kesal Davin, ia segera mengambil koper Alsa dan mengajaknya segera pergi dari sana. Ia tahu betul bagaimana terlukanya perasaan Alsa saat ini, maka dari itu Gerry ingin segera membawa adiknya menjauh dari Davin. Biarlah lelaki itu sadar dengan sendirinya, toh Gerry hanya memperdulikan nasib Alsa.


"Dek-"


"Alsa pergi, Kak. Terimakasih Kak Davin sudah merawat Alsa sejak kecil, Alsa gak akan pernah lupain kebaikan Kakak. Alsa pamit," ucap Alsa berat menahan air mata yang akan keluar, ia tak sanggup meninggalkan Davin. Namun ia juga tak mau terus menjadi beban pria itu, ia berjanji pada diri sendiri untuk menjadi Alsa yang mandiri. Bukan Alsa yang manja.


Davin yang merasa terpuruk hanya bisa terduduk di sofa panjang ruang tamu, ia menjambak rambutnya frustasi dan mengabaikan kehadiran semua orang. Termasuk mengabaikan kehadiran Rena yang menatapnya miris.


Wanita itu juga mempunyai perasaan pada Davin, namun kini ia tahu siapa yang betul-betul ada di hati pria pujaannya itu.


Tersenyum lembut pada semua yang ada di ruangan itu, Rena pamit kembali ke rumah.


*******


Dua minggu sudah berlalu, Alsa kini tinggal bersama Gerry dan orangtua pria itu. Meski ia masih sangat merindukan Davin di sisinya, namun gadis itu berusaha sekuat tenaga untuk melupakan cintanya yang tak mungkin terbalas.


"Dek, nanti kalau mau pulang telpon kakak, ya? Nanti kakak jemput." Gerry mengantar Alsa sampai depan pitu gerbang, lelaki itu masih sedikit was-was dengan keselamatan Alsa. Mengingat Ken saat ini masih dalam pengejaran polisi.


"Iya, Kak." Alsa kemudian mencium punggung tangan Gerry, dan pria itu mengecup kening Alsa singkat sebelum adiknya turun dari mobil.

__ADS_1


Alsa memasuki ruang kelasnya dengan senyum mengembang saat melihat Luna -teman barunya- sudah menunggu di meja mereka.


"Di anterin kakak kamu lagi, ya?" tanya Luna sembari membetulkan letak kacamatanya.


"Hu'um," jawab Alsa singkat. Gadis itu kemudian mengambil surat yang ada di laci mejanya.


"Kayaknya dari kelas 3, soalnya pas aku datang tadi banyak anak cowok kelas 3 yang ngumpul di meja kamu," ucap Luna menjawab kebingungan Alsa.


Seperti biasa, Alsa mengembalikan beberapa surat itu ke dalam lacinya. Sudah menumpuk surat cinta untuknya yang ia tak tahu siapa saja pengirimnya.


Gadis itu tak berniat membaca satupun dari puluhan surat yang terkumpul. Ia hanya ingin fokus pada sekolahnya, bukan fokus pada surat-surat yang menurutnya tak penting.


******


Saat jam istirahat tiba, mereka berdua memutuskan untuk ke kantin.


"Ikut dong, Al," ucap seorang cowok berkaca mata seperti Luna. Dia Damar, kakak kelasnya sekaligus tetangga Luna.


"Boleh, ayo kita barengan aja!" ajak Alsa semangat, mereka berdua adalah teman baru yang selalu menghibur Alsa selama ini.


Dan di ketahui bahwa Damar memiliki perasaan lebih ke Alsa.


"Ekhem! Aku gak bakalan di jadiin nyamuk kayak kemarin, kan?" tanya Luna pura-pura kesal pada Alsa dan Damar yang selalu asik sendiri saat bersama.


"Ya enggak dong, nanti sepulang sekolah kita mampir ke cafe kak Gery, ya?" tawar Alsa yang membuat Luna berbinar. Pasalnya gadis itu adalah fans berat Gerry.


"Mau! Pokoknya ntar kita nongkrong di sana sampai sore!" ucap Luna sedikit keras dan penuh semangat, hingga mereka kini menjadi  pusat perhatian siswa-siswi di koridor.


Segera Damar menarik Luna menjauh di ikuti Alsa di belakang mereka, ia dan Alsa merasa malu dengan sikap Luna yang terkadang berlebihan. Apalagi jika sudah berurusan dengan Gerry.


Dan mereka melanjutkan perjalanan ke kantin yang sempat tertunda.

__ADS_1


_____Tbc.


__ADS_2