
.
.
.
.
.
.
.
.
Gerry memandang lurus pada jalanan di depannya, ia tidak dapat mempercayai kenyataan bahwa adik sepupunya menjadi seorang pelaku kriminal.
Dulu Ken adalah seorang anak yang ceria seperti anak lelaki seusianya. Semua berjalan normal tanpa ada kejanggalan pada perilaku Ken, anak lelaki itu bahkan terlihat selalu tersenyum dan tertawa bersama teman-temannya.
Hingga suatu ketika saat Ken duduk dibangku SMP, kedua orang tuanya resmi berpisah. Ken diasuh oleh papanya sedangkan adik lelakinya diasuh oleh mamanya.
Tak ada lagi Ken yang ceria, ia menjadi pribadi yang tertutup dan dingin. Sulit didekati bahkan jarang sekali mengobrol dengan Gerry ataupun Papanya.
Puncaknya ketika Ken mendapat kabar bahwa adik lelaki dan ibunya tewas dalam kecelakaan pesawat yang menuju Prancis. Dan yang lebih memprihatinkan adalah ketika pemakaman ibu dan adiknya, papa dari Ken malah membawa seorang wanita yang dikenalkan sebagai calon mama tiri Kenzo.
Ken yang masih labil tanpa pikir panjang berniat mengakhiri hidupnya dengan cara menyayat pergelangan tangannya sendiri, untunglah papa Ken cepat mengetahui kejadian itu sehingga ia dengan segera membawa putranya ke rumah sakit untuk diberi pertolongan.
Dan di sanalah ia bertemu dengan Grace yang ketika itu merawat Kenzo.
__ADS_1
Kini ia hanya bisa berharap semoga Davin tak mengakhiri hidup adik sepupunya itu, bagaimanapun perilaku buruk Ken, lelaki itu tetaplah adiknya.
Namun, ia juga tak membenarkan tindakan adiknya yang sudah melampaui batas, Alsa juga adiknya begitu juga dengan Ken. Lelaki itu berdoa dalam hati semoga Ken masih memiliki kesadaran untuk tidak melakukan hal yang lebih nekat lagi.
****
Alsa mengendap-endap ketika Ken tengah terlelap di sofa usang rumah itu, ia sudah berniat melarikan diri dari Ken melalui jendela kamarnya yang memang tak ditutup oleh lelaki itu.
Ia mendekati jendela tersebut dan melihat ke bawah, Alsa reflek memundurkan tubuhnya ketika rasa pening menghantamnya. Ia phobia ketinggian!
"Gak boleh takut, Sa. Pokonya kamu harus bisa lari dari kak Kenzo, ini gak seberapa kok tingginya." Alsa menyemangati dirinya sendiri.
Ia kembali melangkah, gadis itu mengenakan kaos lengan panjang Ken tanpa bawahan, kulitnya sudah pucat dan terdapat lebam di beberapa bagian.
"Hup!" Alsa melompat dari lantai 2 bangunan tua itu. Namun naas, ia yang kurang perhitungan atau memang bangunan yang terlalu tinggi, membuat kakinya terkilir ketika berhasil memijak tanah.
Ken yang mendengar jendela kamar tertutup dengan keras oleh angin, langsung kaget melihat tak ada Alsa di sana. Segera ia pergi ke arah jendela kamar dan menemukan Alsa di bawah tengah memegangi pergelangan kakinya.
"Kenapa, Ken?" tanya Damar yang tiba-tiba muncul di pintu, ia tengah berjaga di luar kamar.
"Bawa Alsa sekarang ke depan gue, atau vidio lo bakalan gue sebar sekarang," ancam Ken yang membuat Damar segera berlari keluar bersama Luna untuk mencari Alsa.
Gadis itu sudah hampir mencapai jalan yang menghubungkan jalan utama keluar dari hutan itu. Namun dengan cepat Damar dan Luna menangkap gadis tersebut.
"Maaf, Al, kita harus serahin elo ke Kenzo! Kita gak punya pilihan lain!" ucap Damar sambil memcoba menarik tangan Alsa.
"Mar, please jangan serahin aku ke kak Kenzo lagi, aku gak mau. Tolong biarin aku pergi." Alsa memohon pada Damar dan Luna, mereka sebetulnya merasa kasihan pada Alsa. Hanya saja dua remaja itu tak dapat berbuat banyak.
"Maaf banget, Alsa, masa depan kita juga sedang di pertaruhkan di sini." Luna menahan suaranya agar tak bergetar karena menahan tangis, kemudian dengan kasar mereka membawa Alsa kembali pada Kenzo.
__ADS_1
"Bawa dia masuk dan kalian keluar! Jangan lupa buat ikat dia di ranjang!" titah Kenzo yang diangguki keduanya.
Alsa menangis, meronta, bahkan terus memukul lengan kanan Damar dengan salah satu tangannya yang bebas. Lelaki itu tidak memperdulikan tangisan sahabatnya, ia mengambil tali yang diberikan Luna padanya. Mengikat Alsa pada ranjang dengan tangan menyatu pada kepala ranjang.
"Sekarang keluar! Jangan ganggu gue!" ucap Kenzo dingin sedikit membentak.
"Tapi, Ken, jangan apa-apain Alsa ya. Gue mohon sama lo." Damar memohon pada Kenzo, lelaki itu tak menggubris. Mengarahkan ujung pisau pada Damar dan Luna membuat mereka mau tak mau meninggalkan Alsa berdua dengan Ken.
"Aku udah nahan diri buat gak nyakitin kamu, Ca. Tapi kamu hiraukan semua kebaikan aku ke kamu. Jadi jangan salahin aku kalau aku bakalan berbuat nekat kali ini, Sayang." Kenzo menduduki perut Alsa, mencium gadis itu hingga ia menangis terisak.
Tangan dan kaki yang terikat membuat Alsa hanya bisa pasrah dengan pelecehan yang dilakukan oleh Ken.
Hatinya sakit menerima kenyataan ini. orang yang dulu begitu ia kagumi dan ia cintai berubah menjadi seorang penjahat yang dengan tega melakukan perbuatan tak senonoh padanya.
Ken sudah membulatkan tekatnya untuk membuat gadis di bawahnya ini menjadi milik dia seutuhnya. Mengabaikan tangisan pilu Alsa, ia mulai memantapkan niatnya dan menulika telinganya atas permohonan Alsa dan tangisannya.
Ia tak ingin ditinggalkan oleh orang yang ia cintai seperti ia ditinggalkan oleh Mama dan Adik lelakinya yang tewas karena kecelakaan.
"Mar, aku gak tahan sekarang! Kita harus cari bantuan sebelum Ken berbuat nekat ke Alsa!" Luna yang mendengar jeritan Alsa dari ruang tengah sudah menangis memikirkan nasib sahabatnya itu. Ingin rasanya ia masuk dan menolong Alsa, tapi jika Damar yang laki-laki saja tidak bisa bagaimana dengan dirinya yang perempuan?
"Tapi gimana sama-"
"Aku gak peduli lagi, Mar! Biarin aja kalau emang dia mau nyebarin vidio kita, semua pilihan dari Ken gak ada yang menguntungkan buat kita. Dan lagi Alsa adalah sahabat kita, kan?Jadi kita harus cari bantuan. Aku yakin pasti ada orang yang bakalan lewatin jalan hutan yang ada di depan." Luna berlari meninggalkan Damar tanpa menunggu persetujuan lelaki itu, yang ada di pikiran Luna adalah cara untuk menyelamatkan Alsa.
Akhirnya Damar mengikuti Luna, mereka berlari tak peduli tersandung akar pohon atau tertusuk ranting berduri. Alsa tidak bisa menunggu lebih lama lagi, pikir mereka.
Mereka bernafas lega dengan peluh yang keluar dari pori-pori kulit dua remaja itu, jalanan besar yang menghubungkan pintu keluar hutan sudah ada di depan mereka.
Segera mereka lari ke sana dengan sekuat tenaga.
__ADS_1
_______Tbc.