
"boleh saya gendong neng?" tanyanya ketika aku sudah menyusui alma. aku memberikan alma padanya. tiba-tiba alma merengek.
"kenapa sayang?" tanya ku. wajah alma memelas.
"maaf ya mbak, alma ngak biasa sama orang baru" kata ku sambil mengambil alma. dari pada bayi kecil ku nangis nantinya.
"dari nikah, berapa lama neng fisya tau kalau hamil?" tanyanya
"kalau ngak salah satu atau dua bulan setelah tinggal bareng disini"
"maksudnya tinggal bareng?"
"saya nikah pas masih pkl mbak. jadi setelah pulang dari pkl baru tinggal disini"
"maaf ya neng saya pamit pulang. sebentar lagi suami selesai ngajar"
"iya mbak"
aku mengantarkannya ke depan rumah. setelah tidak terlihat, aku dan alma kembali masuk ke dalam rumah.
malam harinya, seperti biasa jika mas zaky tidak di rumah. aku mengajak hilya untuk menginap di rumah untuk menemaniku dan alma.
__ADS_1
"udah jam berapa ini, anak bayi jam segini belum tidur juga" kata hilya
"biasalah alma kalau ngak ada abinya, agak susah tidurnya. biarin ajalah nanti kalau capek tidur sendiri anaknya. mas zaky juga tadi telpon kalau udah mau masuk ke pelosok. ngak tau ada sinyal apa ngak disana jadi ngak bisa nelpon"
"ngak enak juga ya ternyata nikah sama pemilik pesantren. suka di tinggal"
"ya begitu lah. kalau cuma di tinggal-tinggal sih ngak apa-apa ya, tapi ini anak bayi satu ini lengket banget sama bapaknya"
aku dan hilya kembali berbincang-bincang sampai akhirnya alma merengek. tidak lama, dia pun terlelap di pangkuan ku. tapi tetap tidak mau lepas menyusu.
"kita tidur sekamar aja ya. lagi males yang mau ke kamar atas"
"oke deh"
aku dan hilya pindah ke kamar karena memang sudah larut malam. alma tidak mau di tidur kan di kasur. jadi lah dia tidur di gendongan ku semalaman. pukul 03.00 wib, alma rewel. badan alma panas. alma sudah di beri asi tapi masih saja menangis.
"sayangnya ummah, alma kan sudah janji sama abi kalau alma akan jadi anak baik" ucap ku sambil mengelus punggung alma untuk menenangkan.
"udah kamu kasih obat sya?" tanya hilya.
"udah tapi masih rewel. udah di dengerin suara ngaji abinya tapi masih rewel. biasanya alma langsung diem kalau denger suara abinya"
__ADS_1
"sya hp kamu bunyi" kata hilya tiba-tiba
"minta tolong ambilkan ya" kata ku. dan ternyata mas zaky yang menelpon.
'assalamualaikum mas' sapa ku yang masih menggendong mencoba menenangkan alma.
'Waalaikumsalam, alma kenapa koq nangis?'
'badannya panas, udah fisya kasih obat tapi masih rewel. fisya kasih murotal juga tetep rewel. coba mas yang ngomong sama alma, siapa tau lebih tenang anaknya'
'tidurin aja anaknya di kasur'
'tambah keras nangisnya kalau di taruh. Ini aja ngak mau lepas yang nyusu'
'ngak apa-apa taruh aja di kasur biar mas yang ngomong sama almanya". aku menidurkan alma di kasur. hilya pamit keluar kamar sebentar. aku meletakkan hp di samping alma.
"assalamualaikum anak abi" sapa mas zaky. tangisan alma perlahan berhenti ketika mendengar suara abinya.
"kenapa nangis nak, alma ada yang sakit?" tanyanya. pandangan alma seperti mencari keberadaan abinya.
"nak, nanti abi pulang. alma bobok sama abi lagi. sayang denger abi kan, alma kan sholehahnya abi. putri cantik nya abi yang pinter ya nak sebentar lagi abi pulang sayang. yang nurut sama ummah ya nak" kata mas zaky. aku memperhatikan alma, alma sudah tenang dan perlahan mulai terlelap dengan sendirinya. aku memindahkan alma ke posisi yang lebih nyaman dengan mas zaky yang masih berbicara dengan alma. setelah memastikan alma terlelap, aku mengambil hp dan duduk di sofa kamar.
__ADS_1
"mas"