
Ketika Malik dan Ghea masih sibuk memandang bayi yang tengah terlelap di alam mimpinya hp milik Malik tiba-tiba berdering.
Dia melirik hpnya ternyata Andra yang menelpon. Malik yakin ada hal mendesak sehingga asistennya itu menelponnya.
"Aku angkat telpon dari Andra dulu yah takut ada yang penting soalnya" Malik keluar dari kamar meninggalkan Ghema dan Ghea.
Ghea hanya mengangguk sebagai jawaban dari ucapan dari sang mantan cinta terlarangnya.
"Kenapa Ndra?" Tanya Malik setelah menjawab telponnya.
"Tuan Hadi menunggu anda di kantor sekarang, saya harap anda segera kesini" Jelas Andra pada atasannya itu.
"Papa?" Di kantor?" Gumamnya dengan suara kecil tapi masih terdengar di telinga Andra.
"Iya tuan."
"Baiklah saya segera kembali ke kantor." Malik langsung memutuskan sambungan suaranya dengan sang asisten.
"Ghea aku harus kembali ke kantor papa sudah tunggu aku" Ucap Malik yang sudah kembali bergabung dengan Ghea dan Ghema.
"Iya, aku antar kamu ke depan."
Ghea dan Malik berjalan beriringan menuju pintu utama.
"Hati-hati di jalan mas."
"Bahkan kamu pun masih peduli denganku Ghea" Batin Malik.
Malik hanya mengangguk sembari memberi senyum termanisnya pada wanita yang pernah mengisi hari-harinya.
---------
Malik yang yang sedang di perjalanan kembali ke Darma Corp tampak kebingungan.
"Kenapa papa tiba-tiba ke kantor?"
Tidak ingin berekspektasi yang tidak-tidak dia menambah kecepatan laju mobilnya.
----------
Sesampainya di Darma Corp Malik langsung bergegas menuju ruangannya.
Tapi ketika dia membuka pintu ruangannya, dia tidak menemukan sosok sang papa di dalamnya.
Dia pun menuju ruangan Andra yang berada tidak jauh dari ruangannya.
"Ndra papa kemana?" Malik tanpa permisi masuk ke dalam ruangan Andra.
"Dia menunggu terlalu lama jadi dia pulang ke rumah tuan" Jawab Andra.
"Pulang? Pulang kemana? Rumah utama atau ke rumahku?" Malik tampak gelisah, kenapa sang papa tampak sangat ingin bertemu dengannya.
"Rumah anda tuan."
Mendengar ucapan Andra, Malik langsung bergegas meninggalkan Darma Corp.
----------
"Assalamu alaikum" Hadi mengucap salam ketika sang menantu menyambut kedatangannya.
"Waalaikum salam pa, ayo masuk dulu."
Bina menuntun Hadi untuk duduk di ruang tamu.
"Bina ke dapur dulu yah pah, papa mau kopi atau teh?" Tanya Bina pada papa mertuanya.
"Air putih aja Bin, puyeng kepala papa kalau terus-terus minum kopi."
"Baik pah" Bina berlalu ke dapur meninggalkan sang mertua.
"Ini pah" Bina meletakkan gelas besar berisi air putih di hadapan sang mertua.
"Malik kemana Bin?" Tanya Papa Hadi.
Bina melirik jam dinding "Ini kan baru pukul 2 siang pah, Mas Malik masih di kantor."
__ADS_1
"Papa dari kantor kata Andra dia pergi sejak waktu ishoma."
"Mungkin Mas Malik ada keperluan di luar pah."
Bina berusaha menenangkan Papa Hadi karena pria paruh baya itu terlihat gelisah.
Tidak berselang lama telinga Papa Hadi dan Bina menangkap suara deru mesin mobil.
"Papa?" Malik menyalami papanya tanpa menghiraukan Bina.
"Kamu dari mana aja Malik?"
"Malik dari kunjungan rutin di Panti Asuhan Kasih Abadi pah."
Kejujuran yang diucapkan Malik membuat Papa Hadi murka. Dia sangat hapal apa yang Malik lakukan disana. Dan bersama siapa Malik disana.
Papa Hadi bangkit dari duduknya, mengepalkan tangannya untuk mencegah emosinya membuncah.
"Bersama perempuan murahan itu?" Tanya Papa Hadi dengan nada mengejek.
"Cukup pah, Ghea itu wanita terhormat bukan perempuan murahan seperti yang papa pikirin" Emosi Malik pun terpancing.
"Dia perempuan bersuami, papa ingatkan jika kamu lupa."
"Cukup pah, jangan hina Ghea" Malik melakukan penekanan di setiap kata yang terucap dari mulutnya.
Papa Hadi hendak menampar Malik tapi Bina bangkit dan melindungi Malik dari tamparan Papa Hadi.
PLAK---
Tamparan keras Papa Hadi mendarat di pipi putih mulus Bina.
Papa Hadi terkejut dengan aksi Bina, dan Malik hanya diam terpaku.
"Apa yang kamu lakuin nak?"
"Papa jangan seperti ini dengan Mas Malik" Bina berusaha membela suaminya.
"Papa, Mas Malik memang pernah menjalin hubungan terlarang dengan Ghea tapi itu sudah berakhir."
"Kamu tahu soal perselingkuhan anak tidak tahu diuntung ini?" Emosi Papa Hadi agak menurun ketika berhadapan dengan menantunya.
"Mas Malik anak papa, dia suami aku pah tolong kendaliin emosi papa."
"Bina papa boleh nanya sama kamu?" Papa Hadi mengajak Bina untuk duduk di sampingnya.
Malik pun berpindah, dia duduk di hadapan istri dan papanya.
"Bina apa selama ini Malik memperlakukanmu layaknya istri?"
Pertanyaan itu menimbulkan reaksi berbeda antara Malik dan Bina.
Malik takut jika Bina mengadukan semua perbuatan kejamnya. Dan Bina dia sakit mengenang semua perbuatan kejam Malik padanya.
Tapi Bina memberikan senyum setipis benang sembari menganggukkan kepala pada suaminya. Dia seolah memberi sinyal pada suaminya untuk tidak mengkhawatirkan semuanya.
"Mas Malik baik banget sama Bina pah, Alhamdulillah Mas Malik sudah bisa menerima aku, menerima perjodohan ini."
Perkataan Bina terbantahkan ketika tanpa sengaja Papa Hadi melihat luka lebam di pergelangan tangan menantunya.
Tapi Papa Hadi memutuskan untuk mempercayai Bina, urusan lebam di tangannya dia yakin itu adalah ulah anak lelakinya.
"Papa mau ngomong sebentar sama Malik, kamu istirahat yah" Papa Hadi mengusap kepala menantunya dan memberi kecupan di pucuk kepala Bina.
Setelah Bina berlalu meninggalkan mereka, Papa Hadi bangkit dari duduknya memberi kode pada Malik untuk mengikutinya.
Tapi suara panggilan Bina menghentikan langkah Papa Hadi dan Malik. Keduanya berbalik dan menatap Bina.
"Kendalikan emosi papa, jangan sakiti suaminya Bina."
Papa Hadi tersenyum dan meninggalkan Bina, Malik mengikuti sang papa.
----------
Disinilah Malik dan Papa Hadi berada Rainbow Cafe.
__ADS_1
Mereka duduk di salah meja yang ada di pojok cafe.
Setelah memesan minuman Papa Hadi membuka pembicaraan.
"Tadi papa lihat ada luka lebam di kedua tangan Bina?"
Malik diam, jujur saja hati Malik pun mulai goyah ketika melihat pembelaan Bina terhadapnya.
"Bina adalah putri semata wayang Abi Afnan dan Ummi Aisya, mereka sangat sayang pada Bina. Sejak kecil kedua orang tuanya mencurahkan kasih sayang mereka secara utuh padanya. Yang terbaik selalu diberikan padanya."
"Bayangkan jika Ghema diperlakukan seperti Bina apa kamu sanggup?"
Pertanyaan Papa Hadi membuat Malik mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk.
Malik tidak sanggup berkata-kata dia hanya menggelengkan kepalanya.
"Ghema hanya anak angkatmu dengan Ghea lalu kamu dan Ghea hanya mendoktrin Ghema agar suatu saat, ketika sudah besar dia memanggilmu dan Ghea papa dan mama. Kamu dan Ghea punya rasa empati sangat besar pada bayi malang yang dibuang sejak lahir oleh kedua orang tuanya."
"Kamu muncarhkan kasih sayang berlebih padanya bahkan memberikan namamu padanya."
"Kamu tidak tega dia sakiti padahal dia bukan darah dagingmu."
"Bina adalah darah daging dari Abi Afnan dan Ummi Aisya, kamu bayangkan hancurnya perasaan mereka seandainya tahu perlakuanmu terhadap anak kesayangannya."
Malik diam. Malik membisu.
Sampai penampilan live akustik mengalih pikiran Malik dan Papa Hadi.
*Salah menilaiku
Mungkin kau selalu menduga
Diriku tak pernah memahamimu
Bahkan kau selalu curiga
Ada yang lain dan ku duakan cintamu
Jangan kau salah menilaiku
Dengan semua sikap diamku ini
Jauh di dalam lubuk hatiku
Terukir indah terukir indah namamu
Sayang mengapa masih saja
Kau ragukan cintaku
Ketulusan hatiku
Kupersembahkan hanya untukmu
Sayang andaikan kau dapat
Melihat hatiku
Kau akan menyadari
Betapaku sangat mencintaimu*
"Papa rasa lagu barusan cukup menggambarkan rasa Bina terhadapmu" Ucap Papa Hadi ketika lantunan lagu tersebut berhenti.
"Temui Bina, minta pengampunan atas semua yang telah kau lakukan padanya."
"Apa dia akan memaafkanku? Aku bukan hanya melukainya secara lahir tapi juga bathin?" Kini Malik mulai membuka mulutnya setelah diam mendengar celotehan papanya.
"Bina anak yang baik, kamu melukainya tapi dia tetap pasang badan untuk melindungimu."
"Ghea telah membenahi hubungannya dengan Haris, sekarang giliranmu untuk mulai membangun keluarga harmonis bersama Bina."
Berjuanglah Malik Ibrahim kamu harus mendapat pengampunan atas dosa pada istrimu Sabrina Magfirah.
*Happy Reading*
__ADS_1
Love Wawa💕