
Malik terbangun lebih dahulu, dia melihat bina yang masih tertidur pulas.
Malik mengusap kepala bina lalu mendaratkan kecupan penuh cinta di pucuk kepala istrinya.
Malik turun dari tempat tidur dan segera mengambil wudhu untuk menunaikan kewajibannya sebagai muslim.
----------
Bina bangun tapi tak menemukan malik di sampinngnya.
"Mas Malik kemana?"
Bina segera bangun dan mencari keberadaan suaminya. Rasa sakit dan kecewa yang dia rasakan semalam terhempas entah kemana. Berganti dengan kekhawatiran karena tak menemukan suaminya.
Bina menyusuri sudut demi sudut apartemen malik. Sampai akhirnya dia mendengar suara isakan dari salah kamar, mungkin itu adalah kamar tamu.
Semakin Bina melangkah suara itu semakin jelas terdengar di telinga Bina.
Pintu kamar yang hanya terbuka setengah itu memudahkan bina untuk masuk ke dalam.
Dengan pelan bina melangkah masuk, sebisa mungkin tidak membuat suara dan duduk sedikit tidak jauh dari malik.
"*Ya Allah hamba memang pria brengs*k. Engkau telah memberikan hamba sosok bidadari surga. Wanita yang akan menyempurnakan separuh agama hamba. Tapi hamba menyiksanya dengan membabi buta."
"Hamba yang tidak pantas mendapat maaf apalagi cinta darinya. Hamba ini seorang yang hina."
"Ya Allah engkau maha membolak-balikkan hati hambaMu. Hamba mohon lunakkan hati istri hamba, bantu hamba untuk memantas diri bersanding dengannya, jangan pisahkan hamba dengan istri hamba."
"Hanya kepadaMu hamba memohon dan hanya kepadaMu hamba meminta*."
Hati bina terenyuh mendengar doa dari seorang MALIK IBRAHIM.
Pria itu menenggalamkan wajahnya dalam dua telapak tangannya menutup doa dan tangisnya. Ia usap berkali-kali wajahnya kemudian menenangkan diri sejenak dengan menundukkan wajahnya hingga ia merasa ada seseorang yang duduk di sampingnya.
Malik mengangkat kepalanya dan sangat terkejut ketika melihat ada Bina di sampingnya. Tubuh Malik seolah membeku sangat sulit untuk digerakkan, ia hanya bisa menatap Bina.
Bina memberanikan dirinya, ia mengangakat tangannya mengusap lembut pipi suaminya yang dipenuhi dengan lelehan air mata.
Memberikan senyum tipisnya yang mampu merentukan bongkahan es dari dalam diri suaminya.
Malik memegang kedua pipi Bina.
"Katakan padaku apa yang harus aku lakukan agar kamu tetap disini? Kamu mau aku jadi ahli agama?"
Bina menggeleng, dia memegang kedua tangan Malik yang masih berada pipinya "Aku tidak ingin apapun darimu mas. Aku tidak ingin kamu mengubah dirimu menjadi orang lain hanya untuk membuatku terkesan. Kenali saja dirimu, sayangi dan cintai dirimu mas. Kamu sangat berharga untuk dirimu sendiri dan untuk orang lain."
"Jangan pergi bina, bantu aku untuk menjadi lebih baik" Pinta Malik.
Tanpa Malik duga Bina memeluknya dengan erat "Aku tetap disini mas, surgaku sekarang ada di kamu."
Malik membalas pelukan Bina. Dia kembali terisak dalam dekapan sang istri.
"Kamu wudhu gih nanti subuhnya kelewatan" Ucap Malik setelah melepaskan pelukannya.
__ADS_1
---------
"Loh kulkasmu kosong mas?" Tanya Bina ketika hendak mencari bahan untuk dia olah menjadi menu sarapan.
"Memang sayang" Jawab Malik yang sudah rapi dengan setelan kerjanya.
Mendengar Malik memanggilnya dengan sebutan 'sayang' membuat Bina merinding geli, tapi cukup membuat dia tersipu malu.
"Kita makan di luar aja di depan ada penjual nasi uduk."
"Kalau gitu aku bikinin kamu kopi dulu mas" Malik tersenyum sembari mengangguk pada istrinya.
"Ini mas kopinya."
"Dibanding buatan Ghea kopi buatan Bina jauh lebih enak" Batin Malik.
Melihat Malik meminum kopi buatannya membuat Bina meneteskan air matanya.
Dan buliran air mata Bina terlihat jelas di mata Malik.
"Kok nangis?" Tanya Malik.
"Makasih mas udah mau minum kopi buatan aku, makasih sudah mau menerima aku di hidup kamu" Bina tertunduk dia malu memperlihatkan tangisnya pada Malik.
Malik langsung bangkit dari duduknya dan bersimpuh di depan Bina.
"Mas" Bina membimbing Malik untuk duduk kembali.
CUP
Bina mencium kening Malik "Semua kesalahanmu dulu dan luka ku tidak akan pernah bisa kita hapus dari kehidupan kita. Tapi kita tidak hidup di masa lalu. Kamu sudah menebus kesalahanmu dengan menerima dan mencintaiku. Jangan pernah merasa bersalah lagi" Ucap Bina mengusap sisa air mata Malik.
Malik masih menangis tersedu-sedu, dia menelusupkan wajahnya pada dada Bina.
Dirasa Malik sudah mulai tenang Bina pun bersiap-siap untuk segera mandi dan keluar untuk sarapan.
---------
"Bin kamu jangan salah paham yah tempat makan ini memang sederhana tapi rasanya aku jamin ini yang terenak." Ucap Malik sesaat setelah membukan pintu mobil untuk Bina.
"Aku ngak masalah kok mas" Ucap Bina sambil mengeus punggung tangan suaminya.
Kini Malik dan Bina sedang menikmati menu sarapan nasi uduknya. Di selingi pembicaraan ringan antar keduanya.
Malik mengeluarkan dompetnya dari saku celananya dan menyodorkan pada Bina kartu debit unlimited.
"Ini untuk apa mas?" Tanya Bina saat menerima kartu yang diberikan oleh Malik.
"Kamu pakai ini untuk kebutuhanmu dan kebutuhan rumah tangga kita." Ucap Malik sambil mengusap pucuk kepala Bina.
"Aku ngak enak mas sama kamu. Pokoknya untuk keperluan aku, aku mau bayar pakai uangku sendiri."
"Keperluanmu itu siapa yang pakai?" Tanya Malik.
__ADS_1
"Yah jelas aku yang pakailah mas."
"Kamu siapanya aku?"
"Istri kamu, tapi ngak ma---"
"Ya udah, itu sudah jadi kewajiban aku untuk memenuhi semua keperluan kamu."
"Tapi mas ---"
"Aku mau dengar tapi-tapian kamu sayang" Ucap Malik sambil mengelus pipi sang istri.
"Mas."
"Bina sayang, aku tahu kamu itu wanita mandiri ngak mau nyusahin orang lain. Tapi tolong kamu ngertiin aku, aku ngak mau pakai satu rupiah pun uang kamu untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga kita. Menafkahimu sudah menjadi bagian dari tanggung jawab aku."
"Mas aku orangnya boros loh kamu ngak takut aku buat tekor?"
"Aku kerja untuk kamu sayang jadi terima kartu ini dan gunakan sesuka hatimu."
Kini tidak ada alasan lagi untuk Bina menolak pemberian dari Malik.
"Mas abis ini kamu ke kantor aja, aku mau ke super market belanja untuk isi dapur."
"Aku antar aja" Pinta Malik.
"Kamu kerja aja mas, aku bisa naik taksi kok."
"Ya udah kamu hati-hati yah. Oh iya sayang aku boleh minta nomor hp kamu ngak?" Tanya Malik dengan malu-malu. Karena sudah hampir sebulan menikah dia belum punya kontak istrinya.
Bina pun mulai menyebutkan nomor hpnya pada Malik. Tak berselang beberapa detik panggilan Malik terhadap sang istri sudah tersambung.
Alangkah terkejutnya Malik saat melihat layar hp Bina tertulis My Husband is calling.
"Kamu udah save nomor aku, sayang?"
"Maaf mas hari itu aku lancang minta ke Aldita nomor kamu." Ucap Bina sembari menunduk guna menghindari tatapan Malik.
"Aku yang salah sayang, maaf." Air mata kembali menggerogoti relung hati Malik.
"Aku ngak apa-apa kok mas, oh iya mas kamu mau aku bekalin apa untuk makan siang? Nanti aku antar ke kantor kamu."
"Aku ada meeting dengan client nanti siang jadi aku makan siang di luar. Tapi kamu masakin aku untuk makan malam aja yah."
"Mas aku boleh masakin makan siang untuk Om Satya ngak? Kan dia kemarin udah nolongin aku, dan ngajak kita makan malam di rumahnya" Pinta Bina.
"Iya sayang."
*Happy Reading*
Love Wawa💕
NB: Hari ini aku bahagiain Bina dulu deh, besok baru aku buat dia pergi dari Malik. Aku juga akan bongkar siapa Dimas dan Om Satya. Untuk yang mau berandai-andai waktu dan tempat dipersilahkan😆
__ADS_1