Labirin Duka

Labirin Duka
BAB 34


__ADS_3

Sabrina Magfirah


Bina memarkirkan mobil kesayangannya di kediaman mewah Hadi Bagaskara Ibrahim.


"Kita masuk yah sayang?" Tanya Bina.


"Ini rumah siapa, Nda?"


"Rumah ayah, kita ketemu Ayah yah."


"Seriusan Nda? Ayo kita masuk ketemu Ayah" Mina terlihat antusias, menarik-narik tangan Bina untuk segera masuk ke dalam.


Tok... Tok... Tok...


"Mbak Bi-bi-na" Ucap Aldita ketika membuka pintu.


"Assalamu Alaikum Dita" Ucap Bina.


"Waalaikum Salam Mbak" Aldita belum bisa mencerna maksud dan tujuan Bina datang ke rumahnya.


"Salim dulu sama tante nak" Perintah Bina pada Mina. Mina pun meraih punggung tangan Aldita untuk dia cium.


"Ini siapa kak? Kok mirip banget sih sama kak..."


"Rizky Mina Ibrahim anakku dan Mas Malik" Mendengar ucapan Bina, Aldita segera mensejajarkan tubuhnya dengan sang keponakan. Dia menghujani wajah Mina dengan ciuman yang tertubi-tubi.


"Oh iya Mbak sini aku bisikin deh" Aldita membisikkan sesuatu pada Bina. Setelah mendengarkan ucapan Aldita mengangguk setuju.


"Ayo masuk Mbak, sayang kita ke kamar Oma dan Opa yah" Kata Aldita.


"Ngak tante, aku kesini mau ketemu Ayah."


"Ayah pulangnya bentaran lagi kok" Jelas Aldita pada sang keponakan.


Aldita pun menuntun Mina menuju kamar Papa Hadi dan Mama Naya.


Tok... Tok... Tok...


"Ma... Pa..." Teriak Aldita dari luar kamar kedua orang tuanya.


"Kamu kenapa sih dek teriak gi...." Ucapan Mama Naya terhenti ketika dia membuka pintu kamar dan melihat Mina dalam gendongan Aldita.


"Ini anak siapa?" Tanya Mama Naya.


"Mama lihat sendiri dong mirip siapa?"


"Ma-ma-lik" Mama Naya masih bingung kenapa dia bisa melihat sosok putra semata wayangnya dalam anak gadis itu.


"Ini anaknya Kak Malik mah" Kata Aldita seolah tanpa keraguan sedikit pun.


"Jaga bicara kamu dek" Teriak Mama Naya. Mendengar teriakan sang istri, Papa Hadi mendekati sang istri.


"Malik?" Nama itu terucap secara tidak sadar oleh Papa Hadi ketika melihat Mina.


"Ini anaknya Kak Malik Pa... Ma..."


"NGAK..." Teriak Papa Hadi dan Mama Naya bersamaan.


"Apa kalian ngak lihat semua yang ada padanya adalah turunan dari kakak" Jelas Aldita.

__ADS_1


"Tapi..."


Ucapan Mama Naya langsung disela oleh Aldita "Bundanya ada di bawah, kalian ngak mau ketemu sama perempuan yang telah melahirkan seorang cucu untuk kalian?"


Mama Naya dan Papa Hadi bergegas turun untuk menemui seseorang yang dimaksud Aldita adalah Bunda dari anak kecil itu.


Aldita mengekori Papa Hadi dan Mama Naya dari belakang dengan Mina yang masih berada dalam gendongannya "Abis ini kita ketemu Ayah yah sayang."


Mina tersenyum dan mengangguk atas ucapan tantenya itu.


"Siapa kamu?" Tanya Mama Naya pada perempuan yang membelakangi dirinya itu.


"Ma... Aku kan sudah bilang dia itu Bunda dari anak ini, dan anak ini adalah anak Kak Malik dan dia" Ucap Aldita.


"Aldita cukup sampai kapanpun yang kakakmu cintai cuma Bina" Jelas Mama Naya.


"Tapi perempuan itu telah hamil anaknya Kak Malik jadi Mama harus menerima anak ini sebagai cucu pertama di keluarga Ibrahim" Kata Aldita sembari mengusap kepala Mina.


"Ngak akan Aldita, kamu tahukan betapa hancurnya hidup kakakmu setelah kepergian Bina. Jadi ngak mungkinkan dia punya anak dari perempuan lain."


"Hidupnya Ha-hancur?" Bina berbalik membuat kaget Mama Naya dan Papa Hadi.


"Bi-bina."


"Ini anak kamu dan..."


Bina mendekat dan mengambil Mina dari gendongan Aldita "Ma... Pa... Kenalin Rizky Mina Ibrahim anakku dan Mas Malik."


"Cu-cuku" Lirih Mama Naya.


"Duduk dulu Bina dan jelasin semuanya ke kita" Titah Papa Hadi.


Mereka semua pun duduk di sofa yang berada di ruang tamu.


Bina pun mulai menceritakan tentang awal mula kepergiannya ke Singapura, proses kehamilan sampai persalinannya, perjuangannya membesarkan Mina. Dan tak ketinggalan adalah rencananya mengubah data kelahiran Mina.


"Maafkan Malik yang telah menyakitimu sayang" Ucap Mama Naya dengan tetesan air mata yang telah membasahi pipinya.


"Aku juga salah Mah, aku telah memisahkan Mas Malik dan Mina" Ucap Bina.


"Mina salim dulu sayang dengan Opa dan Oma" Perintah Bina pada putrinya.


Mina meraih tangan kanan Papa Hadi dan Mama Naya, menyiumnya sebentar lalu melepaskannya. Lalu Mina kembali duduk di pangkuan sang Bunda.


"Mah..." Ucap Bina.


"Iya sayang."


"Tadi Mama kok bisa bilang hidup Mas Malik hancur?" Tanya Bina.


Mama Naya pun mulai menceritakan semua penderitaan yang dialami Malik selama enam tahun terakhir. Kondisi psikologisnya yang terguncang, stress, dan percobaan bunuh diri. Bina terkejut mendengar cerita Mama Naya. Dia tidak menyangka bahwa hidup Malik akan semenderita itu. Tanpa sadar air mata menetes di pipi Bina.


Dulu Bina berpikir bahwa dirinya yang menderita atas perpisahan ini. Tapi pada kenyataannya Malik lebih menderita dari dirinya.


"Tapi yang terpenting kamu sudah kembali pasti Malik senang."


"Dek cepatan telpon kakak kamu, dia pasti senang ketemu Bina dan Mina" Titah Mama Naya dengan antusias.


Papa Hadi yang melihat tingkah laku Mama Naya hanya tersenyum sembari geleng-geleng kepala.

__ADS_1


"Kak kamu di kantor ngak? Aku punya kejutan nih buat kamu" Ucap Aldita saat sambungan telponnya telah dijawab oleh sang kakak.


"Emang kakak mau dimana sih dek jam segini" Jawab Malik.


"Pulang sekarang atau kamu akan menyesal selamanya" Ancam Aldita.


"Kakak banyak kerjaan jangan ganggu dulu."


Tanpa menunggu jawaban dari sang adik Malik langsung memutus sambungan telponnya.


Ide jahil kembali mengisi otak Aldita, dia memotret Bina dan Mina secara diam-diam dan mengirimkannnya pada Malik dengan caption "Yakin ngak mau pulang?"





Malik Ibrahim


Mata Malik terbelalak saat menerima kiriman foto yang dikirimkan oleh Aldita padanya.


Dia langsung menelpon kembali Aldita untuk mempertanyakan keaslian foto itu.


"Dek kok bisa?" Tanya Malik tanpa berbasi-basi pada sang adik.


"Katanya sibuk ngak mau diganggu, aku suruh aja Mbak Bina dan Mina pulang" Ucap Aldita dengan nada mengejek.


"Oke kakak pulang sekarang."


Malik keluar dari ruangannya dengan terburu-buru dan tak memperdulikan teriakan Andra yang terus memanggilnya.


Dengan kecepatan tinggi Malik melajukan mobilnya menuju rumah kediaman orang tuannya. Bina dan Mina ada disana, dia akan merengkuh permata hatinya sebentar lagi.


Lima belas menit berlalu, Malik sudah menginjakkan kakinya di depan rumah. Dengan langkah panjang dia segera masuk ke dalam rumah.


"Mina..." Ucap Malik dengan nada bergetar.


BLASH


Malik langsung merengkuh Mina ke dalam pelukannya.


"Mina... Mina..." Malik menciumi wajah Mina. Semua bagian dari tubuh Mina tak luput dari ciumannya.


"Terima kasih karena sudah mau bertemu dengan Ayah. Mina Ayah rindu. Mina Ayah sangat sangat mencintaimu" Ucapnya dengan sesegukan.


"Maaf... Maafkan aku yah Mas" Bisik Bina penuh penyesalan. Malik meraih tubuh Bina ke dalam pelukannya.


Malik menciumi wajah Bina dan Mina secara bergantian. Dia tidak menyangka akan mendapatkan hadiah seperti ini.


"Maafkan aku yang tak berguna ini. Maafkan aku yang tidak bisa menjadi suami dan ayah yang baik bagi anak kita. Terima kasih sudah menjadi wanita yang hebat untuk anak kita" Malik berkata dengan penuh emosi. Air mata tampak mengalir di pipinya.


"Mina ini Ayah. Ayah janji kita akan tinggal bersama lagi, menjadi keluarga yang utuh dan penuh kasih sayang" Malik memeluk Mina dengan sangat erat. Mencurahinya dengan ciuman bertubi-tubi.


"Ayah..." Lirih Mina.


"Pelan-pelan saja, nanti Mina akan mengerti dengan sendirinya" Bisik Bina dengan lembut.


Nikmatilah kebahagiaanmu Malik Ibrahim sebelum Allah menuntaskannya.

__ADS_1


*Happy Reading*


Love Wawa💕


__ADS_2