Labirin Duka

Labirin Duka
BAB 15


__ADS_3

Di perjalanan pulang Bina dan Malik setia dengan kebisuan. Sesekali Malik melirik Bina yang termenung melihat ke jendela mobil.


Mobil yang ditumpangi oleh Malik dan Bina telah terparkir sempurna di garasi.


Bina mendahului Malik untuk masuk ke dalam rumah. Bina dan Malik memang masing-masing memegang kunci rumah.


Ketika Bina hendak masuk ke dalam kamarnya, Malik buru-buru mengahalanginya.


"Kamu mau kemana?" Tanya Malik pada istrinya.


"Kamu?" Perubahan gaya bicara Malik yang instant membuat Bina ngeri.


"Hmm, kamu mau kemana?" Malik mengulang pertanyaannya pada Bina.


"Kamar" Jawab Bina dengan cuek.


BLASH


Malik memeluk Bina dari belakang, membuat sang istri terlonjak kaget.


"Mas?"


"Maafkan aku Bina" Malik terisak, Bina bisa merasakan getaran dari isakan Malik.


Bina melepaskan pelukan Malik dan membalikkan tubuhnya. Bina ingin leluasa menatap suaminya.


Jemari Bina terangkat mengusap air mata di pipi Malik. Bina memberikan senyum tipisnya, senyum yang bisa meruntuhkan jiwa angkuh Malik.


"Maafkan ak----" Malik belum menyelesaikan permintaan maafnya tapi Bina sudah menempelkan jari telunjuknya di bibir Malik.


"Kenapa kamu minta maaf mas?"


"Karena aku udah nyakitin lahir dan bathinmu. Kamu bahkan menutupi kesalahanku dan pasang badan untukku di depan papa."


"Aku ngak pantas jadi suami kamu, aku ngak pantas untuk kamu, Bina."


Bina menatap Malik yang masih terisak "Kenapa kamu ngomong seperti mas? Kamu sedang ragu dengan kuasa Allah? Allah telah membalikkan hatimu padaku, Mas."


Malik mencakup kedua pipi istrinya "Maafkan aku yang baru menyadari bahwa kamu sangat berharga dan maafkan aku yang telah menyakitimu." Untuk pertama kalinya Malik memberikan kecupan di pucuk kepala Bina.


Bina mengangguk pelan.


Malik dan Bina berpelukan dalam diam.


Malik lalu menggiring Bina ke kamar utama yang berada di lantai dua.


Tak bisa dipungkiri Bina masih trauma untuk masuk ke dalam kamar utama.

__ADS_1


Semua penyiksaan yang Malik lakukan terjadi di kamar utama.


Ketika Malik membuka pintu tubuh Bina bergetar, Bina ketakutan. Dia melepas tautan tangannya dengan Malik dan turun ke kamar yang dia tempati selama ini.


Malik pun berlari mengejar Bina.


"Bina kamu kenapa?"


"Aku takut mas, maaf tapi aku masih trauma masuk ke dalam kamar itu."


"Di kamar tamu acnya lagi rusak, kamu mau ngak tidur di apartemen aku?" Tanya Malik pada Bina.


"Apartemen?" Tanya Bina balik pada suaminya.


"Sebelum nikah aku memang lebih sering kesana dibanding rumah utama."


"Aku boleh kesana mas?" Tanya Bina dengan penuh keraguan.


"Kamu istri aku Bina, kamu berhak atas apa yang aku punya" Ucap Malik sambil mengelus kepala Bina.


"Mas..."


"Iya."


"Aku boleh peluk kamu?"


Malik merentangkan tangannya, Bina pun masuk ke dalam dekapan Malik. Bina meletakkan kepalanya di dada bidang Malik. Menghirup aroma parfum Malik. Seakan hal itu akan menjadi candu untuk Bina.


Bina mengangguk sebagai persetujuan atas tawaran suaminya.


---------


"Mas kamu ngak bawa baju ganti? Yang benar aja mas kamu tidur pakai kemeja dan jeans gitu?" Tanya Bina sambil melirik penampilan Malik.


"Aku kan punya baju disini bina kenapa harus bawa dari rumah coba?"


"Kalau gitu kamu bersih-bersih gih aku siapin kamu baju dulu."


Ketika membuka lemari suaminya penglihatan Bina teralihkan oleh setumpukan pakaian wanita dan beberapa pengaman disana.


Air mata kembali menggenang di pelupuk mata Bina. Dia duduk sambil memang salah satu baju tidur wanita.


Bina sangat mengenal baju tidur yang berada dalam genggamannya. Itu adalah baju tidur yang Bina hadiahkan pada Ghea saat sahabatnya berulang tahun beberap bulan yang lalu.


Malik keluar dari kamar, dia terkejut melihat Bina yang kembali menangis.


"Bina kamu kenapa?" Tanya Malik yang telah berjongkok di samping istrinya. Handuk pun masih terbalut di pinggangnya.

__ADS_1


"Ini baju ghea mas, kamu cerita ke aku sejauh apa hubungan kalian" Untuk pertama kalinya Bina meninggikan suaranya.


Malik tertunduk lesu. Dia tak mempunyai sedikit pun kekuatan untuk menatap bina.


"Kalian sudah tidur bersama?" Bina histeris karena mendapat anggukan kepala dari malik.


Melihat bina menangis malik pun ikut menangis. Pasangan suami istri itu menangis dalam rintihan kepiluan.


Sakit yang dirasakan oleh bina saat ini seperti sedang dikuliti hidup-hidup.


"Abiiii" Bina merancau memanggil sosok pria paru baya yang telah membesarkannya. Mencurahkan kasih dan sayangnya. Sosok lelaki yang menjadi cinta pertama bina.


"Ummiiii tolong bina" Bina berteriak tak tentu arah, dadanya semakin sesak dan berat.


"Lepaskan aku mas" Malik membawa bina dalam dekapannya berharap istrinya akan sedikit lebih tenang.


Malik tetap mendekap erat istrinya. Malik tidak peduli akan penolakan yang dilakukan oleh bina.


"Aku bilang lepaskan aku mas" Bina sekuat tenaga mendorong malik sehingga sedikit terpental menjauhi dirinya.


"Kamu itu KOTOR MAS" Bina menekan akhir kalimatnya. Bina mencaci dan memaki suaminya dengan deraian air mata yang masih membasahi pipinya.


"LEPAS" Malik hendak memeluk kembali bina tapi tangan sang istri lebih dulu mendarat di tulang pipinya. Pipi malik memerah dan memanas.


"Ceraikan aku mas, cintamu memang bukan untukku, aku tidak pernah ada di dalam hatimu."


"Kembalikan aku pada orang tuaku mas, aku sangat yakin mas kamu pasti tahu dimana letak pengadilan agama."


"Dari awal yang kamu harapkan dari pernikahan ini adalah sebuah perceraian."


Malik sekuat tenaga menenangkan bina. Malik membawa bina masuk ke dalam dekapannya.


Malik menghujani pucuk kepala bina dengan banyak kecupan. Merasakan sudah tidak ada penolakan dari istrinya malik pun menggiring bina naik ke atas tempat tidur.


"Aku berani bersumpah mulai saat ini dan sampai seterusnya hanya kamu yang ada dihatiku."


"Hanya kamu pemilik hati dan raga ini" Ucap Malik sambil mengelus pipi sang istri.


Bina merasa matanya mulai mengantuk, ia lelah dan letih, kepalanya pusing, tenggerokannya kering.


"Aku mau tidur" rintih bina pada suaminya.


"Ya udah ayo kita tidur" Malik menyiapkan bantal untuk bina tidur. Setelah semua siap malik mulai menuntun bina untuk merebahkan dirinya.


Bina memejamkan matanya, melupakan semua rasa sakit yang dia derita.


Malik masih terjaga, dia membelai kepala bina yang masih tertutup hijab instant. Bina pasti lelah setelah meronta-ronta bagai sapuan tsunami.

__ADS_1


*Happy Reading*


Love Wawa💕


__ADS_2