
"Mbak pesan brownies coklat dan kejunya masing-masing satu yah." Ucap Ayu pada karyawan toko yang berdiri dekat etalase kue.
"Kamu yakin dia suka rasa coklat?" Bisik Iksan di telinga sang istri. Karena Baby Ika sedang tertidur dalam dekapan Ayu.
"Yang coklat itu untuk Mina, Pah. Yang keju baru buat Ghema." Jelas Ayu tanpa melirik suaminya. Saat ini matanya fokus memperhatikan pelayan yang sedang mempersiapkan pesanannya.
"Kamu ngak nawarin aku mau makan apa, Mah?" Tanya Iksan sambil melingkarkan tangannya di pinggang Ayu.
Melihat tingkah sang suami Ayu sudah paham betul akan keinginan Iksan. Bukannya menjawab pertanyaan Iksan, Ayu justru menutup rapat mulutnya.
"Mah..." Iksan semakin merengek pada wanita yang telah memberinya seorang putri itu.
"Kamu mau makan apa, Pah?" Tanya Ayu sambil membawa ekor matanya menatap Iksan.
"Makan kamu." Jawab Iksan dengan nada usil nan menggoda. Mendengar jawaban Iksan, Ayu hanya memutar bola matanya jengah.
"Ini pesannya Bu." Ucap si pelayan sambil memberikan bungkusan berisi dua buah brownies pada Ayu.
Sambil mengulas senyum manisnya Ayu mengambil bungkusan tersebut, "Pah, bayarin!" Sahutnya lalu berjalan meninggalkan sang suami.
"Untung aku sayang, Yu." Batin Iksan, lalu melakukan pembayaran atas pesanan Fitra Ayu.
•
•
•
"Pak Iksan, Ayu." Sahut Bina saat membuka pintu utama rumahnya. Sebelum ke menuju rumah Bina, terlebih dahulu Iksan juga Ayu menitipkan Baby Ika pada Mutmainah adik dari Iksan.
"Bu Bina." Ucap Iksan sambil menjabat tangan Bina dan Ayu memeluk Bina.
__ADS_1
"Tumben banget kamu kesini, Yu." Tanya Bina sambil menuntun pasangan suami istri itu duduk di sofa yang terdapat di ruang tamunya.
"Duduk dulu gih aku buatin minum." Tapi langkah Bina tiba-tiba dicekal oleh Ayu.
"Ngak usah repot-repot Bin, aku disini cuma bentaran doang kok. Cuma ngasih ini untuk Mina dan Ghema." Jelas Ayu.
"Ghema? Kamu tahu soal Ghema dari mana?" Tanya Bina sambil menatap lekat Ayu.
"Kan suami aku yang ngurus proses adopsinya." Ucapnya dengan menatap sang suami penuh cinta.
"Oh iya yah. Aku sering lupa loh kalau Pak Iksan udah jadi suami kamu." Jelas Bina dengan senyum kikuknya.
"Mana nih para keponakan aku?" Tanya Ayu sambil mengedarkan pandangan ke seluruh sudut rumah Sabrina Magfirah.
"Kakak... Adek... Ada Tante Ayu nih." Dengan suara lantang Bina memanggil kedua putrinya itu.
Mina berlari antusias menuju Sang Bunda, karena dia memang sudah kenal dekat dengan adik dari Sari Indah Purnama itu. Dan Ghema dia hanya berjalan dengan santai.
DEG ~~~
"Benar-benar duplikat Mbak Sari." Batin Ayu sambil menatap Ghema tanpa kedipan mata.
"Assalamu alaikum Tante." Ucap Ghema sambil meraih punggung tangan Ayu untuk dia cium. Tubuh Ayu kaku saat Ghema mencium punggung tangannya.
Air mata Ayu jatuh membasahi pipinya tanpa permisi terlebih dahulu. Ayu hanya mengikuti instingnya dia bawa Ghema dalam dekapannya. Berulang kali dia mencium pusaran rambut Ghema dan juga mengelus punggungnya. Darah lebih kental dari air, Ayu yakin bahwa Ghema adalah keponakannya. Ghema adalah darah daging Sari Indah Purnama dan Arham Pratama.
Entah seperti apa reaksi Sari ketika mengetahui bahwa darah dagingnya, buah cintanya bersama Arham masih hidup dan tumbuh menjadi gadis cantik jelita? Bagian menakjubkannya Ghema adalah miniatur dirinya.
Bina dibuat keheranan dengan tingkah Ayu.
"Tante pangku yah?" Tanya Ayu pada gadis berumur tujuh tahun itu. Ghema adalah tipikal anak yang pemalu dan tidak mudah beradaptasi tapi entah mengapa dalam benaknya dia merasa nyaman berada dalam dekapan Fitra Ayu. Dekapan Bina pun kalah nyaman. Ghema akhirnya duduk di atas pangkuan Ayu.
__ADS_1
"Ghema sini sama Bunda sayang!" Panggil Bina, tapi Ghema menolak dengan gelengan kepala cepat.
"Ngak apa-apa kok Bin." Kata Ayu sambil membelai rambut hitam panjang milik Ghema.
"Yu... Kamu bukan orang yang ngebuang Ghema kan? Kamu bukan ibu dari Ghema kan?" Lolos sudah pertanyaan yang memenuhi otak Bina ketika melihat adegan aneh yang dimainkan Ayu juga Ghema beberapa saat lalu.
"Ngadi-ngadi kamu, Bin. Anakku tuh cuma Alfian ama Ika." Ucapnya sambil memutar bola mata jengah.
"Aneh aja pas kamu ngelihat Ghema gitu." Bina tetap dengan persepsi awalnya.
"Perasaan kamu aja kali..." Dan Ayu tetap menyanggah ucapan Bina, Ayu memang tak memiliki bukti yang kuat bahwa Ghema adalah keponakannya. Tapi wujud Ghema yang merupakan wujud mini dari Sari sudah lebih dari cukup.
"Mah, bungkusannya." Bisik Iksan pada sang istri.
"Oh iya, Tante kelupaan ini brownies untuk Ghema juga Mina." Ayu meletakkan bungkusan di atas meja.
Baik Ghema maupun Mina menatap brownies yang Ayu bawakan untuk mereka dengan mata berbinar.
"Yang coklat untuk Mina. Yang keju untuk Ghema." Jelas Ayu pada kakak beradik itu.
"Tante kok tahu sih aku suka keju?" Cicit Ghema.
Ucapan Ghema membuat mata Ayu kembali berkaca-kaca kini dia semakin yakin bahwa Ghema adalah keponakannya.
"Aku aja Bundanya belum tahu loh kesukaan dia, Yu!" Jelas Bina.
"Tante cuma nebak doang kok, eh ternyata tebakan tante benar. Boleh dong tante minta kiss ama kalian berdua?" Ghema dan Mina pun menggerakkan kepalanya naik turun sebagai jawaban atas permintaan istri Iksan Pratama itu.
"Ngak mau aku cium juga, Mah?" Pertanyaan Iksan membuat Ayu mencebikkan bibirnya tapi lain halnya dengan Bina dia justru tersenyun manis akan tingkah pasutri beda generasi itu.
Bagi Bina, Iksan pantasnya menjadi Om atau Papa Ayu bukan suaminya. Tapi seringkali Allah memberikan kita takdir yang begitu mengejutkan.
__ADS_1
...Bersambung... ...