
"Tuh aku juga bilanga apa, aku tuh cuma masuk angin. Ini kan juga karena ide konyol kamu semalam, Pah." Ayu terus saja mengomel pada suaminya itu.
"Kan kamu yang nawarin tiga ronde, Mah." Sanggah Iksan.
"Tapi ngak harus bath up juga, Pah." Ayu masih mengomel di koridor Rumah Sakit Bakti Husada.
"Kita tuh udah lama ngak nyobain di bathup sayang." Iksan masih terus membela dirinya.
"PAPA!!!" Emosi Ayu kian meninggi karena tingkah sang suami. Tiba-tiba...
"Ayu!" Seru seseorang yang berada beberapa meter di belakang Ayu dan Iksan.
Baik Ayu dan Iksan menoleh ke sumber suara berada.
"Mbak Sari!" Jawab Ayu dengan senyum sumringah. Dia berlari menghampiri Sang Kakak.
Dan Iksan hanya mengikuti ke arah mana Sang Istri melangkah.
"Mbak sakit?" Tanya Ayu saat memeluk Sari.
"Ngak kok." Ucapnya dengan gelengan dan tersenyum tipis.
"Lalu kamu sedang apa kesini?" Tanya Iksan ketika menjabat tangan Kakak Iparnya. Meskipun usianya jauh lebih tua dari Sari, tapi Iksan tetap menganggap Sari sebagai Kakak Iparnya.
"Kita duduk dulu biar enak ngobrolnya!" Titah Iksan pada kedua wanita itu.
"Aku abis periksa ke dokter kandungan." Jawab Sari setelah mendudukkan dirinya di kursi tunggu yang berada di koridor rumah sakit terbesar di ibu kota.
"Wah serius? Pah Alfian dan Ika akan dapat adik." Sahut Ayu dengan antusias sambil memeluk Sang Suami.
Iksan bisa memahami bahwa untuk saat ini ekspektasi istrinya keliru. Kalau Sari hamil harusnya dia tak murungkan? Pikir Iksan.
"Mah sepertinya kamu salah paham deh." Bisik Iksan dengan pelan.
Ayu melepaskan pelukannya dan menatap lekat Sari. Iya Ayu sedang meminta penjelasan yang lebih pada istri Dimas Satya Rizki.
"Kamu hamil Mbak?" Tanya Ayu sambil memegang erat kedua lengan Sari.
Gelengan yang diberikan Sari sudah lebih dari cukup untuk Ayu menyimpulkan bahwa Sang Kakak belum diberi amanah oleh Allah SWT.
__ADS_1
"Udah enam tahun tapi aku belum hamil, Yu." Dada Sari mulai sesak.
"Belum rejeki kamu Sar." Iksan pun ikut menguatkan Sari.
"Mungkin ini balasan buat dosa-dosaku di masa lalu. Ini karmaku!" Sari terus merancau dan Ayu kembali memeluknya.
"Papanya Ika pernah bilang ke aku karma itu ngak ada, yang ada hanya nasib buruk dan nasib baik. Mungkin kamu sedang tidak beruntung aja kak." Sari dan Ayu memang terpaut perbedaan usia dua tahun, tapi dalam situasi ini nampaknya Ayu lebih dewasa dan bijaksana ketimbang Sari.
"Andai aja Arsi masih hidup mungkin aja dia udah besar, aku bisa ngantar dia sekolah, masakin makanan kesukaan dia." Ucapnya Lirih.
DEG
"Anakmu masih hidup kak, paras cantikmu pun menurun ke dia." Batin Ayu.
Melihat Sang Istri termenung tentu saja Iksan sangat mengetahui apa yang sedang mengisi pikirannya.
"Arsi masih hidup, Mbak." Iksan dan Sari sama-sama terperanjak atas ucapan Ayu.
"Ayu kalau mau mimpi itu yah tidur dek. Arsi udah ngak ada." Mendengar ucapan Sari, Iksan hanya menghembuskan napasnya dengan penuh kelegaan sebab Sari tidak mempercayai ucapan Sang Istri. Iksan belum siap untuk huru-hara yang akan tercipta setelah masalah ini terungkap.
"Ngak kak, Arsi kamu masih ada. Dia masih hidup." Ayu bungkam saat Sari meletakkan jari telunjuk di bibir Sang Adik.
"Iya Sari masih hidup, dia masih ada. Tapi disini." Ucapnya seraya membawa jari telunjuknya ke arah dadanya.
"Mah aku sidang sejam lagi. Aku antar kamu ke kantor yah." Ayu kemudian membawa sepasang matanya melirik jam berwarna rose gold miliknya.
"Oh iya aku juga ada meeting dengan Bina soal proyek kemarin." Semudah itukah Ayu membelokkan pembicaraanya?
"Sari maaf yah aku harus antar Ayu dulu." Ucap. Iksan dengan pura-pura murung.
"Ngak apa-apa kok."
"Kak aku pamit yah." Sari hanya mengangguk dan mengulum senyum manisnya untuk Ayu juga Iksan.
•
•
•
__ADS_1
"Arsi masih hidup, Mbak!"
"Ngak kak, Arsi kamu masih ada! Dia masih hidup!"
Kalimat yang Ayu lontarkan tadi pagi selalu berputar-putar di kepala seorang Sari Indah Purnama.
Segera Sari menggelang kasar kepalanya untuk menghilang ucapan Sang Adik.
"Kamu kenapa sayang?" Tanya Dimas yang seharian melihat gelagak aneh pada Sang Istri.
"Ngak apa-apa kok." Jawabnya singkat sambil mengulum senyum tipisnya.
Tapi Dimas tetap kekeuh bahwa Sari sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
"Aku suami kamu, aku hapal betul gelagak kamu ketika sedang baik-baik saja ataupun sebaliknya." Jelas Dimas sambil membelai rambut hitam lebat istrinya.
Sari pun mulai menceritakan pertemuannya dengan Ayu juga Iksan tadi pagi tanpa ketinggalan satu bagian pun.
"Hahaha Ayu itu kalau ngomomg suka ngak disaring dulu yah? Untung aja adik kamu itu ngak jadi pengacara." Kelakar Dimas.
"Tapi Ayu tuh sepertinya yakin banget deh kalau Arsi emang masih hidup." Jawab Sari lirih.
"Adik kamu itu hobinya ngehalu, kalau emang dia yakin kalau anak kamu masih hidup kenapa baru ngomongnya sekarang? Kalau Arsi masih hidup terus yang dikubur itu siapa?" Rentetan pertanyaan yang diucapkan Dimas membuat keyakinan Sari atas pernyataan Ayu tadi pagi perlahan meredup.
"Sekarang kita sholat biar hati kamu tenang yah. Doakan juga Arsi disana!" Titah Dimas.
•
•
•
"Aku yang nyetir!" Ucap Ayu pada Iksan dan kemudian mengambil kunci mobil dalam genggaman suaminya.
Iksan terpelongo ada apakah dengan Ayu? Kesambet apa sih? Pikir pengacara berusia setengah abad itu.
"Loh kita mau kemana, Mah?" Tanya Iksan karena Ayu membawa kereta besinya menuju arah berlawanan dari rumah mereka.
"Diem aja deh ngak usah berisik." Jawab Ayu tanpa menoleh karena dia masih fokus mengemudi.
__ADS_1
**Ada yang bisa nebak ngak Ayu mau bawa Papanya Baby Ika kemana?
......Bersambung**... ......