
Sabrina Magfirah
Suara dering handphone Abi Afnan memecah keheningan di meja makan pagi itu.
"Mita?" Ucap Abi Afnan.
"Tumben banget Mita nelpon Abi sepagi ini" Ucap Ummi Aisya dengan kening berkerut.
"Mungkin ada yang urgent, Ummi" Sela Bina.
"Angkat aja, Bi" Ucap Bina pada sang Abi.
Abi Afnan pun menuruti perkataan sang putri "Assalamu alaikum, ada apa kamu nelpon saya sepagi ini Mit?" Tanya Abi Afnan.
"....."
"Kamu jangan bercanda Mita, kenapa Dinarti tidak menghubungi saya terlebih dahulu" Terdengar suara melengking dari Abi Afnan.
"....."
"Ya sudah kalau begitu tolong siapkan kepulangan saya sekarang" Abi Afnan menutup telponnya.
"Ada apa dengan Mbak Dinarti, Bi?"
"Tante Dinarti kenapa, Bi?"
Ummi Aisya dan Bina mencecar Abi Afnan dengan pertanyaan yang sama. Sedangkan Mina dia hanya sibuk mengunyah sarapannya tanpa memperdulikan Kakek, Nenek dan Bundanya.
"Raka kritis, dia menderita kanker otak stadium lanjut. Dinarti tidak bisa lagi membantu Abi menjalankan perusahaan" Jelas Abi Afnan.
"Mas Raka..."
"Om Raka..."
Ummi Aisya dan Bina kembali merintih bersamaan.
"Bin kamu ngak apa-apa disini sendiri?" Tanya Abi Afnan.
"Bina dan Mina akan ikut dengan Abi dan Ummi ke Indonesia" Ucap Bina sambil melirik sang putri.
"Kemana nda?" Tanya Mina dengan suara cadelnya.
"Kita rumah Kakek dan Nenek, kita juga bisa lebih sering ketemu Opa Satya disana" Jelas Bina.
"Kita akan ketemu Ayah juga nda?"
Mendengar ucapan Mina membuat Bina tak kuasa meneteskan air matanya. Dia memeluk Mina, tubuhnya pun mulai bergetar. Bina mencium kepala Mina dengan perasaan bersalah.
Setiap kali Mina bertanya soal ayahnya seperti itu, selalu menimbulkan rasa bersalah dalam dirinya. Bukan sekali dua kali Mina menanyakan soal ayahnya, dan sebisa mungkin Bina memberikan pengertian pada sang putri. Tapi putrinya itu seakan-akan menolak untuk mengerti.
Perlu waktu berapa lama agar Mina bisa mengerti? Kapan Mina akan berhenti menanyakan tentang ayahnya? Apakah kehadiran Bundanya belum cukup? Bina sudah berusaha menjadi yang terbaik dalam membesarkan Mina. Bina sudah menjadi sosok Bunda sekaligus Ayah untuk putrinya itu. Apakah Mina memang betul-betul membutuhkan ayahnya?
Bina kembali mengingat Malik. Bagaimana kabar Malik sekarang? Apakah Malik baik-baik saja? Apakah Malik sudah menemukan kebahagiaannya?
"Nda?" Panggilan Mina membuyarkan lamunan Bina.
"Kamu ngak keberatankan kalau kita pulang bareng Kakek dan Nenek?" Tanya Bina sekali lagi pada putrinya.
"Iya nda" Ucapnya dengan suara cadelnya.
"Kamu memang sudah siap untuk kembali ke Indonesia, nak?" Tanya Ummi Aisya karena dia masih melihat keraguan dalam sorot mata Bina.
"Iya Ummi, mungkin Tante Dinarti sudah membukakan jalan untuk aku keluar dari persembunyian ini."
"Ya sudah kalau gitu kamu dan Mina siap-siap gih dua jam lagi kita berangkat" Ucap Abi Afnan. Bina pun mengajak Mina untuk mempacking barang-barangnya.
Tiga jam berlalu kini Abi Afnan, Ummi Aisya, Bina dan Mina sudah menginjakkan kembali kakinya di Tanah Air. Tempat yang sejuta kenangan. Sebelum keberangkatan mereka, Abi Afnan memberikan mandat pada Dimas dan Sari untuk mengurus surat pindah Mina di sekolahnya. Dimas dan Sari pun menyanggupi permintaan sang Abi.
__ADS_1
"Nda kebelet" Ucap Mina sambil menarik-narik gamis sang Bunda.
"Iya sayang ayo Bunda temenin ke toilet."
"Abi, Ummi aku antar Mina ke toilet dulu yah" Bina menggandeng tangan Mina.
Tanpa Bina sadari ada sepasang mata yang mengawasinya.
Cekrek... Cekrek... Cekrek...
Setelah Mina menyelesaikan buang hajatnya Bina kembali menggandeng tangan sang putri untuk kembali menghampiri Abi Afnan dan Ummi Aisya.
BUGH
"Maaf..." Ucap Seseorang yang menabrak Bina.
Bina memandang lekat orang itu dan akhirnya "Al-al-dita" Ucap Bina dengan penuh kegugupan.
"Mbak Bina?"
Lalu mata Aldita mengarah ke sosok kecil dalam gandengan Bina.
"Ini siapa, Mbak?" Tanya Aldita sambil menunjuk Mina.
"Eh sayang salim dulu sama tante" Mina pun menuruti perkataan sang Bunda. Dia meraih tangan Aldita dan mencium punggung tangannya.
"Anak ini, kenapa mirip sekali sama Kak Malik?" Batin Aldita.
"Dit, aku duluan yah Abi sama Ummi udah nungguin." Bina dan Mina meninggalkan Aldita yang masih kebingungan.
•
•
•
Malik Ibrahim
Iya, foto itu adalah foto Bina dan Mina ketika hendak ke toilet. Aldita mengirimkan foto dengan caption "Lady is back."
Setelah mengirimkan foto-foto itu pada sang kakak dia mematikan handphonenya. Sepertinya mode Tengil Aldita sedang dalam keadaan On.
Darma Corp
Rapat bulanan para pemegang saham dimulai, Andra sang asisten bertindak sebagai pimpinan rapat pagi itu. Para peserta rapat yang hadir tanpa khusyuk mendengar pemaparan Andra. Tapi tidak dengan CEO Darma Corp.
Entah kemana hati dan pikirannya berkelana. Dia tidak fokus dengan apa yang diucapkan Andra.
Drrrt... Drrrt... Drrrt...
Ponselnya berdering dia langsung membuka pesan whatsapp yang dikirim oleh sang adik.
Tubuh Malik kaku, handphone yang dalam genggaman tangannya terjatuh ke lantai. Mengalihkan fokus Andra dan peserta rapat lainnya.
"Andra serahkan kunci mobil, saya harus pergi sekarang" Perintah Malik pada Andra setelah mengambil handphonenya yang terjatuh.
"Sekarang Tuan?"
"Iya."
"Tapi kita sedang rapat."
"Rapat bubar. Lanjutkan besok" Malik keluar dari ruang rapat dengan terburu-buru.
Malik menelpon sang adik untuk mempertanyakan foto yang dia kirim barusan. Tapi sayang, Aldita sudah mematikan handphonenya.
Sampai di dalam mobil Malik diam terpaku, matanya terus memandangi foto Bina.
__ADS_1
"Ini benaran kamu Bina?" Rintih Malik.
Sekumpulan air mata jatuh membasahi pipi Malik. Wanita yang dia rindukan, wanita pemilik hatinya telah kembali.
Tak ingin membuang banyak waktu, Malik memacu kereta besinya dengan kecepatan maksimal. Tujuannya kali ini adalah rumah utama.
Lima belas menit membelah jalanan ibu kota tibalah Malik di kediaman Ibrahim's Family. Rumah yang menjadi saksi bisu tumbuh kembang dirinya dan sang adik Aldita Ibrahim.
"ADEK!!!" Teriak Malik.
"Kak kamu kenapa sih kesetanan gitu?" Ucap Mama Naya.
"Adek mana mah?" Tanya Malik sambil mengedarkan pandangannya di seluruh sudut rumah.
"Di kamar lagi tidur" Malik langsung berlari menuju kamar sang adik.
BUGH
Malik membuka keras pintu kamar sang adik.
"Kak jangan asal masuk kamar orang deh, ketuk dulu kek atau salam gitu" Omel Aldita.
"Cepat jelasin kamu ketemu Bina dimana?"
"Bayaran aku mahal loh, detektif suruhan kamu aja ngak becus nyari Mbak Bina selama enam tahun" Goda Aldita.
"Apapun yang kamu minta Kakak penuhi."
"Apartemen dan mobil?" Tawar Aldita.
"Iya dek apapun."
"Aku nyangka loh informasi tentang Mbak Bina semahal ini."
"DEK."
"Aku ketemu Mbak Bina di Bandara. Tapi yang harus kakak tanyain ke aku anak kecil yang Mbak Bina gandeng itu siapa?"
"Anak kecil" Kening Malik seketika berkerut.
Aldita meraih handphonenya di atas nakas sambil memperlihatkan foto Bina yang sedang menggandeng Mina.
"Kenapa wajah anak ini sangat familiar di mataku?" Batin Malik.
"Kakak mungkin terlalu fokus ke Mbak Bina sampai ngak ngelihat anak yang digandeng Mbak Bina" Celoteh Aldita.
"Itu anak siapa?" Tanya Malik.
"Pas aku tanya ke Mbak Bina itu anak siapa, dia langsung menghindar" Jelas Aldita.
Malik meraih handphonenya yang berada di saku jasnya. Mencari kontak informan "Aku mengirimkanmu sebuah foto, tugasmu selidiki dia. Aku mau informasi yang sangat detail. Bawakan datamu sebentar malam di apartemenku" Malik memutuskan telponnya.
Pada Malam harinya.
Tubuh Malik bergetar hebat, dia meremas semua kertas yang informan berikan padanya. Pikiran dan hatinya menolak untuk mempercayai semua informasi yang dia terima dari informan itu.
"AKKKKKKH" Semua yang ada di mejanya dia lemparkan. Semua barang di meja jatuh berserakan.
"SABRINAAAAAA" Malik menutup wajahnya dengan kedua tangan. Terlihat jelas bahwa kesedihan dan sakit hati kini menyelimutinya. Malik tidak bisa menerima kenyataan bahwa Bina telah memiliki anak dari pria lain.
"Keterlaluan kamu Bina. Kau tega menyakitiku" Malik bergumam seorang diri. Gumpalan rasa kecewa menyesakkan dadanya. Terbesit tanya di hatinya apakah Bina memang sudah tidak mencintainya?
Informasi yang Malik terima, selama enam tahun Bina tinggal bersama keluarganya di Singapura. Sabrina memiliki seorang anak perempuan yang sehari-hari dipanggil dengan panggilan Mina. Anak itu kini berusia empat tahun enam bulan.
"Siapa laki-laki brengs*k yang telah menikahi Bina? Kenapa informan itu tidak bisa mendapatkan informasi tentang Ayah Mina? Mengapa laki-laki itu meninggalkan Bina dalam keadaan hamil dan membiarkan Bina seorang diri membesarkan anaknya? Dimana laki-laki brengs*k itu sekarang? Data dari rumah sakitpun tidak menunjukkan informasi mengenai ayah Mina?" Batin Malik.
NB: Pemanasan dulu deh sebelum author mempertemukan Mas Malik dan Mbak Bina. Aku cicil ngetik part pertemuan mereka tapi ngak bisa janji disetor cepat. Tungguin yah, mereka akan segera aku pertemukan.
__ADS_1
*Happy Reading*
Love Wawa💕