Labirin Duka

Labirin Duka
BAB 19


__ADS_3

Setelah kepergiaan Dimas, Ayah Satya langsung menelpon sang adik.


"Assalamu alaikum, Nan."


"Waalaikum salam Mas Satya, ada apa kok tumben nelpon?" Tanya Abi Afnan.


"Kamu ke Rumah Sakit Bakti Husada, Bina melakukan percobaan bunuh diri."


"Ngak mungkin mas, kamu jangan ngaco deh" Ucap Abi Afnan dengan tegas.


"Aku ngak sedang melucu, Nan. Kamu cepatan deh kesini" Ayah Satya langsung memutus sambungan telpon karena tidak ingin berdebat terlalu lama dengan sang adik.


----------


Abi Afnan bergegas menutup rapat bulanan pemegang saham begitu mendapat kabar tentang putri semata wayangnya. Abi Afnan sangat syok mendengar berita itu.


"Atur ulang jadwal saya selama beberapa hari ke depan. Batalkan semua meeting dengan para client" Ucap Abi Afnan pada Mita sang sekretaris.


"Tapi pak, besok kita ada meeting penting dengan investor" Ucap Mita.


"Saya bilang atur ulang jadwal saya" Ucap Abi Afnan dengan tegas.


"Saya tidak mengerti pak."


"Apa kamu bodoh? Apa telingamu sudah kehilangan fungsinya? Saya sudah bilang atur ulang jadwal saya. Saya tidak suka mengulang ucapan yang sama. Saya punya urusan yang lebih urgent." Untuk pertama kalinya Abi Afnan kehilangan kelembutannya.


Mita tersentak mendapat bentakan dari Presdir Garuda Corp, tak biasanya atasannya itu bersikap demikian.


"Ba-baik pak" Ucap Mita.


Abi Afnan bergegas mengambil jasnya lalu pergi meninggalkan kantor.


"Putriku lebih penting dari investor itu" Gumam Abi Afnan.


-----------


Sebelum ke rumah sakit, Abi Afnan terlebih dahulu menjemput Ummi Aisya. Ummi Aisya juga tengah sibuk di rumah dipaksa oleh sang suami untuk menemaninya. Tapi Abi Afnan belum memberi tahukan pada istrinya tentang apa yang terjadi dengan putri semata wayang mereka.


Abi Afnan menghela nafas panjang, tangannya tetap berpegang pada kemudi. Tapi tak ada yang tahu, bahwa begitu banyak pertanyaan di kepalanya tentang apa yang Ayah Satya katakan.


"Apa ini karena Malik?" Tanya Abi Afnan.


"Ada apa sih abi?" Ummi Aisya kesal karena suaminya seakan bermain teka-teki dengannya.


"Aku ceritain tapi kamu jangan kaget yah" Ucap Abi Afnan.


"Iya buruan cerita ada apa sih?" Ummi Aisya semakin mendesak suaminya untuk bercerita.


"Tadi Mas Satya nelpon katanya Bina lagi di rumah sakit, dia melakukan percobaan bunuh diri."


"APA?" Teriak Ummi Aisya.


"Abi kalau ngomong itu difilter dulu jangan asal nyosor aja dong" Imbuh Ummi Aisya.

__ADS_1


"Kamu lihat aku, apa aku sedang bercanda? Apa ini hal yang bisa dijadikan lelucon?" Tanya Abi Afnan.


"Tapi ngak mungkin dong Bina punya pikiran sependek itu, abi" Air mata mulai menggenang di pelupuk mata wanita paru baya itu.


---------


Rumah Sakit Bakti Husada


"Mas Satya" Teriak Abi Afnan dan Ummi Aisya ketika melihat Ayah Satya duduk di bangku tunggu.


"Bina mana mas?" Tanya Ummi Aisya.


"Ayo kita masuk" Ajak Ayah Satya pada kedua adiknya.


"BINA" Ummi Aisya langsung mendekat ke samping brangkar putrinya.


"Apa yang terjadi sebenarnya mas? Kamu tahu Bina putriku dari mana?"


Ayah Satya mulai menceritakan awal pertemuannya dengan Bina sampai percobaan bunuh diri yang dilakukannya tadi pagi.


Mendengar cerita Ayah Satya, Abi Afnan hanya beristigfar sebanyak mungkin.


"Assalamu alaikum" Ucap Dimas yang datang dengan sebuah koper pink berukuran besar dan sebuah amplop coklat.


"Waalaikum salam."


"Abi" Dimas pun mendekati Abi Afnan untuk mencium tangannya.


"Ummi" Dimas menyeret langkah kakinya dan koper pink dalam genggamannya. Dia mencium tangan Ummi Aisya dan memeluk wanita berbalut gamis berwarna silver.


"Iya ummi isinya baju ganti untuk Bina selama disini, tadi aku ke pulang buat ngambilnya."


"Ummi, Abi, Ayah bisa minta waktu sebentar kita bicara ruangan ayah saja" Pinta Dimas kepada para orang tuanya.


"Tapi Bina?" Tanya Ummi Aisya.


"Aku akan minta perawat untuk menjaganya sebentar ummi."


"Ya udah ayo ke ruanganku Mas, Mbak" Ajak Ayah Satya sambil memandu mereka bertiga.


----------


Ketika mereka bertiga telah berada di ruangan Ayah Satya suara ketukan pintu terdengar oleh telinga mereka.


"Biar Dimas saja" Ucap Dimas lalu beranjak dari duduknya.


"Dokter Dimas ini hasil visum dari pasien Sabrina Magfirah" Ucap sang perawat.


"Makasih sus" Setelah menerima hasil visum Bina, Dimas menutup kembali pintu ruangan sang ayah dan kembali bergabung dengan para orang tuanya.


"Ayah, Ummi, Abi hasil visum Bina mengatakan bahwa dia mengalami kekerasan fisik dan seksual" Jelas Dimas sambil menatap ketiga orang di hadapannya.


"Tapi kan tadi Dokter Febri mengatakan bahwa adikmu hanya mengalami kekerasan seksual" Ucap Ayah Satya.

__ADS_1


"Ayah lupa Bina pinsang karena kelaparan dan pergelangan Bina waktu itu juga lebam. Coba kalian pikir tidak mungkinkan seorang Malik Ibrahim tidak mampu memberi makan istrinya."


"Kalian pasti tidak tahukan kalau sebelum menikah bersama Bina, Malik menjalin hubungan dengan Ghea istri dari Haris."


"Kamu kenal Ghea, Dimas?" Tanya Ummi Aisya. Ummi Aisya dan Abi Afnan terlihat syok dengan penuturan Dimas.


"Haris adalah keponakan dari almarhuma Nadira. Jadi Haris dan Dimas adalah saudara" Jelas Ayah Satya.


"Lalu Ghea dan Malik sekarang?" Tanya Abi Afnan dengan rahang mengeras menahan emosi.


"Begitu tahu bahwa yang menikah dengan Malik adalah Bina, Ghea langsung memutuskan hubungannya bersama Malik."


"Dan ini" Dimas menyerahkan map coklat berlabelkan SURAT CERAI pada Abi Afnan dan Ummi Aisya.


"Surat Cerai" Ucap Ummi Aisya dengan pelan tapi bisa didengar oleh ketiga pria itu.


"Tadi aku kembali ke rumah Bina untuk mengemas pakaian gantinya selama disini dan aku menemukan ini di kamar."


"Mungkin ini sudah Malik siapkan sejak awal pernikahan mereka dan surat itu pun sudah dia tanda tangani" Jelas Malik.


Ummi Aisya semakin terisak. Tidak pernah terlintas di benaknya bahwa putri semata wayangnya akan bernasib seperti ini.


"Keterlaluan Malik, Nan kita harus buat perhitungan dengan dia" Mendengar ucapan Ayah Satya membuat Abi Afnan bangkit dari duduknya. Tapi Dimas menahan ayah dan abinya.


Dalam kondisi seperti ini mungkin hanya Dimas yang mampu menguasai emosinya.


"Ayah, Abi tenang dulu kita ngak boleh gegabah seperti ini" Ucap Dimas.


"Gegabah bagaimana, Mas? Adik kamu digituin kamu masih bisa setenang ini?" Ayah Satya mengusap wajahnya dengan kasar. Dia tidak mengerti dengan jalan pikiran sang anak.


"Aku pun sama seperti kalian, aku merasa ngak becus menjadi seorang kakak, tapi pakai akal kalian jangan emosi."


"Kita harus menyusun rencana untuk menciptakan penyesalan yang hakiki dalam diri Malik."


"Caranya?" Tanya Ayah Satya dan Abi Afnan bersamaan.


"Caranya para readers harus Like dan Koment."😁😄


Nyanyi bareng Bina yuk


*Aku takkan bertahan bila tak teryakinkan


Sesungguhnya cintamu memang bukan untukku


Sungguh ku tak menahan


Bila jalan suratan


Menuliskan dirimu


Memang bukan untukku


Selamanya*...

__ADS_1


*Happy Reading*


Love Wawa💕


__ADS_2