
Mata Ayu membulat sempurna ketika membaca kata demi kata dalam surat hasil Tes DNA tersebut.
"Mah gimana hasilnya?" Iksan sedikit membuncang tubuh Sang Istri.
"Pah..." Lirih Ayu.
"Hem." Iksan hanya menjawab panggilan Ayu dengan deheman, lelaki berusia setengah abad itu pun sedang harap-harap cemas sebab Ayu tak kunjung memberi tahukan hasil Tes DNA tersebut pada dirinya.
"Ghema anaknya Kak Sari dan Kak Arham, Pah. Dia keponakan aku, dia cucunya Papa dan Mama." Ayu terus merancau dengan suara nyaring sampai semua pandangan orang-orang tertuju pada pasutri itu.
Tapi ada seseorang bertubuh tegap menatap nanar Iksan juga Ayu saat ini. Tubuh lelaki itu kaku, ucapan Ayu barusan terngiang terus di kepalanya.
"Ghema anaknya Kak Sari dan Kak Arham!"
Itulah yang mengusik pikiran Arham saat ini.
"Ghema anakku dan Sari?" Tanpa terasa air matanya jatuh membasahi pipinya.
"Ayu, Pak Arham!" Seruan Arham nyaring sangatlah mengagetkan Ayu dan Iksan.
"Ghema betul anakku dan Sari?" Arham langsung ke titik permasalahannya tanpa babibu terlebih dahulu.
"Ayu, JAWAB!" Arham meraih lengan Ayu dan mengguncangnya. Tentu hal ini menyulut emosi Iksan sebagai suami Ayu. Untuk meninggikan suara saja Iksan tidak pernah melakukan pada istrinya apalagi sampai melakukan kekerasan.
"Pak Arham jaga batasan anda. Saya saja suami Ayu tak pernah bersikap sekaras ini padanya." Ucapan Iksan membuat Arham melepaskan Ayu dari cengkramannya dengan sigap Iksan meraih tubuh sang istri.
"Saya mengerti keadaan anda, tapi kita harus selesaikan tanpa emosi..."
"Tanpa emosi? Apakah anda bisa tenang jika anak anda harus hidup dan besarkan di Panti Asuhan, Hah?" Stok sabar Arham mulai menipis.
"Aku jelasin yah, Kak?" Arham lantas menoleh ke istri Iksan Pratama SH dan mengangguk cepat.
"Duduk dulu biar enakan ngobrolnya!" Titah Iksan.
"Di taman aja, Pah. Karena ini masalah keluarga dan bukan komsumsi publik." Kedua pria itu berjalan mengekori Ayu.
__ADS_1
•
•
•
"Jelaskan langsung ke intinya, Fitra Ayu!" Arham melakukan penekanan saat di setiap katanya.
Ayu bisa merasakan atmosfer yang berbeda antara dirinya dan Arham saat ini.
Ayu menoleh pada sang suami, menatap lekat lelaki yang telah memberinya seorang putri yang cantik. Iksan mengangguk sembari mengulas senyum sebagai tanda semua akan baik-baik saja setelah ini.
"Ayu kenapa bisa anakku ada di Panti Asuhan? Sari yang membuangnya? Sari malu mengakuinya? Asal kamu tahu ini semua berkat ide gilanya dia. Dia yang menjebakku malam itu di hotel. Dia yang sukarela menyerahkan kehormatannya padaku." Jelas Arham dengan nafas memburu.
Ayu tak kuasa lagi membendung air matanya.
"Jelaskan Ayu!"
"Bukan Mbak Sari, Mas!" Jawab Ayu sambil menggigit bibir bawahnya.
"Om Wisnu." Jawaban Ayu membuat Arham membelalakkan kedua manik matanya.
"Setelah Arsi lahir Om Wisnu membawanya ke Panti Asuhan Kasih Abadi..." Ucapan menggantung ketika Arham menyelanya.
"Dan Sari membiarkan Om Wisnu membawa darah dagingnya ke Panti Asuhan?" Tanya Arham sambil mengepalkan tangannya.
"Ngak, Mbak Sari ngak tahu soal Arsi yang ditaruh Om Wisnu di Panti Asuhan."
"Ngak tahu?" Arham mengulang dua kata itu.
"Om Wisnu bilangnya ke Mbak Sari kalau anak kalian sudah meninggal..." Lagi-lagi penjelasan Ayu harus terjeda karena selaan Arham yang tiba-tiba.
"Meninggal?" Emosi Arham kian tersulut.
"Pak Arham tolong biarkan istri saya menyelesaikan penjelasannya. Semakin sering anda menyelanya semakin lama pula istri saya menjelaskannya." Iksan mulai mengeluarkan keahliannya dalam membela, apalagi saat ini yang sedang dia bela adalah permaisuri hatinya.
__ADS_1
"Lanjutkan sayang!" Titah Iksan dengan mengusap lengan sang istri.
"Dan Mbak Sari mempercayai sandiwara Om Wisnu. Untuk mendukung sandiwaranya Om Wisnu bahkan membuat makam palsu dan diberi nama Arsi." Remuk sudah hati Arham setelah Ayu memberikan semua penjelasannya.
Arham beranjak dari duduknya membuat Ayu dan Iksan saling tatap, mau apakah Arham setelah ini?
"Aku harus buat perhitungan dengan Pak Wisnu."
Ayu langsung terkesiap dan menahan tangan Arham.
"Lepas Yu! Jangan melindungi Om mu yang telah membuang anakku." Tapi Ayu tetap mencengkram erat tangan Arham.
"Om Wisnu udah meninggal."
DEG ~~~
"Meninggal?" Ulang Arham.
"Dia meninggal setelah kepergian Tante Rani." Penjelasan Ayu semakin membuat Arham diam terpaku.
"Aku akan mengambil hak asuh Arsi dari Bu Bina. Aku punya bukti yang kuat kalau Arsi adalah anakku." Jelas Arham dengan tekad yang kuat.
"NGAK!" Teriak Ayu.
"Mah kamu kenapa?" Iksan membawa Ayu ke dalam dekapannya. Mengusap punggung Ayu agar istrinya itu bisa mengendalikan dirinya.
Setelah sedikit mengendalikan dirinya Ayu menarik dirinya dari pelukan Iksan.
"Mbak Sari Ibu dari Arsi, dia juga punya hak yang sama denganmu atas Arsi." Ayu pun mulai tersulut emosi.
"Aku juga punya bukti kalau Sari Indah Purnama adalah ibu biologis Arsi." Ucap Ayu sambil memperlihatkan amplop Tes DNA Arsi.
"Kalau kamu tidak mau memberikan Arsi pada Mbak Sari kita bawa saja ini ke Pengadilan." Gertak Ayu lalu meninggalkan Arham seorang diri. Iksan mengekori langkah istrinya.
...Bersambung... ...
__ADS_1