
"Pak Arham apa maksud anda memeluk istri saya?"
"Istri? Jadi Ayu adalah istri dari Pak Iksan?" Batin Arham sambil melirik pasangan suami istri tersebut.
"Pah biar aku yang gendong Ika." Sahut Ayu sambil mengambil Baby Ika dalam dekapan Sang Papa.
"Kamu itu seorang istri ngak pantaslah kamu melakukan seperti itu." Sambil berkacak pinggang Iksan mengeluarkan segala uneg-uneg yang ada dalam hatinya ketika melihat istrinya berada dalam dekapan pria asing.
"Pak Iksan, ini tuh ngak seperti yang anda pikirkan." Arham mencoba meredakan emosi Iksan.
"Anda pikir saya buta? Persepsi itu adalah perkiraan, dan yang saya lihat tadi adalah kenyataan. Anda memuluk istri saya. Dan istri saya membalas pelukan anda. " Jelas Iksan sambil menunjuk Arham dan Ayu bergantian.
"Mas berkasnya udah oke kan? Sini aku tanda tangani dan kamu bisa balik ke kantor kamu." Sambil menggendong Baby Ika, Ayu memutar langkahnya menuju meja kerjanya.
"Dia ngak boleh pergi sebelum ngejelasin maksud dari dia meluk kamu Mah." Iksan nampak frustasi saat ini.
Arham ingin menyahuti Iksan, tapi buru-buru Ayu memberi kode agar membiarkan saja Iksan seperti itu. Dia adalah istri Iksan, dia yang paling tahu cara menenangkan lelaki yang telah menjadi suaminya selama tiga tahun itu.
Setelah membubuhi tanda tangan di surat kontrak yang diberikan Arham, Ayu membuka laci meja kerjanya dan meraih sesuatu kemudian diberikan pada Arham.
"Mas ini kartu nama aku, jangan lupa hubungin aku yah." Ucapan Ayu kembali membuat Iksan tersulut api cemburu.
"Mah kama kenapa sih ngasih kartu namamu ke dia?" Suara Iksan memang lembut tapi dalam benaknya ada kobaran api cemburu yang sedang berkobar kencang.
__ADS_1
"Kalau gitu aku pamit dulu dek, Pak Iksan saya permisi dulu." Iksan ingin memaki tapi dia urungkan ketika sang istri telah duduk di sampingnya dan mengusap punggungnya dengan gerakan naik turun.
"Jelaskan Mah!" Titah Iksan dengan nada lembut tapi penuh dengan ketegasan. Ayu adalah istrinya, tulang rusuknya bukan jaksa penuntut umum apalagi terdakwa yang harus dia ajak bicara dengan nada yang tinggi.
"Aku yang meluk Mas Arham, Pah." Pernyataan Ayu semakin membuatnya frustasi.
"Kamu benar kalau aku adalah seorang istri dan ibu, tidak pantas untuk memeluk orang lain selain kamu dan anak-anak tapi aku terpaksa Pah. Aku telah berdosa dengan Mas Arham juga Mbak Sari." Air mata mulai tergenang di pelupuk mata Ayu.
Peka bahwa sang istri sedang bersedih dia membawa Ayu kedalam dekapannya. Dia sandarkan kepala sang istri dalam dada bidangnya.
"Ceritanya pelan-pelan aja, aku siap dengarin kok." Sahut Iksan lalu memberikan kecupan hangat di pucuk kepala istrinya.
"Mbak Sari dan Mas Arham dulu pernah pacaran tapi Om Wisnu ngak merestui hubungan mereka. Sampai Mbak Sari nekat memberikan kehormatannya pada Mas Arham lalu hamil di luar nikah."
"Lalu anak mereka?" Tanya Om Iksan sambil membelai pipi putih milik istrinya.
"Aku ngak sengaja dengar pembicaraan antara Om Wisnu dan Tante Rani waktu itu." Pikiran Ayu terbang ke masa tujuh tahun yang lalu.
"Om Wisnu ngebuang anak Mbak Sari di Panti Asuhan Kasih Abadi, tapi ngomongnya ke Mbak Sari kalau anaknya sudah meninggal. Untuk mendukung sandiwaranya Om Wisnu bahkan membuat makam palsu lalu diberi nama Arsi sesuai nama yang disiapkan Mbak Sari. Kata Om Wisnu anak itu bukan bagian dari Keluarga Purnama jadi harus dibuang. Dia cuma anak haram." Jelas Ayu sambil memeluk Baby Ika yang anteng dalam dekapannya.
"Bukan anak itu yang haram, tapi hubungan Pak Arham dan Sari yang haram sayang." Iksan masih berusaha menenangkan sang istri.
"Tadi kamu bilang tempat Om Wisnu ngebuang anaknya Sari adalah Panti Asuhan Kasih Abadi?" Dan Ayu hanya mengangguk lemah.
__ADS_1
"Kemarin aku kesana dengan Pak Arham." Ucapan Iksan berhasil menghentikan tangis Ayu. Ayu mendongak melihat suaminya. Apakah ini hanya kalimat penenang atau memang benar adanya.
Iksan bisa merasakan ada segelintir keraguan dalam jiwa istrinya saat ini.
"Kamu ngak percaya ama suamimu? Kamu boleh tanya Pak Arham kalau kamu meragukan seorang perfect daddy sepertiku." Ujar Iksan dengan mengecup singkat bibir ranum istrinya.
"Untuk apa kamu dan Mas Arham kesana Pah?" Tanya Ayu sambil menatap lekat Iksan.
"Bu Bina ingin mengadopsi salah satu anak di panti asuhan tersebut." Jelas Iksan.
"Adopsi anak? Bukannya Bina udah punya anak dari Malik kenapa masih mengadopsi anak lagi?" Alis Ayu bertautan dan keningnya pun berkerut.
"Itu privasi Ibu Bina sayang, tapi yang aku heran anak itu mirip banget loh ama Sari." Ayu terkesiap mendengar ucapan Iksan bahwa ada anak di Panti Asuhan Kasih Abadi yang mirip dengan sang kakak.
"Pah, mungkin aja itu anaknya Mbak Sari. Aku harus bertemu dengan anak itu. Aku harus melihatnya dengan mata kepalaku sendiri." Desak Ayu.
"Tapi anak itu udah diadopsi ama Bu Bina, udah diboyong ke rumahnya pula." Penjelasan Iksan membuat bahu Ayu merosot turun. Tapi ingatlah Iksan istrimu adalah seorang Fitra Ayu yang setiap kemauannya harus terpenuhi.
TRING ~~~
"Pah Aku ada ide!" Ucap Ayu dengan mata berbinar cerah secerah mentari pagi.
Melihat ekspresi lucu dari Sang Istri membuat Iksan geleng-geleng kepala sambil tersenyum usil.
__ADS_1
...Bersambung......